Monday, November 23, 2020
Home Alutsista Drone UAV Penghancuran Pusat Komando Drone, Kenapa Tidak??

Penghancuran Pusat Komando Drone, Kenapa Tidak??

Penghancuran Pusat Komando Drone, Kenapa Tidak?? – HobbyMiliter.com. Pada awal tahun ini kita menyaksikan muncul dan berkembangnya era baru yaitu perang secara aktif menggunakan munisi presisi berupa drone atau pesawat tanpa awak (UAV). Menilik masa lalu bilamana kita mendengar serangan drone atau UAV ini pasti terbayang UAV milik AS yaitu Predator dan versi bersenjatanya yaitu MQ-9 Reaper, namun untuk perang Suriah dan baru-baru ini konflik “benci lama bersemi kembali” Nagorno-Karabakh (untuk selanjutnya akan disingkat NK), pemain baru (tapi lama) muncul yaitu Israel dan Turki.  Kedua pertempuran tersebut menjadi ajang uji coba dan tentunya promosi bagi drone-drone milik kedua negara tersebut.  Gambar dibawah menunjukkan sistahanud Pantsyr di Suriah atau Libya dalam bidikan sebuah UAV.

Pantsyr dalam bidikan drone

Dalam konflik Suriah, Libya dan NK, para pengamat “dimanjakan” dengan rilis berbagai video hancurnya berbagai jenis sasaran oleh drone baik melalui tembakan munisi presisi atau dronenya sendiri menghujam ke sasaran.  Sebaliknya dari pihak yang bertahan juga tak mau kalah membeber dokumentasi penembakan drone, baik ditembak jatuh secara fisik dengan rudal atau artileri pertahanan udara dan secara elektronik dengan pengacau elektronik.  Dalam konflik NK, pihak Azerbaijan menggunakan drone dalam skala relatif besar, sebaliknya pihak militer Armenia relative lebih sedikit dan tidak se-intensif Azerbaijan.  Pihak militer Armenia sendiri pada tanggal 21 Oktober atau 4 hari lalu mengadakan semacam pameran resmi yang menunjukkan prestasi hanud mereka menembak jatuh drone Azerbaijan, seperti pada gambar dibawah.

Drone Azerbaijan yang dijatuhkan oleh Armenia

lebih lanjut mengenai “pameran” UAV yang berhasil dijatuhkan oleh Armenia dapat dibaca disini

Pertanyaan Besar Mengenai Operasi Kontra UAV

Namun demikian pertanyaan besar terbayang di benak penulis “Kenapa kok tidak/sedikit upaya untuk menghancurkan pusat komando drone?”.  Pertanyaan ini yang akan coba dijawab oleh penulis dalam artikel ini, utamanya dalam konteks konflik NK baru-baru ini.

Model operasi pesawat nirawak/UAV

UAV Sendiri dalam operasinya, paling tidak untuk teknologi dewasa ini adalah tidak mungkin beroperasi otonom secara penuh melainkan harus tetap ada suatu ground control atau control darat yang selain dapat mengendalikan drone secara penuh, juga memungkinkan identifikasi sasaran langsung oleh operator.  Ground control ini dapat menghubungi UAV secara langsung melalui antenna yang dimilikinya sendiri atau secara tidak langsung melalui satelit.  UAV taktis sendiri seperti yang digunakan di Suriah, Libya dan NK, dibawah ini adalah contoh salah satu drone ground control station, untuk UAV Bayraktar TB-2.

Stasiun kendali untuk Bayraktar
Stasiun kendali untuk UAV Bayraktar

Stasiun pengendali drone ini sekalipun berada pada sasis swagerak atau yang bersifat portable (dapat dibawa personil, biasanya untuk UAV jarak pendek, dibawah 100 km) harus memiliki Line of Sight atau pandangan langsung ke drone yang dikendalikan olehnya, hal ini akan dapat membatasi ketinggian dimana drone itu dapat terbang dan jarak dimana drone ini dapat terus terawasi oleh stasiun darat, seperti pada illustrasi berikut.

Batas cakrawala
Batas cakrawala untuk Stasiun kendali UAV didarat

Apa yang bisa didapat dari menghancurkan pos komando UAV ?

Dalam konteks konflik NK, Libya dan Suriah, adanya batasan ini seharusnya dapat memungkinkan geolokasi, serangan dan penghancuran terhadap stasiun kendali darat tersebut. Efeknya menurut penulis tentu akan “lebih hebat” daripada sekedar menembak jatuh UAV yang tanpa awak yang cenderung murah dari segi harga dan tidak melibatkan nyawa manusia.

Hancurnya sebuah stasiun kendali drone bukan hanya dapat menimbulkan korban jiwa dan material namun juga hilangnya kapabilitas intelijen lalu cakupan serangan drone untuk area dimana stasiun kendali tersebut beroperasi.  Dampak psikologi yang dapat dirasakan adalah hilangnya rasa aman, dimana bilamana drone tertembak jatuh operator masih bisa merasa “lega” sebaliknya dengan hancurnya pusat komando, maka “rasa aman” tersebut akan hilang dan menunjukkan bahwa lawan masih bisa menjangkau posisinya.

Opsi yang “seharusnya” dapat digunakan dalam operasi kontra UAV.

Dalam konflik NK, Libya dan Suriah, selain daripada kesamaan dalam penggunaan drone dan ketidak-adaan upaya menghancurkan pusat komando drone tersebut, bisa dilihat bahwa faksi yang bertikai adalah sama-sama memiliki asset serangan jarak jauh dan “cepat” berupa rudal balistik.  Armenia dalam hal ini memiliki asset berupa rudal Iskander-E (4 peluncur versi SIPRI) dan rudal Tochka U (40 unit Peluncur versi SIPRI).

Peluncur Iskander Armenia
Peluncur iskander milik Armenia

 

Peluncur rudal Tochka U milik Armenia
Peluncur rudal Tochka U milik Armenia

Armenia juga memiliki aset pengindera elektronik pasif (ESM) berupa Avtobaza yang seharusnya dapat digunakan untuk “mengendus” posisi pusat komando drone.

ESM Avtobaza
Kendaraan pengintai elektronik Avtobaza milik Armenia

Cakupan peluncur rudal Armenia

Dalam illustrasi berikut disajikan contoh cakupan daripada Rudal Iskander-E dibandingkan dengan cakupan komunikasi salah satu jenis drone yang digunakan oleh Azerbaijan yaitu IAI Harop.

Harop VS Iskander coverage
Cakupan rudal Iskander vs jangkauan komunikasi UAV Harop

Dari Illustrasi diatas dapat dilihat cakupan daripada rudal Iskander-E dengan daya jangkau 280 Km, bisa dipastikan bahwa keseluruhan wilayah Konflik NK kecuali ibukota Azerbaijan dapat dijangkau oleh Iskander.

Adapun mengenai penempatan UAV Harop pada peta, posisi peluncuran dipilih berdasarkan jangkauan komunikasi daripada Harop seperti yang dirilis pada situs resmi IAI  https://www.iai.co.il/p/harop dan asumsi bahwa Azerbaijan akan memaksimalkan cakupan komunikasi UAV mereka ke wilayah Armenia.

Untuk Rudal Tochka-U dengan daya jangkau 120 km akan memiliki cakupan seperti pada peta berikut.

Armenia-Tochka-U
Cakupan rudal Tochka U milik Armenia

Cakupan untuk rudal Tochka-U terlihat jauh lebih pendek, namun demikian dengan jumlahnya yang relatif lebih banyak (40 peluncur versi SIPRI) lalu relative lebih mobil, bahkan sasis ynag digunakan Tochka ini adalah bersifat amfibi. Tochka-U memberikan keuntungan dari segi mobilitas dan penggelaran.

Rudal balistik sendiri memberikan keuntungan, bilamana dibandingkan dengan metode lain seperti serangan udara konvensional atau sesama penggunaan UAV , dari segi waktu tempuh dimana rudal balistik dapat menghantam sasaran dalam waktu singkat sehingga diharapkan sasaran tidak sempat berpindah. Akurasi untuk Iskander dan Tochka sendiri adalah relatif baik dengan CEP kurang lebih 2-5 m (Iskander-E) lalu kurang daripada 95 m untuk Tochka U.  Salvo beberapa Tochka U mungkin dibutuhkan untuk secara umum menghancurkan sebuah situs komando dan peluncuran UAV.

Mengapa praktek di lapangan malah berbeda ?

Dari paparan diatas dan adanya aset ESM milik Armenia tentu diharapkan adanya suatu “upaya” lebih dari sekedar menembak jatuh drone Azerbaijan.  Namun dapat kita lihat bahwa Armenia belum/sedikit melakukan upaya serangan ke pusat komando drone Azerbaijan.

Penulis sendiri memandang bahwa factor utama yang mempersulit upaya serangan ini adalah Armenia tidak memiliki aset ESM yang memadai.  Seperti halnya Stasiun pengendali darat untuk drone, Radar lalu tentunya ESM Avtobaza yang dimiliki Armenia adalah penulis pandang kurang memadai karena keterbatasan cakrawala.

Sebaliknya, Azerbaijan sendiri menurut SIPRI selain melakukan pembelian UAV untuk tujuan serangan seperti Harop, Orbiter dan Skystriker juga memiliki UAV besar untuk tujuan pengintaian seperti Heron dan Hermes.

Heron yang memiliki kemampuan pengintaian elektronik seperti Avtobaza. Keberadaan platform ESM yang terbang tinggi dapat menghilangkan atau mengurangi batasan cakrawala. Memungkinkan Azerbaijan untuk dapat mengetahui dan melokalisir pemancar elektronik Armenia seperti radar dan komunikasi.  Lebih jauh lagi dikarenakan hukum fisika mengenai perambatan gelombang radio, UAV Heron ini adalah dapat mendeteksi emisi radar dari jarak jauh, bahkan mungkin sebelum radarnya mendeteksi dia.

Bilamana Armenia mengkehendaki taktik penghancuran pusat Komando UAV, mereka adalah wajib hukumnya untuk memiliki aset ESM udara yang serupa atau meminta bantuan pengintaian elektronik kepada sekutu mereka. Dibawah ini adalah contoh TU-204R milik Rusia yang bertujuan untuk mengintai dan melokalisir posisi pemancar elektronik lawan.

Tu-214R
Pesawat pengintai elektronik Tu-214R

Dhimas Afihandarin
Dhimas Afihandarinhttp://stealthflanker.deviantart.com
Pecinta militer, terutama yang berkaitan dengan topik Pertempuran elektronika dan desain alutsista.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

SMX-31, kapal selam masa depan Prancis

SMX-31, kapal selam masa depan Prancis- Hobbymiliter.com. SMX-31 adalah suatu konsep kapal selam masa depan dari negeri Baguette. Konsep ini adalah unik karena memperkenalkan...

STRIL, Sistem koordinasi & datalink AU Swedia

Sejarah STRIL, Sistem Koordinasi & datalink AU Swedia- Hobbymiliter.com.  Bahwa Swedia terkenal sebagai salah satu negara di semenanjung Skandinavia yang bersifat independen atau dalam...

Bagaimana drone menaklukkan pertahanan udara ?

Bagaimana drone menaklukkan pertahanan udara ?- Hobbymiliter.com. Bidang Pertahanan udara dewasa ini memiliki sebuah pertanyaan,  utamanya setelah perang Suriah, Libya, serangan drone AS di...

Barbel Class, kapal selam diesel terakhir AS

Barbel Class, kapal selam diesel terakhir AS- hobbymiliter.com. Bahwa dewasa ini kita mengenal Angkatan laut AS utamanya dari armada kapal selam nuklirnya. Nama-nama seperti...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua