Zaman Paleolitikum: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Hasil Kebudayaannya – HobbyMiliter.com – Zaman Paleolitikum adalah zaman batu tua, babak pertama kehidupan manusia purba di Indonesia. Pada masa inilah Meganthropus dan Pithecanthropus berburu dengan kapak genggam yang masih kasar, jauh sebelum manusia mengenal bercocok tanam. Artikel ini membahas pengertian zaman Paleolitikum, ciri-cirinya, dan hasil kebudayaannya, yaitu Kebudayaan Pacitan dan Kebudayaan Ngandong.

Pengertian Zaman Paleolitikum
Zaman Paleolitikum berasal dari kata Yunani paleos yang berarti tua dan lithos yang berarti batu, sehingga disebut zaman batu tua. Disebut demikian karena alat-alat batu pada masa ini masih dibuat sangat sederhana: sebongkah batu dipukul-pukul sampai tajam salah satu sisinya, tanpa diasah atau dihaluskan.
Di Indonesia, zaman Paleolitikum berlangsung sangat panjang, seiring kehadiran manusia purba tertua seperti Meganthropus paleojavanicus dan Pithecanthropus erectus. Masa ini adalah babak awal rangkaian zaman batu, sebelum manusia memasuki zaman Mesolitikum yang alat-alatnya mulai diasah.
Ciri-Ciri Zaman Paleolitikum
Zaman Paleolitikum memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
- Hidup berpindah-pindah (nomaden) — manusia selalu bergerak mengikuti binatang buruan dan sumber makanan.
- Mengumpulkan makanan (food gathering) — hidup bergantung sepenuhnya pada alam: berburu, menangkap ikan, dan memungut umbi serta buah liar.
- Alat batu masih kasar — alat dibuat dengan memukul batu tanpa diasah, misalnya kapak genggam dan alat serpih.
- Tinggal di tempat terbuka dan gua — di tepi sungai, tepi danau, dan gua-gua alam dekat sumber air dan buruan.
- Hidup berkelompok kecil — dalam kelompok-kelompok kecil yang dipimpin oleh yang terkuat atau tertua.
- Belum mengenal bercocok tanam dan beternak — tidak ada kegiatan menghasilkan makanan sendiri.
- Manusia pendukungnya adalah Meganthropus paleojavanicus dan Pithecanthropus, yang fosilnya banyak dibahas pada artikel manusia purba di Indonesia.
Hasil Kebudayaan Zaman Paleolitikum
1. Kebudayaan Pacitan
Kebudayaan Pacitan ditemukan oleh von Koenigswald pada tahun 1935 di sepanjang Sungai Baksoka, Pacitan, Jawa Timur. Hasilnya berupa kapak genggam atau kapak perimbas (chopper), yaitu alat batu yang tajam pada salah satu sisinya dan digenggam langsung tanpa tangkai. Kapak genggam digunakan untuk memotong daging, menguliti binatang buruan, dan menggali umbi. Selain itu ditemukan pula alat-alat serpih (flakes) dan kapak penetak. Kebudayaan ini dikaitkan dengan Pithecanthropus.

2. Kebudayaan Ngandong
Kebudayaan Ngandong ditemukan di daerah Ngandong dan Sidorejo, lembah Bengawan Solo, Jawa Tengah. Berbeda dengan Pacitan yang serba batu, hasil kebudayaan Ngandong banyak terbuat dari tulang dan tanduk: alat penusuk dan belati dari tanduk rusa, alat pengorek ubi dari tulang, serta duri ikan pari yang dijadikan ujung tombak atau mata panah. Kebudayaan ini dikaitkan dengan Pithecanthropus soloensis (Homo soloensis) yang tingkat kebudayaannya lebih maju.
Selain dua kebudayaan besar itu, di Sangiran dan Flores juga ditemukan alat-alat serpih berukuran kecil yang menunjukkan persebaran kebudayaan Paleolitikum yang luas di Indonesia.

Demikian pengertian zaman Paleolitikum beserta ciri-ciri dan hasil kebudayaannya. Dari kapak genggam yang kasar inilah perjalanan teknologi manusia dimulai, sebelum berlanjut ke alat-alat yang diasah pada zaman Mesolitikum dan revolusi bercocok tanam pada zaman Neolitikum.
Baca juga: Manusia Purba di Indonesia: Jenis-Jenis, Ciri-Ciri, dan Peninggalannya.

