Kerajaan Sriwijaya: Sejarah, Raja-Raja, Kejayaan, dan Peninggalannya – HobbyMiliter.com – Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan maritim bercorak Buddha yang berdiri di Sumatra pada abad ke-7 hingga ke-13 Masehi. Berpusat di Palembang, Sriwijaya menguasai jalur perdagangan Selat Malaka dan menjadi kerajaan terbesar di Asia Tenggara pada masanya, sekaligus pusat pembelajaran agama Buddha yang dihormati hingga ke India dan Tiongkok. Artikel ini membahas sejarah berdiri, raja-raja, masa kejayaan, kehidupan, peninggalan, dan keruntuhan Kerajaan Sriwijaya.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan Sriwijaya didirikan oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa sekitar tahun 682 Masehi. Bukti tertuanya adalah Prasasti Kedukan Bukit (683 M) yang ditemukan di Palembang. Prasasti ini menceritakan perjalanan suci (siddhayatra) Dapunta Hyang dari Minanga Tamwan dengan membawa sekitar 20.000 tentara, yang berakhir dengan berdirinya wanua (kota) Sriwijaya.
Letak ibu kotanya di Palembang sangat strategis: di tepi Sungai Musi yang bermuara dekat Selat Malaka, jalur pelayaran tersibuk antara India dan Tiongkok. Dari posisi inilah Sriwijaya tumbuh menjadi kekuatan maritim yang mengendalikan perdagangan di perairan Sumatra, Semenanjung Malaya, dan pesisir Jawa. Sriwijaya termasuk kelompok kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, dengan corak Buddha yang menonjol.
Raja-Raja Kerajaan Sriwijaya
- Dapunta Hyang Sri Jayanasa (akhir abad ke-7) — pendiri kerajaan.
- Indrawarman — tercatat menjalin hubungan diplomatik dengan kekhalifahan Islam pada awal abad ke-8.
- Rudra Wikrama — tercatat mengirim utusan ke Kekaisaran Tiongkok.
- Balaputradewa (sekitar 860 M) — raja Sriwijaya paling terkenal, keturunan Wangsa Syailendra; pada masanya Sriwijaya mencapai puncak pengaruh sebagai pusat agama Buddha, dan namanya tercatat hingga di Prasasti Nalanda, India.
- Sri Udayaditya Warmadewa dan Sri Hujang Hati — memerintah pada masa hubungan dagang dengan Tiongkok Dinasti Song berjalan intensif.
- Sanggrama Wijayatunggawarman — raja yang memerintah saat Sriwijaya diserang Kerajaan Chola dari India pada tahun 1025.
Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya
Sriwijaya mencapai masa kejayaan pada abad ke-8 hingga ke-10. Pendorongnya adalah penguasaan jalur perdagangan internasional: setiap kapal yang berlayar antara India dan Tiongkok melewati Selat Malaka dan Selat Sunda yang dikuasai Sriwijaya, sehingga pelabuhan-pelabuhannya ramai dan kerajaan memperoleh pemasukan besar dari perdagangan dan jasa pelabuhan. Barang dagangannya antara lain kapur barus, gading, rempah-rempah, emas, dan hasil hutan.
Di bidang agama dan pendidikan, Sriwijaya adalah pusat pembelajaran Buddha Mahayana yang termasyhur. Pendeta I-Tsing dari Tiongkok mencatat ada lebih dari 1.000 biksu belajar di Sriwijaya; ia sendiri singgah dan belajar bahasa Sanskerta di sana pada tahun 671 sebelum melanjutkan perjalanan ke India. Kelak, guru besar Buddha Atisha dari India juga pernah belajar di Sriwijaya (Suvarnabhumi). Jaringan diplomasi Sriwijaya terbentang dari Tiongkok, India, hingga dunia Arab yang menyebutnya Zabaj.

Kehidupan Kerajaan Sriwijaya
Politik: Sriwijaya dipimpin seorang maharaja yang membawahi daerah-daerah taklukan yang disebut kedatuan. Kesetiaan daerah taklukan diikat dengan sumpah dan prasasti kutukan, seperti pada Prasasti Telaga Batu.
Ekonomi: Berbeda dengan kerajaan agraris di Jawa, kekuatan Sriwijaya bertumpu pada perdagangan maritim, pengendalian jalur pelayaran, dan armada laut yang kuat untuk mengamankan perairan dari perompak.
Agama dan budaya: Agama Buddha Mahayana berkembang pesat dan hidup berdampingan dengan kepercayaan lokal. Bahasa Melayu Kuno — yang ditulis dengan huruf Pallawa — dipakai dalam prasasti-prasastinya, menjadikan Sriwijaya bagian penting dari sejarah awal bahasa Melayu, cikal bakal bahasa Indonesia.
Peninggalan Kerajaan Sriwijaya
- Prasasti Kedukan Bukit (683 M, Palembang) — prasasti tertua Sriwijaya, kini disimpan di Museum Nasional.
- Prasasti Talang Tuwo (684 M) — mencatat pembuatan Taman Sriksetra oleh Dapunta Hyang untuk kesejahteraan rakyat.
- Prasasti Telaga Batu — berisi sumpah kesetiaan dan kutukan bagi yang berkhianat kepada maharaja.
- Prasasti Kota Kapur, Karang Berahi, dan Palas Pasemah — menandai luasnya wilayah pengaruh Sriwijaya di Bangka, Jambi, dan Lampung.
- Candi Muara Takus (Riau) dan kompleks Candi Muara Jambi (Jambi) — kompleks percandian Buddha terbesar di Sumatra dari masa pengaruh Sriwijaya.
- Candi Biaro Bahal (Sumatra Utara) — kompleks candi Buddha di Padang Lawas.
- Arca-arca Buddha — antara lain arca Buddha dari Bukit Seguntang, Palembang, bergaya Amarawati.

Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya
Kemunduran Sriwijaya mulai terasa setelah serangan Rajendra Chola I dari India pada tahun 1025, yang menawan raja dan merampas harta ibu kota. Setelah itu pusat kekuatan bergeser ke Kerajaan Melayu di Jambi, sementara Jawa Timur bangkit melalui Singasari dan Majapahit. Ekspedisi Pamalayu (1275) dan tekanan Majapahit pada abad ke-14 mengakhiri sisa kekuasaan Sriwijaya; namanya kemudian hilang dari peta dan baru dikenal kembali oleh para ahli pada abad ke-20 melalui prasasti-prasastinya.
Demikian sejarah, raja-raja, masa kejayaan, dan peninggalan Kerajaan Sriwijaya — kerajaan maritim terbesar yang pernah berdiri di Nusantara dan bukti bahwa bangsa Indonesia sejak dulu adalah bangsa pelaut dan pedagang antarbangsa.
Baca juga: Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia: Sejarah Masuknya, Pengaruh, dan Peninggalannya dan Kerajaan Tarumanegara: Sejarah, Raja-Raja, Kejayaan, dan Peninggalannya.
Baca juga: Kerajaan Majapahit, imperium besar berikutnya yang menguasai Nusantara setelah era Sriwijaya berakhir.

