Saturday, May 28, 2022
HomeBattle of Surabaya Alias Pertempuran 10 November, Asal Usul Hari Pahlawan

Battle of Surabaya Alias Pertempuran 10 November, Asal Usul Hari Pahlawan

Saat pertempuran untuk merampas senjata berkobar di berbagai daerah, Indonesia kembali didarati tentara Inggris dan Belanda yang kini membawa bendera pasukan Sekutu. Mengatasnamakan AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies), tentara Inggris dan Belanda bertugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan tawanan perang yang ditahan oleh pihak Jepang, serta memulangkan kembali tetara Jepang ke negerinya. Namun rupanya selain elemen AFNEI yang melucuti tentara Jepang, ternyata ada juga elemen dari Netherlands Indies Civil Administration atau NICA yang hendak kembali menguasai wilayah Indonesia. Mendaratnya pasukan AFNEI dan NICA di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945 mengundang reaksi negatif dari rakyat Indonesia. Segera pertempuran berkobar antara milisi rakyat Indonesia melawan pasukan AFNEI di seantero wilayah Indonesia, termasuk di Surabaya.

BACA JUGA :  Korea Selatan Menghentikan Sementara Operasional Helikopter Lynx, Jasad Kru Ditemukan

Insiden Hotel Yamato, 19 September 1945

Eskalasi konflik semakin meningkat saat sekelompok orang Belanda dibawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman, pada malam hari tanggal 18 September 1945, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru) tanpa seijin pemerintah RI, di tiang bendera dari Hotel Yamato. Tindakan ini memicu kemarahan besar rakyat Surabaya. Keesokan paginya, massa berkumpul di depan Hotel Yamato. Diadakanlah perundingan dimana pihak Indonesia diwakili oleh Residen Soedirman, yang dikawal oleh Sidik dan Hariyono. Perundingan ini memanas, hingga Ploegman mengeluarkan pistol untuk mengancam perwakilan Indonesia. Kondisi ini menyebabkan pecahnya perkelahian, Ploegman akhirnya tewas dicekik oleh Sidik, sedangkan Sidik tewas dibunuh tentara Belanda yang berjaga melindungi Ploegman.

BACA JUGA :  Pasukan T Ronggolawe, Pasukan Pejuang Pelajar

Mendengar suara letusan senjata dari dalam Hotel Yamato, serta melihat Soedirman dan Hariyono berlari keluar dari Hotel, massa pun masuk menyerbu kedalam hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono, yang tadinya bersama dengan Residen Soedirman melarikan diri keluar dari Hotel Yamato, kembali masuk ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera, hingga akhirnya ia bersama Koesno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, menyobek warna Biru-nya, kemudian menaikkan kembali keatas dengan warna Merah dan Putih.

Setelah insiden perobekan bendera yang kita sebut dengan “Insiden Hotel Yamato” itulah, pertempuran berkobar secara masif di wilayah Surabaya. Sejak tanggal 27 Oktober 1945, pertempuran yang bermula dari serangan – serangan kecil sporadis, menjadi serangan besar, terkoordinir serta masif yang akhirnya mulai memakan banyak korban jiwa diantara kedua belah pihak yang bertikai (Pihak Pejuang Indonesia dan Tentara Inggris-Belanda). Melihat pasukan nya yang semakin lama semakin terdesak dan terancam hancur akibat bertempur melawan milisi di Surabaya, Jenderal D.C Hawthorn akhirnya meminta bantuan presiden Sukarno untuk meredakan situasi, sekaligus menyelamatkan pasukan nya yang sudah kepayahan.

Kristian Prasetyo Lobohttps://www.facebook.com/Achtung.sniper
Just an ordinary person who loves diecast and military related-stuffs. Enjoy my writings as you enjoy your daily delicious food. Wanna put some suggestion? Don't hesitate to comment on my posts or you can sending me message on my facebook profile. ^^

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Baca Juga

Mitsubishi A6M Zero pada saat serangan Jepang ke Pearl Harbour

Peningkatan Kekuatan Udara Sebelum Serangan Jepang ke Pearl Harbour

0
HobbyMiliter.com - Peningkatan Kekuatan Udara Sebelum Serangan Jepang ke Pearl Harbour. Benua Asia dianggap terbelakang dalam urusan teknologi mesin perang. Akibatnya predikat "anak bawang"...

Recent Comments