HomeBlog MiliterReferensiZaman Megalitikum: Pengertian dan Hasil Kebudayaannya (Menhir, Dolmen, Sarkofagus, Waruga)

Zaman Megalitikum: Pengertian dan Hasil Kebudayaannya (Menhir, Dolmen, Sarkofagus, Waruga)

Zaman Megalitikum: Pengertian dan Hasil Kebudayaannya (Menhir, Dolmen, Sarkofagus, Waruga) – HobbyMiliter.com – Zaman Megalitikum adalah zaman batu besar, masa ketika masyarakat prasejarah Indonesia mendirikan bangunan-bangunan raksasa dari batu untuk memuja arwah nenek moyang. Jejaknya tersebar dari Sumatra sampai Papua: menhir, dolmen, sarkofagus, waruga, sampai punden berundak Gunung Padang yang mendunia. Artikel ini membahas pengertian zaman Megalitikum dan hasil-hasil kebudayaannya.

Situs Megalitikum Gunung Padang, Cianjur
Situs Megalitikum Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat. Foto: Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Pengertian Zaman Megalitikum

Kata Megalitikum berasal dari kata Yunani mega yang berarti besar dan lithos yang berarti batu, sehingga disebut zaman batu besar. Berbeda dengan zaman batu lainnya, Megalitikum bukanlah babak waktu yang berdiri sendiri: tradisi mendirikan bangunan batu besar ini berkembang pada masa zaman Neolitikum akhir dan berlanjut sampai zaman logam, bahkan sebagian tradisinya masih hidup di beberapa daerah Indonesia sampai sekarang.
Latar belakangnya adalah kepercayaan masyarakat prasejarah terhadap arwah nenek moyang (animisme). Orang yang meninggal dianggap arwahnya tetap berpengaruh bagi kehidupan keturunannya, sehingga perlu dibuatkan tempat pemujaan dan penguburan yang layak — dari batu-batu besar yang dikerjakan bergotong-royong.

Hasil Kebudayaan Zaman Megalitikum

1. Menhir

Menhir adalah tugu atau tiang batu tunggal yang ditegakkan untuk pemujaan arwah nenek moyang dan sebagai tanda peringatan. Menhir banyak ditemukan di Sumatra Barat (daerah Limapuluh Kota), Sumatra Selatan, dan Sulawesi. Di beberapa tempat menhir disusun berderet atau melingkar.

Menhir peninggalan zaman Megalitikum di Sumatra Barat
Menhir di Sumatra Barat. Foto: Wikimedia Commons (domain publik).

2. Dolmen

Dolmen adalah meja batu berkaki, terdiri dari sebuah batu datar besar yang ditopang batu-batu tegak. Dolmen berfungsi sebagai tempat meletakkan sesaji bagi arwah nenek moyang, dan di beberapa daerah juga dipakai sebagai penutup kubur. Peninggalannya ditemukan antara lain di Bondowoso, Jawa Timur, dan dataran tinggi Pasemah, Sumatra Selatan.

3. Sarkofagus

Sarkofagus adalah peti mati dari batu yang terdiri dari wadah dan tutup, kadang diukir menyerupai bentuk perahu atau hewan. Sarkofagus paling terkenal berasal dari Bali, tempat peti-peti batu ini ditemukan bersama bekal kubur berupa perhiasan dan alat-alat.

Sarkofagus batu dari Bali
Sarkofagus batu dari Bali. Foto: Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0).

4. Waruga

Waruga adalah kubur batu khas Minahasa, Sulawesi Utara. Bentuknya seperti rumah kecil: bagian bawah berbentuk kotak sebagai wadah jenazah, dan tutupnya berbentuk atap rumah yang sering diukir dengan gambar manusia, hewan, dan tumbuhan. Jenazah dimasukkan dalam posisi jongkok terikat, kadang satu waruga dipakai untuk beberapa anggota keluarga.

5. Punden Berundak

Punden berundak adalah bangunan bertingkat-tingkat menyerupai tangga lebar yang makin ke atas makin kecil, dengan bagian puncak sebagai tempat pemujaan arwah nenek moyang. Punden berundak dianggap sebagai cikal bakal bentuk candi di Indonesia. Contoh terbesarnya adalah Situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat — kompleks megalitik terluas di Asia Tenggara yang tersusun dari balok-balok batu andesit di lima teras bukit.

6. Hasil Kebudayaan Lainnya

Selain kelimanya, zaman Megalitikum juga meninggalkan arca batu (patung nenek moyang, terkenal dari Pasemah, antara lain arca manusia menunggang kerbau), peti kubur batu dan bilik batu, kalamba (bejana batu besar dari Lembah Bada dan Besoa, Sulawesi Tengah), batu dakon, serta lumpang dan batu kenong yang ditemukan di Bondowoso.

Demikian pengertian zaman Megalitikum dan hasil-hasil kebudayaannya. Bangunan-bangunan batu besar ini membuktikan masyarakat prasejarah Indonesia sudah mengenal organisasi kerja, kepemimpinan, dan kepercayaan yang kuat — modal dasar sebelum memasuki zaman sejarah. Rangkaian masa prasejarah ini dapat ditelusuri dari zaman Arkaekum sampai manusia purba dan zaman-zaman batu lainnya.

Baca juga: Zaman Neolitikum: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Hasil Kebudayaannya.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusuma
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

[td_block_1 custom_title="Baca Juga" sort="random_posts"]