Kisah F-4 Phantom vs MiG-21 di Perang Vietnam – HobbyMiliter.com. Dia adalah Letnan Randall “ duke “ Cunningham jr. Dia adalah salah satu dari dua ace Amerika dalam perang Vietnam. Dia juga satu-satunya ace AL AS dalam perang ini. Dia adalah salah satu ace yang menghadapi gerilya udara AU Vietnam Utara.

Selama periode  tahun 1965 -1968 nasib pertempuran  udara di Vietnam Utara, perbandingkan kill-to-loss AL adalah 2,42 : 1  sementara AU 2,25 :1. Ini berarti bila penerbang AS berhasil menembak  jatuh dua MIG , mereka kehilangan sebuah pesawat tempur. Selama pertempuran udara  periode ke dua di tahun 1972, kill ratio AL , meningkat 12:1  dan AU makin menurun : 1,88 :1! Hal ini tentu ada latar belakangnya.

Menjelang berakhirnya Perang Korea dan bahkan jauh sebelumnya, maneuver pertempuran udara  ( dulunya dikenal sebagai  dogfighting, baseling dan redogging ) merupakan  merupakan bagian besar dalam latihan pilot penempur, termasuk diantaranya adalah penggunaan  kanon dalam  pesawat. Tapi akhir  1950, konsepwestern  air forces yang canggih menggubah semua itu. Misil menggantikan kanon dan maneuver pertempuran udara  tidak begitu di utamakan  lagi.

Aksi F-4 Phantom Berburu MiG di Vietnam
Aksi F-4 Phantom Berburu MIG di Perang Vietnam

Sehingga peperangan udara selanjutnya akan dilakaukan pembom jarak jauh, pesawat tempur bertugas hanya sebagai  adalahinterceptorsyang terbang cepat , tinggi dan dilengkapi senjata misil  dan radar canggih. Musuh diburu lewatscopedan pilot juga tidak akan pernah melihat pesawat sasaran. Inilah yang melahirkan F-4 Phantom II, F-6 Delta Dart dll.

Karena konsep ini, hasil penyerangan udara AS ke Vietnam Utara pada Operation Rolling Thunder, menjadi tamparan yang menyedihkan. Baik bagi AL maupun AU  AS, dari 1965 -1968, mereka menembak jatuh sekitar 110 MIG dalam berbagai pertempuran  udara, tapi kehilangn 48 pesawat sebagai tumbalnya. Tentu saja perbandingan 2,29 :1 merupakan malapetaka dibanding hasil dalam Perang Korea yang mencapai 10:1.

Pihak AL bekerja keras mencari tahu dimana letak kelemahan tersebut, mereka tiba pada kesimpulan bahwa para pilot tidak terlatih untukcombat maneuvering battle. Atas dasar hasilk penelitian tersebut, pada bulan September 1968, dibentuklah Navy Fighter Weapon School, di NAS Miramar dekat San Diego. ”Top Gun” pun lahir. Antisipasi AL ini memang terbayar dalam Linebacker Operationspada tahun 1972, sehingga ketika Letnan Randall “duke“ Cunningham Jr. berangkat unuk bertempur, pilot tersebut sedikitnya sudah melakukan lebih dari 200 simulasi dogfight.

Letnan Randall H. Cunningham (kedua dari kiri) dan Letnan William P. Driscoll (ketiga dari kiri).
Letnan Randall H. Cunningham (kedua dari kiri) dan Letnan William P. Driscoll (ketiga dari kiri).

Pada penugasan pertamanya di atas kapal induk USS America, Duke Cunningham tidak mengalami banyak masalah, karena Presiden Jhonshon melarang kegiatan pengeboman di seluruh wilayah Vietnam Utara selama 9 bulan antara 1969 – 1970. Skadronnya hanya mendapatkan 12 kali tembakan dalam penugasan pertamanya.

BACA JUGA :  Pesawat Tempur Pencegat Supercepat MiG-41 Akan Terbang Lebih Cepat Dari Rudal

Duke kembali ke Vietnam dalam penugasan ke duanya diatas kapal induk USS Constellation. Duke meninggalkan pelabuhan san Diego untuk melakukna pelayaran yang kedua pada pagi hari tanggal 1 oktober 1971 dengan kapal UUS Constellation (“connie”). Strike operation ini belum-belum sudah member kejutan. Unit unit AAA (Anti Aircraft Artilery -meriam anti pesawat ) dan lokasi SAM (surface to air missiles) pada peta operasi yang ditandai dengan paku warna – warni ada begitu banyak, sampai sampai menyerupai gambar pohon natal. Padahal setahun sebelumnya ketika penugasan pertamanya, peta itu boleh dikatakan tampil nyaris tanpa paku-paku tersebut. 9 bulan tanpa serangan udara tersebut telah dimanfaatkan Vietnam Utara dengan begitu baik.

Memang di awal perang, Vietnam Utara memindahkan cukup banyak SAM ke wilayah selatan dan ke Laos. Kebanyakan meriam yang pernah membentengi daerah utara dipindah ke selatan.

Aksi F-4 Phantom Berburu
Aksi F-4 Phantom Berburu MIG di Perang Vietnam

Jalur pemindahan yang dipakai adalah Ho Chi Minh Trail. Para ‘Gomers’ -begitu julukan bagi orang-orang Vietnam Utara, mengakngkut peralatan satu persatu, sampai membentuk satu jaringan kompleks logistik yang besar, truk digantikan sepeda. Bulldozer membuat ratusan jalan dibawah tutupan kanopi hutan belantara. Tank serta pasukan sedikit demi sedikit memasuki daerah selatan, dan para tentara Vietnam Utara pun dibekali grannat lebih dari yang mereka butuhkan.

Duke disiapkan untuk menghadapi ancaman MiG, tanpa memperhitungkan akan banyak mengalami tembakan kanon kecil, seperti 23 mm, 37 mm,57 mm, 85 mm, 100 mm, 120 mm, juga SAM. Sehingga dalam misi ini dia disiapkan untuk menjatuhkan lebih banyak bom.

Misi pertamanya adalah menuju daerah sasaran dekat lembah Tchepone, Laos. ‘Gomers’ banyak yang sudah menyusup kesana. Truk-truk yang menggangkut suplai berbaris di jalan, dan pertahanan musuh telah jauh ditinggkatkan untuk melindungi jalur suplai yang membanjir dari Rusia dan China yang diangkut dengn kapal dan diantar ke selatan dengan truk, mobil, sepeda, bahkan berjalan kaki.

BACA JUGA :  Kehebatan C4ISR Sebagai Sistem Pertahanan Indonesia
Aksi F-4 Phantom Berburu
Aksi F-4 Phantom Berburu MIG di Perang Vietnam

Empat F-4 Phantom II, empat A-6 Intruder dan empat A-7 Corsair akan berjumpa dengan pesawat pengontrol udara (FAC, Forward Air Controller) terlebih dahulu, sebuah OV-10 yang ber call–sign “Covey 632“. Ke-4 formasi kecil tersebut akan lebih mudah melakukan maneuver bila mereka sampai ditembak. Sejak pesawat AS kesulitan menyerang langsung lewat wilayah udara Vietnam, mereka menggambil jalur koridor utara pangkalan udara Da Nang, baru masuk Laos.

Ini merupakan misi pertempuran pertama bagi Letnan Brian Grant, wingman Duke, dia bersama dengan Letnan Jerry “sea cow” Sullivan petugas RIO (Radar Intercept Operator) berpenggalaman ditempat duduk belakang. Sedangkan bagi petugas RIO yang menemani Duke, Letnan Bill “irish”/ willlie” Driscoll, ini merupakan tempat penggalaman tempur pertamanya. US Navy biasanya menempatkan pilot tempur berpenggalaman dengan RIO yang tidak berpenggalaman dan sebaliknya.

Aksi F-4 Phantom Berburu
Aksi F-4 Phantom Berburu MIG di Perang Vietnam

F-4 mereka sudah siap. Para awak darat sudah melakukan tugasnya dengan baik, kini giliran para pilot ini. Kanopi menutup saat mesin jet dihidupkan, system AC mulai hidup meniupi wajah pilot yang berkeringat, akibat panasnya semburan mesin jet dan cuaca tropis, cek final terakhir dilakukan secara cepat oleh cat officer yang langsung memberikan sinyal pada catapult operator, untuk ‘melepaskan’ pesawat tersebut.

Dalam waktu beberapa detik, pesawat F- 4 berbobot 56.000 ton melesat dengn cepat. G-force yang demikian besar sempat membuat penglihatan Duke buram, namun dia benar-benar melesat dengan mulus bagai elang, di udara panas bulan November itu.

Barisan hutan belantara nampaknya luas menghampar dibawah Duke saat mendekati titik pertemuan. Mereka berusaha terbang diatas 300 kaki, menghindari masuk radius AAA kaliber kecil. Tak lama, mata mereka sudah menangkap kilasan putih sayap bagian atas Covey yang telah menanti mereka.

OV-10 Bronco, pesawat yang digunakan oleh Convey 362.
OV-10 Bronco, pesawat yang digunakan oleh Convey 362.

“Showtime, ada tiga truk parkir sepanjang jalan,“ laporan dari Covey. Berputar di ketinggian 15.000 kaki, Duke dan wingmannya mengamati Covey mulai beraksi. Pesawat baling –baling itu menukik tajam, mengarah ke barisan truk sambil menembakan sebuah roket. Tapi roket itu meledak 10 meter sebelah selatan truk-truk tersebut. Ketika Covey bersiap unuk melakukan penembakan kedua, moncong AAA 37mm tampak muncul membidik OV-10. “Covey awas, mereka menembak anda !!” seru Duke.

BACA JUGA :  Jepang Siagakan Jet Tempur Pasca Latihan AU Tiongkok Dekat Okinawa

Covey tetap mengincar sasaranya dan berhasil menembakan sebuah roket persis di tengah barisan truk tersebut. Dengan lega Covey menarikan hidung ke atas “okay navy,“ suara Covey diradio.“ Kedudukan 6 banding nol, AU enam AL..” Branco itu tiba-tiba berubah menjadi gumpalan api ketika sebuah peluru 37 mm tepat mengenainya. Duke terperangah takut. baru kali ini pesawat ditembak jatuh tepat didepan matanya, rasa tak berdaya merasukinya. Covey tampak jatuh menimpa hutan belantara dan meledak.

Aksi F-4 Phantom Berburu
Aksi F-4 Phantom Berburu MIG di Perang Vietnam

“Ada tembakan meriam! “ seru dua A-7 ikut bergabung dengan penerbang mereka. Dalam beberapa detik ledakan kedua tampak membahana di hutan belantara. Duke dan Brian berputar, menghindar. Sedih rasanya ketika mereka terbang melintasi pesawat yang tertembak tadi. Tapi apa daya, bahan bakar mereka tinggal sedikit, sehingga mereka terpaksa kembali ke USS Constellation.

F-4 Phantom di atas geladak USS Constellation.
F-4 Phantom di atas geladak USS Constellation.

Hari-hari pertama pertempuran masih terus berjalan dan menjadi rutin bagi kedua skadron F-4 di USS Constellation, Skadron Duke si VF-96 dan VF-92 untuk ditunjuk melakukan misi utama pemboman, photo escort, fleet combat air patrol dan flak suppression. Kebanyakan sorti phantom jatuh pada dua jenis misi terakhir itu.

Ketegangan makin meningkat. Setiap misi makin terasa tegang disbanding sebelumnya, karena musuh makin banyak membawa masuk AAA dan SAM ke Laos dan selatan Vietnam. Pada suatu malam para pilot penempur mulai lagi membuka buka peta Vietnam Utara, untuk pertama kalinya untuk setelah tiga tahun, setelah Washington menghentikannya. Mereka akan melakukan penyerangan ke Vietnam Utara lagi. Tentu saja kali ini AS akan menggunakan secara penuh kekuatan udaranya.

US Navy diperintahkan untuk mengkonsentrasikan penyerangan ke daerah pantai, daerah-daerah patroli MiG, dan penyimpangan suplai. Foto-foto Recce memperlihatkan tempat-tempat penyimpanan suplai di setiap daerah sasaran, berupa jutaan gallon bahan bakar minyak, tank- tank SAM, tempat-tempat peluncuran serta situs peluncuran militer.

Aksi F-4 Phantom Berburu MIG di Perang Vietnam
Aksi F-4 Phantom Berburu MIG di Perang Vietnam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here