HomeBlog MiliterSejarahKongres Pemuda Pertama dan Kedua: Kronologi Lengkap Menuju Sumpah Pemuda

Kongres Pemuda Pertama dan Kedua: Kronologi Lengkap Menuju Sumpah Pemuda

Kongres Pemuda – HobbyMiliter.com – Sumpah Pemuda tidak lahir dalam semalam. Ia adalah puncak dari dua kongres besar kaum muda Indonesia: Kongres Pemuda Pertama pada 1926 dan Kongres Pemuda Kedua pada 1928. Artikel ini mengulas kronologi lengkap keduanya — siapa pesertanya, apa yang dibahas, dan bagaimana perdebatan di dalamnya melahirkan ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa yang kita kenal sampai hari ini.

Gedung Kramat Raya 106, tempat rapat penutupan Kongres Pemuda Kedua, kini Museum Sumpah Pemuda (Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0)

Latar Belakang: Organisasi Pemuda yang Terpecah

Memasuki 1920-an, pemuda terpelajar Hindia Belanda terorganisasi dalam perkumpulan-perkumpulan berbasis daerah dan suku: Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Batak, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi, dan banyak lagi. Masing-masing memperjuangkan kemajuan daerahnya sendiri. Gagasan bahwa semua pemuda itu sebenarnya satu bangsa — bangsa Indonesia — mulai dibicarakan serius setelah sejumlah tokoh muda menyadari bahwa perpecahan kedaerahan adalah kelemahan terbesar menghadapi penjajahan. Dari kesadaran itulah lahir tekad mengadakan kongres bersama.

Kongres Pemuda Pertama (30 April – 2 Mei 1926)

Kongres Pemuda Pertama diselenggarakan di Batavia pada 30 April hingga 2 Mei 1926, dipimpin oleh Mohammad Tabrani, wartawan muda asal Jawa Timur. Kongres ini dihadiri perwakilan berbagai organisasi pemuda dan membahas gagasan persatuan Indonesia, termasuk usulan Tabrani agar bahasa Melayu — yang kemudian disebut bahasa Indonesia — diangkat sebagai bahasa persatuan, menggantikan dominasi bahasa Belanda dan bahasa daerah masing-masing.

Kongres pertama belum menghasilkan ikrar persatuan. Perbedaan pendapat masih besar, terutama soal seberapa jauh organisasi daerah harus melebur. Namun kongres ini mencapai satu hal penting: untuk pertama kalinya para pemuda dari berbagai daerah duduk dalam satu forum nasional dan sepakat melanjutkan pertemuan. Panitia juga dibentuk untuk mempersiapkan kongres berikutnya dengan persiapan yang lebih matang.

Kongres Pemuda Kedua (27–28 Oktober 1928)

Dua tahun kemudian, Kongres Pemuda Kedua digelar dalam tiga rapat di tiga tempat berbeda di Jakarta. Rapat pertama pada malam 27 Oktober 1928 berlangsung di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond di Lapangan Banteng, membahas pentingnya persatuan dan pendidikan kebangsaan bagi anak-anak Indonesia. Rapat kedua pada 28 Oktober pagi di Gedung Oost-Java Bioscoop membahas masalah pendidikan, dengan pidato antara lain dari Ki Hadjar Dewantara yang menekankan pendidikan yang membebaskan. Rapat ketiga, malam 28 Oktober, berlangsung di gedung Jalan Kramat Raya 106 — kini Museum Sumpah Pemuda — membahas gerakan kepanduan (pramuka) sebagai wadah pembinaan pemuda.

Kongres ini dipimpin oleh Soegondo Djojopoespito dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), dengan susunan panitia yang mewakili berbagai organisasi: Amir Sjarifuddin sebagai wakil ketua, Johan Mohammad Cai, Djoko Marsaid, dan lainnya. Sekretaris kongres, Mohammad Yamin, adalah tokoh kunci di balik rumusan keputusan kongres. Di sela rapat penutupan itulah Wage Rudolf Supratman memperdengarkan lagu Indonesia Raya dengan biolanya.

Keputusan Kongres: Isi Sumpah Pemuda

Pada penutupan rapat ketiga, dibacakan keputusan kongres yang dirumuskan Mohammad Yamin. Dalam ejaan aslinya, bunyinya: “Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kedoea: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.” Keputusan inilah yang kemudian dikenang sebagai Sumpah Pemuda — tiga kalimat pendek yang untuk pertama kalinya menegaskan adanya satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa bernama Indonesia, tujuh belas tahun sebelum negara itu benar-benar lahir.

Dampaknya tidak langsung terasa dalam semalam, tetapi permanen: setelah 1928, kata “Indonesia” menggantikan “Hindia Belanda” dalam bahasa pergerakan, organisasi-organisasi pemuda kedaerahan berangsur melebur, dan bahasa Indonesia diterima sebagai bahasa persatuan. Setiap 28 Oktober, Indonesia memperingati hari lahirnya ikrar ini sebagai Hari Sumpah Pemuda.

Tokoh-Tokoh Kunci di Balik Kongres

Empat nama layak dicatat. Mohammad Tabrani, ketua Kongres Pemuda Pertama, adalah orang pertama yang mengusulkan istilah “bahasa Indonesia” dan memperjuangkannya melawan usul memakai bahasa Melayu atau Belanda. Soegondo Djojopoespito, ketua kongres kedua, memimpin sidang-sidang yang tegang dengan tertib sampai keputusan tercapai — kelak ia menjadi anggota BPUPKI dan menteri pada masa revolusi. Mohammad Yamin, sekretaris kongres kedua, merumuskan naskah keputusan yang dibacakan malam itu dan kelak menjadi salah satu perumus dasar negara 1945. Dan Amir Sjarifuddin, wakil ketua kongres, mewakili unsur pemuda Kristen dan di kemudian hari menjadi Perdana Menteri Indonesia. Bahwa panitia kongres diisi pemuda dari berbagai agama, daerah, dan organisasi adalah inti dari peristiwa ini: Sumpah Pemuda adalah hasil kompromi dan persatuan, bukan karya satu kelompok.

Satu perdebatan menarik dalam kongres adalah soal bahasa persatuan. Sebagian peserta mengusulkan bahasa Melayu apa adanya; Tabrani dan Yamin mendorong nama baru: bahasa Indonesia — bahasa yang tidak dimiliki satu suku pun, sehingga semua suku dapat memilikinya bersama. Pilihan nama itu terbukti jenius. Dalam waktu satu generasi, bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar sekolah, pers, dan akhirnya bahasa resmi negara, mengikat ratusan bahasa daerah dalam satu ruang percakapan nasional.

Gedung Kramat Raya 106 tempat rapat penutupan berlangsung adalah rumah kos milik Sie Kok Liong yang banyak dihuni pelajar dan aktivis; gedung itu kini menjadi Museum Sumpah Pemuda, lengkap dengan replika biola Supratman dan diorama rapat kongres. Mengunjunginya hari ini adalah cara paling langsung untuk memahami skala peristiwa 1928: bukan istana atau gedung negara, melainkan rumah kos sederhana tempat tiga kalimat yang mengubah sejarah Indonesia dibacakan untuk pertama kalinya.

Baca juga: Sejarah Sumpah Pemuda: Isi Teks, Makna, dan Tokoh-Tokohnya.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusuma
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Baca Juga

Mengenal Littoral Response Group, Grup Siap Tempur Amfibi AL Inggris

Mengenal Littoral Response Group, Grup Siap Tempur Amfibi AL Inggris

0
Hobbymiliter.com - Mengenal Littoral Response Group, Grup Siap Tempur Amfibi AL Inggris. Para pembaca sekalian, telah kita ketahui bersama bahwa Inggris merupakan salah satu...