HomeBlog MiliterSejarahWage Rudolf Supratman: Pencipta Indonesia Raya dan Perannya dalam Sumpah Pemuda

Wage Rudolf Supratman: Pencipta Indonesia Raya dan Perannya dalam Sumpah Pemuda

Wage Rudolf Supratman – HobbyMiliter.com – Pada malam penutupan Kongres Pemuda Kedua, 28 Oktober 1928, seorang pemuda jurnalis berusia 25 tahun berdiri di tengah ruangan Jalan Kramat Raya 106, Jakarta. Dengan biola di tangannya, ia memainkan sebuah lagu tanpa lirik — karena liriknya dianggap terlalu berbahaya oleh polisi Belanda yang mengawasi. Lagu itu berjudul “Indonesia Raya”. Pemuda itu adalah Wage Rudolf Supratman, dan malam itu karyanya untuk pertama kalinya diperdengarkan di hadapan para pemuda yang baru saja mengucapkan Sumpah Pemuda.

Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya (Foto: Wikimedia Commons, CC0)

Siapakah Wage Rudolf Supratman?

Wage Rudolf Supratman lahir pada 9 Maret 1903 di Jatinegara, Batavia (kini Jakarta). Ia adalah anak seorang sersan KNIL bernama Djoemeno Senen Sastrosoehardjo. Bakat musiknya diasah sejak muda; ia belajar biola dan gitar, dan kemudian bekerja sebagai guru serta wartawan di surat kabar Kaoem Moeda dan Sin Po. Pekerjaan sebagai jurnalis inilah yang membawanya dekat dengan pergerakan kebangsaan — ia meliput rapat-rapat pemuda, mengenal para tokohnya, dan menyerap cita-cita mereka: Indonesia yang satu dan merdeka.

Pada 1924, ketika masih tinggal di Makassar, Supratman membaca pamflet yang menantang komponis Indonesia menciptakan lagu kebangsaan. Tantangan itu mengendap di pikirannya selama empat tahun. Hasilnya adalah sebuah lagu mars berbirama 4/4 yang gagah, dengan lirik yang menyerukan persatuan tanah air dan bangsa — diciptakan justru ketika gagasan “Indonesia” sebagai satu bangsa masih berupa cita-cita segelintir pemuda terpelajar.

Malam Bersejarah di Kramat Raya 106

Kongres Pemuda Kedua berlangsung pada 27–28 Oktober 1928 dan ditutup dengan pembacaan keputusan kongres yang kini dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Sebelum keputusan itu dibacakan, Wage Rudolf Supratman meminta izin kepada pemimpin kongres, Soegondo Djojopoespito, untuk memperdengarkan lagunya. Karena kongres diawasi polisi Belanda dan kata “merdeka” dalam lirik dianggap provokatif, disepakati lagu dimainkan dengan biola saja, tanpa dinyanyikan.

Gesekan biola Supratman malam itu disambut tepuk tangan meriah. Para peserta yang mendengar melodinya segera memahami maknanya, meski tanpa kata-kata. Tidak lama kemudian lirik Indonesia Raya beredar dari tangan ke tangan, diterbitkan surat kabar Sin Po pada November 1928, dan direkam dalam piringan hitam. Lagu itu menyebar ke seluruh Hindia Belanda lebih cepat daripada yang bisa dicegah pemerintah kolonial — dan menjadi lagu wajib tak resmi setiap pertemuan pergerakan.

Dikejar Belanda, Wafat Sebelum Merdeka

Ketenaran Indonesia Raya membuat Supratman diawasi ketat. Lagu itu dilarang disiarkan dan dinyanyikan di muka umum pada beberapa periode, dan Supratman beberapa kali ditahan serta diinterogasi polisi kolonial. Ia juga menciptakan lagu-lagu perjuangan lain, di antaranya “Di Timur Matahari” yang menyerukan pemuda bangkit dari tidur panjang penjajahan. Kondisi kesehatannya terus menurun, dan pada 17 Agustus 1938 — tepat tujuh tahun sebelum Proklamasi — Wage Rudolf Supratman wafat di Surabaya dalam usia 35 tahun. Ia tidak pernah menyaksikan Indonesia yang merdeka, negeri yang namanya ia abadikan dalam lagu.

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia Raya ditetapkan sebagai lagu kebangsaan Republik Indonesia, dan kedudukannya kemudian ditegaskan dalam undang-undang. Pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Wage Rudolf Supratman pada 1971. Namanya diabadikan sebagai nama jalan di banyak kota, nama stasiun, dan setiap anak sekolah Indonesia hari ini menyanyikan karyanya setiap upacara bendera — warisan seorang jurnalis pemusik yang senjatanya hanya sebuah biola.

Tiga Syair Indonesia Raya yang Jarang Dinyanyikan

Sedikit yang tahu bahwa Indonesia Raya sebenarnya terdiri dari tiga syair (stanza). Yang dinyanyikan dalam upacara dan acara resmi hanyalah syair pertama. Syair kedua dan ketiga berisi seruan yang lebih keras untuk masa penjajahan — menyebut Indonesia sebagai tanah yang suci dan mulia serta janji setia para pemudanya — dan pada masa kolonial justru bagian-bagian inilah yang paling ditakuti pemerintah Belanda. Setelah kemerdekaan, melalui ketetapan resmi pada 1958, lirik lagu kebangsaan dibakukan dan syair pertama ditetapkan sebagai yang dinyanyikan, sementara naskah lengkap tiga syair tetap dilestarikan sebagai dokumen sejarah penciptanya.

Biola dan Rekaman Pertama

Biola yang dipakai Supratman pada malam Kongres Pemuda Kedua kini menjadi salah satu benda paling berharga dalam sejarah Indonesia dan tersimpan sebagai koleksi negara. Adapun rekaman Indonesia Raya versi awal dibuat oleh perusahaan rekaman milik pengusaha Tio Tek Hong dalam bentuk piringan hitam, dengan aransemen yang melibatkan musisi Belanda Jos Cleber untuk versi orkestranya di kemudian hari. Dari piringan hitam itulah lagu ini menembus batas-batas kota dan dijaga transmisinya dari generasi ke generasi, jauh sebelum radio dan televisi menjadi milik rakyat. Supratman sendiri menyaksikan lagunya dilarang, diburu, dan dinyanyikan diam-diam — bukti bahwa sebuah lagu bisa lebih sulit ditangkap daripada pasukan bersenjata.

Makam Wage Rudolf Supratman berada di Jalan Kenjeran, Surabaya, dan setiap tahun diziarahi pejabat serta pelajar terutama menjelang Hari Pahlawan dan Hari Musik Nasional yang diperingati setiap 9 Maret, bertepatan dengan hari lahirnya. Perjalanan hidupnya yang singkat — guru, wartawan, pemusik, buronan — menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya dilakukan dengan senjata. Sebagian dilakukan dengan pena, dan dalam kasus Supratman, dengan empat senar biola yang suaranya terbukti lebih panjang umur daripada kekaisaran yang melarangnya.

Baca juga: Sejarah Sumpah Pemuda, peristiwa tempat lagu ini pertama kali diperdengarkan.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusuma
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Baca Juga

Unik, Helikopter Kecepatan Tinggi Buatan Rusia Jalani Uji Terbang.

Unik, Helikopter Kecepatan Tinggi Buatan Rusia Jalani Uji Terbang

2
HobbyMiliter.com - Unik, Helikopter Kecepatan Tinggi Buatan Rusia Jalani Uji Terbang. Saat ini, Rusia sedang mengembangkan beberapa teknologi baru untuk menunjang modernisasi sistem senjata yang digunakan...