Friday, August 14, 2020
Home Militer Analisis Militer Apakah Rudal S-300 Begitu Sulit Dipelajari dan Dioperasikan?

Apakah Rudal S-300 Begitu Sulit Dipelajari dan Dioperasikan?

Apakah Rudal S-300 Begitu Sulit Dipelajari dan Dioperasikan? – HobbyMiliter.com. Pada hari Sabtu 13 April 2019 yang lalu, diwaktu dini hari sebelum subuh, tepatnya jam 2.30 waktu setempat, sekitar lebih dari 1 lusin rudal dan bom pintar merobek langit malam diatas provinsi Hama, Suriah. Rudal dan bom pintar tersebut diluncurkan oleh beberapa F-16 Angkatan Udara Israel yang terbang diatas wilayah udara Lebanon.

Sistem rudal pertahanan udara Pantsir milik Suriah dalam bidikan rudal Popeye Israel
Sistem rudal pertahanan udara Pantsir milik Suriah dalam bidikan rudal Popeye Israel, sedetik sebelum dihancurkan

Sebagai upaya bela diri, rudal anti pesawat jarak pendek Suriah pun mulai meluncur ke atas, mesin roketnya meninggalkan jejak api dan asap dilangit seiring mereka salvo menyongsong rudal dan bom musuh. Terlihat satu dua rudal meledak dilangit ketika berhasil mengenai target sasaran atau berada di sekitar target sasaran.

F-16I Sufa, F-16 yang dicustom khusus untuk Israel
F-16I Sufa, F-16 yang dicustom khusus untuk Israel

Walapun begitu, sama seperti lebih dari 200 serangan udara Israel ke sasaran sasaran terpilih di Suriah sebelumnya, upaya pertahanan dengan rudal jarak pendek tersebut tidak memadai. 3 tempat yang menjadi sasaran tetap hancur tertembak Israel.

Launcher M-600 Tishereen yang dihancurkan oleh serangan udara Israel.
Launcher M-600 Tishereen yang dihancurkan oleh serangan udara Israel.

Sasaran pertama merupakan pangkalan tempat pelatihan yang dikenal dengan julukan ‘Academy’. Sasaran kedua diberitakan sebagai fasilitas penyimpanan bagi rudal permukaan ke permukaan yang terletak didekat Rumah Sakit Nasional Masyaf. Media pro-Assad Al-Masdar memberikan bukti gambar sebuah mobil peluncur rudal balistik M-600 Tishereen yang hancur akibat serangan tersebut.

Analisa hasil serangan udara Israel ke Suriah 13 April 2019
Analisa hasil serangan udara Israel ke Suriah 13 April 2019

Rudal M-600 Tishereen adalah rudal yang dilisensi dan dibuat oleh Suriah dari basis rudal balistik jarak pendek Iran Fateh-110. Rudal jenis ini sudah bolak balik dipakai Iran untuk menghantam target di Suriah dan Irak sejak 2017.

Analisa hasil serangan udara Israel ke Suriah 13 April 2019
Analisa hasil serangan udara Israel ke Suriah 13 April 2019

Target ke tiga dan yang paling sulit adalah fasilitas perakitan dan pembuatan rudal milik Badan Pusat Penelititian dan Pengembangan Ilmiah Suriah (Syrian Scientific Studies and Research Center – SCSRC)  di dekat Masyaf Suriah.

Badan ini adalah badan yang bertanggung jawab untuk melakukan penelitian, pengembangan dan juga pembelian teknologi rudal dan senjata kimia untuk militer Suriah. Dalam sebuah foto satelit, terlihat bahwa fasilitas yang dijaga ketat ini juga dilengkapi dengan akomodasi bagi peneliti dan tentara asal Suriah dan Iran.

BACA JUGA :  Tiongkok Salahkan Filipina Atas Polemik Laut Cina Selatan

Analisa hasil serangan udara Israel ke Suriah 13 April 2019
Analisa hasil serangan udara Israel ke Suriah 13 April 2019

Foto satelit sebelum dan sesudah aksi militer Israel tersebut menunjukan bahwa dua per tiga bangunan tersebut hancur dan terbakar setelah dihajar oleh rudal dan bom yang diluncurkan oleh pesawat tempur Israel dari wilayah udara Lebanon. Pemerintah Suriah menyebutkan bahwa enam personelnya terluka akibat serangan tersebut. Namun pengamat independent mengatakan paling tidak tujuh belas orang hingga dua puluh satu orang terluka, dan bisa jadi ada personel asing yang tewas akibat serangan tersebut.

Sistem rudal pertahanan udara Pantsir milik Suriah
Sistem rudal pertahanan udara Pantsir milik Suriah

Yang menarik perhatian adalah, dimana sistem rudal pertahanan udara canggih S-300 buatan Rusia yang seharusnya menjaga ruang udara Suriah dari serangan Israel? 

Pada tanggal 17 September 2018 malam hari, Israel menyerang target target Suriah di Latakia, Tartus dan Homs. Sebagai upaya pertahanan Suriah meluncurkan beberapa rudal pertahanan udara, yang sayangnya salah satunya justru menembak jatuh sebuah pesawat pengintai elektronik Ilyushin Il-20 milik angkatan bersenjata Rusia dan menyebabkan 15 personel militer Rusia tewas.

Pengiriman S-300 dari Rusia ke Suriah
Pengiriman S-300 dari Rusia ke Suriah

Rusia menyalahkan Israel atas kejadian ini dengan menyebut bahwa pesawat tempur Israel secara sengaja menempatkan Il-20 Rusia diantara F-16 dan rudal yang menguncinya, menyebabkan rudal S-200 yang diluncurkan Suriah salah sasaran.

Pengiriman S-300 dari Rusia ke Suriah
Pengiriman S-300 dari Rusia ke Suriah

Sebagai akibatnya, Rusia kemudian memutuskan untuk memberikan baterai rudal pertahanan udara canggih S-300 PMU-2 untuk memperkuat pertahanan udara Suriah. Sebelumnya sebetulnya Suriah di tahun 2013 sudah membeli dan membayar sistem S-300 ke Rusia. Namun karena didesak oleh Israel, akhirnya Rusia di tahun 2013 membatalkan kontrak penjualan S-300 ke Suriah tersebut. Rusia mengatakan bahwa sistem S-300 yang akan diberikan kepada Suriah lebih canggih dari pada yang dipesan Suriah di tahun 2013.

Perkiraan daerah killing area S-300 Suriah
Perkiraan daerah killing area S-300 Suriah

Secara teori diatas kertas, keberadaan rudal ini dalam inventori angkatan bersenjata Suriah bisa mengubah keadaan. Dengan dilengkapi rudal 48N6, sistem S300 Suriah dapat menembak jatuh pesawat dan rudal yang berada 200 kilometer dari posisinya. Radarnya dikatakan dapat mencapai wilayah utara Israel, sehingga setiap serangan Israel ke Suriah dapat dengan mudah dimonitor dan ditangkal. Netizen di Indonesia bahkan sesumbar bahwa begitu pesawat tempur Israel lepas landas dari pangkalan udara, langsung bisa ditembak jatuh oleh S-300.

BACA JUGA :  Hadapi Ancaman NATO, Angkatan Bersenjata Rusia Terima Radar Swagerak Nebo-M

Israel pun disinyalir tidak akan berani macam macam setelah S-300 datang ke Suriah. Rusia pun menepati janji, dari awal Oktober 2018 hingga pertengahan Oktober 2018 Rusia mulai mengirim bagian bagian dari S-300 dengan kargo udara. Setelah lengkap, personel Suriah pun dilatih mulai Oktober 2018 untuk menggunakan sistem baru ini.

Pada 20 Oktober 2018, Sistem S-300 sudah datang ke Suriah dan sedang dalam perakitan
Pada 20 Oktober 2018, Sistem S-300 sudah datang ke Suriah dan sedang dalam perakitan

Foto satelit di bulan Februari 2019 memperlihatkan bahwa tiga baterai S-300 di sekitar Masyaf sudah dalam kondisi operasional. Namun walaupun begitu, dalam kejadian serangan Israel ke Suriah pada tanggal 13 April 2019 tersebut, sistem rudal pertahanan S-300 Suriah malah diam, tidak bergeming sama sekali. Upaya pertahanan terhadap serangan udara Israel dilakukan oleh sistem rudal pertahanan udara jarak pendek buatan Rusia Pantsir dan Tor-M1.

Pada 5 Februari 2019 di perkirakan S-300 Suriah sudah operasional
Pada 5 Februari 2019 di perkirakan S-300 Suriah sudah operasional. Namun pada serangan 13 April 2019 Pemerintah Suriah menyatakan kru S-300 masih menjalani pelatihan dan sistem belum bisa dioperasikan walau sudah 5 bulan berselang sejak pengirimannya.

Pemerintah Suriah melalui Kantor Beritanya menyatakan bahwa baterai S-300 belum siap operasional karena pelatihan personel yang akan mengawakinya belum selesai.

Rudal anti pesawat S-300
Rudal anti pesawat S-300

Hal ini menjadi pertanyaan banyak negara. Apakah S-300 begitu sulitnya dipelajari dan dioperasikan? Karena sebetulnya sistem S-300 sudah lengkap diantar ke Suriah bulan Oktober 2018 dan pelatihan kru juga dimulai di bulan Oktober 2018.

Namun pada April 2019, 5 bulan setelah S-300 diantar dan pelatihan dimulai, pelatihan kru S-300 masih belum selesai dan S-300 masih belum siap operasional 5 bulan setelah diantar. Padahal kru asal Suriah sebelumnya sudah fasih dengan sistem rudal pertahanan udara buatan Rusia. Mulai dari SA-2, Pechora, S-200, Tor-M1 dan hingga Pantsir.

Rudal S-200 yang menghancurkan Il-20 Rusia
Rudal S-200 yang menghancurkan Il-20 Rusia

Jika personel Suriah yang sudah fasih dengan teknologi Rusia membutuhkan waktu lebih dari 5 bulan untuk berlatih mengoperasikan sistem rudal anti serangan udara S-300 ini, bagaimana dengan negara yang sebelumnya tidak pernah (atau sudah lama tidak) mempergunakan sistem rudal pertahanan udara buatan Rusia, misalnya katakanlah Indonesia?

S-125 Pechora Suriah
S-125 Pechora Suriah

Bagaimana juga dengan negara yang melakukan pembelian crash program karena negara dalam keadaan genting, misalnya seperti yang kita lakukan dalam Trikora dulu? Sistem yang tidak bisa dipakai dengan segera tentu saja tidak berguna dalam keadaan genting seperti itu.

BACA JUGA :  [FOTO] Pengawalan Royal Navy Inggris Terhadap Armada Kapal Satgas Rusia

Sistem rudal anti pesawat Tor M1
Sistem rudal anti pesawat Tor M1

Bagaimana pun juga, diamnya S-300 bisa jadi juga karena berhasilnya diplomasi bujuk rayu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kepada Presiden Rusia Vladimir Putin. Pada pertemuan dadakan setelah kejadian tertembaknya Il-20, Putin dan Netanyahu menyetujui suatu langkah pengamanan khusus yang mewajibkan Israel memberitahu Rusia 15 menit sebelum setiap kali akan melakukan serangan udara ke wilayah Suriah. 

Pada perjanjian antara keduanya sebelum kejadian tertembaknya Il-20, Israel hanya wajib memberitahukan setiap serangan yang dilakukannya kepada Rusia tanpa batas waktu tertentu. Yang kemudian oleh Israel diterjemahkan dengan memberi tahu Rusia persis pada saat terjadinya serangan. Hal yang Rusia protes karena tidak mempunyai waktu untuk memastikan keamanan aset asetnya ketika serangan udara berlangsung.

Vladimir Putin dan Benjamin Netanyahu
Vladimir Putin dan Benjamin Netanyahu

Fakta bahwa S-300 Suriah tidak melakukan apa apa pada malam serangan udara Israel tersebut menunjukkan bahwa penggunaan sistem rudal anti pesawat S-300 milik Suriah membutuhkan persetujuan penjualnya, Rusia. Rusia nampaknya enggan sistem S-300 nya digunakan untuk menembak jatuh pesawat tempur milik Israel.

F-35 Israel diatas Beirut Lebanon. Israel banyak melakukan serangan ke Suriah dari wilayah udara Lebanon.
F-35 Israel diatas Beirut Lebanon. Israel banyak melakukan serangan ke Suriah dari wilayah udara Lebanon.

Namun jika benar bahwa penggunaan senjata pertahanan diri semacam S-300 membutuhkan persetujuan Rusia, maka Rusia sama sekali tidak ada bedanya dengan Amerika Serikat. Bahkan mungkin lebih buruk.

Diperkirakan, F-35 akan menjadi game changer jika S-300 diaktifkan Suriah
Diperkirakan, F-35 akan menjadi game changer jika S-300 diaktifkan Suriah

Amerika Serikat selama ini terkenal melarang penggunaan senjata buatannya untuk aksi aksi diluar upaya mempertahankan diri terhadap serangan asing. Termasuk dalam hal ini adalah, penggunaan alutsista buatan Amerika Serikat untuk mengatasi pemberontakan dalam negeri bagi beberap kasus. Tapi, selama ini Amerika Serikat tidak pernah melarang penggunaan senjata buatannya terhadap serangan pihak asing dalam rangka mempertahankan diri.

F-15 Angkatan Udara Israel.
F-15 Angkatan Udara Israel.

Jadi, apakah S-300 memang sulit dipelajari dan dioperasionalkan, atau Rusia ikut campur cawe cawe dalam penggunaan alutsista yang sudah dibeli Suriah, sebab dari diamnya S-300 April 2019 lalu? Bagaimana menurut pendapat anda?

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

1 COMMENT

  1. Pertama, saya sesungguh nya penggemar alutsista rusia, namun sesuai dengan artikel diatas, membuat saya sangsi pada kualitas kecanggihan tehnologi rusia.
    1. Alasan alasan yg di katakatan bahwa S300 suriah belum siap, adalah upaya membalik fakta, dlmna sesungguhnya kamampuan tehnologi rusia tidak mampu mengimbangi tehnologi Israel.
    2. Sejak Saya 300 berasa di suriah, kita belum pernah mendengar bahwa Semua 300 berhasil mengalahkan atau menembak rudal atau pesawat tempur Israel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Beli Ngeteng, Cara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF - HobbyMiliter.com. Dalam diskusi diskusi di forum forum militer online maupun di grup grup militer di Facebook,...

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia - HobbyMiliter.com - Meski telah jutaan tahun membalut Bumi, belum seluruh bagian atmosfer bisa...

Foto – Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an

Foto - Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an - HobbyMiliter.com. Perang Soviet di Afghanistan berlangsung selama lebih dari sembilan tahun....

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet - HobbyMiliter.com. Pada saat persiapan operasi Trikora dalam rangka perebutan Irian Barat (sekarang Provinsi...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua