Thursday, October 29, 2020
Home Alutsista Drone UAV Selayang Pandang Armada Pesawat Tanpa Awak China Di Laut China Selatan

Selayang Pandang Armada Pesawat Tanpa Awak China Di Laut China Selatan

Selayang Pandang Armada Pesawat Tanpa Awak China Di Laut China Selatan – HobbyMiliter.com – Pemerintah Republik Rakyat China bersama Tentara Pembebasan Rakyat China semakin menunjukkan pembangunan kekuatan militer yang intensif di wilayah pulau buatan yang dibangun di wilayah perairan Laut China Selatan.

Meningkatnya pembangunan kekuatan militer di wilayah pulau artifisial tersebut tentu menjadi perhatian dari berbagai negara. Mulai dari negara – negara yang bersengketa dengan China soal klaim batas wilayah perairan mereka, maupun negara – negara adikuasa yang merasa bahwa China ingin “menguasai dan mengendalikan” wilayah perairan tersebut.

Selain membangun pulau buatan yang kemudian digunakan sebagai basis militer berupa pangkalan udara dan pangkalan angkatan laut, Tentara Pembebasan Rakyat China juga mengirimkan pasukan serta peralatan tempur dan sistem senjata. Berbagai jenis pesawat militer, kendaraan tempur, serta kapal perang dikirim untuk memperkuat pangkalan yang sudah dibangun diatas pulau buatan di Laut China Selatan.

Disamping mengirimkan kapal perang, kendaraan tempur, serta pesawat militer, China juga memanfaatkan armada pesawat udara tanpa awak atau yang lazimnya disebut Unmanned Aerial Vehicle (disingkat UAV,red). Kali ini, tim HobbyMiliter akan mencoba menghadirkan kepada anda, para pembaca yang budiman, mengenai selayang pandang armada pesawat tanpa awak yang digunakan oleh militer China di wilayah Laut China Selatan.

harbin 4

Selayang Pandang Armada Pesawat Tanpa Awak China Di Laut China Selatan. Sistem UAV BZK-005 Dalam Sebuah Parade Militer.

Armada Pesawat Tanpa Awak China Di Laut China Selatan

Secara umum China mengoperasikan begitu banyak pesawat tanpa awak atau UAV dari berbagai jenis dan tipe. Mulai dari UAV yang digunakan untuk tujuan pengintaian terhadap posisi kekuatan lawan hingga UAV yang dipersenjatai dengan roket, rudal dan bom yang kemudian disebut sebagai Unmanned Combat Aerial Vehicle atau disingkat UCAV. Secara khusus, kali ini akan kami tampilkan empat jenis sistem pesawat tanpa awak yang digunakan oleh militer China di wilayah perairan Laut China Selatan.

Militer China di area sekitar Laut China Selatan diperkuat oleh 4 jenis pesawat tanpa awak. Keempat jenis pesawat tanpa awak tersebut yakni S-100, ASN-209, BZK-005, dan GJ-1. Keempat jenis pesawat tanpa awak tersebut dioperasikan di beberapa lokasi diantaranya di wilayah daratan utama atau Mainland China, di pulau buatan yang berada di Laut China Selatan, serta ditempatkan diatas kapal perang milik Angkatan Laut Pembebasan Rakyat China atau PLA Navy (disingkat PLAN,red).

Pada umumnya, penggunaan aset – aset pesawat tanpa awak di jajaran militer China lebih difokuskan kepada misi – misi pengintaian dan surveillance terhadap posisi kekuatan potensial lawan jika sedang terlibat dalam suatu konflik. Sedangkan pada masa damai, aset – aset pesawat tanpa awak ini digunakan sebagai kekuatan utama dalam menjalankan misi patroli terhadap area atau wilayah kedaulatan China.

Meski demikian, bukan berarti armada pesawat tanpa awak ini semuanya tidak bersenjata. Salah satu dari empat jenis pesawat tanpa awak yang akan kami bahas dalam artikel kali ini merupakan UCAV atau UAV yang dapat dipersenjatai sehingga dapat menjalankan misi tempur.

