HomeAlutsistaPesawat TempurPanavia Tornado, Pesawat Tempur Eurofighter Versi Beta

Panavia Tornado, Pesawat Tempur Eurofighter Versi Beta

Panavia Tornado, Pesawat Tempur Eurofighter Versi Beta – HobbyMiliter.com – Banyak orang sudah tahu bahwa saat ini negara negara di Eropa mempunyai pesawat tempur buatan lintas negara yang dinamakan Eurofighter Typhoon. Pesawat ini merupakan pesawat tempur yang dibuat oleh Jerman, Inggris, Spanyol dan Italia.

Namun, sebenarnya, sebelum Eurofighter, ada beberapa pesawat tempur yang juga dipakai oleh negara negara Eropa, sehingga layak juga diberi julukan Eurofighter – pesawat tempur negara negara Eropa, walau dalam kasus Typhoon, Eurofighternya adalah brand.

Panavia Tornado GR4 Angkatan Udara Inggris
Panavia Tornado GR4 milik RAF, varian serang darat andalan Inggris. Foto: MoD Inggris via Wikimedia Commons (OGL).

Panavia Tornado misalnya. Kisah awalnya dimulai dari kegagalan kerjasama Inggris dan Perancis mewujudkan proyek desain pesawat sayap sayung AFVG (Anglo-French Variable Geometry) yang sudah dijalani selama dua tahun sejak 1965. Kegagalan tersebut membuat Inggris memutuskan bercerai dari Perancis dalam proyek AFVG di tahun 1967. Padahal awal semula AFVG dirancang sebagai proyek pesawat bersama dengan mengedepankan teknologi sayap geometri berubah (variable-swept wing) yang merupakan desain relatif baru kala itu. Pengembangan dilakukan bersama karena banyaknya teknologi yang harus di research, sehingga beban keuangan pun berat. Karena itulah, dengan pengembangan bersama, beban biaya bisa dibagi rata.

Sebenarnya, pada era tersebut Amerika Serikat sudah lebih dahulu membuat model pesawat  tempur dengan sayap variabel ini, melalui proyek fighter-bomber General Dynamics F-111 Aardvark. Sedangkan Uni Soviet saat itu ternyata juga sudah punya proyek serupa berupa Sukhoi Su-24 Fencer. Sayap sayung prinsipnya sama dengan sayap biasa, namun bisa ditekuk ke belakang agar pesawat dapat melaju lebih kencang dan lebih efisien serta mampu meningkatkan kelincahan.

Walaupun kerjasama dengan Perancis bubar, ide dan impian membuat pesawat tempur setipe AFVG tidak langsung dibuang Inggris ke tong sampah. Lepas dari pelukan Perancis, Inggris mencari beberapa negara Eropa Barat lainnya. Secara kebetulan, beberapa negara seperti Jerman Barat, Belanda, Belgia, Italia, plus Kanada yang di luar Eropa, kala itu tengah merumuskan pesawat pengganti Lockheed F-104G Starfighter. Lockheed F-104G ini digunakan secara luas oleh negara negara Eropa, karena itu, secara bercanda orang sering menyebut bahwa F-104G ini adalah Eurofighter versi Alpha.

Para petinggi Angkatan Udara negara negara tersebut berkumpul untuk mendiskusikan desain pesawat yang diinginkan. Ide kemudian muncul untuk membuat Multi Role Aircrat (MRA) yang kemudian direvisi lagi menjadi Multi Role Combat Aircraft (MRCA).

Ketika Inggris kemudian masuk ke dalam proyek itu, kesepakatan untuk membuat kongsi di antara negara-negara yang telah berkumpul memang belum diputuskan. Inggris lalu menawarkan ide awalnya, yang dari situ kemudian terbentuk sebuah kongsi bernama Panavia Aircraft GmbH. Yakni perusahaan gabungan antara Inggris (British Aerospace), Jerman Barat (MBB), dan Italia (Aeritalia) dan berkedudukan di Jerman. Kongsi pun diresmikan tahun 1969.

Belanda, Belgia, dan Kanada menarik diri. Beberapa alasan disampaikan mereka. Khusus Kanada dapat dimaklumi, negara itu menilai bahwa pesawat yang akan dibuat terlalu “serba Eropa”. Terbukti, kemudian hari Kanada lebih memilih F/A-18 yang diproduksi di dalam negeri sebagai CF-18. Sementara Belanda mengundurkan diri karena MRCA dinilai terlalu “tinggi” dari segi teknis.

Panavia Tornado di RAF Coningsby
Panavia Tornado di pangkalan RAF Coningsby. Foto: MoD Inggris via Wikimedia Commons (OGL).

