Friday, May 17, 2024
HomeBerita MiliterBerita Militer IndonesiaTiga Kapal Perang Milik AL Singapura Kunjungi Surabaya

Tiga Kapal Perang Milik AL Singapura Kunjungi Surabaya

Tiga Kapal Perang Milik AL Singapura Kunjungi Surabaya
Tiga Kapal Perang Milik AL Singapura Kunjungi Surabaya. Bagian Buritan Kapal Korvet RSS Vigour-92 Dan Kapal LMV RSS Justice-18. Tampak Ukuran Kapal LMV RSS Justice-18 Lebih Besar Daripada Kapal Korvet RSS Vigour-92.
Sumber : istimewa

RSS Justice yang memiliki nomor lambung 18 merupakan satu dari delapan unit kapal perang jenis Littoral Mission Vessel kelas Independence yang dimiliki oleh AL Singapura. Kapal ini merupakan jenis kapal patroli yang dirancang untuk menggantikan kapal patroli dari kelas Fearless milik AL Singapura. Kapal ini dipersenjatai dengan satu unit meriam Super Rapid Gun kaliber 76 milimeter buatan Oto Melara, dua unit RCWS (Remote Controlled Weapon System / Sistem senjata kendali remote) Hitrole kaliber 12,7 milimeter, satu unit kanon kaliber 25 milimeter Typhoon Weapon Station, serta 12 rudal anti serangan udara VL MICA.

Kristian Prasetyo Lobo
Kristian Prasetyo Lobohttps://www.facebook.com/Achtung.sniper
Just an ordinary person who loves diecast and military related-stuffs. Enjoy my writings as you enjoy your daily delicious food. Wanna put some suggestion? Don't hesitate to comment on my posts or you can sending me message on my facebook profile. ^^

56 COMMENTS

  1. negara kecil tapi alutsistanya bejibun, sampai2 dititipkan ke negara lain. Punya kapal selam juga ( untuk apa ya ?)…..indonesia perlu nempatin rudal Scud di daerah Natuna.yg bisa nyampe ke Singapore, kalau mereka marah2 ya kita jawab ” utk apa kalian punya kapal.selam trus berbagai jet fighter ? yg melebihi kebutuhan negara ” seupil”…..

  2. Indonesia hanya bisa membedakan apa yang dikatakan bersahabat dan bermusuhan. Tetapi apa yang dikatakan bersahabat tersebut adalah masih rancu. Tidak ada negara di dunia ini bersahabat dalam artian karib seperi manusia!! Sahabat malah boleh lebih daripada menjadi saudara sendiri.
    Karena semuanya tetap dalam konstruksi persaingan (walaupun caranya halus) dan kepentingan keamanan dalam negerinya masing- masing. Jelas- jelas dengan membolehkan kapal- kapal Singapura atau Malaysia atau Australia memasuki wilayah Indonesia adalah peluang yang terlalu enak diberikan oleh Indonesia kepada mereka dan menjadi resiko besar bagi Indonesia karena bukan tidak mungkin pemetaan wilayah pertahanan telah mereka lakukan dengan lebih terinci, sekalipun atas nama kunjungan persahabatan. Apakah kita dapat melakukan yang sama….dan lagi pula untuk apa??

    Sebab di dunia ini, setiap negara membangun kepentingannya masing- masing untuk menguntungkan dirinya, sekalipun tanpa mengurangi keuntungan negara lain. Itulah yang sebenarnya persahabatan. Masalahnya…apa yang menguntungkan bagi Indonesia ketika mereka melakukan kunjungan ke Indonesia…sementara Indonesia sudahkah mendapatkan petikan keuntungan dari mereka? Atau tahukah kerugian / resiko yang akan ditanggung negara dalam hal pertahanan?? Bagaimana dengan pemasangan radar yang rencananya dibangun di Bengkalis dan siapa yang paling memperotes?? Bukan kah mereka? Demikian juga dengan wilayah Ranger 1 yang kita tuntut balik, apakah dibalikkan?

    Maksud tulisan saya ini bukan untuk mengadu atau mengajak negara tetangga berperang. Tetapi untuk selalu tetap menjaga kewaspadaan. Apalagi jika menyangkut area- area tertentu yang sudah selayaknya dirahasiakan sebagai kartu “As”, jika sewaktu- waktu terjadi perselisihan. Jangan dipikir dengan melakukan latihan perang (joint training) di Indonesia , lebih menguntungkan Indonesia. Darimana kalkulasinya secara politik, ekonomi, dan kedaulatan wilayah??
    Misal: Singapura, biarkan saja dia punya kapal laut yang hebat. Indonesia tidak perlu merasa khawatir tapi tetap waspada!! Bukankah dia memerlukan laut yang lebih luas untuk boleh kapal2 perangnya beredar? Dengan memberikan kekeluasaan menjelajahi wilayah- wilayah kita sekalaipun atas nama persahabatan dan joint training tempur, memangnya Indonesia diuntungkan?? Bagaimana kemampuan pengawasan dan monitoring dini kita ketika mereka melintasi wilayah kita? Kita sudah ada satelit yang selalu monitor mereka, tidak? Kita sudah alat yang dapat mengaburkan radar canggih untuh memetakan wilayah yang bisa jadi mereka gunakan ketika melalui wilayah kita atau tidak?
    Ini juga kasusnya seperti ketika mereka mempersenjatai negaranya dengan pesawat- pesawat tempur termodern? Mereka butuh wilayah terbang bukan? Apakah maksud dari pengadaan persenjataan canggih dari mereka itu ?? Sekalipun secara diplomatis, mereka tentunya akan mengatakan untuk melindungi negaranya. Salah? Tentunya tidak , bukan?
    Itulah mengapa ketika Indonesia meminta balik wilayah radar Ranger-1 tidak dibalikkan.
    Tetapi sekarang kita balik…, ketika kita mengadakan persenjataan..apakah mereka diam? Tidak kan? Ini artinya, sudah pasti mereka khawatir dengan negara tetangganya, yaitu Indonesia bukan? Maka untuk itu, kita juga harus khawatir dengan negara- negara tetangga kita (asal jangan paranoid lah).

    Maka karena itu…..Stop semua osong kosong persahabatan!!
    Semua harus ada perhitungan yang betul- betul masak/ matang, terukur, sekarang dan mendatang sebagai bentuk suatu strategi yang ampuh. Jangan terlalu mudah memberikan fasilitas kepada negara lain. Sekalipun , katakanlah mereka tidak akan berselisih dengan kita…, tetapi bukan tidak mungkin…..mereka bisa saja menjual informasi tentang kita kepada “musuh kita” untuk mendapatkan imbalan/ keuntungan dalam bentuk kemudahan ekonomi atau lainnya ketika mereka mengadakan suatu perjanjian dalam masalah ekonomi dan perdagangan dengan negara “musuh kita”, bukan?

    Sekali lagi…..
    Maka karena itu…..Stop semua osong kosong persahabatan!!
    Tetapi kita sendiri yang harus cerdik menggunakan itu….., bukan di-keceng-in terusssssss…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Baca Juga

F-16 TNI AU dan RSAF dalam Elang Indopura 2016

Latma Elang Indopura 2016 Sukses Digelar

0
HobbyMiliter.com - Panglima Angkatan Udara Singapura Mayor Jenderal Mervyn Tan dan Kepala Staf Angkatan Udara Indonesia Marsekal TNI Agus Supriatna menghadiri bersama upacara penutupan...

Recent Comments