Hobbymiliter.com – Jerman-Prancis Batalkan Program Pengembangan Jet Tempur FCAS. Jerman dan Prancis akhirnya resmi membatalkan program pengembangan jet tempur masa depan mereka setelah melalui berbagai lika-liku sejak awal program ini diluncurkan pada tahun 2017. Kesepakatan ini diputuskan oleh pemimpin kedua negara, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Friedrich Merz. Merujuk pada artikel di laman situs web media Jerman Deutsche Welle/DW yang diterbitkan pada hari Selasa, 9 Juni 2026, pemimpin negara Jerman dan Prancis itu berkesimpulan bahwa kedua perusahaan industri dirgantara di kedua negara, yakni Airbus dan Dassault tidak dapat mencapai kesepakatan atau titik tengah dari berbagai isu yang diperdebatkan.
Program pengembangan jet tempur masa depan FCAS atau Future Combat Air System dimulai pada tahun 2017 dengan estimasi biaya berkisar pada 100 Milyar Euro. Program ini melibatkan 3 negara pada awalnya yakni Jerman, Prancis, dan Spanyol. Airbus dan Dassault selaku perusahaan industri dirgantara Jerman dan Prancis dikabarkan mulai mengalami ketidaksepahaman pada tahun 2021. Kedua perusahaan tersebut gagal mencapai kata sepakat pada beberapa hal, diantaranya hak kekayaan intelektual dan kendali atas tahapan riset dan pengembangan lanjutan pada proyek FCAS tersebut.
Selain itu, isu mengenai kebutuhan operasional dari kedua negara tersebut juga dikabarkan memiliki pengaruh signifikan dalam batalnya salah satu proyek pengembangan jet tempur generasi ke-6 di benua Eropa itu. Dengan dibatalkannya proyek FCAS, kedua negara tersebut kini beralih fokus kepada proyek pengembangan Combat Cloud, sebuah sistem jaringan perangkat lunak yang diharapkan mampu menghubungkan unsur pesawat militer, drone, dan sensor-sensor yang dimiliki oleh militer kedua negara tersebut.
Berakhirnya proyek pengembangan jet tempur FCAS, otomatis membuat Eropa kini hanya memiliki satu program pengembangan jet tempur generasi ke-6 yakni GCAP atau Global Combat Air Programme. GCAP sendiri merupakan sebuah program pengembangan jet tempur masa depan yang di inisiasi oleh kerjasama tiga negara yakni Inggris, Italia, dan Jepang.






