Saturday, April 10, 2021
Home Pemerintah Indonesia Barter Sumber Daya Alam dengan Sukhoi Rusia?

Pemerintah Indonesia Barter Sumber Daya Alam dengan Sukhoi Rusia?

Hobbymiliter.com – Dalam rangka peremajaan alutsista, Kementrian Pertahanan Indonesia memutuskan untuk mengganti satu skuadron pesawat tempur jenis F-5 Tiger milik TNI AU dengan pesawat tempur jenis Sukhoi SU-35 dari Rusia. Hal ini dikarenakan pesawat jenis F-5 Tiger diketahui akan memasuki pensiun.

Pembelian alutsista tersebut menggunakan sistem ‘G to G’ (Government to Government) yang merupakan kesepakatan bisnis antar pemerintah kedua negara. Proses transaksi pembelian Sukhoi tersebut dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan Rusia.

“Kita sepakat akan membeli satu skuadron Sukhoi SU-35 dari Rusia untuk menggantikan pesawat tempur F-5 Tiger, lengkap dengan senjatanya”, kata Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu.

Pesawat Tempur F-5 Milik TNI AU
Pesawat Tempur F-5 Milik TNI AU

Pembelian SU-35 ini akan dilakukan secara bertahap, menyesuaikan dengan kemampuan anggaran keuangan negara. Pak Menhan beralasan anggaran yang didapat untuk TNI AU tidak hanya untuk pembelian alusista, tetapi juga digunakan untuk perawatan, perbaikan rutin, dan biaya operasional TNI.

Beliau juga menambahkan bahwa pembelian alusista dari negara Rusia ini juga disertai transfer of technology (tot) ilmu pesawat tempur.

Sesuai dengan amanat UU Tentang belanja alusista yang mewajibkan adanya Transfer of technology, yang diharapkan ke depannya nanti bangsa Indonesia tidak hanya sebagai pembeli alusista pesawat tempur, tetapi dapat menjadi pembuat dan penjual pesawat tempur, serta menghilangkan ketergantungan belanja alusista dari negara-negara di dunia.

Namun kita tahu bahwa ilmu itu mahal. Sampai pepatah menyatakan cari lah ilmu sampai negeri China. Ilmu bisa dicari tapi tidak bisa dibeli. Ilmu hanya bisa dipelajari dengan berjalannya waktu. Proses belajar menuntut ilmu inilah yang membuat suatu ilmu menjadi mahal. Negara Jepang butuh 50 tahun sejak restorasi Meiji untuk berubah menjadi negara maju pada saat itu. China butuh 20 tahun belajar teknologi dari Rusia dalam hal teknologi militer. Jadi nilai ilmu sangatlah mahal terutama menyangkut perkembangan technology persenjataan.

BACA JUGA :  Norinco Akan Tampilkan Tank VT-5 Di Zhuhai Airshow

Proses Pembuatan Sukhoi Su-35
Proses Pembuatan Sukhoi Su-35

Lalu timbul pertanyaan, bagaimana bisa pihak Russia mau memberikan TOT ilmu pesawat kepada Indonesia yang membeli “hanya” 12 unit plus belinya ngeteng, serta mendapat bonus pinjaman kredit hutang ringan atau soft loans $3 milion US dollar atau sekitar Rp.40 Trilyun. Untuk modal belanja alusista, seperti Sukhoi Su 35, S-300, pesawat amphibi, tank marinir dan pesawat angkut besar, serta membeli perlengkapan dan persenjataan lengkap untuk pesawat sukhoi, termasuk tambahan rencana pembelian kapal selam Kilo Class atau pun Amur Class.

Jika melihat kembali ke belakang, hal ini pun terjadi pada saat pembelian Sukhoi batch pertama tahun 2003-2004, di mana pemerintah saat itu membeli 2 Sukhoi tanpa senjata dan rudal, dengan pola barter atau ditukar dengan produk sumber daya alam, seperti minyak sawit, batubara, logam biji besi, dan proyek proyek migas.

Berdasarkan hal itu, maka muncul berbagai spekulasi jika nanti pembelian Su-35 disertai ToT, maka bisa jadi ada hal-hal lain yang menjadi daya tawar pemerintah agar mendapat kepastian tot untuk alusista TNI yang di ajukan kepada pihak Russia. Spekulasi tersebut di antaranya adalah:

BACA JUGA :  Kembangkan Combat Drone, Prancis dan Inggris Kucurkan Dana 28 Triliun

1.Proyek tambang aluminium

Perusahaan aluminium terbesar dunia, Rusia Aluminium (Rusal), menjajaki peluang investasi sektor hulu hingga hilir industri aluminium di Indonesia. perusahaan Rusal siap mengembangkan tambang, membangun pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit untuk memproduksi alumina, serta pengolahan produk jadi.

“Kami tengah mencari mitra lokal sebagai pemasok bauksit dan menjajaki pembangunan smelter alumina di Indonesia. Bisa swasta ataupun BUMN.

Tentunya kami harus menemukan lokasi yang tepat dan memastikan pasokan listrik untuk operasional pabrik,” ujar anggota delegasi Rusal yang menolak diungkap namanya, di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, potensi Indonesia untuk menjadi produsen alumina terbesar dunia sangat besar. Sebab, Indonesia merupakan produsen bauksit nomor tiga terbesar dunia dengan 40 juta ton per tahun. Indonesia pun memasok sepertiga kebutuhan bauksit industri aluminium China.

2.Proyek kereta api lintas kalimantan

Salah satu investasi yang akan digarap oleh perusahaan asal Rusia adalah Kereta Api Borneo di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur oleh Russian Rail Ways. Kereta ini rencanaya akan mengangkut hasil tambang batubara, untuk dibawa ke russia lewat jalur laut. Kerja sama dengan perusahaan lokal dilakukan dengan pembagian yang menguntungkan.

BACA JUGA :  Skywall, Senjata Penangkap Drone

3.Proyek pengolahan nikel

Beberapa penawaran juga diberikan oleh indonesia pada Rusia di sektor industri yakni teknologi mutakhir pengolahan nikel, dan bahan tambang lainnya.

4.Proyek Kerjasama bidang kapal terbang, kapal laut, dan perlengkapan darat.

Kerjasama di bidang penerbangan dengan PT Dirgantara Indonesia dan Garuda Indonesia, galangan kapal dengan PT.PAL dan produksi perlengkapan tempur berat dengan PT.Pindad, serta joint penelitian luar angkasa dengan PT.Lapan, dengan Kementerian Kelautan, pihak Russia mendapat proyek pengadaan radar untuk memantau kapal kapal pencuri ikan. Serta kerjasama rencana pembuatan PLTN dengan BATAN.

Tidak salah jika semua kerjasama di atas membuat negara manapun di dunia melihat Indonesia sebagai negara “sexy” dan kaya raya. Jadi mungkin kerjasmaa bidang ekonomi dan bisnis diberikan Indonesia kepada Russia sebagai imbal beli dan nilai tambah.

Kutipan harian surat kabar nasional menyatakan “Nilai investasi pembangunan smelter itu sekitar 3-6 milliar dollar AS. Dan untuk pembangunan jalur kereta api 2,5 miliar dollar AS,” sementara jika ditotal nilai kerjasama bisnis dengan russia ditaksir mencapai Rp.50 trilyun rupiah. Suatu jumlah yang sangat besar.

Maka tidak heran duta besar Indonesia untuk Rusia sampai mendapat penghargaan dari federasi Rusia atas jasa jasanya mempererat hubungan dua negara yang saling menguntungkan.

Mungkin inilah point point penting yang menjadi nilai tawar Indonesia terhadap Russia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Rudal Tomahawk Generasi Kelima, Apa Istimewanya?

HobbyMiliter.com - Pada tanggal 30 November 2020, Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy,red) dikabarkan telah berhasil melaksanakan ujicoba peluncuran rudal jelajah Tomahawk varian terbaru...

Purwarupa MPF Medium Tank AS Masuki Tahap Ujicoba Pasukan

HobbyMiliter.com – Purwarupa kendaraan tempur medium tank MPF atau Mobile Protected Firepower dari dua pabrikan kendaraan tempur yang sedang bersaing untuk memenangkan kontrak pengadaan...

SMX-31, kapal selam masa depan Prancis

SMX-31, kapal selam masa depan Prancis- Hobbymiliter.com. SMX-31 adalah suatu konsep kapal selam masa depan dari negeri Baguette. Konsep ini adalah unik karena memperkenalkan...

STRIL, Sistem koordinasi & datalink AU Swedia

Sejarah STRIL, Sistem Koordinasi & datalink AU Swedia- Hobbymiliter.com.  Bahwa Swedia terkenal sebagai salah satu negara di semenanjung Skandinavia yang bersifat independen atau dalam...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua