Friday, August 14, 2020
Home Alutsista Pesawat Terbang Yakovlev Yak-25RV Mandrake, Pesawat Mata-Mata Dari Uni Soviet

Yakovlev Yak-25RV Mandrake, Pesawat Mata-Mata Dari Uni Soviet

Yakovlev Yak-25RV Mandrake, Pesawat Mata-Mata Dari Uni Soviet – HobbyMiliter.com – Berbicara tentang pesawat mata-mata pada era Perang Dingin tentu kita tidak akan lupa dengan sederet pesawat mata-mata yang dibangun oleh Amerika Serikat kala itu dengan tujuan untuk melakukan misi pengintaian dan misi penerbangan mata-mata diatas wilayah udara Uni Soviet.

Sebut saja duo legenda pesawat mata-mata asal AS yakni U-2 Dragon Lady dan SR-71 Blackbird. Mungkin beberapa diantara kita ada yang penasaran mengenai apakah Uni Soviet juga mengembangkan pesawat yang juga khusus dibuat untuk menjalankan misi pengintaian dan penerbangan mata-mata untuk mengumpulkan informasi dari wilayah udara NATO?

Jawabannya adalah iya, Uni Soviet tercatat pernah secara masif mengembangkan dua unit pesawat mata-mata yang didesain untuk melaksanakan misi pengintaian serta penerbangan mata-mata diatas wilayah lawan. Kedua pesawat tersebut adalah Mikoyan Gurevich MiG-25RV dan Yakovlev Yak-25RV.

Pesawat yang terakhir disebut penulis inilah yang kali ini akan dibahas oleh penulis dalam artikel singkat kali ini. Sebuah pesawat mata-mata yang dikembangkan dari basis pesawat pencegat dan memiliki kemiripan tampilan fisik serta fungsi asasi dengan pesawat mata-mata asal AS sehingga beberapa kalangan menjuluki pesawat ini sebagai “U-2 nya Uni Soviet”.

Dan pemirsa, berikut kisah singkat Yakovlev Yak-25RV, sang pesawat mata-mata dari Uni Soviet.

Sejarah Lahirnya Yakovlev Yak-25RV

Yak-25RV 75 Yellow
Yakovlev Yak-25RV Mandrake, Pesawat Mata-Mata Dari Uni Soviet. Foto Asli Uji Terbang Perdana Prototype Yak-25RV, Prototype Kode “75” Warna Kuning Melaksanakan Uji Terbang Perdana Pada 1 Maret 1959.
Sumber : airwar.ru

Yakovlev Yak-25RV lahir dari tuntutan perkembangan situasi pada fase awal Perang Dingin dimana Amerika Serikat selaku pemimpin NATO berhasil mengembangkan pesawat mata-mata U-2 Dragon Lady. Mulai diperkenalkannya U-2 Dragon Lady pada medio tahun 1957 membuat Uni Soviet harus memutar otak mencari padanan untuk pesawat mata-mata asal AS ini.

Hasil dari keadaan ini adalah munculnya perintah dari Communist Party of the Soviet Union (CPSU) Central Committee pada tanggal 16 April 1958. Perintah dengan nomor 419-198 tersebut mengharuskan diadakannya pembangunan pesawat mata-mata dengan beberapa persyaratan teknis.

Berdasarkan surat perintah tersebut sang pesawat mata-mata haruslah mampu menjelajah atau terbang pada ketinggian 65.620 kaki hingga 68.900 kaki atau setara 20 hingga 21 kilometer diatas permukaan tanah. Pesawat tersebut haruslah memiliki kecepatan maksimal hingga 900 kilometer per jam pada ketinggian jelajah 49.210 kaki, 800 kilometer per jam pada ketinggian jelajah 65.620 kaki.

Kemudian, pesawat mata-mata tersebut haruslah dapat menjelajah hingga sejauh 2.500 kilometer pada ketinggian jelajah 65.620 kaki atau 20 kilometer diatas permukaan, 3.500 kilometer pada ketinggian jelajah 52.000 hingga 59.000 kaki, serta 5.000 kilometer pada ketinggian jelajah 42.000 hingga 45.000 kaki.

Spesifikasi teknis yang tertulis pada surat perintah tersebut membuat biro desain OKB-115 yang berbasis di Moskow mulai mengembangkan sebuah pesawat mata-mata jenis baru yang mengambil basis desain dari Yak-120 (yang secara resmi berdinas di Angkatan Udara Uni Soviet sebagai Yak-25 dan Yak-25M dengan kode NATO Flashlight-A) yang merupakan pesawat interseptor ketinggian tinggi yang sukses dikembangkan oleh biro desain OKB-115 dan telah berdinas pada jajaran armada Angkatan Udara Uni Soviet (VVS) sejak tahun 1954.

Yak-25 dan Yak-25M merupakan pesawat interseptor ketinggian tinggi yang kala itu dikembangkan Uni Soviet demi memenuhi kebutuhan penjagaan terhadap wilayah ruang udara Uni Soviet yang berada pada sisi Timur Jauh dan sisi Utara negara tersebut. Pada kedua wilayah tersebut militer Uni Soviet mengalami kesulitan untuk melindungi wilayah ruang udaranya dengan “cara biasa” yakni membangun situs-situs peluncuran rudal permukaan ke udara atau Surface to Air Missiles (SAM,red).

Dengan berhasil dikembangkannya sebuah pesawat interseptor ketinggian tinggi membuat pemerintah Uni Soviet kembali mengutus biro desain OKB-115 pimpinan Aleksandr S. Yakovlev untuk mengembangkan sebuah pesawat mata-mata, yang oleh mereka kemudian dituangkan dalam beberapa konsep.

BACA JUGA :  Rusia Kembangkan Jet Tempur Generasi Keenam dan Ketujuh, Sukhoi T-50 Siap Diproduksi

Konsep pertama yang terbukti kurang memuaskan adalah proyek Yak-25R (Razvedchik, yang artinya pesawat pengintai). Tidak puasnya Uni Soviet pada konsep pertama untuk pesawat pengintai dari biro desain pimpinan Yakovlev tersebut membuat biro desain itu akhirnya mengadakan perubahan besar-besaran pada desain awal Yak-25 / Yak-25M yang pada akhirnya menghasilkan prototype pesawat baru yang oleh biro desain tersebut dijuluki Yak-RV (Razvedchik, Vysotnyy, yang artinya pesawat pengintai, ketinggian tinggi).

Proses pembangunan prototype pertama dari apa yang akan menjadi pesawat mata-mata Yak-25RV berhasil diselesaikan pada awal tahun 1959. Dilanjutkan dengan penerbangan perdana dari protoype pertama yang diberi kode “75” dengan cat angka warna kuning pada tanggal 1 Maret 1959. Pilot penguji atau test pilot bagi pesawat ini bernama Vladimir P. Smirnov.

Pada serangkaian uji coba penerbangan, Yakovlev Yak-25RV berhasil mencapai ketinggian jelajah maksimal 68.900 kaki atau 21 kilometer dari permukaan tanah dan kecepatan maksimal hingga 0,82 Mach atau setara 1012 kilometer per jam. Ketinggian maksimal dan kecepatan maksimal yang berhasil diperoleh Yak-25RV ini dianggap sudah mencukupi untuk ukuran pesawat mata-mata yang dapat melakukan pengintaian dan misi mata-mata dari ketinggian yang cukup tinggi oleh pihak militer Uni Soviet.

Uniknya, meski Angkatan Udara Uni Soviet (Voyenno-Vozdushnye Sily atau biasa disingkat VVS) tidak begitu puas dengan performa Yakovlev Yak-25RV, mereka “terpaksa” memberikan ijin untuk meneruskan Yak-25RV yang masih berupa prototype ke tahap produksi massal. Sebanyak 155 unit pesawat mata-mata Yak-25RV diproduksi untuk kemudian dipakai oleh AU Uni Soviet (VVS).

Dan dengan demikian Uni Soviet mulai menggunakan pesawat yang serupa dengan pesawat mata-mata yang dimiliki oleh rivalnya, Amerika Serikat. Dengan tampilan fisik yang sekilas mirip dengan U-2 Dragon Lady, maka tak lama bagi Yak-25RV untuk mendapat julukan sebagai “U-2 nya Uni Soviet”.

Spesifikasi Teknis Yakovlev Yak-25RV “Mandrake”

Yak-25RV Three Side Schematic Drawing
Yakovlev Yak-25RV Mandrake, Pesawat Mata-Mata Dari Uni Soviet. Tampilan Skematik Pesawat Mata-Mata Yak-25RV.
Sumber : yak.ru

Berdasar buku Soviet Spyplanes Of The Cold War karya Yefim Gordon dan Dmitriiy Komissarov, berikut spesifikasi teknis Yakovlev Yak-25RV Mandrake :

Panjang Total : 15,93 Meter

Rentang Sayap : 23,4 Meter

Tinggi Total (dari permukaan tanah) : 4,3 Meter

Bobot Kosong : 6,175 Ton

Bobot Saat Lepas Landas (Take-off weight) : 9,8 Ton

Kecepatan Maksimal : 0,82 Mach

Jarak Jangkau Maksimal : 2.500 kilometer – 5.000 kilometer tergantung ketinggian jelajah

Ketinggian Jelajah Maksimal : 68.900 kaki atau setara 21.000 meter atau 21 kilometer

Mesin : 2 x Tumanskiy R11V-300 axial flow non-afterburner Turbojet

Yakovlev Yak-25RV, Kami Suka Nanjak

Yak-25RV 11 Red At Monino Central Russian Air Force Museum 2
Yakovlev Yak-25RV Mandrake, Pesawat Mata-Mata Dari Uni Soviet. Satu Unit Yak-25RV Yang Dipajang Di Museum Sentral AU Russia Di Monino, Dekat Kota Moskow.
Sumber : flickr

Jika di kalangan pecinta otomotif terkenal slogan “Kami Suka Turbo”, maka bagi penulis slogan yang sesuai bagi Yak-25RV si pesawat mata-mata asal Uni Soviet ini adalah “Kami Suka Nanjak”. Mengapa demikian? Karena dalam fase pengembangannya, hingga fase operasionalnya, Yakovlev Yak-25RV terkenal “tidak mau dibawa turun apabila sudah mencapai ketinggian jelajah maksimalnya”.

Kekurangan utama dari desain pesawat mata-mata Yakovlev Yak-25 RV adalah absennya fitur rem udara lateral, yang mana fitur ini ada pada pesawat yang menjadi basis pengembangan Yak-25RV, yakni Yak-25 dan Yak-25M. Absennya fitur pengereman lateral melalui perangkat rem udara lateral ini menyebabkan pesawat mata-mata ini agak sulit untuk diturunkan jika sudah berada pada ketinggian jelajah tertentu.

Lucunya, meski sulit untuk dibawa turun dari ketinggian tertentu, mesin Tumanskiy R11V-300 yang digunakan pada Yak-25RV justru rentan mengalami Flame Out atau mati mendadak pada saat pesawat sedang berada di ketinggian jelajah tertingginya, yakni pada kisaran 64.000 kaki hingga 68.900 kaki. Lebih ironis lagi, pilot tidak dapat melakukan restart atau menyalakan kembali mesin jika tidak melakukan manuver turun ke ketinggian yang lebih rendah.

BACA JUGA :  Media Tiongkok: AS dan Korsel Akan Membayar Mahal Karena Memasang THAAD

Pilot harus menurunkan pesawat kurang lebih 19.000 kaki kebawah, ke level ketinggian 49.000 kaki hingga 50.000 kaki agar dapat melakukan proses menyalakan kembali (restart) mesin. Ini terjadi karena mesin Tumanskiy R11V-300 yang digunakan oleh Yak-25RV tidak memiliki sistem pengaliran oksigen internal untuk dapat melakukan restart mesin jika mengalami mati mesin di ketinggian jelajah tertingginya.

Cerita menarik dialami oleh dua orang pilot penguji yang sama-sama mengalami kondisi susah turun dari ketinggian jelajah tertinggi kala sedang melaksanakan uji coba penerbangan prototype pesawat Yakovlev Yak-25RV ini. Kedua orang pilot tersebut adalah Vladimir P. Smirnov dan Aleksey A. Shcherbakov, yang sama – sama mengalami insiden dimana pesawat Yak-25RV yang mereka terbangkan tidak mau dibawa turun ke level ketinggian jelajah yang lebih rendah.

Menurut Smirnov, solusinya adalah dengan menurunkan roda-roda pendarat atau landing gears barulah pesawat akan dapat diturunkan perlahan – lahan level ketinggiannya. Di sisi lain, Shcherbakov menyebut pada laporan uji coba terbangnya bahwa pihak Yakovlev OKB harus membuat suatu alat untuk mengurangi daya angkat pesawat untuk dapat memudahkan pilot melakukan manuver menurunkan ketinggian.

Kiprah Operasional Yak-25RV Mandrake

Yak-25RV 63 Red
Yakovlev Yak-25RV Mandrake, Pesawat Mata-Mata Dari Uni Soviet. Sebuah Unit Produksi Massal Yak-25RV Dengan Kode Angka “63” Warna Merah Saat Dalam Penerbangan. Tampak Roda Pendarat Dalam Posisi Diturunkan.
Sumber : royfc

Yakovlev Yak-25RV oleh pihak NATO mendapatkan kode designasi “Mandrake”. Berdinas di jajaran AU Uni Soviet (VVS) selama kurang lebih lima belas tahun sejak pertama kali masuk layanan dinas pada medio tahun 1965, performa Yakovlev Yak-25RV sebagai pesawat mata-mata dipandang tidak terlalu jauh berbeda jika dibandingkan dengan rival nya dari Blok Barat kala itu yakni U-2 Dragon Lady. Perbedaan yang mencolok diantara performa kedua pesawat ini terletak pada lama waktu terbang (flight hours) dan jarak operasional pesawat (range).

Dibandingkan dengan U-2, Yak-25RV hanya mampu berada di udara selama kurang lebih 5 jam 30 menit, jauh lebih singkat daripada durasi terbang U-2 yang mampu berada di udara selama kurang lebih 12 jam. Dari segi jarak jangkau maksimal, Yak-25RV juga dapat dikatakan kalah telak, yang mana Yak-25RV hanya mampu menjangkau rentang jarak 2.500 kilometer. Jauh mengatasi Yak-25RV, U-2 mampu menempuh jarak terbang hingga 11.279 kilometer jauhnya.

Selain dua indikator umum tersebut, perbedaan mendasar lainnya yang penulis temukan saat mencoba melakukan riset singkat terkait Yak-25RV Mandrake adalah fakta bahwa Uni Soviet jarang menggunakan Yak-25RV untuk menjalankan “fungsi asasi” nya sebagai sebuah pesawat mata-mata.

Malahan, banyak diantara unit Yak-25RV justru digunakan sebagai pesawat target yang mensimulasikan diri sebagai “penyusup” dari Blok Barat (U-2). Unit – Unit Yak-25RV lebih banyak digunakan sebagai sarana untuk mempertajam kemampuan pilot skuadron tempur / buru sergap Soviet dalam melaksanakan misi pencegatan atau intersepsi terhadap aset U-2 dari Blok Barat.

Sebuah kisah unik lainnya didapat penulis ketika sedang melakukan riset singkat tentang performa dan kiprah operasional Yakovlev Yak-25RV di jajaran Angkatan Udara Uni Soviet (VVS). Alkisah, pada suatu hari di tahun 1961, dua orang pilot uji atau test pilot yang diberi tugas menerbangkan unit – unit produksi awal dari Yakovlev Yak-25RV Mandrake secara ferry flight dari fasilitas produksi pesawat Ulan-Ude ke fasilitas pengujian GK NII VVS (Angkatan Udara Uni Soviet,red) di Akhtoobinsk mengalami perdebatan sengit dengan pihak pengawas ruang udara di menara Aircraft Traffic Control (ATC). Kedua pilot yang tengah menerbangkan dua unit pesawat Yak-25RV Mandrake itu yakni Pyotr N. Belyasnik dan Pyotr F. Kabrelyok.

BACA JUGA :  Pentagon Akan Perbanyak Informasi Rahasia Untuk Lindungi Data

Dalam penuturannya, Belyasnik berkisah

We were assigned flight level 12,000 m, – Belyasnik recalled, – but the aircraft would not maintain level flight at this altitude and we kept climbing all the while. When we were between Novosibirsk and Sverdlovsk the traffic controller requested our flight level. I replied “Zero sixteen”; I could not state in clear code that we were at 16,000 m. The irate controller ordered us to descend, otherwise he would send PVO fighters after us. I had to answer back impudently, “I don’t care if you send the whole damn regiment after us – you won’t get us anyway. We are not causing trouble for anyone, and we cannot descend.”

Yang dapat diartikan sebagai berikut

“Kami telah diberi ruang pada level ketinggian 12.000 meter,” kenang Belyasnik, “Akan tetapi pesawat itu tidak dapat mempertahankan ketinggian jelajah pada level ketinggian tersebut dan kami terus menanjak selama itu. Kala kami berada pada ruang udara diantara Novosibirsk dan Sverdlovsk, petugas pengendali lalu lintas udara menanyakan level penerbangan kami. Saya membalas, “Zero-Sixteen”, saya tidak boleh menyebut secara jelas bahwa kami saat itu berada pada ketinggian 16.000 meter.

Sang petugas pengendali lalu lintas udara yang marah memerintahkan kami untuk menurunkan pesawat kami ke ketinggian jelajah yang lebih rendah, kalau tidak, ia akan mengirimkan pesawat – pesawat tempur dari PVO (Protivovozdushnaya Obrona Strany, Komando Pertahanan Udara Uni Soviet, red) untuk meng-intersep kami.

Saya menjawab kata-kata petugas tersebut dengan tidak kalah sengitnya, saya katakan bahwa saya tidak perduli bahkan jika anda mengirimkan seluruh resimen jet tempur PVO untuk mengejar saya, saya jamin anda tidak akan dapat menangkap kami disini (tidak ada satupun jet tempur Uni Soviet pada masa itu yang mampu mencapai ketinggian jelajah maksimal Yak-25RV yakni 21.000 meter), kami tidak menimbulkan masalah bagi siapapun, dan kami tidak akan menurunkan pesawat kami ke ketinggian yang lebih rendah.”

Akhir Pengabdian Yakovlev Yak-25RV Mandrake

Yak-25RV 11 Red At Monino Central Russian Air Force Museum
Yakovlev Yak-25RV Mandrake, Pesawat Mata-Mata Dari Uni Soviet. Satu Unit Yak-25RV Yang Dipajang Di Museum Sentral AU Russia Di Monino, Dekat Kota Moskow.
Sumber : flickr

Armada pesawat mata-mata Yakovlev Yak-25RV Mandrake tergolong berdinas dalam usia yang singkat jika dibandingkan dengan rivalnya dari Barat, U-2 Dragon Lady yang masih berdinas bahkan hingga saat ini (U-2 mulai berdinas di jajaran militer AS pada medio tahun 1957). Ia digantikan oleh Mikoyan Gurevich MiG-25R yang merupakan varian pesawat mata-mata dari jet tempur MiG-25 Foxbat.

Banyak diantara unit – unit pesawat mata-mata Yakovlev Yak-25RV berakhir menjadi pesawat tanpa awak yang digunakan untuk kebutuhan target latihan penembakan senjata udara ke udara. Dikonversi menjadi drone, Yak-25RV yang dijadikan target akan ditembak hingga hancur berkeping – keping, entah itu menggunakan rudal udara ke udara ataupun menggunakan munisi kanon internal yang ditembakkan dari pesawat tempur yang sedang berlatih.

Selain dikonversi menjadi drone target latihan tempur, sisa armada Yak-25RV yang lainnya juga hanya berujung pada proses scrapping. Dari total 155 unit pesawat mata-mata Yak-25RV Mandrake yang diproduksi untuk kebutuhan AU Uni Soviet (VVS), tercatat ada satu unit saja yang berhasil bertahan dan dipajang di Museum Sentral Angkatan Udara Russia atau Central Russian Air Force Museum di wilayah Monino, dekat dengan kota Moskow.

6 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Beli Ngeteng, Cara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF - HobbyMiliter.com. Dalam diskusi diskusi di forum forum militer online maupun di grup grup militer di Facebook,...

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia - HobbyMiliter.com - Meski telah jutaan tahun membalut Bumi, belum seluruh bagian atmosfer bisa...

Foto – Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an

Foto - Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an - HobbyMiliter.com. Perang Soviet di Afghanistan berlangsung selama lebih dari sembilan tahun....

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet - HobbyMiliter.com. Pada saat persiapan operasi Trikora dalam rangka perebutan Irian Barat (sekarang Provinsi...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua