Friday, July 3, 2020
Home Militer Kisah Militer Kisah Alexander Finenko, Mata Mata Soviet Yang Ditangkap Indonesia Karena Pembocoran Rahasia...

Kisah Alexander Finenko, Mata Mata Soviet Yang Ditangkap Indonesia Karena Pembocoran Rahasia Negara

Kisah Alexander Finenko, Mata Mata Soviet Yang Ditangkap Indonesia Karena Pembocoran Rahasia Negara – HobbyMiliter.com – Pada tahun akhir tahun 1970-an dan seantero 1980-an lalu, Intelijen Indonesia berada pada saat saat terkuatnya. Di masa ini, pihak intelijen berhasil menorehkan beberapa prestasi, antara lain membongkar jaringan teroris yang menyerbu kantor polisi di Cicendo Bandung, membongkar kasus pembajakan Garuda Woyla di Bangkok, mendatangkan 30++ pesawat A4 Skyhawk dari Israel, mengirimkan bantuan senjata ke Mujahidin di Afghanistan dan yang jarang dibahas, membongkar jaringan spionase intelijen KGB Soviet yang masuk ke tubuh militer Indonesia.

BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara, BIN saat ini) berhasil membuat prestasi dengan penangkapan agen intelijen Soviet yang melakukan kegiatan spionase di Indonesia. Target tersebut adalah agen intelijen Soviet bernama Alexander Pavlovich Finenko (36 tahun) yang di Indonesia diberi samaran sebagai manajer perwakilan perusahaan penerbangan Aeroflot yang beroperasi di Indonesia.

Dalam menjalankan aksi spionasenya, KGB selalu mengerahkan para pejabat diplomatik maupun agen dengan samaran sipil seperti misalnya petugas maskapai penerbangan Soviet Aeroflot yang bekerja di luar negeri. Pada era perang dingin itu, Indonesia yang dikenal sebagai tokoh ASEAN dan Gerakan Non Blok juga menjadi sasaran utama para agen KGB. Sebaliknya kegiatan orang-orang Soviet pun menjadi perhatian khusus dari BAKIN, yang kala itu dipimpin oleh Jenderal LB Moerdani, penerima bintang sakti karena keberaniannya dengan Pasukan Naga di Merauke ketika operasi Trikora.

Alexander Finenko Mata Mata Dalam Kasus Terbongkarnya Operasi Intelijen KGB Soviet di Indonesia
Berita koran Alexander Finenko Mata Mata Dalam Kasus Terbongkarnya Operasi Intelijen KGB Soviet di Indonesia

BAKIN yang memang bertugas sebagai kontra-intelijen di Indonesia, selalu memonitor secara ketat pergerakan lalulintas orang orang asing. Saat itu terutama orang orang Soviet. Ketika mencurigai aktifitas Finenko, BAKIN pun mulai mengendus samaran agen intelijen Soviet, Finenko dengan melakukan penyadapan telepon saat melakukan kontak dengan aset lokalnya, Letkol TNI AL Susdaryanto.

Sebagai perwira Angkatan Laut yang bertugas pada Dinas Pemetaan Angkatan Laut, data-data kelautan yang bisa di akses Susdaryanto menjadi target yang penting bagi KGB. Data data kelautan seperti peta alur pelayaran, situasi kadar garam, peta bawah laut tentu berguna bagi pergerakan kapal selam nuklir Soviet yang sering kucing kucingan dengan kapal pemburu AL Amerika.

Letkol Susdaryanto sendiri yang merupakan perwira yang cerdas dan pernah sekolah hydrografi di Amerika, namun berhasil di rekrut oleh mata mata Soviet karena beberapa hal yaitu, faktor uang dan masalah karier yang dirasa terhambat. Karena ditugaskan di Departemen Pemetaan membuat Letkol Susdaryanto merasa diparkir dan kariernya mentok sehingga ketidakpuasan itu menimbulkan rasa keinginan balas dendam. Kondisi ini ternyata tidak terdeteksi pimpinan namun justru diketahui Finenko dan kemudian memanfaatkan masalah Letkol Susdaryanto ini. Alexander Finenko pun dengan mudahnya merekrutnya sebagai aset lokal KGB tanpa waktu yang lama.

Kisah dimulai ketika satgas khusus BAKIN mendapatkan sepotong informasi dari penyadapan telepon Alexander Finenko di 21 Januari 1981. Percakapan singkat dengan bahasa sandi (semacam “apel washington” atau “juz” dan “‘liqo” di hasil sadapan KPK saat ini) ini akhirnya diketahui dilakukan antara Finenko dengan Susdaryanto yang identitasnya baru diketahui pada tanggal 27 Januari 1981. Tanggal 30 Januari 1981 akhirnya satsus BAKIN pun menyadap telepon rumah Letkol Susdaryanto

Letkol Susdaryanto (kiri, kemeja putih)
Letkol Susdaryanto (kiri, kemeja putih)

Singkat cerita, setelah pengintaian beberapa waktu yang panjang, para petugas kontra-intelijen BAKIN bekerja sama dengan intel Kopkamtib kemudian mulai bergerak setelah mendapat informasi dari penyadapan telepon di rumah Finenko dan Letkol Susdaryanto di Tanjung Priok, Jakarta. Informasi itu menerangkan bahwa Susdaryanto akan memberikan data penting kepada Finenko, si mata mata Soviet.

BACA JUGA :  Korut Nasionalisasi Aset Korsel dan Luncurkan Rudal Jarak Pendek

Dengan sandi, data tersebut berupa dua rol film dan akan diberikan kepada Agen Soviet, yang akan menunggu di sebuah restoran di kawasan Jakarta Timur. Dan Intel BAKIN pun mendapatkan informasi bahwa Agen Soviet, Finenko akan segera pulang ke Soviet untuk liburan, maka penangkapan terhadap Finenko menjadi prioritas utama. Sebagai Manajer Aeroflot yang tidak mempunyai kekebalan diplomatik sehingga bisa di tahan di Indonesia. Bahkan bisa dijatuhi hukuman mati karena kegiatan spionase.

Untuk melakukan penangkapan terhadap Finenko, BAKIN menggunakan Letkol Susdaryanto sebagai umpan, sehingga diharapkan Finenko mudah di ringkus. Sebagai langkah awal BAKIN menangkap Susdaryanto dalam sebuah perjalanan menuju Jakarta Timur. Susdaryanto yang tak menduga itu dapat ditangkap dengan mudah. Dalam penahanan singkat itu, Susdaryanto mengakui seluruh kegiatan mata-matanya dan siap membantu penangkapan Finenko di sebuah restoran bernama “Jawa Tengah” di Jalan Pemuda Jakarta Timur.

BAKIN kemudian menempatkan anggotanya di sejumlah titik strategis, ada yang berperan sebagai tamu restoran dan sebagian berada di sekelilingnya. Pimpinan Operasi Mayor Sutardi bahkan membawa istri dan berserta ketiga anaknya untuk masuk ke restoran dan memesan makanan. berpura pura sebagai customer biasa. Keluarganya sama sekali tidak mengetahui adanya operasi penyamaran itu sehingga bersikap wajar seperti tamu restoran umumnya. Mayor Sutardi yang yakin tidak akan terjadi kontak tembak, sehingga memberanikan membawa keluarganya.

Logo BIN, Badan Intelijen Negara
Logo BIN, Badan Intelijen Negara

Para petugas mulai waspada ketika Susdaryanto yang menjadi umpan memasuki restoran sambil membawa barang bukti dua rol film yang dikemas dalam kardus pasta gigi pepsodent untuk bertemu si mata mata Soviet. Namun ketika melihat orang yang menunggunya, Susdaryanto sempat terperanjat karena orang tersebut bukan Finenko, melainkan Asisten Atase Pertahanan (Athan) Soviet di indonesia, Letkol Sergei Egorov. Susdaryanto pun menjadi khawatir bila Egorov bersenjata dan akan melakukan perlawanan bila akan ditangkap.

Kemudian Susdaryanto mengajak ngobrol sambil menyerahkan barang berupa kotak pepsodent kepada Letkol Egorov. Letkol Egorov sempat menjelaskan bahwa nantinya selepas Finenko pulang, Letkol Egorov lah yang akan menjadi handler dari Letkol Susdaryanto. Dalam percakapan itu juga disebutkan tugas tugas Letkol Susdaryanto berikutnya: Mengambil data mengenai Selat Makassar, bertanya apakah Amerika menempatkan EW system di perairan Indonesia, dan profil lengkap beberapa perwira TNI AL.

BACA JUGA :  Ketika Rudal Panggul IGLA-S Rusia Berhasil Merontokkan Rudal Jelajah Musuh

Melihat barang yang bisa menjadi bukti diserahkan, perintah penangkapan pun dilaksanakan. Beruntung Egorov tidak melakukan perlawanan, sehingga penangkapan bisa dilakukan dengan aman terkendali. Langsung Egorov dimasukan ke mobil tahanan. Karena memiliki kekebalan diplomatik, maka Athan tersebut dibawa ke Kedutaan Soviet dengan surat pengusiran, persona non grata dari Pemerintah Indonesia setelah diperlambat pelepasannya dengan sengaja untuk mengorek informasi

Penangkapan Egorov dan Susdaryanto membuat Finenko bereaksi. Ia bersama Egorov yang sekarang berstatus Persona Non Grata berencana akan pulang ke Soviet pada sore hari tanggal 6 Februari 1980. Sebelum pesawat Garuda yang akan membawanya ke Singapura sebelum bertukar pesawat ke Moscow berangkat, Petugas BAKIN melakukan penangkapan terhadap Finenko. Finenko yang dikawal dengan protokol dari Kedutaan Soviet sempat terjadi insiden, namun berhasil di tangkap dan di interograsi BAKIN.

Karena tidak mempunyai kekebalan hukum, Alexander Finenko ditangkap ketika hendak melewati detektor logam di Bandara Halim Perdana Kusuma. Dia sudah ditunggu oleh BAKIN dan beberapa instansi lainnya. Pengawal Soviet dari kedutaan yang menjaganya pun tidak berkutik. Sudah dicengkram petugas ketika Finenko diseret untuk diamankan. Beberapa petugas yang gemas sempat terlihat melayangkan bogem mentah ke Agen Intelijen KGB Soviet ini. Statusnya yang non diplomat dan berdasarkan barang bukti penyadapan di rumah Susdaryanto, memungkinkan Pengadilan RI menjatuhkan hukuman mati kepadanya.

Presiden Rusia, Vladimir Putin dulunya merupakan agen KGB
Presiden Rusia, Vladimir Putin dulunya merupakan agen KGB

Karena pengaruh tekanan diplomatik Soviet yang kuat, Finenko si mata mata Soviet tersebut kemudian dilepaskan dalam beberapa hari dan dipulangkan ke Soviet pada tanggal 13 Februari 1981. Dua hari setelah itu, perusahaan perwakilan maskapai Aeroflot ditutup di Indonesia setelah sebelumnya Soviet diminta menutup salah satu dari 3 konsulatnya di Indonesia. Setelah itu BAKIN lebih ketat mengawasi semua orang Soviet di Indonesia, mengingat aksi Finenko bukan merupakan aksi spionase terakhir yang dilakukan para Agen KGB di Indonesia.

Letkol Susdaryanto sendiri lahir di Ambarawa, Jawa Tengah, pada 27 Juni 1934. Lulus dari SMA De Loyota Semarang, dia masuk Akademi Ilmu Pelayaran dan lulus pada 1958. Dia masuk Angkatan Laut tahun 1962, setahun kemudian disekolahkan ke Maryland Amerika Serikat. Sekembalinya ke tanah air, dia menjadi perwira bahkan komandan di berbagai kapal TNI AL, serta menjabat Kadis Pemetaan pada 1979.

Jip TNI AL yang dikemudikan Letkol Susdaryanto
Jip TNI AL yang dikemudikan Letkol Susdaryanto

“Sewaktu Susdaryanto menjadi perwira pemetaan, tahun 1976 berhubungan dengan Vladimir yang berkantor di Tanjung Priok sebagai agen kapal-kapal Soviet di Indonesia. Perkenalan bermula dari niat Vladimir membeli peta laut guna mensuplai kapal-kapalnya yang berlayar di Indonesia,” tulis majalah spion dan wanita, Spionita, No. 014, Agustus 1984.

BACA JUGA :  Foto Foto Reruntuhan Kompleks Militer Rusia : Baterai Anti Kapal Selam Rusia

Susdaryanto memenuhi pesanan Vladimir dan mendapatkan imbalan Rp50.000. Selama setahun (1976-1977), Susdaryanto menyerahkan dokumen-dokumen penting antara lain laporan dan perjanjian survey Selat Malaka antara Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Jepang (Memorandum of Procedure Survey Operation); rencana kerja Janhidros (Jawatan Hidro Oseanografi) TNI AL, dan laporan bulanan operasi/survey Hidros untuk setahun. Untuk dokumen tersebut, Susdaryanto menerima imbalan sebesar Rp600.000

Vladimir digantikan Yuri. Susdaryanto berhubungan dengan Yuri kurang lebih dua tahun (1977-1979). Selanjutnya, Yuri digantikan Robert yang merupakan identitas samaran dari Alexander Finenko pada September 1979. Biasanya mereka bertransaksi di restoran hotel atau supermarket.

