Wednesday, October 21, 2020
Home Militer Teknologi Militer Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia – HobbyMiliter.com – Meski telah jutaan tahun membalut Bumi, belum seluruh bagian atmosfer bisa dipahami. Diluar perannya sebagai mantel Bumi, ia ternyata bisa dimanfaatkan sebagai medium radar canggih yang diberi nama Over The Horizon Radar. Sebuah keunikan ionosfer.

Inilah yang namanya kebesaran Tuhan. Bahwa, meski berhubungan langsung dengan lingkungan dalam tatasurya yang belum sepenuhnya kita kenal, Bumi masih memiliki perisai yang mampu menahan segala pengaruh eksternal yang destruktif. Hantaman sinar kosmik dan bombardemen meteor yang mampu menimbulkan kerusakan massal, misalnya, bisa ditahan atau minimal terkurangi.

Uniknya perisai yang diberi nama atmosfer ini tak memiliki ujud yang jelas dan tak berwarna. Ia hanya seperti plasma yang kadang berpendar berselimut awan yang menutup ketat Bumi dengan permukaan yang demikian luas. Sama sekali tak terbayang lapisan yang ramah ini mampu menahan berbagai serangan tadi.

Lewat serangkaian penelitian yang seksama, meski belum tuntas benar, diketahui bahwa dalam lapisan ini pun masih bisa dipilah-pilah lagi menurut ketinggian (vertikal), suhu, dan sifatnya. Sejauh yang diyakini, atmosfer terbagi atas lima lapisan, yakni (mulai dari yang terendah) troposfer, stratosfer, mesosfer, ionosfer, dan termosfer.

Dari stratanya mudah dipahami, bahwa troposfer-lah yang paling banyak berkaitan dengan kehidupan di Bumi. Lapisan ini terdiri dari gas-gas yang fundamental: oksigen, nitrogen, hidrogen, dan lain-lain. Lapisan ini pula yang menentukan akan kemana arah fenomena cuaca dan turbulensi atmosfer hari ini, esok, atau hari yang lalu.

Lapisan ini juga bisa diibaratkan mantel penahan suhu, dimana setiap kenaikan satu kilometer, suhunya akan berkurang 6,5 derajat Celcius. Lapisan ini memiliki ketinggian yang variatif cenderung menurun, dimana di atas ekuator mencapai 16 kilometer dan menurun hingga menjadi delepan kilometer di atas kutub.

BACA JUGA :  Radar Meteor 50DX: Radar Cuaca Pendukung Operasi TNI AU

Inilah bentuk radar OTHR Jindalee Australia, tidak seperti radar yang biasa kita lihat di bandara.
Inilah bentuk radar OTHR Jindalee Australia, tidak seperti radar yang biasa kita lihat di bandara.

Tepat di atas troposfer adalah lapisan stratosfer, lapisan dengan ozon yang selama ini dikenal sebagai penyaring sinar ultraviolet, penyebab kanker kulit. Di atas stratosfer, semula ilmuwan menyangka tak banyak lagi dampak positif yang bisa diharapkan karena sudah begitu tak stabil komposisinya.

Keyakinan ini setidaknya bertahan hingga sekitar tahun 1970-an ketika Kasus Luxembourg yang terjadi pada 1933 terpecahkan. Kasus yang terjadi pada saat transmisi gelombang radio masih baru-barunya didayagunakan untuk berbagai kepentingan penyampaian informasi ini, tak lain merupakan titik pijak pemahaman orang atas manfaat ionosfer. Pada kasus ini, persisnya, para ahli fisika terheran-heran ketika menyimak siaran yang dipancarkan dari sebuah stasiun radio di Luxembourg terdengar hingga Beromunster, Swiss, dalam frekuensi yang berbeda.

Sistem peringatan dini Australia, OTHR Jindalee
Sistem peringatan dini Australia, OTHR Jindalee

Usut punya usut, fenomena ini temyata akibat ulah hamparan elektron tak stabil di ionosfer. Dalam hal ini serbuan energi dari gelombang elektromagnetik berdaya tinggi (high power) temyata bisa mengaktifkan elektron-elektron di ionosfer itu menjadi lapisan pemantul gelombang itu sendiri.

Ionosfer sendiri masih terbagi lagi menjadi empat lapisan, namun yang jelas dari lapisan inilah ilmuwan bisa memanfaatkannya sebagai pemantul gelombang radar – sebuah temuan yang baru efektif pada dekade 90-an, atau tepat pada saat banyak negara bingung tentang bagaimana cara melacak kehadiran senjata rahasia (siluman/stealth) yang mampu menyusup tanpa terlacak radar konvensional. Radar inilah yang kemudian dikenal sebagai Over the Horizon Radar.

Radar OTHR Jindalee Australia

Diutak-utik pertama kali oleh fisikawan Jerman Heinrich Hertz dan fisikawan Skotlandia James Clerk Maxwell pada tahun 1880-an, radar yang merupakan kepanjangan dari radio detecting and ranging mulai menjalani pengembangan serius sejak tahun 1930-an. Maxwell berhasil menyimpulkan bahwa gelombang radio bisa dipantulkan medium berupa metal, sementara Hertz sendiri untuk pertama kalinya berhasil menggenapkan temuan ini lewat eksperimen dengan panjang gelombang 66 sentimeter atau frekuensi 455 Megahertz. Hertz kemudian diabadikan sebagai satuan untuk satu siklus per detik.

BACA JUGA :  Co-Pilot Sukhoi Su-24 yang Tertembak, Putra Terbaik Russia

Eksperimen berikutnya dilanjutkan oleh sejumlah ilmuwan dari sejumlah negara namun tak pernah mencapai hasil memuaskan, kecuali yang dilakukan fisikawan Jerman Christian Hulsmeyer yang merasa dipacu untuk kepentingan perang (pada masa Perang Dunia II). Tak berapa lama dari berbagai percobaan yang dilakukan pada masa ini, sejumlah ilmuwan kemudian berhasil mendayagunakan hasil temuannya untuk menjejak pesawat terbang. Juga untuk maksud dan kepentingan militer.

Dalam perkembangannya kemudian barulah diketahui bahwa pemanfaatannya amat efektif jika menggunakan gelombang spektrum mikro, yakni antara 400 Mhz hingga 40 Ghz. Pada prinsipnya, radar bekerja dengan cara mengirim gelombang dari selang frekuensi ini ke sebuah wilayah udara. Penjejakan akan berjalan efektif jika peralatan penerima menerima kembali sinyal yang tadi dikirim. Dengan menghitung waktu kembali dan sudut antena akan diketahuilah obyek yang terjejak. Belakangan peralatan ini bertambah maju saja dengan diciptakannya sistem tambahan yang bisa menghitung ukuran dan bentuk obyek yang terjejak.

Meski berkembang pesat, namun menjelang dekade 90-an radar konvensional seperti membentur tembok. Dengan komplitnya teknik rekayasa pembuatan pesawat siluman dengan material yang sanggup menyerap sinyal radar, seperti yang diterapkan pada F-117 Nighthawk dan B-1A Spirit, dengan sendirinya banyak sistem radar pertahanan udara pun gagu dibuatnya. Dikombinasikan dengan trik menempatkan cerobong buangan gas di atas badannya, penjejak panas pun ikut dibuat tumpul.

Maka, pada suatu masa, dunia kemiliteran pun sempat was-was dengan kehadiran pesawat-pesawat yang nampaknya akan menjadi andalan segelintir negara maju. Pasalnya, ia mampu menerobos segala bentuk pagar radar dengan begitu mudahnya. Juga jarak deteksi radar terbatas sekali karena adanya pengaruh lengkung bumi dan ketinggian antena. Karena itu, kebanyakan radar aktif, ditempatkan dalam ketinggian, entah di gunung maupun diatas tower. Dengan adanya keterbatasan jarak deteksi hingga rata rata 200-300 Km efektif, maka sistem peringatan dini akan bahaya udara yang mengancam pun juga sempit sekali waktunya.

BACA JUGA :  Kekuatan Militer China vs Taiwan, Siapa Yang Akan Menang?

gambar radar
gambar radar

Namun – inilah hebatnya ilmuwan – melalui kerja keras yang menguras pikiran, akhimya mereka berhasil juga menciptakan penjejaknya. Prinsipnya sederhana saja, yakni dengan memanfaatkan lapisan ionosfer sebagai pemantul. Berangkat dari sifat lapisan elektronnya yang mampu memantulkan balik gelombang radio dari selang High Frequency [3-30 MHz), mereka pun mengadopsinya sebagai penjejak para siiuman terbang yang memang memiliki kelemahan jika dibidik dari atas.

Dari salah satu pusat radar militer Australia, trik seperti ini beberapa kali berhasil menjejak operasi penerbangan B-1A. Pemanfaatannya, dalam sistem terintegrasi yang diberi nama radar over the horizon ini, temyata juga memberi cakrawala lain dalam aspek pengidentifikasian obyek-obyek terbang (air surveillance).

Itu karena, jarak jangkauannya yang 10 kali lipat radar biasa (mencapai 2.000 mil laut) dan kemampuan peringatan dininya yang luar biasa. Pasalnya, ia juga mampu mendeteksi lebih awal peluncuran rudal balistik. Australia mempunya beberapa situs OTHR radar diantaranyanya adalah di Jindalee.

Radar yang memanfaatkan pantulan ionosfer ini dikatakan bisa mendeteksi lalu lintas pesawat di area Denpasar Bali, bahkan Lanud Hasanudin Makassar tempat Sukhoi 27/30 kita bermarkas. Memang, keakuratan deteksinya mungkin awalnya masih kurang, namun dengan perkembangan ilmu pengetahuan, siapa yang bisa memprediksi mengenai perkembangan teknologi ini.

Dalam perkembangannya, entah dampak positif apa lagi yang bisa dieksploitasi dari lapisan pembungkus Bumi ini? Sampai batas terfentu, atmosfer memang masih fenomenal.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

3 COMMENTS

  1. Dg fakta adanya radar jindalee ini si australi dibikin gemes shg begitu byk memesan f-35. ini menandakan adanya kekuatan lebih di utara australia ini.

  2. Itu klaim mereka. Jangan mudah percaya bang. Radar HF digunakan untuk mengamati pola arus dan permukaan air laut. Kalau dipancarkan ke atmosfer, jadinya Ionosonde. Bagaimanapun radar untuk tracking target menggunakan jalur L S E terus sampai K

    • Apakah tidak ada ya Mahasiswa indonesia yg tertarik meneliti Radar untuk mengendus pesawat siluman ?? Ataukah tidak tertarik mereka ikut andil mengamankan Negaranya dgn menciptakan mata yg jauh melihat (Radar jarak jauh) mengingat luas nya wilayh indonesia ??
      Atau memang mereka sekarang sdh jadi generasi tiktok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Beli Ngeteng, Cara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF - HobbyMiliter.com. Dalam diskusi diskusi di forum forum militer online maupun di grup grup militer di Facebook,...

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia - HobbyMiliter.com - Meski telah jutaan tahun membalut Bumi, belum seluruh bagian atmosfer bisa...

Foto – Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an

Foto - Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an - HobbyMiliter.com. Perang Soviet di Afghanistan berlangsung selama lebih dari sembilan tahun....

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet - HobbyMiliter.com. Pada saat persiapan operasi Trikora dalam rangka perebutan Irian Barat (sekarang Provinsi...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua