Kisah Aksi Sabotase Prajurit Kopaska TNI AL di Johor Malaysia

    Kisah Prajurit Komando Pasukan Katak di Era Dwikora

    0
    61934

    Infiltrasi Pasukan Katak Kopaska di Malaysia

    Logo Kopaska Pasukan Khusus TNI AL
    Logo Kopaska Pasukan Khusus TNI AL

    Tak lama setelah lulus SKCS, pertengahan bulan Maret Soewarno dan kelima rekannya sesama anggota pasukan katak dikirim ke poskotis intelijen di Pulau Sekupang (Kepulauan Riau) guna bergabung dengan para seniornya. Lewat arahan seorang perwira intelijen TNI AL bernama Bambang Pratomo, dari sanalah satu demi satu personel Kopaska dikirim untuk melakukan misi rahasia berisiko tinggi jauh di dalam wilayah musuh. Tugas yang disampaikan Bambang Pratomo kepada para personel Kopaska selalu dalam bentuk lisan guna memperkecil risiko bocor ke tangan lawan.

    BACA JUGA :  Latihan PHH Batalyon Komando 466 Paskhas

    Setelah beberapa orang pasukan katak diberangkatkan menembus wilayah lawan, akhirnya tiba giliran Kopda Laut Soewarno. Segala dokumen pendukung operasi untuknya telah disiapkan Badan Pusat Intelijen (BPI) di Jakarta. Termasuk juga KTP palsu kecamatan Pulau Lengkang (Riau) atas nama Junus bin Usman. Soewarno tak sendirian. Ia ditemani Serda Laut Prijatna DN yang memperoleh nama baru Soleh bin Amir. Keduanya berprofesi samaran sebagai penyelundup getah karet.

    Tugas yang dibebankan pada kedua personel Kopaska terbilang cukup ‘edan’. Yakni menghancurkan pipa air di Gunung Muntaha (Johor). Instalasi ini amat vital karena memasok kebutuhan air minum bagi sebagian besar penduduk Federasi Malaya dan pulau Temasek (Singapura). Kopda Laut Soewarno sempat mengalami konflik batin berkenaan dengan tugasnya ini. Dia merasa bersalah seandainya misinya berhasil sukses, akan banyak rakyat sipil setempat yang menderita. Sementara sebagai prajurit komando pasukan katak, jelas haram menolak perintah betapa pun itu bertolak belakang dengan nilai-nilai kemanusiaan.

    BACA JUGA :  Airbus Serahkan Batch Pertama Heli AKS Panther Ke PT. DI

    Agar samarannya sebagai penyelundup tampak sempurna, masing-masing dibekali perahu motor penuh bermuatan timah, getah karet dan arang. Di bawah tumpukan komoditi alam ini, sebenarnya tersimpan 500 kilogram bahan peledak guna dipakai dalam misi gila tersebut.

    Sebenarnya jarak Lengkang dengan Temasek cukup dekat. Dapat ditempuh dalam tempo maksimal 15 menit. Tapi mengingat barang bawaannya terbilang berisiko tinggi, Soewarno menjalankan perahunya secara lambat. Belum lagi penjagaan perbatasan antara Semenanjung Malaya dengan Pulau Temasek memang tengah ketat. Pasalnya, saat itu seorang tokoh etnis Tionghoa di Pulau Temasek, Lee Kwan Yeuw, juga berupaya melepaskan diri dari bayang-bayang Tengku Abdulrachman Putra di Kuala Lumpur alias ingin memerdekakan diri dari Federasi Malaya.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here