HomeMiliterAnalisis MiliterMarinir AS Bye-Bye Tank: Kemana Perginya 450 M1 Abrams?

Marinir AS Bye-Bye Tank: Kemana Perginya 450 M1 Abrams?

Marinir AS Bye-Bye Tank: Kemana Perginya 450 M1 Abrams? – HobbyMiliter.com – Ada kabar yang kalau didengar sepuluh tahun lalu pasti dikira lelucon: Korps Marinir Amerika Serikat, pasukan amfibi paling tersohor sejagat, sudah tidak punya tank lagi. Nol. Nihil. Satu pun tidak ada.

Benar saja, ini bukan gosip warung kopi. Sejak 2021, tiga batalyon tank Marinir AS — 1st, 2nd, dan 4th Tank Battalion — resmi dibubarkan satu per satu. Lebih dari 450 unit M1A1 Abrams yang dulu menjadi kebanggaan para Leatherneck, julukan prajurit Marinir, semuanya diserahkan ke Angkatan Darat AS. Keputusan ini adalah bagian dari Force Design 2030, cetak biru transformasi radikal yang diluncurkan Komandan Korps Marinir Jenderal David H. Berger pada Maret 2020.

Tak heran jika keputusan ini menggegerkan komunitas militer dunia. Tank dan Marinir AS adalah pasangan yang sudah terjalin sejak Perang Dunia II — dari Tarawa, Iwo Jima, Hue, sampai Fallujah, baja seberat 60 ton lebih itu selalu mengawal pasukan pendarat. Tiba-tiba dibuang begitu saja? Tentu saja ada alasannya. Dan alasannya bernama China.

M1 Abrams Marinir AS menembak di Camp Pendleton
M1 Abrams milik Korps Marinir AS menembakkan meriamnya saat latihan di Marine Corps Base Camp Pendleton. Foto: USMC via Wikimedia Commons.

FORCE DESIGN 2030: BERPISAH DENGAN SATUAN KAVALERI BERAT

Beginilah duduk perkaranya. Pada Maret 2020, Jenderal Berger merilis dokumen Force Design 2030 yang isinya bisa diringkas dalam satu kalimat: Marinir harus kembali menjadi pasukan ekspedisi maritim yang ringan, lincah, dan mematikan — bukan lagi pasukan darat kedua yang kebetulan bisa naik kapal.

Ingat, selama dua dekade pasca 2001, Marinir AS terjebak dalam perang darat berkepanjangan di Irak dan Afghanistan. Mereka bertempur persis seperti Angkatan Darat: konvoi, patroli, serangan ke kota. Identitas amfibinya memudar. Sementara itu, di seberang Pasifik, China membangun armada dan rudal anti-kapal secara ugal-ugalan. Pentagon pun menyimpulkan: perang masa depan melawan China akan diputuskan di lautan dan kepulauan, bukan di gurun.

Tank M1A1 versi Marinir, dengan bobot 61,3 ton, meriam smoothbore 120 mm, dan turbin gas 1.500 tenaga kuda, adalah monster yang lahir untuk pertempuran darat Eropa — duel lapis baja jarak jauh di dataran terbuka. Masalahnya, doktrin baru menuntut Marinir menyebar dalam unit-unit kecil di pulau-pulau terpencil, bersembunyi dari radar dan satelit musuh, lalu menembakkan rudal anti-kapal jarak jauh sebelum berpindah posisi. Coba bayangkan memindahkan kompi tank seberat 60 ton antar pulau kecil, di bawah hujan rudal musuh, lengkap dengan kendaraan recovery M88, jembatan lapis baja, bengkel, dan truk-truk bahan bakar turbin yang rakus itu. Logistiknya adalah mimpi buruk.

Berger sendiri blak-blakan soal ini. Dalam salah satu sesinya ia berkata, kurang lebih: Angkatan Darat itu besar, merekalah yang memenangkan perang. Korps Marinir tidak memenangkan perang; kami memenangkan pertempuran. Artinya: urusan gebuk-gebukan lapis baja skala besar biarlah jadi urusan Army. Marinir punya peran lain.

DETIK-DETIK TERAKHIR SANG KERETA BAJA

Proses perpisahannya berjalan cepat dan, terus terang, agak mengharukan bagi para tanker. Pada 6 Juli 2020, tank terakhir milik 1st Tank Battalion dinaikkan ke atas flatbed trailer dan meninggalkan Pangkalan Tempur Udara-Darat Twentynine Palms, California, untuk selamanya. Setahun kemudian, giliran 2nd Tank Battalion di Camp Lejeune, North Carolina, yang mengadakan upacara pembubaran pada Juli 2021. Batalyon cadangan, 4th Tank Battalion, menyusul tak lama kemudian.

Para prajurit tank Marinir — dengan MOS (military occupational specialty) 1812 untuk awak tank dan 2146 untuk teknisi — praktis kehilangan pekerjaannya dalam semalam. Sebagian dialihkan ke kesatuan lain, sebagian memilih pindah ke Angkatan Darat agar tetap bisa mengabdi di atas kubah baja. Ada kisah-kisah kecil yang menyentuh di sini: para komandan kompi yang mengantar sendiri tank-tanknya ke pelabuhan, awak-awak yang memoles terakhir kali palka kubahnya sebelum diserahkan, sampai bintara senior yang menolak promosi hanya agar bisa pensiun sebagai tanker Marinir. Tak urung ada yang protes keras, termasuk para purnawirawan jenderal yang menyebut keputusan Berger sebagai pengkhianatan terhadap warisan Korps. Salah satu kritik paling tajam datang dari kalangan yang menilai Berger terlalu yakin perang masa depan hanya akan terjadi di Pasifik — bagaimana kalau esok pecah konflik darat di Eropa atau Timur Tengah dan Marinir diminta mendarat tanpa payung baja? Namun Berger bergeming. Baginya ini soal matematika anggaran yang dingin: Force Design 2030 diperkirakan menghemat hingga 12 miliar dolar AS, dana yang kemudian diputar untuk membeli hal-hal yang dianggap lebih relevan.

Yang menarik, tank bukan satu-satunya korban. Ikut dibuang ke tong sampah sejarah adalah kendaraan recovery lapis baja M88A2 Hercules, kendaraan penerobos M1150 Assault Breacher, seluruh kompi jembatan lapis baja, dan artileri tarik yang dipangkas dari 21 baterai menjadi hanya lima (belakangan dikoreksi menjadi tujuh baterai pada 2022, setelah ada yang mengeluh daya tembak konvensional terlalu tipis). Intinya: semua yang berbau berat, lambat, dan rakus logistik, dibuang.

M1A1 Abrams Marinir AS turun dari LCAC
M1A1 Abrams dari 13th Marine Expeditionary Unit (MEU) turun dari kapal pendarat LCAC. Foto: US Navy via Wikimedia Commons.

KEMANA PERGINYA 450 TANK ITU?

Nah, ini bagian yang sering disalahpahami. Tank-tank itu tidak dikirim ke tukang rongsokan. Marinir AS tidak menghancurkan armadanya — mereka memindahkannya.

Menurut Marine Corps Systems Command (MCSC), hingga akhir 2021 lebih dari 400 dari 450 lebih tank M1A1 telah resmi ditransfer ke Angkatan Darat AS. Sisanya yang masih tercatat dalam inventaris Korps adalah unit-unit yang berada di atas kapal-kapal Maritime Prepositioning Ships — kapal gudang apung yang berlayar di berbagai samudra — dan dijadwalkan menyusul diserahkan dalam beberapa tahun berikutnya. Data terbaru per 2026 menyebutkan inventaris tank Marinir AS: nol. Semuanya sudah menjadi milik Army.

Bagi Angkatan Darat, ini adalah rezeki nomplok. Tank-tank bekas Marinir itu kondisinya masih sangat bagus — Marinir dikenal merawat alutsistanya dengan telaten, maklum kultur Korps yang fanatik soal pemeliharaan — dan langsung dimanfaatkan untuk memodernisasi armada lapis baja mereka. Sebagian dipakai untuk melengkapi brigade-brigade tempur lapis baja, sebagian menjadi donor suku cadang dalam program rebuild di pabrik tank Lima, Ohio, satu-satunya pabrik tank yang tersisa di Amerika. Perlu dicatat: tidak ada hull Abrams baru yang diproduksi sejak 1990-an; semua tank “baru” hari ini sejatinya adalah rangka lama yang dikuliti sampai ke baja mentah lalu dibangun ulang. Dalam konteks itu, 400 lebih hull M1A1 eks-Marinir adalah tambang emas logistik bagi Army. Istilah resmi MCSC untuk proses ini lucu juga: “This isn’t a big yard sale” — ini bukan obral besar-besaran. Katanya, divestasi alutsista adalah proses rumit yang melibatkan banyak lembaga, bukan sekadar oper sana oper sini. Benar saja, memindahkan ratusan tank lengkap dengan dokumen, suku cadang, dan riwayat perawatannya memakan waktu bertahun-tahun.

PENGGANTINYA: RUDAL, DRONE, DAN KAPAL KECIL

Lalu Marinir berperang pakai apa? Jawabannya: rudal jarak jauh, drone, dan sensor.

Dana hasil penghematan diputar untuk melipatgandakan baterai roket artileri HIMARS dari 7 menjadi 21 baterai, yang kini dipersenjatai rudal anti-kapal Naval Strike Missile. Bayangkan logikanya: alih-alih mendaratkan tank untuk menghancurkan musuh di darat, Marinir versi baru bersembunyi di pulau, mendeteksi kapal perang musuh dengan drone dan sensor, lalu menenggelamkannya dari jarak ratusan kilometer. Mereka juga menggandakan skuadron drone, membeli loitering munition alias drone kamikaze, dan mengembangkan kapal pendarat ringan (Light Amphibious Warship) untuk melompat dari pulau ke pulau.

Doktrinnya disebut Expeditionary Advanced Base Operations (EABO) — operasi pangkalan muka ekspedisi. Sederhananya: Marinir menjadi mata, telinga, dan kepalan tangan jauh Angkatan Laut AS di dalam wilayah yang diperebutkan. Tank seberat 60 ton tidak punya tempat dalam skenario ini. Yang dibutuhkan adalah regu kecil yang sulit dideteksi, sulit ditarget, dan bisa memukul jauh.

Peluncur roket HIMARS Korps Marinir AS
Sistem roket HIMARS, salah satu pengganti peran tank dalam Force Design 2030. Foto: USMC via Wikimedia Commons.

UKRAINA: PEMBUKTIAN YANG PAHIT

Ironisnya, sejarah kemudian memberi validasi yang pahit bagi keputusan Berger. Ketika Russia menginvasi Ukraina pada 2022, Amerika mengirim 31 unit M1A1 Abrams ke Kyiv pada 2023, disusul 49 unit hibah Australia pada 2025. Apa yang terjadi? Tank-tank canggih itu rontok satu per satu — bukan oleh tank Russia, melainkan oleh drone FPV seharga ratusan dolar dan rudal anti-tank dari atas. Para analis militer sampai geleng-geleng: baja 70 ton yang bisa ditemukan dan dihantam dari langit oleh mainan remote control.

Bahkan Angkatan Darat AS sendiri kini mengakui masalahnya. Program tank masa depan mereka, M1E3, dirancang lebih ringan (target sekitar 60 ton), berawak tiga orang dengan autoloader, berpenggerak hybrid, dan dilengkapi active protection system. Sementara program tank ringan M10 Booker malah dibatalkan pada Mei 2025. Dunia lapis baja sedang berbenah total — dan Marinir sudah lebih dulu melompat dari kereta ini lima tahun sebelumnya.

Tentu saja keputusan Berger tetap menyisakan risiko yang diakui Korps sendiri. Dalam dokumen pembaruannya, Marinir menyebut divestasi ini bisa menimbulkan “keterpaparan jangka pendek” — kalau tiba-tiba pecah perang darat skala besar dan Marinir butuh payung baja, mereka harus menunggu Angkatan Darat datang dengan tanknya. Itu bisa berhasil jika ada waktu, kapal angkut, dan pelabuhan. Dalam krisis yang bergerak cepat? Belum tentu.

M1A1 Abrams tiba di Jerman untuk dikirim ke Ukraina
M1A1 Abrams tiba di Jerman untuk diserahkan kepada Ukraina. Foto: US Army via Wikimedia Commons.

PELAJARAN UNTUK INDONESIA

Nah, sampai di sini anda mungkin bertanya: apa urusannya dengan kita? Justru di sinilah relevansinya, dan inilah alasan kenapa kisah ini wajib disimak para perencana pertahanan di Rl.

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Korps Marinir TNI AL — dengan BMP-3F, BTR-80A, dan PT-76 tuanya — sampai hari ini tidak mengoperasikan tank tempur utama (MBT) sama sekali. Sementara itu TNI AD mengoperasikan Leopard 2 seberat 60 ton lebih yang mobilitas antar-pulau-nya, terus terang saja, patut dipertanyakan. Pelajaran dari Marinir AS sederhana saja: di wilayah kepulauan yang diperebutkan, baja tebal bukan jaminan. Yang menang adalah yang melihat duluan, memukul duluan dari jauh, dan berpindah sebelum musuh sempat membalas.

Apakah itu berarti Indonesia harus ikut-ikutan membuang ambisi lapis bajanya? Belum tentu — geografi Natuna dan Papua bukan Taiwan, dan ancaman kita berbeda. Tetapi logika dasarnya layak direnungkan: setiap rupiah alutsista yang dibelanjakan untuk platform berat harus ditimbang ulang terhadap rudal anti-kapal, drone, dan sensor. Marinir AS berani membuang 450 tank demi logika itu. Beranikah kita berpikir sejauh itu? Tuliskan pandangan anda di kolom komentar.

Siapa tahu.

Baca juga: Tank Harimau, Nama Baru Tank Medium Kerjasama PINDAD dan FNSS dan Melirik Kesaktian Tank Leopard 2RI TNI AD.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusuma
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

[td_block_1 custom_title="Baca Juga" sort="random_posts"]