HomeBlog MiliterSejarahCiri-Ciri Sejarah Sebagai Ilmu

Ciri-Ciri Sejarah Sebagai Ilmu

Ruang Lingkup Sejarah

Selain sejarah sebagai ilmu, sejarah juga dibagi menjadi 3 bagian lainnya yaitu sejarah sebagai kisah, sejarah sebagai seni dan sejarah sebagai peristiwa.

  1. Sejarah sebagai Ilmu
    Sejarah sebagai ilmu artinya sejarah dijadikan sebagai pengetahuan yang sudah terverifikasi, teruji dan bisa dipertanggung jawabkan fakta dan data yang ada di dalamnya.
  2. Sejarah sebagai Peristiwa
    Sejarah sebagai peristiwa artinya adalah suatu yang terjadi di masa lalu dalam kehidupan masyarakat. Tetapi tidak semua peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa dikatakan sebagai sejarah. Contoh sejarah sebagai peristiwa adalah proklamasi kemerdekaan 17 agustus 1945 dan peristiwa G30S PKI tahun 1965.
  3. Sejarah sebagai Kisah
    Sejarah sebagai kisah artinya sejarah yang mempelajari cerita atau kisah yang didasarkan dari pengalaman di masa lalu. Biasanya sejarah sebagai kisah ini merupakan hasil penggambaran dari seorang sejarawan terhadap suatu peristiwa di masa lalu.
  4. Sejarah sebagai Seni
    Adalah sejarah yang terdapat nilai rekreatif dan keindahan yang membuat suatu peristiwa atau kisah sejarah dijadikan bentuk seni.

Sejarah Bersifat Empiris, Artinya Apa?

Salah satu ciri yang paling sering ditanyakan dari artikel ini adalah: ilmu sejarah bersifat empiris, yang berarti sejarah disusun berdasarkan pengalaman dan bukti nyata yang dapat diamati — bukan karangan atau khayalan. Sejarawan bekerja dari sumber-sumber empiris: prasasti, dokumen, artefak, kesaksian, dan catatan sezaman, yang semuanya harus diuji keaslian (kritik ekstern) dan kebenarannya (kritik intern) sebelum dipakai. Karena bertumpu pada bukti yang bisa diperiksa ulang inilah sejarah dapat disebut ilmu, sejajar dengan ilmu-ilmu lain yang juga berangkat dari data empiris.

Contoh Penerapan Ciri-Ciri Sejarah sebagai Ilmu

Ambil contoh penentuan usia dan isi Prasasti Kedukan Bukit tentang Kerajaan Sriwijaya. Sejarawan tidak menebak: mereka membaca aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno pada batu itu (bukti empiris), membandingkannya dengan prasasti lain dan catatan musafir Tiongkok (verifikasi), lalu menyusun kesimpulan dengan metode yang dapat diuji peneliti lain (sistematis dan metodis). Bila kemudian ditemukan prasasti baru yang bertentangan, kesimpulan lama wajib direvisi — persis cara kerja ilmu pengetahuan. Inilah perbedaan mendasar sejarah ilmiah dengan mitos atau legenda: legenda boleh diceritakan turun-temurun tanpa bukti, sedangkan sejarah harus selalu siap diuji oleh bukti.

Baca juga: Sejarah sebagai Seni dan Kehidupan Politik Kerajaan Tarumanegara sebagai contoh kajian sejarah terapan.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusuma
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Baca Juga

98-kurdistan-suriah-kecam-senjata-kimia-oposisi

Kurdistan Suriah Kecam Oposisi Karena Pakai Senjata Kimia Terlarang

0
Hobbymiliter.com - Jurubicara Pasukan Perlindungan Rakyat Kurdistan (YPG) Suriah menuduh militan pihak oposisi sengaja menghancurkan pemukiman Sheikh Maqsood yang didiami banyak warga Kurdi dengan menggunakan...