Kepada Yuri dan Robert, Susdaryanto meyerahkan dokumen-dokumen terkait laporan internal TNI AL, seperti laporan tahunan Jahindros, juklak (petunjuk pelaksanaan) anggaran, laporan bulanan intelelijen Spam (staf umum pengamanan) Kasal (dalam dan luar negeri), dan laporan bulanan staf operasi Kasal.

KGB_Soviet_State_Police_building,_1985.JPEG
Gedung Markas KGB di Moskow

Selain itu, Susdaryanto juga menyerahkan laporan survey Selat Malaka kerjasama antara Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Jepang; perjanjian dan laporan survey di Selat Makassar kerjasama Indonesia dan Amerika Serikat; program kerja Jahindros TNI AL; dan laporan survey Amindo Jaya II Joint-Survey.

Robert (Finenko) kemudian diganti oleh Wito (Egorov). Dalam pertemuan pertama dan satu satunya di Restoran Jawa Tengah tersebut, Wito meminta kepada Susdaryanto data fisik arus, temperatur, kadar garam air laut Selat Makassar dan laut Ambon. Dia juga menanyakan apakah Amerika Serikat telah memasang Early Warning System (EWS) di laut Indonesia. Kalau benar, jenis apa dan dimana EWS diletakkan. Susdaryanto menyatakan tak tahu soal EWS itu. Wito menyerahkan 10 roll film kosong untuk operasi selanjutnya dan uang Rp300.000. Jumlah yang sangat besar di tahun 1981 itu.

“Yang diburu dalam kasus mata-mata Soviet itu (Sergei Egorov dan Susdaryanto, red) antara lain peta dasar laut Selat Ambon dan Selat Makassar –selain keadaan perairan di sekitar Pulau Natuna. Selat Ambon dan Selat Makassar bila dihubungkan dengan Selat Lombok, tak bisa lain, adalah jalur kapal selam Uni Soviet,” tulis Tempo, No. 25 Tahun XIV, 25 Agustus 1984.

Susdaryanto mengakui semua aksi spionasenya bersama mata mata Soviet tersebut kepada majelis hakim Mahkamah Militer Tinggi II Barat (Jakarta-Banten). Dia, seperti dikutip Spionita, menjual dokumen-dokumen rahasia milik TNI AL karena “kebutuhan ekonomi, iri kepada teman-teman sekantor yang lebih baik keadaan ekonominya, kepangkatan yang tidak naik-naik, dan keadaan hukum yang tidak menentu sebagaimana sering dibacanya di koran-koran.”

Setelah menjalani enam kali persidangan, pada 22 Agustus 1984, Susdaryanto divonis sepuluh tahun penjara dan dicabut haknya sebagai anggota TNI. Semua barang bukti berupa dokumen-dokumen dan foto serta uang Rp300.000 disita oleh negara.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Sejarah Insiden Bawean: Aksi Koboi F/A-18 US Navy di Atas Laut Jawa

Sejarah Insiden Bawean: Aksi Koboi F/A-18 US Navy di Atas Laut Jawa - HobbyMiliter.com. Aksi koboi udara Amerika Serikat pernah terjadi tanggal 3 Juli 2003...

Modifikasi Heli Serang Bell AH-1J, Langkah Iran Merevitalisasi Kekuatan Militer

Modifikasi Heli Serang Bell AH-1J, Langkah Iran Merevitalisasi Kekuatan Militer - HobbyMiliter.com. Seiring meningkatnya ketegangan, menyusul mundurnya Amerika Serikat dari kesepakatan damai yang ditandatangani era...

Mengenal Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim Baru dari Jepang

Mengenal Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim Baru dari Jepang - HobbyMiliter.com. Jepang sadar betul posisi dan kondisi geografisnya sebagai negeri kepulauan. Terlebih dalam hubungan dengan...

Foto Foto Kuburan Pesawat Tempur Rusia di Lebyazhye

Menengok Kuburan Pesawat Tempur Rusia di Lebyazhye - HobbyMiliter.com -  Lebyazhye Air Force Base dulunya adalah pangkalan udara militer milik Angkatan Udara Rusia. Pangkalan...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua