Thursday, August 13, 2020
Home Alutsista Tank Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Beli Ngeteng, Cara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF – HobbyMiliter.com. Dalam diskusi diskusi di forum forum militer online maupun di grup grup militer di Facebook, cukup banyak yang mengkritik pembelian – pembelian alutsista yang dilakukan pemerintah dalam jumlah terbatas, atau sering diistilahkan dengan sebutan ngeteng.

Sering pula dibandingkan dengan beberapa negara sultan yang mempunyai armada alutsista segambreng dan seubreg. Salah satunya adalah Singapura. Si tetangga yang sering disebut sebagai red dot, karena saking mininya ukuran negaranya, walaupun maxi ukuran jumlah dan kualitas alutsistanya.

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF
Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Sebagai salah satu angkatan udara yang disebut sebut terkuat di ASEAN, Singapura saat ini memiliki sekitar 60-an F-16. Sebagian berada di luar negeri sebagai detasemen latihan, sebagian berada di dalam negeri sebagai alat pertahanan. Bandingkan dengan jumlah F-16 Indonesia yang di angka 30-an, itupun setelah sekian tahun berada di angka 10 unit saja dari asalnya yang berjumlah 12 unit.

Tapi tahukah anda sekalian, ke 60 F-16 tersebut (dan sebagian besar alutsista Singapura lainnya) sebetulnya dibeli secara ngeteng, dalam jumlah sedikit sedikit, sesuai dengan kemampuan ekonominya. Hanya saja perencanaan dan pelaksanaan pembeliannya dilakukan secara kontinyu. Begini ceritanya :

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF
Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Singapura memutuskan membeli F-16 ditahun 1985 untuk meremajakan Hawker Hunternya. Mereka menandatangani pembelian 8 unit F-16/79 dalam kerangka FMS (Foreign Military Sales) Angkatan Bersenjata Amerika Serikat. F-16/79 ini adalah F-16 yang speknya dibawah standar USAF. Namun kemudian ditengah perjalanan, Singapura merubah pesanannya menjadi F-16 A/B OCU sama seperti yang dibeli Indonesia.

BACA JUGA :  Pemandangan kokpit dari team aerobatik Rusia

Pembelian F-16 A/B Singapura ini diberi kode Peace Carvin I karena dilakukan dengan skema FMS. Pesawat ini pertama landing di Singapura pada Januari 1990, sebulan setelah TNI AU menerima pesawat type yang sama di Desember 1989. TNI AU tetap tercatat yang menjadi operator F-16 duluan dibanding RSAF.

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF
Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

3 tahun kemudian di 1993, Singapura mengumumkan proyek Peace Carvin II. Pembelian 11 unit F-16 C/D yang terdiri dari 5 unit F-16C dan 6 unit F-16D. Tidak lama, 1994 order ditambah 7 unit lagi menjadi total 18 F-16C/D yang terdiri 8 F-16C dan 10 F-16D. Pesawat pertama dari proyek Peace Carvin II ini landing di Singapura pada Agustus 1998.

4 tahun kemudian di 1997, setahun sebelum pesanan F-16C/D proyek Peace Carvin II landing di Singapura, Singapura memesan lagi 12 F-16C/D lewat proyek Peace Carvin III. 12 Pesawat ini dimaksudkan untuk melengkapi detasemen latihan di Amerika dan tidak untuk dibawa pulang. Pesawat pertama dari pesanan ini diserahterimakan tahun 2000 dan bertugas di Cannon AFB, New Mexico.

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF
Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Pesawat yang ditempatkan di Cannon AFB, New Mexico ini bertugas untuk melatih pilot pilot RSAF dalam mockup pertempuran sesungguhnya. Suatu yang sukar dilakukan di wilayah udara Singapura karena keterbatasan luas ruang udaranya. Dengan menyewa lahan latihan di Amerika dan beberapa negara lain, RSAF bisa menjamin kemampuan profesionalitas para penerbang dan ground supportnya.

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF
Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Tahun 2000-an, keadaan ekonomi dunia membaik setelah dihantam krisis moneter global 1998. Begitu pula Singapura, setelah bertahan dari gempuran krisis ekonomi 1998, ekonomi pun meningkat. Akibatnya, pada tahun 2000 ini Singapura mengumumkan pembelian F-16 baru via prosedur FMS Amerika.

BACA JUGA :  Penampakan Bagage Pod di F-16D TNI-AU

Jumlahnya kali ini 20 unit sekaligus. Seluruhnya adalah F-16D yang memiliki tempat duduk ganda. Dan sama seperti F-16D dari proyek Peace Carvin II sebelumnya, F-16D orderan baru ini juga dilengkapi dengan dorsal spinal dipunggung yang dibuat khusus sebagai rumah perangkat ECM canggih untuk keperluan peperangan elektronika.

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF
Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Selain pembelian dengan skema FMS (Foreign Military Sales) Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, Singapura juga membeli sejumlah F-16C/D dengan skema pembelian komersial langsung ke Lockheed Martin. Perbedaannya, pembelian dengan skema FMS memiliki harga lebih murah dibandingkan dengan pembelian langsung secara komersial ke pabrik.

Awalnya, sejumlah F-16 bekas tim aerobatik Thunderbird disewakan ke RSAF untuk dijadikan pesawat latih, namun dengan adanya perang teluk, pengerahan armada untuk pegawasan NFZ, dan perang balkan, USAF tidak bisa memenuhi kontrak sewa tersebut. ke 12 pesawat tersebut ditarik dan diaktifkan kembali oleh USAF.

Akibatnya, Singapura terpaksa menyewa 12 pesawat brand new dari Lockheed Martin selama 2.5 tahun mulai dari 1997. Tampaknya, karena sudah cocok, akhirnya ke 12 pesawat tersebut dibeli dari pabrik dengan skema pembelian komersial dan ditempatkan di Luke AFB, Arizona sebagai detasemen latih. Tentu saja harganya lebih mahal dari pada yang menggunakan skema FMS.

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF
Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF. Tim Aerobatik RSAF The Black Knight.

Pada akhirnya, demi penghematan, karena dirasa mengoperasikan dua jenis F-16 (A/B dan C/D) akan menimbulkan logistical nightmare, sisa F-16A/B yang berjumlah 7 unit tersebut diserahterimakan ke Thailand. Konon sebagai imbal balik penggunaan pangkalan udara dan Aerial Weapon Range di Thailand sebagai sarana latihan RSAF.

BACA JUGA :  Rusia Tak Permasalahkan Penerjunan Rudal ICBM Tiongkok di Perbatasannya

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF
Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Selain di Amerika dan Thailand, RSAF juga mempunyai area latihan di Perancis dan Taiwan. Sedangkan untuk Angkatan Daratnya mempunyai lahan latihan di Jerman, Perancis, Taiwan, Australia dan Amerika. Setiap tahun, personel dari unit unit operasional di rotasi ke pusat pusat pelatihan secara bergantian, sedangkan alutsistanya tetap dilokasi latihan.

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF
Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Terlihat bahwa Singapura pun bukan Sultan yang membeli pesawat tempur puluhan unit dalam satu order. Melainkan dipecah pecah dalam banyak order dalam rentang waktu lebih dari 10 tahun. Pengadaan pesawat F-16 ini pun dalam planning Singapura sejalan dengan rencana pensiun bertahap Hawker Hunter dan A-4 Skyhawknya. Perencanaan yang matang, menjadi salah satu sumber keberhasilannya.

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF
Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Saat ini, pesawat tempur F-16C/D ini pun sudah masuk perencanaan pensiun bertahap mulai dari 2030++, ketika F-35 batch pertama masuk operasional. F-16C/D pertama yang akan dipensiunkan adalah yang berasal dari proyek Peace Carvin II, yang datang 1998, atau berumur sekitar 32 tahun pada saat F-35 datang.

Jadi, pengadaan F-35 bukanlah suatu perlombaan senjata, tetapi memang sudah planning peremajaan F-16 nya yang sudah memasuki usia persiapan pensiun secara normal di usia pensiun normal sebuah pesawat tempur, 30 tahun.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

5 COMMENTS

  1. Singapura memiliki kelebihan dibandingkan indonesia, selain memiliki ekonomi yang kuat mereka juga sekutu dekat USA, sehinhga segala proses modernisasi yang dilakukan berjalan mulus, serta selalu mendapatkan versi termodern yang bisa dijual.

    • itu kan sekarang.
      Pas Peace Carvin II, ketika mereka beli beberapa F-16; kita mborong 40 hawk dengan harga satuan yg lebih mahal dari F-16 dia lho.. Seharga F-18 lah…

      artinya saat itu ekonomi kita lebih baik bukan?
      Versi yang mereka punya pun bukan termodern, kalah modern sama UAE. Mereka pun baru boleh beli AMRAAM setelah Malaysia punya R-77.

      cek timeline nya deh 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Beli Ngeteng, Cara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF - HobbyMiliter.com. Dalam diskusi diskusi di forum forum militer online maupun di grup grup militer di Facebook,...

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia - HobbyMiliter.com - Meski telah jutaan tahun membalut Bumi, belum seluruh bagian atmosfer bisa...

Foto – Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an

Foto - Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an - HobbyMiliter.com. Perang Soviet di Afghanistan berlangsung selama lebih dari sembilan tahun....

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet - HobbyMiliter.com. Pada saat persiapan operasi Trikora dalam rangka perebutan Irian Barat (sekarang Provinsi...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua