Wednesday, June 29, 2022
HomeMiliterTeknologi MiliterBegini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia – HobbyMiliter.com – Meski telah jutaan tahun membalut Bumi, belum seluruh bagian atmosfer bisa dipahami. Diluar perannya sebagai mantel Bumi, ia ternyata bisa dimanfaatkan sebagai medium radar canggih yang diberi nama Over The Horizon Radar. Sebuah keunikan ionosfer.

Inilah yang namanya kebesaran Tuhan. Bahwa, meski berhubungan langsung dengan lingkungan dalam tatasurya yang belum sepenuhnya kita kenal, Bumi masih memiliki perisai yang mampu menahan segala pengaruh eksternal yang destruktif. Hantaman sinar kosmik dan bombardemen meteor yang mampu menimbulkan kerusakan massal, misalnya, bisa ditahan atau minimal terkurangi.

Uniknya perisai yang diberi nama atmosfer ini tak memiliki ujud yang jelas dan tak berwarna. Ia hanya seperti plasma yang kadang berpendar berselimut awan yang menutup ketat Bumi dengan permukaan yang demikian luas. Sama sekali tak terbayang lapisan yang ramah ini mampu menahan berbagai serangan tadi.

BACA JUGA :  Lockheed Martin Siapkan Radar L Band Terbarunya Untuk Di Produksi

Lewat serangkaian penelitian yang seksama, meski belum tuntas benar, diketahui bahwa dalam lapisan ini pun masih bisa dipilah-pilah lagi menurut ketinggian (vertikal), suhu, dan sifatnya. Sejauh yang diyakini, atmosfer terbagi atas lima lapisan, yakni (mulai dari yang terendah) troposfer, stratosfer, mesosfer, ionosfer, dan termosfer.

Dari stratanya mudah dipahami, bahwa troposfer-lah yang paling banyak berkaitan dengan kehidupan di Bumi. Lapisan ini terdiri dari gas-gas yang fundamental: oksigen, nitrogen, hidrogen, dan lain-lain. Lapisan ini pula yang menentukan akan kemana arah fenomena cuaca dan turbulensi atmosfer hari ini, esok, atau hari yang lalu.

Lapisan ini juga bisa diibaratkan mantel penahan suhu, dimana setiap kenaikan satu kilometer, suhunya akan berkurang 6,5 derajat Celcius. Lapisan ini memiliki ketinggian yang variatif cenderung menurun, dimana di atas ekuator mencapai 16 kilometer dan menurun hingga menjadi delepan kilometer di atas kutub.

Inilah bentuk radar OTHR Jindalee Australia, tidak seperti radar yang biasa kita lihat di bandara.
Inilah bentuk radar OTHR Jindalee Australia, tidak seperti radar yang biasa kita lihat di bandara.

Tepat di atas troposfer adalah lapisan stratosfer, lapisan dengan ozon yang selama ini dikenal sebagai penyaring sinar ultraviolet, penyebab kanker kulit. Di atas stratosfer, semula ilmuwan menyangka tak banyak lagi dampak positif yang bisa diharapkan karena sudah begitu tak stabil komposisinya.

BACA JUGA :  Messerschmitt Me-262, Senjata Pamungkas Jerman di WW2

Keyakinan ini setidaknya bertahan hingga sekitar tahun 1970-an ketika Kasus Luxembourg yang terjadi pada 1933 terpecahkan. Kasus yang terjadi pada saat transmisi gelombang radio masih baru-barunya didayagunakan untuk berbagai kepentingan penyampaian informasi ini, tak lain merupakan titik pijak pemahaman orang atas manfaat ionosfer. Pada kasus ini, persisnya, para ahli fisika terheran-heran ketika menyimak siaran yang dipancarkan dari sebuah stasiun radio di Luxembourg terdengar hingga Beromunster, Swiss, dalam frekuensi yang berbeda.

Sistem peringatan dini Australia, OTHR Jindalee
Sistem peringatan dini Australia, OTHR Jindalee

Usut punya usut, fenomena ini temyata akibat ulah hamparan elektron tak stabil di ionosfer. Dalam hal ini serbuan energi dari gelombang elektromagnetik berdaya tinggi (high power) temyata bisa mengaktifkan elektron-elektron di ionosfer itu menjadi lapisan pemantul gelombang itu sendiri.

BACA JUGA :  Menhan Israel: Jika Hamas Menyerang Kami, Tamat Riwayat Mereka

Ionosfer sendiri masih terbagi lagi menjadi empat lapisan, namun yang jelas dari lapisan inilah ilmuwan bisa memanfaatkannya sebagai pemantul gelombang radar – sebuah temuan yang baru efektif pada dekade 90-an, atau tepat pada saat banyak negara bingung tentang bagaimana cara melacak kehadiran senjata rahasia (siluman/stealth) yang mampu menyusup tanpa terlacak radar konvensional. Radar inilah yang kemudian dikenal sebagai Over the Horizon Radar.

Radar OTHR Jindalee Australia

Diutak-utik pertama kali oleh fisikawan Jerman Heinrich Hertz dan fisikawan Skotlandia James Clerk Maxwell pada tahun 1880-an, radar yang merupakan kepanjangan dari radio detecting and ranging mulai menjalani pengembangan serius sejak tahun 1930-an. Maxwell berhasil menyimpulkan bahwa gelombang radio bisa dipantulkan medium berupa metal, sementara Hertz sendiri untuk pertama kalinya berhasil menggenapkan temuan ini lewat eksperimen dengan panjang gelombang 66 sentimeter atau frekuensi 455 Megahertz. Hertz kemudian diabadikan sebagai satuan untuk satu siklus per detik.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

4 COMMENTS

  1. Dg fakta adanya radar jindalee ini si australi dibikin gemes shg begitu byk memesan f-35. ini menandakan adanya kekuatan lebih di utara australia ini.

  2. Itu klaim mereka. Jangan mudah percaya bang. Radar HF digunakan untuk mengamati pola arus dan permukaan air laut. Kalau dipancarkan ke atmosfer, jadinya Ionosonde. Bagaimanapun radar untuk tracking target menggunakan jalur L S E terus sampai K

    • Apakah tidak ada ya Mahasiswa indonesia yg tertarik meneliti Radar untuk mengendus pesawat siluman ?? Ataukah tidak tertarik mereka ikut andil mengamankan Negaranya dgn menciptakan mata yg jauh melihat (Radar jarak jauh) mengingat luas nya wilayh indonesia ??
      Atau memang mereka sekarang sdh jadi generasi tiktok.

  3. Kita bisa saja mengadopsi teknologi radar yang, katakanlah, sudah uzur umurnya. Karena kita sebetulnya memiliki peninggalan ini yang dibeli dari Uni Sovyet saat akan melakukan aksi perebutan Irian Jaya. Teknologi uzur ini bisa saja dikombinasikan dengan teknologi yang ada. Sekalipun mungkin belum yang tercanggih. Sebab…sebetulnya teknologi yang uzur tadi telah membuktikan kehandalannya ketika dalam konflik Serbia, di mana mereka dapat mendeteksi penyusupan pesawat siluman F-117A Nighthawk yang mereka dapat tembak jatuh. Tidak tanggung- tanggung : 3 biji!! (https://www.warhistoryonline.com/history/that-day-the-serbs-did-the-impossible-shot-down-an-f-117-nighthawk.html) “Sorry we didn’t know is was invisible”.
    Sekalipun…dalam versi Amerika dikatakan agak lain, yaitu karena intelligen Serbia telah mendeteksinya saat mulai terbang dari Italia. (https://theaviationgeekclub.com/an-in-depth-analysis-of-how-serbs-were-able-to-shoot-down-an-f-117-stealth-fighter-during-operation-allied-force/).

    Yang paling menggemaskan adalah brochure- brochure yang beredar setelah itu: “Sorry we didn’t know is was invisible”…. ha ha ha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Baca Juga

PKR Disebut Karya Anak Bangsa, Ternyata PT PAL Hanya Sebagai Subkon Dengan Jatah Pekerjaan Senilai 4,3% Saja

PKR Disebut Karya Anak Bangsa, Ternyata PT PAL Hanya Sebagai Subkon...

PKR Disebut Karya Anak Bangsa, Ternyata PT PAL Hanya Sebagai Subkon Dengan Jatah Pekerjaan Senilai 4,3% Saja - HobbyMiliter.com. Selama ini netizen banyak yang...

Recent Comments