5 Prototype Alutsista Rusia Yang Gagal Di Produksi Massal – HobbyMiliter.com – Sudah menjadi hal lumrah, bahwa untuk setiap alutsista yang di produksi massal, ada lebih dari 10 desain awal yang gagal menjadi prototype dan dari yang berhasil menjadi prototype pun, belum tentu lanjut untuk diproduksi. Di negara kita, cukup banyak penelitian yang berhenti di mockup, bahkan sebelum prototype (misalnya Gandiwa) dan cukup banyak juga yang berhenti di prototype, sehingga beberapa netizen yang nyinyir pun sempat memberi julukan negeri 1000 prototype.
Padahal, di negara maju seperti Amerika dan Rusia sendiri, cukup banyak proyek alutsista yang pada akhirnya gagal di produksi karena satu dan lain hal. Kami telah mengumpulkan beberapa contoh dari Rusia (dan Soviet) dan pada artikel berikutnya beberapa dari Amerika dan negara negara NATO lain.
1. Golden Fish: Kapal Selam Nuklir K-222 (Papa Class)
Project 661 Anchar alias kapal selam nuklir kelas K-222 (Kode NATO Papa Class) adalah salah satu kapal selam tercepat di dunia. Kecepatannya mencapai 44.7 Knot (82.3 Km/jam) dan membawa 10 rudal jelajah dan 12 torpedo sebagai senjatanya.

Permasalahannya, hull kapal selam ini terbuat dari logam titanium yang dengan ukurannya yang besar, membuat pembuatan kapal selam ini menjadi luar biasa sangat mahal. Oleh sebab inilah timbul julukan “Golden Fish”. Kelemahan lainnya adalah suaranya sangat berisik untuk ukuran kapal selam. Kebisingan ini membuatnya sangat mudah di deteksi oleh aset aset Anti Kapal Selam. Hanya sebuah Golden Fish yang pernah di produksi. Peletakan lunas pertama dilakukan 1963 dan pembangunannya memakan waktu cukup lama, hingga 6 tahun. Kapal selam tersebut mulai bertugas tahun 1969, dan beroperasi selama 20 tahun secara terbatas.
Rekor kecepatannya yang dicetak dalam uji coba pada Desember 1970 bertahan sangat lama sebagai rekor kapal selam tercepat di dunia. K-222 juga membawa terobosan lain: rudal anti kapal P-70 Ametist-nya dapat diluncurkan dari bawah permukaan air, kemampuan yang pertama di dunia pada masanya. Sayangnya, badan titanium yang eksotis itu pula yang menyulitkan perawatannya — perbaikan lambung titanium membutuhkan fasilitas dan teknik pengelasan khusus yang tidak tersedia di sembarang galangan. K-222 akhirnya dinonaktifkan pada 1988 dan dibesituakan belakangan, menutup karier satu-satunya “Ikan Emas” Soviet.
2. Soviet Caspian Monster: Ekranoplan KM
Dari bawah laut, kita beralih ke raksasa yang terbang beberapa meter di atas permukaan laut Kaspia. Ekranoplan KM adalah kendaraan efek permukaan (ground effect) yang dikembangkan biro desain Rostislav Alexeyev sejak awal 1960-an. Dengan panjang sekitar 92 meter, KM adalah pesawat terbesar di dunia pada masanya. Foto satelit mata-mata Amerika yang melihat monster ini di Laut Kaspia melahirkan julukan “Caspian Sea Monster”.

KM pertama kali terbang pada 1966 dan diuji selama belasan tahun. Delapan mesin jet di hidung dan dua mesin pendorong di ekor membuatnya meluncur di atas bantalan udara dengan kecepatan sekitar 430–500 km/jam sambil membawa beban yang tidak mungkin diangkut pesawat biasa. Masalahnya, kendaraan ini hanya efisien di laut yang tenang, sangat sulit bermanuver, dan konsep operasinya tidak pernah menemukan tempat yang pas dalam doktrin Angkatan Laut Soviet. KM sendiri hancur dalam kecelakaan pada 1980 akibat kesalahan pilot. Pengalaman dari KM memang melahirkan ekranoplan kelas Lun yang sempat berdinas membawa rudal anti kapal, tetapi KM sebagai angkutan raksasa tidak pernah diproduksi massal.
3. Sukhoi T-4 Sotka
T-4 adalah jawaban Uni Soviet atas pembom XB-70 Valkyrie milik Amerika. Dirancang Sukhoi pada 1960-an, pesawat berjuluk “Sotka” ini dibangun dari titanium dan baja khusus untuk terbang pada kecepatan Mach 3 sambil membawa rudal anti kapal. Hidungnya yang bisa menunduk dan ketiadaan jendela depan konvensional — pilot mengandalkan periskop — membuatnya terlihat seperti burung besi dari masa depan.

T-4 pertama kali terbang pada 22 Agustus 1972 di tangan pilot uji Vladimir Ilyushin. Sayangnya, hanya sekitar sepuluh penerbangan uji yang sempat dilakukan sebelum program ini dibatalkan pada pertengahan 1970-an. Penyebabnya gabungan antara biaya yang membengkak, kebutuhan titanium yang luar biasa, dan rivalitas biro desain: Tupolev berhasil meloloskan jalan menuju pembom Tu-160, sementara T-4 yang secara teknis lebih radikal justru tersingkir. Satu-satunya prototype yang selamat kini dipajang di Museum Angkatan Udara Monino.
4. Sukhoi Su-47 Berkut
Su-47 adalah salah satu pesawat paling mudah dikenali di dunia berkat sayapnya yang menyapu ke depan. Berawal sebagai proyek S-37, pesawat ini terbang perdana pada 25 September 1997 dan sejak awal memang diposisikan sebagai demonstrator teknologi, bukan calon jet tempur operasional. Sayap sapu depannya menjanjikan kelincahan luar biasa pada kecepatan rendah dan sudut serang tinggi.

Tantangan terbesarnya bersifat struktural: sayap sapu depan cenderung melintir dan bisa patah akibat beban aerodinamis, sehingga harus dibangun dari material komposit yang rumit dan mahal. Penampilannya di berbagai pameran dirgantara selalu mencuri perhatian, sejajar dengan demonstrator sayap sapu depan X-29 milik Amerika yang juga tidak pernah berlanjut ke produksi. Hanya satu unit Su-47 yang pernah dibuat. Teknologi yang diujinya — termasuk ruang senjata internal — kemudian dimanfaatkan dalam pengembangan jet tempur generasi kelima Su-57, sementara Berkut sendiri pensiun sebagai pesawat uji setelah program tempur Rusia memilih desain yang lebih konvensional.
5. Mikoyan MiG 1.44 Flatpack
MiG 1.44 adalah proyek jet tempur generasi kelima Uni Soviet melalui program MFI, dirancang Mikoyan sebagai jawaban atas program Advanced Tactical Fighter Amerika yang melahirkan F-22. Pesawat ini besar, bermesin ganda, dan dirancang dengan karakteristik siluman serta kemampuan supercruise.

Masalahnya bukan teknologi, melainkan uang dan waktu. Uni Soviet bubar ketika program ini masih berjalan, dan Rusia pada 1990-an tidak punya anggaran untuk menyelesaikannya. MiG 1.44 akhirnya terbang perdana pada 29 Februari 2000 — hampir satu dekade terlambat dari jadwal ambisiusnya — dan hanya terbang beberapa kali sebelum programnya dikubur. Satu-satunya prototypenya sempat mengejutkan publik ketika dipajang terbuka pada pameran MAKS 2015, sebagai pengingat proyek raksasa yang kehabisan napas di tengah jalan.
Kelima alutsista di atas membuktikan bahwa kegagalan sebuah prototype jarang disebabkan satu faktor saja. Ada yang gugur karena biaya material seperti Golden Fish, ada yang kalah oleh politik biro desain seperti T-4, ada yang terbentur batas teknologi zamannya seperti Su-47 dan Caspian Monster, dan ada yang kehabisan anggaran karena negaranya sendiri bubar seperti MiG 1.44. Prototype-prototype ini tidak pernah masuk lini produksi, tetapi teknologi dan pelajaran dari mereka tetap hidup dalam alutsista generasi berikutnya.
Baca juga: YF-23, Prototype Pesawat Tempur Stealth USAF Yang Gagal Diproduksi.






