HomeBlog MiliterSejarahKerajaan Singasari: Sejarah Berdiri, Raja-Raja, Kejayaan, dan Runtuhnya

Kerajaan Singasari: Sejarah Berdiri, Raja-Raja, Kejayaan, dan Runtuhnya

Kerajaan Singasari – HobbyMiliter.com – Kerajaan Singasari hanya berumur sekitar 70 tahun (1222–1292), tetapi dari kerajaan kecil di pedalaman Malang inilah lahir ambisi maritim terbesar Nusantara abad ke-13: Ekspedisi Pamalayu, penaklukan Bali, dan tekad Raja Kertanegara menantang Kekaisaran Mongol. Singasari juga mewarisi salah satu kisah berdirinya paling dramatis dalam sejarah Indonesia — kisah Ken Arok, keris Mpu Gandring, dan kutukan tujuh nyawa. Artikel ini mengulas sejarah Kerajaan Singasari secara lengkap: berdirinya, raja-rajanya, kejayaan, dan runtuhnya.

Candi Singasari di Malang, peninggalan Kerajaan Singasari (Foto: Wikimedia Commons, CC BY 4.0)

Berdirinya Singasari: Kisah Ken Arok

Menurut Kitab Pararaton, Ken Arok adalah pemuda dari kalangan jelata yang berkat kecerdikan, keberanian, dan serangkaian peristiwa berdarah berhasil merebut kekuasaan. Ia mula-mula mengabdi pada Tunggul Ametung, akuwu (penguasa daerah) Tumapel yang menjadi bawahan Kerajaan Kediri. Ken Arok jatuh cinta pada Ken Dedes, istri Tunggul Ametung, dan atas bujukan pendeta Lohgawe ia memesan sebilah keris kepada Mpu Gandring. Karena keris itu belum selesai ketika batas waktu yang dijanjikannya tiba, Ken Arok yang murka membunuh Mpu Gandring dengan keris setengah jadi itu — dan sang empu mengutuk bahwa keris tersebut akan menewaskan tujuh orang, termasuk Ken Arok sendiri. Keris itu kemudian dipinjamkan kepada Kebo Ijo yang memamerkannya ke mana-mana; Ken Arok mencurinya kembali dan membunuh Tunggul Ametung dengannya, sehingga Kebo Ijo yang dituduh dan dihukum mati — korban kedua dan ketiga dari kutukan itu.

Ken Arok lalu menikahi Ken Dedes dan menyatakan Tumapel merdeka dari Kediri. Raja Kediri, Kertajaya, menyerbu untuk menghukum pemberontakan ini, tetapi pasukannya dikalahkan Ken Arok dalam Pertempuran Ganter pada 1222. Kertajaya tewas, Kediri takluk, dan Ken Arok mendirikan kerajaan baru bernama Singasari dengan gelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Namun kutukan Mpu Gandring terus bekerja: pada 1227 Ken Arok dibunuh oleh Anusapati, anak Ken Dedes dari Tunggul Ametung, dengan keris yang sama. Anusapati kemudian dibunuh oleh Tohjaya, putra Ken Arok dari selir Ken Umang — lagi-lagi dengan keris pusaka itu. Singasari lahir dan tumbuh dalam lingkaran balas dendam yang baru mereda pada masa raja berikutnya.

Raja-Raja Kerajaan Singasari

Setelah masa berdarah itu, takhta berpindah lebih tertib. Wisnuwardhana (1248–1268) memerintah bersama Narasinghamurti dan menata kerajaan: memperkuat pemerintahan, memperluas wilayah, dan membangun hubungan dengan berbagai daerah. Putranya, Kertanegara (1268–1292), adalah raja terbesar Singasari — dan yang terakhir. Di bawah merekalah Singasari berubah dari kerajaan pedalaman Jawa Timur menjadi kekuatan yang diperhitungkan se-Nusantara. Silsilah ini penting karena dari perkawinan keluarga Singasari kelak lahir Raden Wijaya, pendiri Majapahit, yang merupakan menantu Kertanegara.