Selayang Pandang Armada Pesawat Tanpa Awak China Di Laut China Selatan
Selayang Pandang Armada Pesawat Tanpa Awak China Di Laut China Selatan. Sistem UAV S-100 Tampak Lepas Landas Dari Dek Helikopter Milik Kapal Perang Jenis Frigate Kelas Type 054B JIangkai II.
Sumber : JMSDF

Schiebel Camcopter S-100, UAV Taktis Diatas Kapal Perang China

Pada tahun 2010 silam, pihak militer China membeli sebanyak 18 unit sistem pesawat tanpa awak Schiebel Camcopter S-100 dari perusahaan Schiebel yang berbasis di Austria. UAV ini merupakan UAV intai yang bentuk fisiknya menyerupai sebuah helikopter namun berukuran lebih kecil dari helikopter pada umumnya.

Diproduksi di fasilitas produksi Schiebel di sebelah Selatan kota Vienna, Austria, Camcopter S-100 merupakan satu – satunya produk pesawat tanpa awak yang ditawarkan oleh perusahaan Schiebel tersebut.

Schiebel Camcopter S-100 merupakan jenis UAV dengan kemampuan lepas landas dan mendarat vertikal. Kemampuan ini lazim disebut sebagai kemampuan VTOL, Vertical Take-Off and Landing. Kemampuan ini memungkinkan sistem pesawat tanpa awak tersebut untuk lepas landas dan mendarat tanpa membutuhkan landasan, yang artinya pesawat tanpa awak ini menjadi sangat mobile dan dapat dioperasikan di darat dan juga di laut.

Untuk pengoperasian di darat dapat menggunakan platform statis seperti pangkalan udara atau platform dinamis yang dapat bergerak seperti unit pengendali mobil dan UAV dapat diluncurkan dari atas truk yang memiliki ukuran dimensi panjang dan lebar yang sesuai dengan ukuran UAV tersebut. Sementara di laut, UAV ini dapat dioperasikan melalui dek helikopter atau helideck diatas kapal perang milik PLAN.

Pengoperasian unit – unit pesawat tanpa awak buatan Austria tersebut diatas kapal perang milik Angkatan Laut China atau PLA Navy (disingkat PLAN,red) mulai diketahui publik internasional pada bulan Mei tahun 2012 silam. Saat itu Pasukan Bela Diri Maritim Jepang atau Japan Maritime Self Defense Force berhasil mengabadikan beberapa foto yang menunjukkan pengoperasian tidak kurang dari tiga unit sistem pesawat tanpa awak Schiebel Camcopter S-100 dari atas landasan helikopter atau helideck sebuah kapal perang milik PLAN dari jenis Frigate kelas Jiangkai II Type 054A.

Sementara itu, pihak kantor intelijen Angkatan Laut Amerika Serikat atau US Office of Naval Intelligence (ONI,red) menyebut dalam sebuah laporan yang dirilis pada tahun 2015 bahwa beberapa unit sistem pesawat tanpa awak atau UAV Schiebel Camcopter S-100 dioperasikan dari atas kapal – kapal perang permukaan milik Angkatan Laut Pembebasan Rakyat China atau PLAN.

BACA JUGA :  Pasukan Suriah Hancurkan Konvoi Mobil Tanker Minyak ISIS

Dengan ketinggian jelajah maksimal 18.000 kaki atau setara 5,5 kilometer, serta jarak jangkau maksimal hingga 200 kilometer, menjadikan S-100 sebagai perangkat sistem yang mumpuni untuk digunakan dalam misi pengintaian taktis bagi armada PLAN. Armada kapal perang PLAN dapat menggunakan drone ini untuk kebutuhan pengintaian, survei dan pengumpulan data intelijen.

Kemampuan ini masih ditunjang pula dengan fakta bahwa sistem pesawat tanpa awak S-100 pada penerapannya diluncurkan dari atas dek helikopter yang dimiliki kapal perang jenis Frigate kelas Jiangkai II, menjadikannya lebih mobile serta dapat digunakan untuk membantu gugus tempur laut PLAN untuk melakukan identifikasi visual terhadap calon musuh potensial yang sedang bergerak mendekati area operasi gugus tempur laut tersebut.

Selain dapat digunakan untuk melakukan tugas pengintaian, penggunaan drone S-100 dari atas kapal perang milik PLAN di sekitar wilayah Laut China Selatan juga patut diwaspadai mengingat drone ini dapat menyusup jauh kedalam wilayah udara kedaulatan NKRI disekitar Laut Natuna Utara nyaris tanpa dapat dideteksi secara visual oleh pasukan yang bersiaga di pos perbatasan atau pulau terluar.

S-100 dapat membawa perangkat kamera pengintai, perangkat Synthetic Aperture Radar atau disingkat SAR, radar maritim, peralatan untuk melakukan misi Signal Intelligence atau disingkat SIGINT, dan peralatan untuk melakukan misi Communication Intelligence atau disingkat COMINT.

Meski pihak Scheibel selaku produsen sistem pesawat tanpa awak tersebut tidak menyatakan adanya kemampuan untuk membawa muatan berupa persenjataan bagi pesawat tanpa awak S-100, namun adanya catatan bahwa pesawat tanpa awak dengan model yang sama dimodifikasi oleh perusahaan industri pertahanan Thales untuk membawa persenjataan Lightweight Multirole Missile atau LMM. Oleh karena itu, terbuka kemungkinan bahwa militer China bisa saja mempersenjatai unit pesawat tanpa awak S-100 ini dengan muatan persenjataan yang sejenis dengan rudal “mini” LMM.

Selayang Pandang Armada Pesawat Tanpa Awak China Di Laut China Selatan ASN-209
Selayang Pandang Armada Pesawat Tanpa Awak China Di Laut China Selatan. Sistem UAV ASN-209 Saat Diluncurkan Dari Atas Truk Pengangkut Menggunakan Booster Roket.

ASN-209, UAV Taktis Disposable Milik Militer China

ASN-209 merupakan sistem pesawat tanpa awak yang didesain dan dikembangkan oleh Northwestern Polytechnics Institute yang juga dikenal sebagai “ASN Technology Corporation”. Unit – unit sistem UAV ASN-209 yang digunakan oleh militer China diproduksi oleh Xian Aisheng Technology Group Company Ltd. Sistem pesawat tanpa awak ASN-209 ini merupakan sistem pesawat tanpa awak yang termasuk dalam jenis Medium Altitude Medium Endurance atau disingkat MAME-UAV.

ASN-209 dapat diluncurkan dari atas platform peluncur yang dipasang pada kendaraan truk pengangkut. Pada sub judul diatas penulis sebutkan bahwa sistem UAV ini adalah sistem UAV yang Disposable alias sekali pakai. Sekali pakai disini maksudnya adalah bahwa jika dibutuhkan dalam pelaksanaan operasi nya sistem UAV ini dapat diterbangkan dalam misi sekali jalan, artinya pihak militer China dapat menerbangkan UAV ini ke daerah yang dapat dijangkau hingga jarak jangkau maksimalnya, lalu kemudian tidak perlu mengembalikan UAV tersebut ke markasnya karena data yang dikumpulkan UAV tersebut dapat direkam oleh pusat kendali yang berada di wilayah aman.

ASN-209 sendiri memiliki jarak jangkau maksimal 200 kilometer sekali jalan tanpa penerbangan kembali ke titik awal. Untuk ketinggian penerbangan maksimal yang dapat dicapai sistem pesawat tanpa awak ini yakni setinggi 16.404 kaki atau setara 5 kilometer. Sistem pesawat tanpa awak ASN-209 mampu terbang diudara selama kurang lebih 10 jam. Peluncuran menggunakan platform truk dapat dilakukan dengan menggunakan booster roket, sementara proses mendarat nya sistem pesawat tanpa awak ini dapat dilakukan dengan menggunakan parasut.

Proses peluncuran yang dapat dilakukan menggunakan platform peluncuran khusus dengan dibantu booster roket, menjadikan sistem UAV ini secara teknis mampu diluncurkan dari manapun asalkan ada peralatan platform peluncuran (yang ukurannya kurang lebih sama dengan ukuran sistem pesawat tanpa awak tersebut).

Proses pendaratan yang dapat dilakukan dengan menggunakan parasut juga memungkinkan sistem UAV ini untuk mendarat dimana saja. Pendaratan yang dilakukan menggunakan parasut juga memungkinkan pihak militer China untuk mampu menerbangkan pesawat tanpa awak ini hingga jarak jangkau maksimal 200 kilometer.

ASN-209 dioperasikan oleh militer China, sering tampil tanpa membawa persenjataan. Ini mengindikasikan bahwa sistem UAV tersebut lebih banyak digunakan untuk misi pengumpulan informasi Intelijen, Pengamatan, dan Pengintaian atau Intelligence, Surveillance, Reconnaissance atau disingkat ISR.

Meski demikian, brosur dari China National Aero-Technology Import & Export Corporation (CATIC) yang ditampilkan di ajang eksibisi pertahanan Singapore Air Show 2016 sempat menunjukkan sistem UAV ASN-209 menembakkan rudal Tian Long TL-2. Rudal TL-2 sendiri memiliki hulu ledak munisi HEAT (High-Explosive Anti-Tank) untuk menghadang kendaraan lapis baja dan hulu ledak munisi Fragmentasi untuk kebutuhan anti personel.

Sejauh ini belum ada laporan resmi terkait keberadaan atau operasional sistem UAV ASN-209 di sekitar wilayah sengketa dan pulau buatan China di Laut China Selatan. Namun demikian, apabila dikemudian hari sistem UAV ini ditempatkan atau dioperasikan di sekitar wilayah sengketa dan pulau buatan China di Laut China Selatan, maka ASN-209 dapat mengungguli ketinggian jelajah sistem UAV Thales Fulmar milik Malaysia yang secara luas telah diketahui dioperasikan sebagai aset ISR dan mendukung tugas patroli maritim di area Laut China Selatan yang disengketakan.

BACA JUGA :  Baghdad Bangun Tembok Kota Demi Mencegah Masuknya ISIS

ASN-209 dapat terbang 2.000 meter lebih tinggi daripada Thales Fulmar. Meski demikian, sistem UAV Thales Fulmar dapat terbang lebih jauh daripada ASN-209, dengan jarak jangkau maksimal 800 kilometer, Thales Fulmar dapat terbang jauh melebihi jangkauan maksimal ASN-209 yang dapat terbang hanya sejauh 200 kilometer.

harbin 2
Selayang Pandang Armada Pesawat Tanpa Awak China Di Laut China Selatan. Sistem UAV BZK-005 Dipotret Saat Sedang Terbang.

BZK-005, Si Pengintai Jarak Jauh Milik China Di Laut China Selatan

Sistem pesawat tanpa awak BZK-005 merupakan sistem pesawat tanpa awak yang didesain dan dikembangkan oleh Beihang University’s UAV Institute dan Harbin Aircraft Industry Group atau disingkat HAIG. Produksi massal dilaksanakan oleh Harbin Aircraft Industry Group atau disingkat HAIG. Sistem pesawat tanpa awak BZK-005 ini termasuk kedalam jenis Medium Altitude Long Endurance atau disingkat MALE-UAV. Sistem UAV ini dapat terbang setinggi 26.247 kaki atau setara 8 kilometer. BZK-005 memiliki jarak jangkau maksimal yang cukup jauh yakni hingga 2.400 kilometer.

BZK-005 harus melaksanakan lepas landas seperti pesawat normal pada umumnya, yakni menggunakan landasan atau runway pada pangkalan udara milik militer China. Ini menyebabkan China hanya dapat menempatkan unit sistem pesawat tanpa awak BZK-005 pada pangkalan udara yang berada di daratan China atau pangkalan udara yang berada di pulau buatan yang dibangun oleh China di wilayah Laut China Selatan. BZK-005 secara khusus digunakan oleh militer China sebagai aset untuk menjalankan misi Intelligence, Surveillance, and Recconnaissance atau ISR.

Meski demikian, dapat dikatakan bahwa sistem pesawat tanpa awak BZK-005 sangat memungkinkan untuk dimodifikasi dan kemudian dipersenjatai untuk dapat melaksanakan misi tempur, tidak hanya sebatas melakukan pengintaian dan pengamatan terhadap sasaran.

Sebuah laporan hasil penelitian yang dirilis oleh US – China Economic and Security Review Commission menyebut bahwa ada kemungkinan sistem pesawat tanpa awak BZK-005 telah diperlengkapi dengan perangkat elektro-optikal atau EO, sensor infra merah, perangkat SAR atau Synthetic Aperture Radar, perangkat pengumpul data frekuensi sinyal untuk menjalankan misi SIGINT (Signal Intelligence) serta sistem komunikasi berbasis satelit (Satellite Communication) yang memungkinkan UAV ini untuk melakukan transmisi data secara real time.

Pengoperasian sistem UAV BZK-005 bisa dikatakan sebagai langkah yang strategis bagi militer China. Mengapa demikian? Karena sistem UAV BZK-005 ini memiliki jarak jangkau yang cukup jauh, serta ketinggian jelajah yang cukup tinggi, dan waktu terbang yang cukup lama. Dengan jarak jangkau maksimal 2.400 kilometer, ketinggian jelajah maksimal 26.247 kaki atau setara 8 kilometer, serta waktu terbang 40 jam di udara, menjadikan unsur UAV ini sebagai salah satu aset strategis yang dimiliki China untuk dapat mengawasi pergerakan disekitar wilayah sengketa di Laut China Selatan.

Jarak jangkau maksimal sejauh 2.400 kilometer yang dapat ditempuh oleh sistem UAV BZK-005 tentu harus menjadi perhatian utama dari negara-negara yang sedang bersengketa dengan China di wilayah Laut China Selatan, dan Indonesia juga harus mulai memperhatikan potensi ancaman dari unsur UAV ini.

Jika UAV ini diluncurkan dari salah satu landasan yang ada di empat pulau artifisial milik China di wilayah sengketa di Laut China Selatan, dapat dipastikan UAV ini mampu untuk memasuki wilayah kedaulatan ruang udara NKRI. Akan sulit bagi pasukan penjaga pos pengamanan perbatasan (Pos Pamtas) dan pulau terluar (Puter) untuk mengidentifikasi kehadiran sistem pesawat tanpa awak ini karena ketinggian jelajahnya yang cukup tinggi yakni 26.247 kaki diatas permukaan laut.

Sejauh ini, sistem UAV BZK-005 sempat terlihat menggunakan fasilitas landas pacu atau runway di pangkalan udara Lingshui Air Base di wilayah pulau Hainan, serta di landas pacu pangkalan udara di pulau buatan Woody Island yang berada di wilayah yang disengketakan di Laut China Selatan. Meski demikian, perlu diwaspadai adanya kemungkinan militer China menempatkan secara permanen sistem UAV ini di seluruh pulau buatan yang dibuat oleh China di wilayah perairan Laut China Selatan yang disengketakan China dan beberapa negara ASEAN.

Sebagai gambaran singkat, sebuah “demonstrasi” kemampuan sistem UAV BZK-005 ini pernah dilakukan dengan menerbangkan satu unit UAV BZK-005 dari wilayah daratan China menuju ke wilayah ruang udara Jepang pada suatu hari di bulan September tahun 2013 silam. Jepang, yang sejak lama telah memiliki sistem radar penjejak dan pengawas wilayah ruang udaranya, mampu mendeteksi kehadiran pesawat tak dikenal tersebut, yang tak lain adalah sistem UAV BZK-005.

Setelah berhasil mendeteksi masuknya “penyusup” tersebut, beberapa unit pesawat jet tempur F-15 J dikerahkan untuk menghadang pesawat tanpa awak tersebut. Meski kemudian UAV ini kembali terbang menuju ruang udara internasional untuk kemudian kembali mengarah ke wilayah ruang udara China, pesan yang jelas dapat disampaikan kepada Jepang dan AS saat itu bahwa China mulai mengejar ketertinggalannya dari Jepang dan AS pada segi teknologi pesawat tanpa awak. Indonesia sendiri telah menyatakan minatnya pada sistem pesawat tanpa awak BZK-005 yang rencananya akan dibeli melalui maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia.

Selayang Pandang Armada Pesawat Tanpa Awak China Di Laut China Selatan GJ-1
Selayang Pandang Armada Pesawat Tanpa Awak China Di Laut China Selatan. Sistem UAV Gongji GJ-1 Dipotret Dalam Acara Zhuhai Airshow Tampak Membawa Persenjataan Berupa Rudal AKD-10.
Sumber : pinterest

Gongji GJ-1, Tukang Pukul Tanpa Awak Di Laut China Selatan

Drone atau sistem UAV terakhir yang akan dibahas penulis pada artikel kali ini adalah Gongji GJ-1. GJ-1 merupakan sistem UAV dengan kemampuan tempur, sehingga masuk dalam golongan UCAV atau Unmanned Combat Aerial Vehicle.

Dipersenjatai dengan beragam jenis munisi, GJ-1 layak mendapat julukan sebagai “Tukang Pukul” tanpa awak. Masuk dalam golongan Medium Altitude Long Endurance atau MALE-UCAV sama seperti BZK-005, GJ-1 menawarkan solusi aman dan “murah” bagi militer China untuk melakukan penghadangan represif terhadap kemungkinan ancaman yang dapat ditimbulkan oleh unsur kekuatan tempur milik negara lain yang bersengketa dengannya di wilayah perairan Laut China Selatan.

BACA JUGA :  Uji Coba RX-2200 Sebagai Amunisi Grad

GJ-1 merupakan sistem pesawat tanpa awak yang dikembangkan oleh Chengdu Aircraft Design and Research Institute yang kemudian diproduksi oleh Chengdu Aircraft Industry Group atau CAIG yang merupakan anak perusahaan dari AVIC. GJ-1 di khalayak umum lebih dikenal dengan nama Pterodactyl – I atau Wing Loong I.

GJ-1 diperlengkapi dengan sistem penjejak infra merah, radar SAR atau Synthetic Aperture Radar, serta perangkat komunikasi satelit yang memungkinkannya mengirimkan data yang didapat dalam penerbangan secara real time. Selain sederet sensor dan peralatan komunikasi, GJ-1 juga dapat dipersenjatai dengan serangkaian munisi diantaranya rudal udara ke permukaan AKD-10 (varian dari rudal anti-tank HJ-10), BRMI-90 (roket berpandu kaliber 90mm), Glide Bomb FT-7/130, FT-9/50, FT-10/25, GB-7/50, dan GB-4/100.

GJ-1 mampu terbang hingga ketinggian 16.404 kaki atau setara 5 kilometer, menjelajah hingga 4.000 kilometer jauhnya, serta dapat terbang di udara selama 20 jam. Sistem pesawat tanpa awak tersebut dapat benar – benar melaksanakan tugasnya sebagai “tukang pukul” berkat bantuan sistem komunikasi berbasis satelit yang memungkinkannya mengirimkan transmisi data ke pusat kendali atau Ground Control Unit dalam kondisi real time.

Sederet kemampuan operasional dan kemampuan tempur yang dimiliki unit sistem pesawat tanpa awak besutan CAIG ini merupakan ancaman nyata yang harus diwaspadai oleh negara – negara yang bersengketa dengan China di Laut China Selatan. Pengerahan unit – unit UAV GJ-1 yang diterbangkan dari daratan China dapat menjangkau hampir keseluruhan wilayah udara diatas Laut China Selatan yang disengketakan.

Secara sederhana penulis dapat memberikan sedikit gambaran tentang operasional GJ-1 yang dapat mempegaruhi pergerakan armada negara – negara sekitar yang sedang bersengketa di Laut China Selatan. Pengerahan GJ-1 bersama dengan BZK-005 dapat menciptakan kondisi dimana pihak militer China nyaris tidak perlu mengerahkan sistem persenjataan kelas berat lainnya untuk menghadang gerak maju armada negara – negara lain yang bersengketa dengan mereka di Laut China Selatan, BZK-005 dapat menjadi mata bagi GJ-1 sementara GJ-1 dapat memberi pukulan telak terhadap armada kapal – kapal penjaga pantai ataupun kapal patroli milik angkatan laut negara – negara yang bersengketa dengan China di wilayah perairan Laut China Selatan. Indonesia sendiri telah menyatakan minatnya terhadap sistem pesawat tanpa awak GJ-1 varian ekspor yakni Wing Loong I.

Claim On South China Sea
Selayang Pandang Armada Pesawat Tanpa Awak China Di Laut China Selatan. Infografis Klaim Sepihak China Atas Wilayah Perairan Laut China Selatan.
Sumber : BBC

Penutup

Potensi ancaman yang dapat ditimbulkan oleh kekuatan armada pesawat tanpa awak milik China di wilayah udara serta perairan Laut China Selatan bukan hanya isapan jempol semata. Indonesia sebagai salah satu negara yang juga berbatasan dengan wilayah perairan Laut China Selatan dan yang juga terlibat secara tidak langsung dalam sengketa wilayah perairan di Laut China Selatan dengan masuknya sebagian wilayah Zona Ekonomi Eksklusif atau ZEE perairan Natuna Utara dalam klaim sepihak oleh China sudah sepatutnya waspada. Diperlukan adanya mitigasi atau pemetaan skala prioritas dan intensitas ancaman untuk kemudian dapat digunakan sebagai data pendukung dalam pengambilan keputusan menyikapi adanya ancaman tersebut.

Selain mitigasi atau pemetaan ancaman yang baik dan benar, diperlukan juga perkuatan untuk mengawasi pergerakan potensi ancaman berupa sistem pesawat tanpa awak tersebut. Perkuatan dapat dilakukan di wilayah kepulauan Natuna dengan menempatkan unsur – unsur berupa sistem radar dan bila perlu satu atau dua flight (Sekitar 4 hingga 8 unit) pesawat tempur TNI AU yang selalu bersiaga agar ketika potensi ancaman terdeteksi bergerak menuju wilayah ruang udara NKRI dapat dilakukan penghadangan, penyergapan dan bila perlu tindakan represif dengan menembak jatuh apabila potensi ancaman berupa sistem UAV tersebut dirasa cukup membahayakan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di tingkatan masyarakat umum, khususnya warga masyarakat yang awam, perlu dilakukan adanya kegiatan berupa edukasi terkait potensi ancaman. Diskusi – diskusi terbuka tentang pentingnya potensi UAV jika dimanfaatkan dengan baik dan juga berbahayanya UAV jika digunakan oleh pihak yang berpotensi mengganggu kedaulatan NKRI juga perlu digalakkan. Akses edukatif berupa tulisan dan gambar yang sekiranya mampu memberikan informasi dan gambaran umum potensial ancaman berupa sistem UAV yang dihadapi juga perlu dibuka kepada masyarakat.

Pentingnya edukasi kepada masyarakat akan sangat membantu para prajurit di lapangan yang dapat memperoleh informasi dari warga apabila warga masyarakat melihat adanya pergerakan potensi ancaman berupa sistem UAV diatas wilayah udara RI.

Sudah saatnya pemerintah mulai mempertimbangkan untuk menghadapi potensi ancaman dari armada pesawat tanpa awak milik militer China di Laut China Selatan.

7 COMMENTS

    • walau KW hampir semua barang elektronik mereka punya dari modem usb sampai pesawat bahkan satelit, keunggulan mereka tidak dapat dianggap sebelah mata, sedangkan kita belum punya kemampuan yg demikian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Cakra Baskara, Sistahanud jarak pendek Soviet

Mengenal  Cakra Baskara Sistahanud jarak pendek Soviet-Hobbymiliter.com. Sebelum pandemi COVID menyerang. Indonesia termasuk getol menyelenggarakan pameran bertema pertahanan dengan Indodefence yang paling populer.  Selain...

Mengenal S-300PT & PS Varian Awal Dari S-300P.

Mengenal S-300PT & PS (SA-10 Grumble) Varian Awal Dari S-300P-Hobbymiliter.com. Belakangan ini nama sistem hanud S-300 mencuat kembali, utamanya pada konflik Nagorno-Karabakh dimana Azerbaijan...

Penghancuran Pusat Komando Drone, Kenapa Tidak??

Penghancuran Pusat Komando Drone, Kenapa Tidak?? - HobbyMiliter.com. Pada awal tahun ini kita menyaksikan muncul dan berkembangnya era baru yaitu perang secara aktif menggunakan...

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Beli Ngeteng, Cara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF - HobbyMiliter.com. Dalam diskusi diskusi di forum forum militer online maupun di grup grup militer di Facebook,...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua