Kopassus – HobbyMiliter.com – Kopassus adalah Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat, pasukan elite berbaret merah yang dibentuk pada 16 April 1952. Kopassus adalah satuan komando dengan kemampuan operasi khusus: perang gerilya, sabotase, intelijen tempur, terjun bebas, hingga penanggulangan teror. Artikel ini membahas sejarah, struktur satuan, pendidikan komando yang terkenal berat, syarat masuk, dan operasi-operasi besar Kopassus.

Sejarah Kopassus
Cikal bakal Kopassus lahir dari pengalaman pahit operasi penumpasan RMS di Maluku tahun 1950, ketika TNI menyadari kebutuhan akan pasukan kecil berkemampuan khusus. Gagasan ini digulirkan Letkol Slamet Riyadi dan diwujudkan Kolonel Alex Kawilarang, Panglima Tentara dan Teritorium III/Siliwangi. Pada 16 April 1952 berdirilah Korps Komando Angkatan Darat (KKAD) di Batujajar, Jawa Barat, dengan komandan pertama Mayor Mochammad Idjon Djanbi — mantan anggota pasukan khusus Belanda yang kemudian dikenang sebagai Bapak Kopassus. Perjalanan Alex Kawilarang sendiri adalah kisah pelopor pembentukan satuan ini.
Nama satuan ini berganti beberapa kali mengikuti perkembangan organisasi: KKAD (1952), Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat atau RPKAD (1959), Pusat Pasukan Khusus AD atau Puspassus AD (1966), Kopassandha (1971), dan sejak 26 Desember 1985 menjadi Kopassus hingga sekarang. Motonya: Berani, Benar, Berhasil. Baret merahnya membuat Kopassus dijuluki Korps Baret Merah.
Sepanjang sejarahnya, baret merah terlibat dalam hampir semua operasi besar TNI: penumpasan DI/TII, PRRI/Permesta, operasi Trikora dan Dwikora, penumpasan G30S/PKI, operasi Seroja di Timor Timur, operasi di Aceh, hingga operasi pembebasan sandera dan perburuan kelompok bersenjata di Papua dan Poso.
Struktur Satuan Kopassus
Kopassus dipimpin seorang Komandan Jenderal (Danjen) berpangkat mayor jenderal. Satuannya terbagi menurut spesialisasi:
| Satuan | Markas | Spesialisasi |
| Grup 1 | Serang, Banten | Parako (para komando) |
| Grup 2 | Kartasura, Jawa Tengah | Parako (para komando) |
| Grup 3 | Cijantung, Jakarta | Sandhi yudha (intelijen tempur) |
| Satuan 81 Penanggulangan Teror (Satgultor 81) | Cijantung, Jakarta | Antiteror |
| Pusdiklatpassus | Batujajar, Jawa Barat | Pendidikan dan latihan |
Profil salah satu satuannya dapat dibaca di artikel Profil Grup 1 Kopassus Serang. Satgultor 81 yang dibentuk pada 1982 adalah unit antiteror Kopassus — padanan di matra laut adalah Denjaka milik TNI AL.
Pendidikan Komando Kopassus
Untuk memakai baret merah, seorang prajurit harus lulus Pendidikan Komando di Pusdiklatpassus Batujajar — salah satu pendidikan militer terberat di Indonesia yang berlangsung berbulan-bulan. Tahap-tahapnya yang terkenal antara lain:
- Tahap dasar dan hutan gunung: latihan fisik ekstrem, navigasi darat, survival, dan pertempuran jarak dekat di hutan dan pegunungan Jawa Barat.
- Tahap rawa laut: infiltrasi dan pertempuran rawa-laut di kawasan Cilacap dan Nusakambangan, termasuk renang laut dan pendaratan.
- Tahap pelolosan (SERE): siswa dilepas untuk meloloskan diri dari “pengejaran musuh”; bila tertangkap, mereka mengalami interogasi dan simulasi penyiksaan untuk melatih ketahanan mental.
Hanya sebagian kecil peserta yang bertahan sampai akhir dan berhak menyandang brevet komando serta baret merah. Lulusan terbaik dan para prajurit yang terus menunjukkan prestasi kemudian berkesempatan mengikuti pendidikan lanjutan: para dasar dan terjun bebas, sandhi yudha, hingga pendidikan antiteror di Satgultor 81.

Syarat Masuk Kopassus
Hal pertama yang harus dipahami: tidak ada pendaftaran Kopassus langsung untuk sipil. Kopassus diisi oleh prajurit TNI AD aktif — perwira, bintara, dan tamtama — yang dipilih dari satuan-satuan asal di seluruh Indonesia. Jadi jalan masuknya adalah:
- Menjadi prajurit TNI AD terlebih dahulu, misalnya lewat Secaba (jalurnya dibahas di artikel Bintara TNI), Akmil, atau jalur tamtama.
- Berdinas dengan catatan prestasi dan fisik yang menonjol di satuan asal.
- Mengikuti seleksi calon siswa Pendidikan Komando: kesehatan, jasmani, psikologi, dan mental.
- Lulus Pendidikan Komando di Batujajar dan mempertahankan kebaretan lewat pembinaan satuan yang ketat.
Karena seleksi dan pendidikannya seketat itu, jumlah personel Kopassus relatif kecil dibanding satuan tempur biasa — sesuai hakikat pasukan khusus: sedikit orang, kemampuan berlipat.
Operasi-Operasi Terkenal Kopassus
- Pembebasan Woyla (1981): pembajakan pesawat Garuda Indonesia “Woyla” di Bangkok diakhiri operasi kilat pasukan RPKAD/Kopassandha yang menyerbu pesawat — salah satu operasi antiteror udara tersukses pada masanya.
- Pembebasan sandera Mapenduma (1996): operasi pembebasan peneliti Ekspedisi Lorentz yang disandera OPM di Mapenduma, Papua — operasi panjang dan berbahaya di medan pegunungan ekstrem.
- Operasi Tinombala: perburuan kelompok Santoso di Poso bersama Polri, menunjukkan peran Kopassus dalam operasi gabungan dalam negeri modern.
Di luar operasi tempur, prajurit Kopassus juga rutin mengharumkan nama Indonesia dalam latihan bersama pasukan khusus negara sahabat dan kejuaraan menembak militer internasional.

Demikian profil Kopassus: sejarah sejak 1952, struktur Grup 1, 2, 3 dan Satgultor 81, pendidikan komando yang melegenda, serta jalur masuknya yang hanya terbuka bagi prajurit TNI AD terpilih. Korps Baret Merah tetap menjadi tolok ukur pasukan khusus Indonesia.
Baca juga: Barrett M82A1: Senapan Sniper Anti Material Kepercayaan Kopassus dan Profil Pasukan Denjaka TNI AL, Pasukan Elit Indonesia yang Misterius.