Kejayaan Masa Kertanegara: Ekspedisi Pamalayu

Kertanegara memiliki visi yang jauh melampaui zamannya: menyatukan Nusantara (konsep yang dalam prasastinya disebut menyatukan seluruh dwipantara) di bawah Singasari sebelum kekuatan asing dari utara — Mongol — datang. Pada 1275 ia meluncurkan Ekspedisi Pamalayu ke Kerajaan Melayu di Jambi, Sumatra. Ekspedisi ini lebih bersifat diplomasi bersenjata daripada penaklukan brutal: pada 1286 Kertanegara mengirimkan Arca Amoghapasa ke Melayu sebagai hadiah persahabatan, yang dipahatkan dengan prasasti Padang Roco — bukti aliansi Jawa–Melayu yang ditujukan membendung pengaruh Mongol. Pengaruh Singasari juga menjangkau Bali (ditaklukkan 1284), Madura, Kalimantan bagian selatan, dan Sunda. Dalam bidang keagamaan, Kertanegara memadukan Hindu-Siwa dan Buddha Tantra dalam sinkretisme Siwa-Buddha yang menjadi ciri khas Jawa Timur, dan ia sendiri dikenal sebagai penganut yang taat sekaligus raja yang keras kepala.

Runtuhnya Singasari: Jayakatwang dan Mongol

Kejatuhan Singasari datang dari dua arah sekaligus. Kubilai Khan, kaisar Mongol Tiongkok, berulang kali mengirim utusan menuntut Singasari tunduk dan membayar upeti. Pada 1289, utusan terakhirnya, Meng Khi, justru dilukai wajahnya oleh Kertanegara dan dipulangkan dengan hinaan — tindakan yang membuat Kubilai Khan menyiapkan armada hukuman besar. Sebelum armada itu tiba, Singasari lebih dulu runtuh dari dalam: pada 1292 Jayakatwang, penguasa Gelang-Gelang (bawahan Singasari keturunan Kediri), memberontak. Karena sebagian besar tentara Singasari sedang dikerahkan ke luar Jawa, ibu kota mudah direbut dan Kertanegara tewas dalam kerusuhan istana — sebagian kisah menyebut ia terbunuh saat sedang berpesta. Singasari berakhir pada 1292, tetapi ironisnya armada Mongol tetap datang pada 1293 untuk menghukum kerajaan yang sudah tidak ada — dan kedatangan merekalah yang tanpa sengaja membuka jalan bagi menantu Kertanegara, Raden Wijaya, untuk mendirikan Majapahit.

Peninggalan Singasari yang masih dapat disaksikan hari ini antara lain Candi Singasari dan Candi Jago di Malang, serta arca-arca raksasa Dwarapala. Kerajaan yang singkat ini adalah jembatan antara era Kediri dan era Majapahit — dan tanpa memahami Singasari, mustahil memahami bagaimana kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia bisa lahir.

Sumber Sejarah dan Peninggalan Singasari

Sejarah Singasari diketahui dari dua sumber utama yang kadang berbeda nada: Kitab Pararaton yang penuh kisah dramatis Ken Arok dan kutukan keris, serta Negarakertagama karya Mpu Prapanca yang lebih resmi dan ringkas. Keduanya dilengkapi prasasti-prasasti batu seperti Prasasti Mula Malurung dan peninggalan fisik berupa candi. Candi Singasari di Kecamatan Singosari, Malang, diyakini sebagai tempat pendharmaan Kertanegara, meski tidak pernah selesai dibangun akibat runtuhnya kerajaan. Di depannya berdiri dua arca Dwarapala raksasa setinggi hampir empat meter — penjaga gerbang terbesar dari era Hindu-Buddha Jawa — yang menunjukkan skala ambisi kerajaan ini. Tidak jauh dari sana, Candi Jago dengan relief cerita Kresnayana dan Kunjarakarna menjadi bukti kematangan seni dan sastra Singasari. Kerajaan yang pendek umurnya ini meninggalkan warisan yang ternyata jauh lebih panjang: darah dan garis keturunannya mengalir langsung ke raja-raja Majapahit.

Baca juga: Kerajaan Majapahit, penerus langsung Singasari, dan Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusuma
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Baca Juga

Purwarupa MPF Medium Tank AS Masuki Tahap Ujicoba Pasukan

Purwarupa MPF Medium Tank AS Masuki Tahap Ujicoba Pasukan

0
HobbyMiliter.com – Purwarupa kendaraan tempur medium tank MPF atau Mobile Protected Firepower dari dua pabrikan kendaraan tempur yang sedang bersaing untuk memenangkan kontrak pengadaan...