Friday, August 7, 2020
Home Alutsista Pesawat Terbang Mengenal Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim Baru dari Jepang

Mengenal Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim Baru dari Jepang

Mengenal Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim Baru dari Jepang – HobbyMiliter.com. Jepang sadar betul posisi dan kondisi geografisnya sebagai negeri kepulauan. Terlebih dalam hubungan dengan tetangga tetangganya, masih ada beberapa sengketa wilayah maritim, baik dengan Korea Selatan, China maupun Taiwan. Dalam dekade terakhir Jepang pun ngebut memodernisasi alutsistanya, terutama yang berkaitan langsung maupun tak langsung dengan matra laut.

Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

Sebelumnya, Jepang sukses mengejutkan dunia dengan sepasang destroyer kelas Hyuga yang mulai operasional 2009, dan membuat dunia lebih tercengang dengan sepasang Izumo-class yang lebih besar, bahkan sudah seukuran dengan kapal induk Spanyol dan Italia. Kapal yang diklasifikasikan sebagai destroyer ini sejatinya adalah kapal induk mini untuk operasional helikopter.

Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim dan gunung Fuji

Masih belum cukup dengan kapal-kapal yang sejatinya lebih pas disebut light carrier (kapal induk ringan) ketimbang helicopter destroyer, Jepang juga berniat membangun dua perusak (destroyer) baru berkode 27DDG dilengkapi sistem manajemen tempur Aegis dan sederet sistem senjata tercanggih untuk melengkapi Atago Class.

Jangan lupakan eksistensi pesawat tempur multiperan Mitsubishi F-2 AU Bela Diri Jepang sejak tahun 2000. Penempur derivat F-16C/D Fighting Falcon tersebut memiliki kemampuan serang maritim, merujuk pada salah satu misi utama yang diembannya: penyekatan dan penyerangan maritim dari udara (aerial maritime interdiction and strike).

Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

Jepang masih terus melaju. Alutsista patroli maritim yang sekaligus berfungsi sebagai platform udara antikapal selam (AKS), tak ketinggalan dimodernisasi. Latar belakangnya sudah cukup lama. Medio dekade 1980-an, Jepang sudah memikirkan bahwa pesawat paroli maritim (patmar) P-3C Orion-nya yang sudah tua suatu saat harus diganti.

Pesawat angkut C1 dan Patroli Maritim P1. Walaupun berbeda bentuk, keduanya mempunyai kesamaan di banyak subsistem
Pesawat angkut C1 dan Patroli Maritim P1. Walaupun berbeda bentuk, keduanya mempunyai kesamaan di banyak subsistem

Program pengganti bertajuk NTFWPA (Near-Term Fixed-Wing Patrol Aircraft) pun digulirkan pada 1986. Untuk menghemat biaya, NTFWPA dibuat paralel dengan program NTTA (Near-Term Transport Aircraft) yang bertujuan melahirkan pengganti pesawat angkut taktis bermesin jet ganda Kawasaki C-1 yang juga menua. Keduanya digawangi TRDI (Tactical Research and Development Institute) di bawah Kementerian Pertahanan lepang. Masing-masing desain pesawat baru diberi kode desainasi P-X untuk NTFWPA dan C-X untuk NTTA.

Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

Perlu diketahui waktu itu Jepang masih amat ketat perihal ekspor berkaitan dengan alutsista, walaupun hanya teknologinya. Dengan konsumsi hanya untuk dalam negeri, unit cost sudah pasti lebih tinggi dibanding produsen internasional yang mampu menekan biaya dengan raupan laba dari ekspor. Interpretasi pasifis dari undang-undang Jepang pasca PD II ini dalam beberapa tahun mulai bergeser. Sejak April 2014 sudah terang-terangan membuka keran ekspor untuk peralatan militer racikannya.

Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

Proses kelahiran Kawasaki P1 yang panjang dimulai dengan desain sistem kendali terbang FBL (fly by light) pada 1997. Berbeda dengan pengguna FBW (fly by wire) yang duluan eksis seperti F-16, desain FBL pada P-X menggunakan kabel serat optik (optical fibre) alih-alih kabel konvensional seperti pada FBW. Selain distribusi input jauh lebih cepat, FBL pun lebih tahan terhadap interferensi elektromagnetik ketimbang FBW.

Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

Pada November 2001, Kawasaki terpilih sebagai kontraktor utama mengalahkan dua pesaing lainnya yaitu Mitsubishi Heavy Industries dan Fuji Heavy Industries. Meski demikian, porsi pekerjaan tetap dibagi pada ketiganya. Mitsubishi kebagian menggarap bagian tengah dan belakang badan pesawat, sementara Fuji mengerjakan sayap (termasuk bagian wing center box) dan sirip ekor vertikal. Kawasaki menjadi kontraktor utama. Semuanya dilakukan untuk memajukan industri dalam negeri. Peserta yang kalah tender masih dijamin hidupnya dengan peran sebagai subkontraktor.  

Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

Masih bertujuan agar P-X dan C-X menghemat biaya semaksimal mungkin, desain berpatokan pada 75% kesamaan konponen (commonality). Tahun 2003 diputuskan bahwa untuk mesin terpaksa dibedakan sesuai tuntutan misi masing-masing. C-X menggunakan mesin yang ada di pasaran alias COTS (commercial off-the-shelf) berupa turbofan General Electric CF6-80C2 yang juga mentenagai E-767 AEW&C (airborne early warning and control) dan tanker KC-767J milik AU Bela Diri Jepang.

BACA JUGA :  Terlalu Bising, Jepang Akan Kurangi Lahan Militer AS Di Okinawa

Sementara untuk P-X dipilih mesin hasil racikan dalam negeri yaitu XF7-10 buatan IHI (Ishikawajima-Harima Heavy Industries). Rencananya waktu itu P-X akan ditenagai 4 mesin yang masing-masing berdaya dorong 13.500 lbs (60 kN).

Control Room Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Control Room Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

Pada Maret 2005 Kawasaki resmi mendapat kontrak pembuatan purwarupa (prototype) P-X dan C-X, masing-masing dua unit. Purwarupa pertama P-X berdesainasi XP-1 menggelinding keluar hanggar (rolled out) pabrik Kawasaki di Kakamigahara, prefektur Gifu pada 4 Juli 2007. Konon pemilihan tanggal yang juga peringatan hari kemerdekaan AS
ini adalah semacam sindiran bagi AS yang hingga saat itu program pengganti P-3C Orion-nya belum menampakkan hasil.

Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

P-8A Poseidon yang dibuat Boeing sebagai pengganti P-3C Orion baru mulai dikerjakan puwarupanya pada Desember 2007 dan terbang perdana April 2009. Dari segi jadwal, XP-1 duluan mengang-kasa yaitu pada 28 September 2007 disusul purwarupa keduanya Juni 2008. Sebetulnya fase terbang perdana tersebut bisa saja lebih cepat jika tidak ada hambatan berupa ditemukannya keretakan pada kabin bertekanan dan beberapa problem pada mesin XF7-10 yang memang terbilang baru. Sementara purwarupa C-X kelak operasional dengan kode Kawasaki C-2 yang bermesin ganda.

Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

Kontrak produksi pertama mulai dianggarkan tahun 2008 untuk 4 pesawat. Sepasang pesawat produksi perdana yang kini sudah didesainasi P1 itu diserahkan pada 27 Maret 2013. Jadwal tersebut molor sekitar setahun untuk memperbaiki struktur pesawat akibat (lagi-lagi) ditemukannya keretakan. Hal ini sebetulnya masih terbilang wajar lantaran P1 merupakan desain yang benar-benar baru (clean sheet design) dengan kemampuan terbang terbilang ekstrem.  

Kawasaki P1 membawa AGM-65 Maverick
Kawasaki P1 membawa AGM-65 Maverick

Kawasaki P1 dituntut mampu menukik dari ketinggian tinggi hingga ketinggian rendah sambil bermanuver tajam untuk meluncurkan senjata antikapal maupun antikapal selam. Kedua P1 pertama masuk ke jajaran Air Development and Test Wing di Gifu, menemani kedua purwarupa yang duluan masuk ke unit tersebut. Rencananya kedua P1 itu akan dipakai untuk penentuan standarisasi operasional, pengembangan taktik serta konversi tahap awal.

Kawasaki P1 membawa AGM-88 Harpoon
Kawasaki P1 membawa AGM-88 Harpoon

Mei di tahun yang sama, nyaris terjadi kecelakaan fatal. Tatkala terbang di ketinggian 33.000 kaki, mendadak keempat mesinnya mati dan pesawat mulai terjun bebas. Setelah awaknya mati-matian berupaya melakukan air-restart, mesin-mesinnya hidup kembali di ketinggian 26.500 kaki dan pesawat langsung diarahkan untuk mendarat darurat.

Weapon bay Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Weapon bay Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

Belakangan diketahui penyebab utamanya adalah cacat perangkat lunak (software bug).
Perbaikan software otomatis menghambat produksi dan penyerahan pesawat berikutnya, sehingga pada Maret 2015 lalu baru 7 unit P1 yang beroperasi. Operator pertama P1 adalah 51 Kokutai (Air Wing) yang berpangkalan di NAS (naval air station) Atsugi.

Perbandingan antara Boeing P-8 Poseideon dengan Kawasaki P1, tampak Kawasaki P1 lebih besar ukurannya.
Perbandingan antara Boeing P-8 Poseideon dengan Kawasaki P1, tampak Kawasaki P1 lebih besar ukurannya.

Hati-hati dengan kesan pertama yang bisa menipu. Kesan sekilas yang muncul kala memandang sosok Kawasaki P1 adalah sosok-nya yang terlihat “kecil”, apalagi jika teringat sosok patmar lainnya P-8A Poseidon. Kesan itu ternyata salah total. Kala dijejerkan bersisian, kelihatan jelas bahwa dimensi keduanya kurang lebih sebanding. Kesan menipu itu ternyata diakibatkan dari dimensi jendela kokpit yang lebih besar daripada ukuran normal pada pesawat penumpang.  

Kokpit Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Kokpit Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

Secara bawah sadar kita terbiasa melihat rasio dimensi jendela pesawat penumpang dengan bodi pesawatnya, dalam ukuran standar. Hal ini pun terjadi pada pesawat pembom siluman (stealth bomber) B-2 Spirit. Dimensi windscreen-nya yang begitu besar seolah
mengerdilkan sosok keseluruhan B-2 yang sebetulnya sangat besar. Dimensi jendela kokpit yang besar membuat awak P1 lebih leluasa melakukan observasi visual. Meski dijejali beragam sensor canggih, observasi visual memang (seringnya) tetaplah diperlukan.

BACA JUGA :  Jepang Tandatangani Kontrak Pesawat Tanker KC-46A Pegassus Kedua

Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

Ada 4 sensor andalan P1, yaitu radar, EO/IR, MAD dan sono-buoy. P1 dilengkapi radar pencari permukaan HPS-106 berteknologi AESA (active electronically scanned array) buatan Toshiba. Sapuan (coverage) melingkar menyeluruh alias 360 derajat didapat dengan penempatan planar array di depan (1 hadap depan, 2 hadap samping kiri-kanan) dan di belakang (bagian ekor, menghadap belakang). HPS-106 merupakan radar multimoda dengan kapabilitas singular beam, multi beam, multi array, SAR (synthetic apperture radar) dan ISAR (inverse synthetic apperture radar).

Sonobuoy dispenser pada Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Sonobuoy dispenser pada Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

Di bagian perut, agak ke belakang, tertanam 30 tabung peluncur sonobuoy buatan Honeywell. Di bagian dalam pesawat terdapat rak khusus untuk tambahan 60 sonobuoy lagi. Perangkat ini terkoneksi dengan HQA-7 acoustic suites buatan NEC (Nihon Electric Company).

HPS106 pada Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
HPS-106 side looking pada Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

Di bagian belakang terdapat perangkat MAD (magnetic anomaly detector) yang menonjol memanjang (kelihatan seperti sengat) untuk mendeteksi kapal selam selain perangkat sonobuoy. Seperti diketahui, benda dengan kandungan metal berukuran besar dan berbobot berat seperti kapal selam dapat menyebabkan anomali atau gangguan (disturbance) pada pola medan magnet bumi. MAD andalan P1 adalah HSQ-102 buatan Mitsubishi Electric.  

Radar AESA HPS-106 pada HPS106 pada Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Radar AESA HPS-106 pada HPS106 pada Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim. Tampak FLIR di kanan kiri hidung

Sementara di bawah hidung terdapat kubah (turret) berisikan perangkat penjejak FLIR (forward looking infra red) dan EO (electro-optical) buatan Fujitsu. Perangkat sensor pasif ini terintegrasi dengan radar HPS-106. Imaji tangkapan keduanya bisa tersaji di layar peraga di kokpit. Perangkat ini amat vital dalam misi di malam hari. Untuk misi pengintaian, P-1 masih dibekali perangkat ESM (electronic support measures) HLR-109B lansiran Mitsubishi Electric yang mampu mendeteksi dan meloka-lisasi emisi sinyal dari lawan.

Sonobuoy meluncur dari Radar AESA HPS-106 pada HPS106 pada Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Sonobuoy meluncur dari Radar AESA HPS-106 pada HPS106 pada Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

Soal taring, tak perlu diragukan. P1 memiliki 12 titik gantungan senjata, yaitu 8 titik di dalam ruang senjata di perut, dua titik di bawah sayap dan dua titik di pangkal sayap. Semuanya dapat mengakomidasi senjata yang kompatibel dengan buatan Amerika maupun NATO seperti rudal antikapal AGM-84 Harpoon/ Harpoon SLAM, rudal jelajah taktis SLAM-ER, rudal anti armor AGM-65 Maverick, torpedo Mk.46, ranjau antikapal, bom laut serta senjata buatan mandiri Jepang seperti rudal antikapal ASM-1, ASM-2 dan torpedo Type-97. Ke depannya, bukan tak mungkin P-1 disertifikasi untuk membawa bom berpemandu seperti SDB (small diamater bomb) maupun Paveway.

Rudal buatan dalam negeri bagi Sonobuoy meluncur dari Radar AESA HPS-106 pada HPS106 pada Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Rudal buatan dalam negeri bagi Sonobuoy meluncur dari Radar AESA HPS-106 pada HPS106 pada Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

Potensi ekspor merupakan hal serius yang tengah digarap Jepang. Dengan banderol lebih murah ketimbang Poseidon (140 vs 250 juta dolar), Jepang berharap calon pembeli Poseidon yang diberatkan oleh faktor harga bisa menoleh dan mempertimbangkan P1. Soal kecanggihan, kita semua sudah tahu bahwa barang buatan Jepang tidak kalah dengan buatan adidaya AS. Tinggal tunggu saja apakah P1 bisa berbicara lebih banyak di kancah ekspor.

Pilon external bagi Maverick, Harpoon ataupun senjata anti kapal lainnya
Pilon external bagi Maverick, Harpoon ataupun senjata anti kapal lainnya

Sama-sama dibuat oleh negara yang berkepentingan pada keamanan di Samudera Pasifik, tak terhindarkan timbulnya komparasi antara P1 buatan Jepang dan P-8A Poseidon karya AS. Memang pada saat pengembangan purwarupa P1, Kementerian Pertahanan Jepang sempat mengevaluasi P1, P-8A dan Nimrod MRA4 ditinjau dari segi harga jual (flyaway price), ongkos operasi (operating cost), biaya pemeliharaan, penyiapan dan suku cadang selama operasi (supporting cost) sampai kemampuan operasi di lapangan.

Storage Sonobuoy di dalam pesawat. revolver di sebelah kiri adalah dispenser.
Storage Sonobuoy di dalam pesawat. revolver di sebelah kiri adalah dispenser.

Mengejutkan, meski secara ongkos operasional P-8A lebih rendah, P1 tetap dianggap paling seimbang antara harga dan kebutuhan pencapaian tuntutan misi bagi kebutuhan Jepang. Secara umum, para pengamat pun membandingkan keduanya dalam setidaknya lima aspek/fitur, baik yang bersifat global maupun spesifik.

Ruang kontrol pada Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Ruang kontrol pada Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

Pertama, dari segi desain. P1 lebih bisa dikustomisasi untuk memenuhi kebutuhan patmar atau MPA karena merupakan desain benar-benar baru, bukan hasil modifikasi pesawat eksisting seperti P-8A (aslinya Boeing 737). Meski demikian, lantaran efisiensi dalam pengembangannya (paralel bersama C-2) harga jual utuh belum termasuk persenjataannya (tapi sudah termasuk semua sensor) diperkirakan sekitar 140 juta dolar, sementara P-8A sekitar 250 juta dolar.

BACA JUGA :  Tiga Negara Asean Pesan Kapal Perang Buatan Indonesia

4 Mesin Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
4 Mesin Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

Kedua, Kawasaki P1 bermesin 4, sementara P-8A bermesin dua. Meski lebih mahal biaya operasi per jamnya, jumlah mesin yang lebih banyak membuat tingkat redundansi dan keamanannya berlipat lebih tinggi ketimbang P-8A. Jika sampai ada satu mesin rusak, pada P1 masih ada 3 mesin (kehilangan daya 25%) sementara P-8A hanya tersisa 1 mesin (kehilangan daya 50%). Dalam situasi operasional ekstrem (cuaca buruk di ketinggian rendah) tentunya faktor ini amat penting.

Tangga pesawat built in. Pesawat ini didesain untuk bisa beroperasi dengan dukungan minimalis
Tangga pesawat built in. Pesawat ini didesain untuk bisa beroperasi dengan dukungan minimalis

Ketiga, P1 didesain mampu beroperasi dari landasan lebih pendek dibanding P-8A. Ini membuat P1 lebih leluasa digelar ke garis depan, ke pangkalan lebih kecil ketimbang P-8A. Jepang memang mematok P1 mampu mendarat di pulau-pulau terdepannya yang terpencil dengan landasan minim, baik untuk refueling maupun rearming. Dalam pesawatnya pun sudah dibuilt-in-kan alat alat yang bisa menunjang operasional mandiri dari landasan terpencil, diantaranya tangga pesawat dan APU (auxiliary power unit).

Penembakan Maverick dari Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Penembakan Maverick dari Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

Keempat, P1 masih dilengkapi MAD (magnetic anomaly detector) untuk mendeteksi kapal selam selain perangkat sonobuoy. Seperti diketahui, benda dengan kan-dungan metal berukuran besar dan berbobot berat seperti kapal selam dapat menyebabkan anomali atau gangguan (disturbance) pada pola medan magnet bumi. MAD baru efektif kala pesawat pembawanya terbang amat rendah.

Profil misi P-8A yang terbang tinggi (meski masih bisa beroperasi di ketinggian rendah), membuat MAD dinilai kurang berguna sehingga dihilang-kan pada P-8A. Belakangan India yang memesan 8 unit P-8 dengan 4 opsi tambahan, disertai spesifikasi khusus sesuai kebutuhan dalam negerinya, memilih MAD tetap dipasang. Karena perbedaan yang cukup banyak itulah pesanan India diberi desainasi berbeda yaitu P-8I Neptune.

Kokpit Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Kokpit Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

Kelima, P1 memiliki dimensi jendela yang besar sehingga memudahkan observasi secara visual atau istilahnya yang beken di Indonesia adalah darto (radar moto/pengli-hatan memakai mata). Berbeda dengan P-8A yang memiliki jendela persis seperti Boeing 737

Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

Menilik fitur-fitur canggih P1, tak sedikityang bertanya mengapa AS di tengah situasi ekonomi sulit seperti sekarang ini, tak bekerja sama saja dengan Jepang untuk pengembangan berbagai piranti militer baru. Jawabannya tentu saja perkara gengsi maupun faktor kerahasiaan teknologi. Meskipun tak bisa dipungkiri, dari segi kecanggihan Jepang kerap mencuri start. Jika dalam 5 tahun mendatang kedua kapal perusak program 27DD Jepang siap operasional lengkap dengan high-caliber railgun dan laser point-defense system, berarti Jepang mendahului AS menggelar peralatan militer yang bersifat revolusioner.

Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

Sesungguhnya bukan di situ saja. Tatkala jet tempur Mitsubishi F-2A/B yang merupakan karya Jepang berbasis penempur F-16C/D masuk dinas operasional AU Bela Diri Jepang tahun 2000, sejarah mencatatnya sebagai jet tempur pertama di dunia yang dilengkapi radar AESA. Radar J/APG-1 lansiran Mitsubishi Electric berteknologi AESA yang diusung Mitsubishi F-2 lebih dulu operasional ketimbang AN/APG-77 yang jadi andalan penempur siluman F-22 Raptor, yang baru dinyatakan operasional tahun 2005.

Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim
Kawasaki P1 Pesawat Patroli Maritim

Indonesia, yang ketiga Boeing 737 Surveillance nya sudah berusia 30 tahun lebih, bisa mempertimbangkan Kawasaki P1 ini sebagai salah satu kandidat penggantinya. Pembelian pesawat baru merupakan pilihan yang realistis dibanding dengan terus memperpanjang umur airframe Boeing 737 MPA kita tersebut. Bagaimana menurut pembaca? (Jangan lupa isi form komentar dibawah).

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Beli Ngeteng, Cara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF - HobbyMiliter.com. Dalam diskusi diskusi di forum forum militer online maupun di grup grup militer di Facebook,...

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia - HobbyMiliter.com - Meski telah jutaan tahun membalut Bumi, belum seluruh bagian atmosfer bisa...

Foto – Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an

Foto - Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an - HobbyMiliter.com. Perang Soviet di Afghanistan berlangsung selama lebih dari sembilan tahun....

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet - HobbyMiliter.com. Pada saat persiapan operasi Trikora dalam rangka perebutan Irian Barat (sekarang Provinsi...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua