Latihan Kopaska, 30 April 1963
Latihan Kopaska, 30 April 1963

HobbyMiliter.com – Aksi Sabotase Prajurit Kopaska TNI AL (dulu ALRI) di Johor Malaysia. Memasuki tahun 1961, sebagai negara yang berusia muda Indonesia tengah terlibat perseteruan dengan pemerintah Belanda menyangkut masalah status tanah Papua. Kesal dengan sikap keras kepala Den Haag, di penghujung tahun 1961 Presiden Soekarno lantas mengumandangkan Tri Komando Rakyat (Trikora). Penjabarannya lewat Operasi Jayawijaya. Sayang, operasi yang mengerahkan sebagian besar kekuatan ABRI ini justru tidak jadi dilaksanakan karena berhasilnya jalur diplomasi.

Belum beres dengan Trikora, tokoh proklamator RI ini pun mempertentangkan negara Federasi Malaya yang dianggapnya semata bentukan Inggris dalam rangka proyek kolonialisme di Asia Tenggara. Isu yang diangkat ialah gerakan ‘kemerdekaan’ Negara Kalimantan Utara (NKU) yang digagas tokoh lokal Tengku Azahari. Selain itu juga digugat masalah pakta kerjasama militer antara Inggris dan Federasi Malaya. Lewat pakta ini, Inggris berhak memakai basis militer di Sembawang (Singapura) selama 99 tahun.

Baca juga :   Foto Latihan VBSS

Guna mendukung NKU dan menandingi pakta militer Inggris-Federasi Malaya, Pak Karno kemudian mengumandangkan Dwi Komando Rakyat (Dwikora) pada 3 Mei 1964 dalam rapat raksasa di Jakarta. Seperti halnya saat Trikora, Jakarta kembali mengirim ribuan ‘sukarelawan’ untuk dilibatkan dalam berbagai misi rahasia di wilayah perbatasan. Inti kekuatan pasukan sukarelawan ini sejatinya ialah personel ABRI. Salah satunya tentu saja Komando Pasukan Katak (Kopaska).

Jumlah personel Pasukan Katak Kopaska pasca Trikora sangat sedikit. Meski begitu, kondisi ini tak lantas menghalangi pimpinan ABRI untuk tetap melibatkan satuan kecil ini dalam seksi G-1/Intelijen Komando Operasi Tertinggi (KOTI) Dwikora. Agar kebutuhan personelnya dapat dipenuhi dalam tempo singkat meski situasi negara tengah genting, maka pada awal tahun 1963 di seluruh pangkalan TNI AL dibuka pendaftaran untuk menjadi personil pasukan katak.

Baca juga :   Akhir Pengabdian Kapal Angkut Tank Era Perang Dunia 2 Milik TNI AL

Salah satu tamtama TNI AL yang ikut dalam pendadaran itu ialah Kopda Laut Soewarno yang berbasis di Stasion AL (Sional) Palembang. Di tengah kebosanan menjalani tugas rutin, ia terpikat pengumuman mencari sukarelawan untuk dididik menjadi pasukan katak. Dari ribuan pelamar, hanya ia beserta delapan personel TNI AL lain yang dinyatakan berhak mengikuti Sekolah Komando Chusus Sukarelawan (SKCS) di kawasan Cipulir, Jakarta Selatan. Sekolah ini memang sengaja didirikan dalam rangka ‘crash program‘ mencetak personel pasukan katak baru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here