WC-130J Hercules.
WC-130J Hercules.

Pesawat Khusus WC-130J, Hercules Pemburu Badai – HobbyMiliter.com – Sudah puluhan tahun United States Air Force (USAF) memiliki skadron Hurricane Hunters, skadron khusus yang tugasnya mendeteksi pergerakan badai, pemburu badai. Sebenarnya skadron yang dinamai 53rd Weather Reconnaissance Squadron ini sudah eksis sejak 1946. Mereka terus meningkatkan baik kualitas pesawat maupun kemampuan awak. Sebagai skadron yang merupakan unit cadangan, United States Air Force Reserve, misi 53rd selain untuk kepentingan militer juga untuk publik.

Sejarah berdirinya skadron pemburu badai berawal dari kenekatan pilot-pilot AS yang sedang latihan terbang di Texas. Latihan yang berlangsung tahun 1942 itu melibatkan pilot-pilot Inggris. Tujuan mereka sebenarnya untuk persiapan menghadapi Perang Dunia II. Para pilot berlatih menggunakan pesawat AT-6 Texan hingga pada suatu kesempatan, mereka bertemu badai Texas yang terkenal ganas. Pilot-pilot AS dan Inggris yang tak menduga akan terhadang badai ternyata berhasil lolos. Sejumlah pilot AS bahkan mencoba mengikuti badai itu dan selamat.

Berkat peristiwa tak disengaja itu, teknologi serta kontruksi AT-6 pun mulai disesuaikan dengan tingkat keganasan badai. Terbang sambi! mengamati atau bahkan menghadang datangnya badai, kemudian jadi kegiatan rutin mulai 1946. Tak lama kemudian skadron pemburu badai 53rd Weather Reconnaissance, pun dibentuk.

Skadron ini awalnya mengoperasikan jenis pembom untuk mengintai badai secara serius. Alasannya, karena saat itu, pesawat yang berukuran besar, mampu memuat instrumen ilmiah, dan mampu terbang menghadang badai. Informasi tentang kondisi akan datangnya badai itu ternyata penting untuk perencanaan operasi militer.

Pesawat Khusus WC-130J, Hercules Pemburu Badai
Boeing WB-50D Superfortress

Jenis pembom yang digunakan dan disesuaikan dengan tujuan pengintaian badai terus dikembangkan. Dari tahun ke tahun beragam pesawat telah dioperasikan. Di antaranya B-25 dan B-29 (1945-1947), WB-29 (1951-1956), WB-50 (1956-1963), dan WB-47 (1962-1963). Mulai 1963, armada 53rd berganti pesawat yang lebih besar dan fleksibel, yaitu C-130B.

Hingga saat ini semua jenis Hercules pernah dioperasikan 53rd. Varian C-130 yang digunakan terdiri dari WC-130B, E, H (1965-1991), RC-130 (1974-1975), HC-130 (1976), WC-130H (1993-2005), dan paling terkini sekaligus paling canggih WC-13QJ. Pesawat spesialis pemburu badai generasi terbaru ini mulai beroperasi secara full time sejak akhir 2005.

WC-130H Hercules menuju badai.
WC-130H Hercules menuju badai.

Misi utama WC-130J yang bermarkas di Biloxi, Mississippi, AS adalah mengobservasi pergerakan badai di atas lautan Atlantik. Setiap kali terbang personel yang berangkat minimal lima orang yaitu pilot, kopilot, navigator, aerial reconnaissance weather officer dan weather reconnaissance loadmaster. Kokpit WC-130J sudah dirancang khusus untuk memonitor badai. Tugas tambahan pilot dan kopilot adalah melaporkan perkembangan pergerakan badai ke ruangan monitoring.

Jika cuaca cerah pengamatan bisa dilakukan secara visual atau menggunakan alat monitor khusus Stepped Frequency Microwave Radiometer (SFMR) yang telah dipasang di bawah sayap sebelah kanan. Dari ruangan yang dipenuhi peralatan canggih itu petugas akan melaporkan semua analisa kepada pusat kontrol di darat yang dinamai ARWO (Air Reconnaissance Weather Squadron).

Personel pusat kontrol ARWO, stafnya terdiri dari para ahli pengamat badai yang sudah sangat berpengalaman. Laporan kepada ARWO bukan hanya dimonopoli petugas ruang monitor tapi bisa juga dilakukan langsung oleh kopilot.

Kendati awak dan pesawat WC-130J 53rd siaga 24 jam dan bekerja secara shift, mereka hanya akan terbang jika badai di atas Atlantik mulai terdeteksi. Sebagai personel cadangan yang terdiri dari warga sipil, jika sedang tidak bertugas mereka bekerja di profesi masing-masing. Begitu tercium akan datangnya badai oleh lembaga lain lewat satelit, para akwak diaktifkan dan WC-130J segera melesat dan mampu bertahan 11 jam di udara jika dikehendaki.

Yang unik setiap melakukan penerbangan, awak WC-130J selalu membawa propeller cadangan karena perangkat ini paling rawan terpaan badai. Jika ada masalah pada propeller biasanya WC-130J akan mendarat di pangkalan terdekat untuk melaksanakan perbaikan.

WC-130J Hercules di Dobbins ARB, Marrietta Georgia.
WC-130J Hercules di Dobbins ARB, Marrietta Georgia.

Biasanya ketika sedang memburu badai, WC-130J akan terbang pada ketinggiaan 10.000 kaki dan begitu melihat pergerakkan badai langsung mengikutinya. Pergerakkan badai selanjutnya dianalisa kecepatan, tekanan udara, dan arah pergerakkannya. Tugas WC-130J baru berakhir setelah pergerakkan badai berhenti. Selama mengamati badai, infomasi yang kemudian diberikan ke pusat kontrol di darat akan sangat membantu pada langkah apa yang seharusnya dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi datangnya badai itu.

Di dalam kokpit, tugas pilot selain mengendalikan pesawat juga mengamati data perkembangan badai pada layar radar monitor khusus Color Multifunction Displays (MFD). Bagi pilot info itu penting demi kepentingan keselamatan penerbangan mereka. Pesawat WC-130J sendiri telah dilengkapi radar penangkap cuaca tapi tujuannya bukan untuk menghindari datangnya badai. Potensi badai yang datang justru dihadang dan kemudian diikuti pergerakkannya.

WC-130J Hercules dalam operasinya.
WC-130J Hercules dalam operasinya.

Bagi orang awam yang suka mengamati manuver WC-130J, kadang heran karena Hercules itu justru mengikuti pergerakan badai bukan malah menghindarinya. Namun yang pasti kehadiran Hurricane Hunters b3rd makin melengkapi organisasi pemburu badai yang telah ada di AS seperti Typhoon Chasers (AU AS), Typhoon Trackers (AL AS), National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), serta NASA.

Selama keberadaannya dalam tugas memburu badai, baru sekali seri WC-130 Series ini kehilangan pesawatnya dalam badai. Pada 12 Oktober 1974, sebuah WC-130H Hercules yang masih baru, milik 54th Weather Reconnaissance Squadron, unit serupa 53rd yang berpangkalan di Guam, hilang ketika mengamati Topan Bess. Hingga saat ini, awak dan pesawat tidak pernah ditemukan. Kejadian ini adalah satu satunya kejadian dimana sebuah WC-130 series jatuh di operasional.

Di Indonesia, tampaknya belum ada satuan skadron khusus yang bertugas memburu badai ataupun melakukan wheater reconnaissance.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here