Perang Aceh – HobbyMiliter.com – Perang Aceh (1873–1914) adalah perang kolonial terpanjang dan termahal yang pernah dilancarkan Belanda di Nusantara. Selama empat dasawarsa, Kesultanan Aceh — dibantu semangat perang sabil para ulama dan kegigihan pejuang seperti Teuku Umar, Cut Nyak Dien, dan Panglima Polem — membuat Belanda mengerahkan puluhan ribu serdadu dan menghabiskan kekayaan yang nyaris membangkrutkan kas kolonial. Hingga hari ini Perang Aceh dikenang sebagai salah satu perlawanan paling heroik dalam sejarah Indonesia.

Penyebab Perang Aceh
Aceh adalah kesultanan merdeka yang kaya dari perdagangan lada dan emas, serta diakui kedaulatannya oleh Inggris melalui Traktat London 1824. Situasi berubah setelah Terusan Suez dibuka pada 1869: Selat Malaka menjadi jalur pelayaran tersibuk dunia dan Aceh menguasai gerbang baratnya. Belanda yang ingin menguasai seluruh Sumatra menandatangani Traktat Sumatra dengan Inggris pada 1871 — Inggris tidak lagi menghalangi Belanda menaklukkan Aceh, dengan imbalan Belanda menyerahkan Pantai Emas di Afrika dan memberi hak dagang. Di saat yang sama Aceh mencari perlindungan ke Amerika Serikat, Italia, dan Kesultanan Utsmaniyah. Gerakan diplomatik Aceh ini dijadikan alasan perang: pada 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang dan mengirim ekspedisi besar ke Aceh.
Jalannya Perang: dari Medan Terbuka ke Gerilya
Ekspedisi pertama Belanda berakhir memalukan: komandan mereka, Mayor Jenderal Köhler, tewas tertembak di halaman Masjid Raya Baiturrahman dan pasukannya ditarik mundur. Ekspedisi kedua di bawah Jenderal van Swieten berhasil merebut istana (kraton) Aceh pada Januari 1874 dan Sultan Mahmud Syah wafat tak lama kemudian akibat kolera. Belanda mengira perang selesai — ternyata baru dimulai. Perlawanan berpindah ke pedalaman dan berubah menjadi gerilya total yang dikobarkan para ulama lewat hikayat perang sabil, yang menjanjikan surga bagi yang gugur melawan kafir penjajah. Tokoh-tokohnya menjadi legenda: Teungku Chik di Tiro memimpin jaringan ulama pejuang; Teuku Umar berpura-pura memihak Belanda, menerima senjata dan uang, lalu membelot membawa semuanya untuk menyerang bekas tuannya; dan setelah suaminya gugur, Cut Nyak Dien memimpin gerilya dari hutan selama bertahun-tahun meski matanya berangsur buta.
Titik baliknya datang dari ilmu pengetahuan dan kekerasan yang sistematis. Penasihat Belanda, Snouck Hurgronje, yang menyamar meneliti Islam di Makkah dan Aceh, menyarankan strategi memecah Aceh: rangkul para uleebalang (bangsawan daerah) dengan jabatan dan uang, dan habisi para ulama pejuang tanpa kompromi. Jenderal van Heutsz dan pasukan Marsose-nya — satuan infanteri kecil yang sangat mobil, banyak diisi orang Ambon, Jawa, dan Manado — menerapkan strategi itu dengan brutal di seluruh pedalaman. Satu per satu benteng gerilya jatuh; Cut Nyak Dien ditangkap pada 1905 dan dibuang ke Sumedang; Panglima Polem, panglima tertinggi terakhir, menyerah pada 1903. Belanda menyatakan Aceh takluk pada 1904, meski perlawanan sporadis dan pembunuhan terhadap orang Eropa terus terjadi sampai dan sesudah 1914.
Dampak Perang Aceh
Harga perang ini luar biasa: puluhan ribu rakyat Aceh tewas — sebagian sejarawan menyebut angka jauh lebih besar termasuk korban penyakit dan kelaparan — dan Belanda kehilangan lebih dari sepuluh ribu serdadu serta ratusan juta gulden. Kesultanan Aceh dihapuskan dan wilayahnya dijadikan keresidenan langsung di bawah Batavia, menandai tuntasnya penaklukan Belanda atas seluruh Nusantara. Namun perang ini juga melahirkan ingatan kolektif yang tidak pernah padam: Aceh mendapat julukan Serambi Makkah dan reputasi sebagai daerah yang paling sulit ditaklukkan di Indonesia, dan para pejuangnya — Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Teungku Chik di Tiro, Cut Meutia — kelak diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Perang Aceh membuktikan bahwa perlawanan rakyat yang digerakkan keyakinan dapat menahan kekaisaran kolonial selama dua generasi, jauh lebih lama daripada perang-perang keraton mana pun.
Mengapa Aceh Begitu Sulit Ditaklukkan?
Tiga faktor membuat Perang Aceh berlangsung empat dasawarsa. Pertama, geografi: pegunungan, hutan lebat, dan rawa pesisir membuat pasukan besar Belanda tidak dapat bergerak, sementara gerilyawan lokal mengenal setiap jalan setapak. Kedua, struktur perlawanan yang terdesentralisasi — Aceh tidak punya satu ibu kota yang bila jatuh mengakhiri perang; setiap daerah di bawah uleebalang dan setiap jaringan ulama dapat berperang sendiri-sendiri, sehingga Belanda harus memenangkan ratusan perang kecil, bukan satu perang besar. Ketiga, ideologi perang sabil yang disebarkan lewat Hikayat Prang Sabi: teks ini dibacakan di meunasah-meunasah, menjanjikan surga bagi yang gugur, dan membuat penyerahan diri dianggap pengkhianatan terhadap agama. Belanda baru menang setelah kombinasi ketiganya diatasi — para uleebalang dirangkul, para ulama dijadikan sasaran utama, dan jaringan mereka diputus satu per satu. Bahkan setelah itu pun, Aceh tidak pernah benar-benar jinak di mata kolonial.
Satu peninggalan perang ini yang masih hidup sampai sekarang adalah bahasa ingatan orang Aceh tentang Belanda: kata “kaphee” (kafir) untuk penjajah dan gelar daerah modal bagi Aceh dalam republik lahir dari pengalaman empat puluh tahun itu. Tidak mengherankan bila pada masa revolusi kemerdekaan, Aceh menjadi satu-satunya daerah yang tidak pernah berhasil diduduki kembali oleh Belanda dan justru menyumbangkan pesawat pertama Republik Indonesia — modal perlawanan itu diwarisi langsung dari generasi Perang Aceh.
Baca juga: Cut Nyak Dien, profil pejuang perempuan terbesar perang ini.






