L-159
L-159

Gambaran tadi bukan hanya pajangan. Simak saja, sebagai tulang punggung kemampuan tempur adalah radar Grifo L. Perangkat pengendus keluaran FIAR, Italia ini berkemampuan multi misi. Masing-masing delapan sasaran darat dapat sekaligus ditandai. Kelengkapan lain adalah penangkap gelombang radar lawan (RWR) Sky Guardian-200 buatan GEC-Marconi. Untuk menghadapi perang elektronik, L-159 juga dilengkapi dengan sistem anti-jamming Yinten Vicon 78 plus chaff dan flare. Dengan perangkat elektronik ala Barat ini maka otomatis berbagai senjata dari Barat pun sanggup digotong. Sebanyak tujuh cantelan siap membawa AGM-65 Maverick atau rudal udara-udara AIM-9 Sidewinder. Demikian juga dengan camera pod bagi tugas pengintaian. Tak hanya elektronik dan senjata, untuk urusan mesin, L-159 memakai turbof an ITEC F124-GA-100 buatan Honeywell, Amerika. Berbekal mesin ini L-159 bisa digeber hingga kecepatan 800 kilometer perjam. Itupun dengan jarak jangkau hingga 800-an kilometer.

BACA JUGA :  Harga F-35A Berpotensi Turun

Secara ringkas, mitos masih rendahnya teknologi yang dipakai boleh jadi tak berlaku lagi bagi L-159. Pasalnya Aero menggandeng beberapa pabrikan asal Barat untuk mendandani produknya. Dimulai pada tahun 1996, Boeing resmi jadi rekanan Aero. Langkah ini kemudian disusul dengan Allied Signal, Fiar, GEC-Marconi, dan terakhir Honeywell. Tak dapat disangkal, Ceko berhasil menggabungkan airframe asal Blok Timur yang terkenal “badak” dengan teknologi Barat yang mumpuni.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here