Aksi F-4 Phantom Berburu MiG di Vietnam – HobbyMiliter.com. Dia adalah Letnan Randall “ duke “ Cunningham jr. Dia adalah salah satu dari dua ace Amerika dalam perang Vietnam. Dia juga satu-satunya ace AL AS dalam perang ini. Dia adalah salah satu ace yang menghadapi gerilya udara AU Vietnam Utara.

Selama periode  tahun 1965 -1968 nasib pertempuran  udara di Vietnam Utara, perbandingkan kill-to-loss AL adalah 2,42 : 1  sementara AU 2,25 :1. Ini berarti bila penerbang AS berhasil menembak  jatuh dua MIG , mereka kehilangan sebuah pesawat tempur. Selama pertempuran udara  periode ke dua di tahun 1972, kill ratio AL , meningkat 12:1  dan AU makin menurun : 1,88 :1! Hal ini tentu ada latar belakangnya.

BACA JUGA :  C-130 Hercules, Pesawat Angkut Militer Yang Multifungsi

Menjelang berakhirnya Perang Korea dan bahkan jauh sebelumnya, maneuver pertempuran udara  ( dulunya dikenal sebagai  dogfighting, baseling dan redogging ) merupakan  merupakan bagian besar dalam latihan pilot penempur, termasuk diantaranya adalah penggunaan  kanon dalam  pesawat. Tapi akhir  1950, konsepwestern  air forces yang canggih menggubah semua itu. Misil menggantikan kanon dan maneuver pertempuran udara  tidak begitu di utamakan  lagi.

Aksi F-4 Phantom Berburu MiG di Vietnam
Aksi F-4 Phantom Berburu MIG di Perang Vietnam

Sehingga peperangan udara selanjutnya akan dilakaukan pembom jarak jauh, pesawat tempur bertugas hanya sebagai  adalahinterceptorsyang terbang cepat , tinggi dan dilengkapi senjata misil  dan radar canggih. Musuh diburu lewatscopedan pilot juga tidak akan pernah melihat pesawat sasaran. Inilah yang melahirkan F-4 Phantom II, F-6 Delta Dart dll.

BACA JUGA :  Amerika Menerbangkan Pesawat Pengintai Elektronik di Lepas Pantai Venezuela, Persiapan Perang?

Karena konsep ini, hasil penyerangan udara AS ke Vietnam Utara pada Operation Rolling Thunder, menjadi tamparan yang menyedihkan. Baik bagi AL maupun AU  AS, dari 1965 -1968, mereka menembak jatuh sekitar 110 MIG dalam berbagai pertempuran  udara, tapi kehilangn 48 pesawat sebagai tumbalnya. Tentu saja perbandingan 2,29 :1 merupakan malapetaka dibanding hasil dalam Perang Korea yang mencapai 10:1.

Pihak AL bekerja keras mencari tahu dimana letak kelemahan tersebut, mereka tiba pada kesimpulan bahwa para pilot tidak terlatih untukcombat maneuvering battle. Atas dasar hasilk penelitian tersebut, pada bulan September 1968, dibentuklah Navy Fighter Weapon School, di NAS Miramar dekat San Diego. ”Top Gun” pun lahir. Antisipasi AL ini memang terbayar dalam Linebacker Operationspada tahun 1972, sehingga ketika Letnan Randall “duke“ Cunningham Jr. berangkat unuk bertempur, pilot tersebut sedikitnya sudah melakukan lebih dari 200 simulasi dogfight. [Bersambung ke Halaman Berikutnya]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here