HomeBlog MiliterReferensiZaman Neolitikum: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Hasil Kebudayaannya

Zaman Neolitikum: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Hasil Kebudayaannya

Zaman Neolitikum: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Hasil Kebudayaannya – HobbyMiliter.com – Zaman Neolitikum adalah zaman batu baru, masa ketika manusia prasejarah Indonesia mengalami perubahan terbesar dalam cara hidupnya: dari berburu dan mengumpulkan makanan menjadi bercocok tanam dan beternak. Perubahan ini sering disebut Revolusi Neolitikum. Artikel ini membahas pengertian zaman Neolitikum, ciri-cirinya, dan hasil kebudayaannya seperti kapak persegi, kapak lonjong, dan gerabah.

Kapak batu zaman Neolitikum yang diasah halus
Kapak batu zaman Neolitikum yang diasah hingga halus. Foto: Wikimedia Commons (CC0).

Pengertian Zaman Neolitikum

Zaman Neolitikum, disebut juga zaman batu baru atau zaman batu muda, adalah periode terakhir zaman batu dalam pembagian masa prasejarah. Kata “Neolitikum” berasal dari bahasa Yunani, neos yang berarti baru dan lithos yang berarti batu. Disebut batu baru karena alat-alat batu pada masa ini sudah dibuat dengan cara diasah atau diupam sampai halus, berbeda dengan alat-alat kasar pada zaman Paleolitikum dan Mesolitikum.
Di Indonesia, zaman Neolitikum berlangsung kira-kira sejak 1500 SM, ditandai masuknya kebudayaan kapak persegi dan kapak lonjong yang dibawa para pendatang berbahasa Austronesia. Masa ini menjadi kelanjutan langsung dari zaman Mesolitikum yang hidupnya masih setengah menetap.

Ciri-Ciri Zaman Neolitikum

Zaman Neolitikum memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Revolusi cara hidup — manusia berubah dari mengumpulkan makanan (food gathering) menjadi menghasilkan makanan sendiri (food producing) dengan bercocok tanam dan beternak.
  • Hidup menetap — manusia tinggal menetap (sedenter) dalam perkampungan di tempat yang subur dan dekat sumber air, tidak lagi berpindah-pindah.
  • Bercocok tanam — menanam padi, umbi-umbian, keladi, dan tanaman lain dengan membuka hutan secara berladang.
  • Beternak — memelihara hewan seperti anjing, babi, kerbau, dan ayam untuk kebutuhan hidup.
  • Alat batu diasah halus — kapak, beliung, dan alat-alat lain dibuat halus dan tajam, menunjukkan keterampilan yang jauh lebih maju.
  • Membuat gerabah — untuk pertama kalinya manusia membuat perabot dari tanah liat yang dibakar.
  • Membuat pakaian dan perhiasan — pakaian dari kulit kayu yang dipukul-pukul, serta perhiasan berupa gelang dan kalung dari batu dan kerang.
  • Hidup bermasyarakat — ada pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan, bergotong royong, dan mulai dipimpin kepala suku.
  • Kepercayaan berkembang — animisme dan pemujaan terhadap roh nenek moyang makin kuat, menjadi dasar tradisi yang berkembang pada zaman Megalitikum.

Hasil Kebudayaan Zaman Neolitikum

1. Kapak Persegi

Kapak persegi adalah alat batu berbentuk persegi panjang yang diasah halus, digunakan sebagai beliung untuk mengerjakan kayu dan membuka ladang. Namanya diberikan oleh peneliti von Stein Callenfels berdasarkan bentuk penampangnya yang persegi. Kapak persegi diperkirakan berasal dari Asia daratan (daerah Yunan) dan menyebar melalui Vietnam dan Semenanjung Malaya ke Indonesia bagian barat. Peninggalannya ditemukan di Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, sampai Halmahera. Penyebaran kapak persegi ini sejalan dengan penyebaran bahasa Austronesia di Indonesia.

2. Kapak Lonjong

Kapak lonjong adalah kapak yang penampangnya berbentuk lonjong atau bulat telur, dengan ujung runcing untuk diikat pada tangkai. Berbeda dengan kapak persegi yang datang dari barat, kapak lonjong menyebar dari arah timur dan banyak ditemukan di Papua, Maluku, Seram, dan Sulawesi Utara. Kapak ini terutama digunakan untuk menebang pohon dan membuat perahu.

3. Gerabah

Gerabah adalah perabot dari tanah liat yang dibakar, seperti periuk, kendi, dan cawan. Munculnya gerabah menunjukkan manusia sudah hidup menetap, karena perabot tanah liat mudah pecah dan tidak cocok dibawa berpindah-pindah. Pecahan gerabah banyak ditemukan bersama sisa-sisa perkampungan Neolitikum.

4. Perhiasan dan Alat Lainnya

Hasil kebudayaan lainnya adalah perhiasan berupa gelang dan kalung dari batu indah serta manik-manik, alat pemukul kulit kayu untuk membuat pakaian, dan beliung persegi berukuran kecil yang diduga dipakai dalam upacara.

Gerabah dan alat batu peninggalan zaman Neolitikum
Gerabah dan alat-alat batu, hasil kebudayaan zaman Neolitikum. Foto: Wikimedia Commons (CC0).

Kehidupan Masyarakat Zaman Neolitikum

Dengan hidup menetap dan bercocok tanam, masyarakat Neolitikum mulai mengenal kepemilikan lahan, menyimpan hasil panen, dan berdagang secara barter dengan kelompok lain. Perkampungan tumbuh di tepi sungai, danau, dan pantai. Kehidupan inilah yang menjadi fondasi masyarakat Indonesia masa berikutnya: para manusia purba pembuat alat batu perlahan berubah menjadi petani, dan pada zaman Megalitikum mereka mulai mendirikan bangunan batu besar untuk menghormati nenek moyang. Rangkaian masa prasejarah ini bermula jauh sebelumnya, sejak kehidupan pertama muncul pada zaman Arkaekum.

Model perkampungan manusia zaman batu yang hidup menetap
Model perkampungan zaman batu; pada zaman Neolitikum manusia mulai hidup menetap. Foto: Wikimedia Commons (domain publik).

Demikian pengertian zaman Neolitikum beserta ciri-ciri dan hasil kebudayaannya. Zaman ini adalah titik balik peradaban manusia di Indonesia: alat diasah halus, perut tidak lagi bergantung pada buruan, dan manusia mulai membangun masyarakat yang sesungguhnya.

Baca juga: Zaman Mesolitikum: Pengertian, Ciri-Ciri, Peninggalan, dan Hasil Kebudayaannya dan Manusia Purba di Indonesia: Jenis-Jenis, Ciri-Ciri, dan Peninggalannya.

Baca juga: Zaman Megalitikum: Pengertian dan Hasil Kebudayaannya (Menhir, Dolmen, Sarkofagus, Waruga) dan Zaman Paleolitikum: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Hasil Kebudayaannya.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusuma
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

[td_block_1 custom_title="Baca Juga" sort="random_posts"]