Thursday, October 22, 2020
Home Alutsista Drone UAV Keunggulan Naval Drone Schiebel (Rajawali) S-100

Keunggulan Naval Drone Schiebel (Rajawali) S-100

Keunggulan Naval Drone Schiebel (Rajawali) S-100 – HobbyMiliter.com – Teknologi drone helikopter di Indonesia sudah terdengar gaungnya semenjak setahun belakangan ini, tepatnya setelah Badan SAR Nasional (BASARNAS) menggunakan drone copter SDO 50V2 pabrikan Swiss, terlebih lagi datangnya drone copter Saab Skeldar V-200 untuk misi pengintaian maritim milik Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI, saat ini terdengar kabar baru lagi, walaupun statusnya baru akan diperkenalkan, dikatakan bahwa Panglima Komando Armada Barat (Pangarmabar), Laksamana Muda TNI Aan Kurnia begitu tertarik serta ingin mencicipi kehebatan Drone Schiebel Rajawali Camcopter S-100 pabrikan Austria.

rajawali-1

Diberitakan oleh batam.tribunnews.com (20/5/2017), drone helikopter bercorak putih yang memiliki dua bilah baling-baling utama ini dinamai dengan Rajawali S-100. Belum diketahui secara pasti apakah penggunaan label Rajawali ini berhubungan dengan perakitan drone dilakukan oleh perusahaan di Indonesia. Sekedar informasi, PT Bhinneka Dwi Persada sebagai perusahaan swasta nasional telah mengeluarkan beberapa drone yang berlabel Rajawali series, bahkan beberapa diantaranya seperti Rajawali 330 dan Rajawali 720 telah mendapat order dari pihak TNI serta Kemhan RI.

BACA JUGA :  Boeing dan Korean Air Ubah Helikopter Tua Militer Korsel Jadi Drone

Drone Drone Schiebel Rajawali S-100 memiliki spesifikasi diantaranya memiliki diamater rotor utama 3400 mm, panjang totalnya 3.110 mm, tingginya 1.120 mm, bobot maksimum T/O 200 kilogram, tapi berat kosong 110 kilogram. Tangki bahan bakar internalnya berisi 57,1 liter serta tangki BBM eksternalnya mencapai 25,4 liter. Koneksi data link drone ini dapat menjangkau pada radius 200 kilometer, ini artinya koneksi LoS (Line of Sight) bisa dilakukan pada jarak tersebut.

rajawali-2

Kehebatan terbang Drone Schiebel Rajawali S-100 ini seperti kecepatan terbang maksimumnya 240 km/jam, kecepatan lajunya 185 km/jam, dan kecepatan operasinya 100 km/jam. Endurance di udara pada Schiebel S-100 adalah sekitar enam jam dengan playload seberat 50 kilogram dengan batas ketinggian terbang mencapai 5.500 meter.

Dari segi operator, pihak pabrikan yaitu Schiebel Elektronische Gerate GmBH memasang Ground Control Station (GCS) dengan layar mission control yang bisa memberikan informasi video secara realtime dari kamera pilot, termasuk display data penerbangan seperti terdapat pada pesawat modern.

BACA JUGA :  Operasi Haik, Campur Tangan CIA Dalam Pemberontakan PRRI dan Permesta

Menggunakan display multifungsi pada layar kontrol, drone yang mengusung teknologi fly by wire ini dapat memberikan informasi serta peringatan tentang sistem yang terdapat pada pesawat dan di darat. Desain dan link yang dimiliki drone ini juga bisa menampilkan data dengan bendwidth yang cukup tinggi sehingga secara bersamaan mampu mengirimkan multiple videostreaming serta memungkinkan untuk terhubung dengan mudah dari berbagai macam payload.

Peran dari Drone Schiebel Rajawali S-100 yaitu untuk melakukan intai jarak jauh, operasi pada pesisir pantai, pendukung misi, perlindungan konvoi, pengamanan serta pengawasan multisensor, antipenyelundupan, penjagaan perbatasan serta SAR. Dilihat dari kemunculannya, drone S-100 mulai beroperasi pada tahun 2006.

Semenjak diluncurkan, Drone Schiebel Rajawali S-100 ini memang cukup laris di pasaran sipil maupun militer. Salah satu penggunanya adalah Satuan Penjaga Pantai Kanada, AL Inggris, AL Perancis, AL Afrika Selatan, AL Italia, dan dikabarkan juga diminati oleh AL Cina. Berbagai macam uji coba sudah sukses dilakukan menggunakan kapal perang AL Australia dan AL Belanda. Pada tahun 2013, Schiebel mengatakan Drone Schiebel Rajawali S-100 sudah bisa diintegrasikan dengan radar maritim, ESM (Electronic Support Measure) serta sensor FLIR (Forward Looking Infrared).

BACA JUGA :  Potong Gaji Militan Hingga 50%, ISIS Akan Kehilangan Banyak Anggota

rajawali-3

Walaupun jenis resminya adalah UAV (Unmanned Aerial Vehicle), tapi Schiebel S-100 bisa berubah peran menjadi UCAV (Unmmaned Combat Aerial Vehicle), sehingga drone helikopter ini mampu melaksanakan misi pertempuran. Dengan melihat kapasitas payloadnya sekitar 50 kg, maka drone ini bisa disulap untuk bisa menggotong dua unit rudal, yaitu LMM (Lightweight Multirole Missile) buatan Thales Air Defence.

LMM memiliki bobot 13 kg dengan bobot hulu ledaknya 3 kg. Rudal udara ke permukaan ini memiliki hulu ledak berfragmentasi dan dapat meluncur dengan kecepatan Mach 1.5. Menggunakan two-stage solid propellant motor produksi Roxel Propulsion Systems (RPS), rudal ini mampu melesat hingga 8 km dengan pemandu semi active laser dan terminal infrared homing.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Beli Ngeteng, Cara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF - HobbyMiliter.com. Dalam diskusi diskusi di forum forum militer online maupun di grup grup militer di Facebook,...

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia - HobbyMiliter.com - Meski telah jutaan tahun membalut Bumi, belum seluruh bagian atmosfer bisa...

Foto – Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an

Foto - Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an - HobbyMiliter.com. Perang Soviet di Afghanistan berlangsung selama lebih dari sembilan tahun....

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet - HobbyMiliter.com. Pada saat persiapan operasi Trikora dalam rangka perebutan Irian Barat (sekarang Provinsi...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua