Kerajaan Tarumanegara: Sejarah, Raja-Raja, Kejayaan, dan Peninggalannya – HobbyMiliter.com – Kerajaan Tarumanegara adalah kerajaan Hindu tertua di Pulau Jawa yang berdiri sekitar abad ke-4 hingga ke-7 Masehi di wilayah Jawa Barat. Kerajaan ini mencapai masa kejayaan pada pemerintahan Raja Purnawarman dan meninggalkan tujuh prasasti batu yang menjadi sumber utama sejarahnya. Artikel ini membahas sejarah berdiri, raja-raja, masa kejayaan, kehidupan, peninggalan, dan keruntuhan Kerajaan Tarumanegara.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan Tarumanegara berdiri sekitar tahun 358 Masehi dan didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman. Pusat pemerintahannya berada di Sundapura, yang diperkirakan terletak di sekitar wilayah Bekasi dan Jakarta sekarang. Nama “Tarumanegara” diyakini berasal dari kata taruma, nama sungai yang mengalir di Jawa Barat (kini Citarum), dan kata nagara yang berarti negara atau kerajaan.
Keberadaan Tarumanegara juga tercatat dalam berita dari Tiongkok. Musafir Fa-Hsien yang singgah di Jawa sekitar tahun 414 Masehi menyebut negeri To-lo-mo — yang diyakini para ahli sebagai Tarumanegara — tempat agama Hindu dan Buddha hidup berdampingan dengan kepercayaan asli penduduk. Tarumanegara sezaman dengan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur; keduanya adalah kerajaan Hindu tertua di Nusantara.
Raja-Raja Kerajaan Tarumanegara
Berdasarkan prasasti dan naskah kuno, silsilah raja-raja Tarumanegara yang diketahui adalah:
- Jayasingawarman (358–382 M) — pendiri kerajaan.
- Dharmayawarman (382–395 M).
- Purnawarman (395–434 M) — raja terbesar Tarumanegara; pada masa pemerintahannya kerajaan mencapai puncak kejayaan.
- Wisnuwarman (434–455 M).
- Indrawarman (455–515 M).
- Candrawarman (515–535 M).
- Linggawarman (666–669 M) — raja terakhir yang diketahui; karena tidak memiliki putra mahkota laki-laki, takhtanya beralih melalui garis menantu.
Di antara nama-nama di atas terdapat masa kosong catatan selama lebih dari satu abad, karena sumber sejarah Tarumanegara memang hanya bertumpu pada tujuh prasasti dan berita asing.
Masa Kejayaan pada Pemerintahan Purnawarman
Purnawarman adalah raja yang membawa Tarumanegara ke puncak kejayaan. Ia dikenal sebagai raja yang gagah berani, arif, dan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Bukti paling terkenal adalah Prasasti Tugu, yang mencatat penggalian dua saluran air atas perintahnya: Sungai Candrabhaga dan Sungai Gomati sepanjang 6.122 busur (sekitar 11 km). Penggalian Sungai Gomati diselesaikan hanya dalam 21 hari dan ditutup dengan selamatan serta hadiah 1.000 ekor sapi bagi para brahmana.
Saluran-saluran ini berfungsi sebagai irigasi pertanian sekaligus penanggulangan banjir — bukti bahwa Tarumanegara adalah kerajaan agraris yang maju. Di bidang keagamaan, Purnawarman adalah pemeluk Hindu aliran Wisnu yang taat; pada Prasasti Ciaruteun, telapak kakinya disamakan dengan telapak kaki Dewa Wisnu.

Kehidupan Kerajaan Tarumanegara
Politik: Tarumanegara adalah kerajaan monarki dengan raja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, dibantu para pejabat dan brahmana. Pembahasan khusus mengenai sistem dan kehidupan politiknya dapat dibaca di artikel Kehidupan Politik Kerajaan Tarumanegara.
Ekonomi: Mata pencaharian utama penduduk adalah pertanian (didukung irigasi sungai), ditambah peternakan, perburuan, dan perdagangan. Letak Tarumanegara yang dekat pantai utara Jawa Barat membuatnya ikut serta dalam jalur perdagangan antar pulau dan dengan pedagang asing.
Sosial-budaya: Masyarakat Tarumanegara telah mengenal susunan bertingkat. Pengaruh Hindu masuk dengan kuat — bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa dipakai dalam prasasti — tetapi kepercayaan asli penduduk tetap hidup, sebagaimana dicatat Fa-Hsien.
Peninggalan Kerajaan Tarumanegara
Peninggalan utama Tarumanegara adalah tujuh prasasti berbahasa Sanskerta beraksara Pallawa:
- Prasasti Ciaruteun (Ciampea, Bogor) — berisi telapak kaki Purnawarman yang disamakan dengan kaki Dewa Wisnu.
- Prasasti Kebon Kopi (Ciampea, Bogor) — berisi telapak kaki gajah tunggangan raja yang disamakan dengan gajah Airawata.
- Prasasti Tugu (Cilincing, Jakarta) — prasasti terpanjang; mencatat penggalian Sungai Candrabhaga dan Gomati.
- Prasasti Jambu (Nanggung, Bogor) — memuji kebesaran dan keberanian Purnawarman.
- Prasasti Muara Cianten (Ciampea, Bogor) — berisi pahatan telapak kaki; tulisannya belum berhasil dibaca hingga kini.
- Prasasti Pasir Awi (Citeureup, Bogor) — berisi pahatan dahan dan telapak kaki.
- Prasasti Cidanghiang (Lebak, Banten) — memuji Purnawarman sebagai teladan para raja.
Selain prasasti, saluran Sungai Gomati peninggalan Purnawarman juga merupakan peninggalan fisik Tarumanegara yang jejaknya dikaitkan dengan aliran sungai di wilayah Bekasi.

Keruntuhan Kerajaan Tarumanegara
Setelah Linggawarman wafat sekitar tahun 669 Masehi tanpa putra mahkota laki-laki, kekuasaan beralih ke menantunya, Tarusbawa. Peralihan ini memicu perpecahan: menantu Linggawarman yang lain, Wretikandayun, menolak bergabung dan mendirikan Kerajaan Galuh. Wilayah Tarumanegara pun terbelah menjadi Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh, dan nama Tarumanegara menghilang dari catatan sejarah.
Demikian sejarah, raja-raja, masa kejayaan, dan peninggalan Kerajaan Tarumanegara, kerajaan Hindu tertua di tanah Jawa yang namanya berasal dari Sungai Taruma — cikal bakal nama Citarum, sungai terbesar di Jawa Barat.
Baca juga: Kerajaan Kutai: Sejarah, Raja-Raja, Masa Kejayaan, dan Peninggalannya dan Kehidupan Politik Kerajaan Tarumanegara.