Saat itu Belanda hanya menginginkan pesawat simpel, kecil, irit dan yang penting lincah. Belakangan negeri kincir angin itu malahan membeli F-16A Blok 10 dari Amerika Serikat. Sementara Belgia kala itu menyatakan lebih mempertimbangkan tawaran lain, yakni Mirage 5 (penerus Mirage III) dari Perancis.

Dua desain dibuat Panavia. Pertama Panavia 100 berkursi tunggal, sedangkan yang kedua adalah Panavia 200 berkursi tandem sebagaimana diusulkan Inggris. Usulan Inggris akhirnya yang disepakati, dan pesawat yang diberi nama Tornado inilah yang kemudian hari masuk jalur produksi mulai tahun 1979. Sebelumnya nama yang akan dipakai adalah Panther. Prototipe Tornado terbang perdana 14 Agustus 1974 ditenagai dua mesin mesin RB199 yang dibuat oleh Turbo Union, perusahaan patungan Roll-Royce, MTU, dan FIAT.

Kecelakaan mendera Tornado menyebabkan beberapa pesawat jatuh semasa uji terbang. Disinyalir pesawat jatuh karena pilot belum begitu familiar dengan teknologi fly-by-wire (FBW) yang digunakan pada Tornado. Akhirnya sebelum ujicoba dilanjutkan, sistem
teknologi kawat elektronik ini pun diujicobakan pada pesawat uji SEPECAT Jaguar oleh Inggris dan pada F-104 Starfighter oleh Jerman. Tornado sebenarnya merupakan pesawat pertama pengguna FBW Namun masa operasionalnya di skadron kalah duluan oleh F-16 yang fase ujinya lebih cepat.

Setelah masa-masa kritis dilampau dan Tornado dinyatakan siap pakai, pesawat yang berukuran lebih kecil sedikit dari McDonnell Douglas F-4 Phantom ini pun mulai masuk ke skadron operasional AU Inggris tahun 1981 disusul Jerman dan Italia. Tornado termasuk pesawat yang dibuat cukup banyak. Total sekitar 992 unit berhasil diproduksi. Di luar tiga negara kongsi, Arab Saudi menjadi negara pertama dan satu-satunya pembeli Tornado. Arab Saudi mengoperasikan sekitar 96 Tornado IDS/ADV sejak 1989.

Tornado awalnya didesain sebagai pesawat pembom penetrasi ketinggian rendah terhadap wilayah musuh. Dengan sayap sayung yang bisa disetel 25-67 derajat, pesawat memiliki keunggulan tersendiri untuk menerobos dan mengantarkan munisinya secara pin point. Tidak hanya sayap yang dapat disetel, pylon atau gantungan senjata/tangki bahan bakar di sayap juga dapat disetel menggunakan pivot mengikuti sudut sayap manakala sayap ditekuk. Selain untuk mengurangi drag, juga agar posisi gantungan senjata searah dengan hidung pesawat. Guna mendukung misi pengeboman jarak jauh, daya jangkau Tornado ditingkatkan melalui penggunaan retractable probe untuk menerima pengisian bahan bakar di udara. Pada penerbangan ketinggian rendah Tornado mengandalkan Ground Mapping Radar (GMR) sistem Terrain-Following Radar (TFR). Radar ini memungkinkan pesawat terbang pada ketinggian 61 meter (200 kaki) dalam kondisi gelap gulita sekalipun, secara otomatis mengikuti kontur permukaan (all-weather hands-off low-level flight).

Tornado juga dibuat dalam versi ECR (Electronic Combat and Reconnaissance) untuk misi pengamatan, patroli maritim, dan lawan elektronik. AL Jerman Barat termasuk pengguna varian ini selain varian yang digunakan oleh AU-nya. Tornado versi STOL dilengkapi mesin thrust reverser untuk membantu pengereman dalam jarak pendek.

Varian berikutnya adalah ADV (Air Defence Variant) yang diusulkan dan dibuat oleh Inggris guna meningkatkan kemampuan Tornado tidak sekadar pesawat pembom ketinggian rendah, namun juga dapat memenangi pertempuran udara. Varian ADV memiliki komponen 80% sama dengan IDS. Kursi tandem Tornado di depan ditempati oleh pilot sementara yang belakang oleh navigator atau weapon officer. Namun panel kokpit dan elektromekanik di dua kursi tersebut dapat digunakan untuk menerbangkan pesawat.

Varian ADV menggunakan radar AI.24 Foxhunter yang didesain untuk operasi pertahanan udara. Radar mampu menangkap 20 target hingga jarak 160 km (100 mil laut). Pesawat juga dilengkapi 16 terminal data digital JITDS Uoint Tactical Information Distribution System) yang memungkinkan berbagi informasi seputar battle field baik kepada pesawat kawan terdekat maupun kepada pos komando. Sementara pada varian ECR pesawat dilengkapi ELS (EmitterLocator System) untuk menandai penggunaan radar musuh dan Infra
Red Imaging Systems.

Tornado IDS Arab Saudi (versi Inggris diberi kode GR Mk.l) dilengkapi LRMTS (Laser Range Finder and Marked Target Seekers) untuk menarget amunisi berpemandu laser. Sementara GR Mk.lA dan GR Mk.4A (upgrade Mk.1/lA) Inggris dilengkapi TIRRS (Tornado Infra-Red Reconnaissance System), terdiri dari satu sensor SLIR (Sideways Looking Infra Red) di masingmasing samping badan serta sebuah IRLS (Infra-Red LineScan) di bawah badan.

Dalam hal persenjataan, Tornado mampu membawa sebagian besar senjata udara yang menjadi standar NATO. Termasuk bom berpemandu maupun tidak, rudal antikapal, rudal antiradiasi, ranjau antipersonel maupun munisi penghancur landasan. Tornado juga dilengkapi flare dan chaff dispenser yang dapat dibawa pada pod di sayap. Beberapa varian Tornado yang sudah ditingkatkan kemampuannya juga mampu membawa aneka born pintar seperti Paveway dan JDAM (Joint Direct Attack Munition), serta rudal jelajah modern seperti Taurus dan Storm Shadow.

Selain mampu membawa rudal AIM-9 Sidewinderatau AIM-132 ASRAAM, khusus Tornado ADV — varian pencegat yang kini sudah seluruhnya pensiun — dahulu dilengkapi rudal BVR seperti Skyflash dan AIM-120 AMRAAM. Sementara standar kanon revolver kaliber 27mm Mauser BK-27 turut melengkapi pesawat ini.

Data pertengahan 2020-an menunjukkan Tornado kini tinggal berdinas di tiga negara. Jerman adalah operator terbesar yang tersisa, dengan sekitar 85 unit Tornado IDS dan ECR yang masih aktif di tangan Luftwaffe. Italia tengah memensiunkan armadanya secara bertahap dan tinggal menyisakan segelintir unit di pangkalan Ghedi. Arab Saudi masih mengoperasikan armada Tornado IDS hasil modernisasi dalam jumlah yang cukup besar. Adapun Inggris, operator terbesar pada masa jayanya, sudah memensiunkan seluruh Tornado GR4-nya sejak Maret 2019.

Soal pengganti, peta jalannya kini sudah jelas dan berbeda jauh dari rencana lama. Inggris telah mengalihkan peran Tornado kepada Eurofighter Typhoon dan F-35B Lightning II. Jerman pada Maret 2022 memutuskan membeli 35 unit F-35A untuk mengambil alih peran serangan nuklir Tornado, ditambah memesan Eurofighter varian peperangan elektronika untuk menggantikan Tornado ECR; armada Tornado Jerman sendiri direncanakan pensiun bertahap sampai sekitar tahun 2030. Italia menggantikan Tornado dengan F-35A yang kini sudah berdinas, sementara Arab Saudi mengoperasikan Eurofighter Typhoon berdampingan dengan Tornado yang terus dimodernisasi dan diperkirakan menjadi pengguna terakhir pesawat ini.

Sejak pertama kemunculannya, Tornado memang tidaklah begitu ditakuti oleh musuh-musuhnya. Pesawat ini kadang dianggap sebelah mata. Meski demikian, Tornado merupakan mesin perang yang cukup kenyang mengecap pertempuran. Si Badai Angin ini kiprahnya bisa ditelusuri dalam berbagai palagan. Mulai dari Perang Teluk 1991, Perang Bosnia, Perang Kosovo, perang di Libya 2011, hingga operasi melawan ISIS di Irak dan Suriah — di mana Tornado GR4 Inggris terus terbang sampai akhir masa dinasnya — serta misi-misi pengintaian Jerman di Afghanistan dan Timur Tengah. Kini, lebih dari empat dekade sejak terbang perdana, sang badai perlahan mereda. Satu per satu operatornya berpamitan, menyerahkan tongkat estafet kepada Eurofighter dan F-35, dua pesawat yang justru lahir dari pelajaran kerja sama Eropa yang dirintis Tornado.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusuma
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Baca Juga

UU 9/11 Resmi Sah, Janda Marinir AS Adukan Arab Saudi Ke...

0
Hobbymiliter.com - UU Justice Against Sponsor of Terrorism Act (JASTA) atau yang dijuluki dengan The 9/11 Bill resmi sah setelah veto Obama dibalikkan oleh...