AWAL KARIR MILITER SLAMET RIYADI

Saat Pasukan Jepang menduduki Solo, mereka membuka kesempatan bagi para pemuda untuk mendaftar di bidang kemiliteran. Slamet Riyadi masuk ke Sekolah Pelayaran Tinggi dan menamatkannya pada awal 1945. Tugas yang dilaksanakannya adalah sebagai navigator kapal kayu karena Slamet Riyadi dinilai menguasai navigasi laut.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Slamet Riyadi ikut melucuti senjata Pasukan Jepang di Solo. Kemudian menghimpun kekuatan yang terdiri dari para pelajar, para pemuda eks-PETA dan eks-Heiho yang ingin berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kekuatan ini kemudian secara resmi bergabung Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Resimen I Divisi X Surakarta yang dipimpin oleh Kolonel Sutarto. Selanjutnya pada awal 1946 terjadi perubahan nama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) dan susunan organisasi pasukan TKR Divisi X Surakarta pun berubah menjadi TRI Divisi IV “Panembahan Senopati” Surakarta.

BACA JUGA :  KRI Oswald Siahaan 354, Kapal Legendaris TNI AL

Pasukan TRI Divisi V Panembahan Senopati ini terdiri dari empat Resimen TRI dan enam Resimen Badan Perjuangan (yang berasal dari laskar pejuang). Slamet Riyadi yang saat itu sudah berpangkat Mayor memimpin sebuah batalyon yang bermarkas di Pacitan. Batalyon ini berada di bawah komando Resimen 26 pimpinan Letnan Kolonel Suadi. Salah satu tugas yang dilaksanakan batalyon Slamet Riyadi, pada April 1946 Mayor Slamet Riyadi bersama pasukannya ditugaskan untuk mengawal kegiatan pengangkutan tawanan perang dan interniran Sekutu (APWI – Allied Prisoners of War and Internees) yang ditawan Pasukan Jepang di Solo.

BACA JUGA :  Pasukan T Ronggolawe, Pasukan Pejuang Pelajar

Batalyon Mayor Slamet Riyadi turut mempertahankan kota Solo dari serangan Pasukan Belanda dengan bergerilya dan membentuk kantong-kantong pertahanan ketika Pasukan Belanda melancarkan agresi militernya yang pertama pada 1947. Selanjutnya pada Mei 1948 terjadi perubahan organisasi pasukan Divisi IV Panembahan Senopati menjadi Komando Pertempuran Panembahan Senopati (Ko-PPS) yang tetap dipimpin oleh Kolonel Sutarto, untuk wilayah operasi Solo dan sekitarnya sampai perbatasan Semarang dan Pacitan. Pasukan ini terdiri dari lima brigade tempur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here