Tuesday, November 24, 2020
Home Militer Kisah Militer Kisah Aksi Sabotase Prajurit Kopaska TNI AL di Johor Malaysia

Kisah Aksi Sabotase Prajurit Kopaska TNI AL di Johor Malaysia

Kisah Prajurit Komando Pasukan Katak di Era Dwikora

Kisah Aksi Sabotase Prajurit Kopaska TNI AL di Johor Malaysia – HobbyMiliter.com. Memasuki tahun 1961, sebagai negara yang berusia muda Indonesia tengah terlibat perseteruan dengan pemerintah Belanda menyangkut masalah status tanah Papua. Kesal dengan sikap keras kepala Den Haag, di penghujung tahun 1961 Presiden Soekarno lantas mengumandangkan Tri Komando Rakyat (Trikora). Penjabarannya lewat Operasi Jayawijaya. Sayang, operasi yang mengerahkan sebagian besar kekuatan ABRI ini justru tidak jadi dilaksanakan karena berhasilnya jalur diplomasi.

Belum beres dengan Trikora, tokoh proklamator RI ini pun mempertentangkan negara Federasi Malaya yang dianggapnya semata bentukan Inggris dalam rangka proyek kolonialisme di Asia Tenggara. Isu yang diangkat ialah gerakan ‘kemerdekaan’ Negara Kalimantan Utara (NKU) yang digagas tokoh lokal Tengku Azahari. Selain itu juga digugat masalah pakta kerjasama militer antara Inggris dan Federasi Malaya. Lewat pakta ini, Inggris berhak memakai basis militer di Sembawang (Singapura) selama 99 tahun.

Guna mendukung NKU dan menandingi pakta militer Inggris-Federasi Malaya, Pak Karno kemudian mengumandangkan Dwi Komando Rakyat (Dwikora) pada 3 Mei 1964 dalam rapat raksasa di Jakarta. Seperti halnya saat Trikora, Jakarta kembali mengirim ribuan ‘sukarelawan’ untuk dilibatkan dalam berbagai misi rahasia di wilayah perbatasan. Inti kekuatan pasukan sukarelawan ini sejatinya ialah personel ABRI. Salah satunya tentu saja Komando Pasukan Katak (Kopaska).

Jumlah personel Pasukan Katak Kopaska pasca Trikora sangat sedikit. Meski begitu, kondisi ini tak lantas menghalangi pimpinan ABRI untuk tetap melibatkan satuan kecil ini dalam seksi G-1/Intelijen Komando Operasi Tertinggi (KOTI) Dwikora. Agar kebutuhan personelnya dapat dipenuhi dalam tempo singkat meski situasi negara tengah genting, maka pada awal tahun 1963 di seluruh pangkalan TNI AL dibuka pendaftaran untuk menjadi personil pasukan katak.

Salah satu tamtama TNI AL yang ikut dalam pendadaran itu ialah Kopda Laut Soewarno yang berbasis di Stasion AL (Sional) Palembang. Di tengah kebosanan menjalani tugas rutin, ia terpikat pengumuman mencari sukarelawan untuk dididik menjadi pasukan katak. Dari ribuan pelamar, hanya ia beserta delapan personel TNI AL lain yang dinyatakan berhak mengikuti Sekolah Komando Chusus Sukarelawan (SKCS) di kawasan Cipulir, Jakarta Selatan. Sekolah ini memang sengaja didirikan dalam rangka ‘crash program‘ mencetak personel pasukan katak baru.

Infiltrasi Pasukan Katak Kopaska di Malaysia

Logo Kopaska Pasukan Khusus TNI AL
Logo Kopaska Pasukan Khusus TNI AL

Tak lama setelah lulus SKCS, pertengahan bulan Maret Soewarno dan kelima rekannya sesama anggota pasukan katak dikirim ke poskotis intelijen di Pulau Sekupang (Kepulauan Riau) guna bergabung dengan para seniornya. Lewat arahan seorang perwira intelijen TNI AL bernama Bambang Pratomo, dari sanalah satu demi satu personel Kopaska dikirim untuk melakukan misi rahasia berisiko tinggi jauh di dalam wilayah musuh. Tugas yang disampaikan Bambang Pratomo kepada para personel Kopaska selalu dalam bentuk lisan guna memperkecil risiko bocor ke tangan lawan.

BACA JUGA :  Suriah Resmi Gencatan Senjata, Front Al-Nusra Menolak

Setelah beberapa orang pasukan katak diberangkatkan menembus wilayah lawan, akhirnya tiba giliran Kopda Laut Soewarno. Segala dokumen pendukung operasi untuknya telah disiapkan Badan Pusat Intelijen (BPI) di Jakarta. Termasuk juga KTP palsu kecamatan Pulau Lengkang (Riau) atas nama Junus bin Usman. Soewarno tak sendirian. Ia ditemani Serda Laut Prijatna DN yang memperoleh nama baru Soleh bin Amir. Keduanya berprofesi samaran sebagai penyelundup getah karet.

Tugas yang dibebankan pada kedua personel Kopaska terbilang cukup ‘edan’. Yakni menghancurkan pipa air di Gunung Muntaha (Johor). Instalasi ini amat vital karena memasok kebutuhan air minum bagi sebagian besar penduduk Federasi Malaya dan pulau Temasek (Singapura). Kopda Laut Soewarno sempat mengalami konflik batin berkenaan dengan tugasnya ini. Dia merasa bersalah seandainya misinya berhasil sukses, akan banyak rakyat sipil setempat yang menderita. Sementara sebagai prajurit komando pasukan katak, jelas haram menolak perintah betapa pun itu bertolak belakang dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Agar samarannya sebagai penyelundup tampak sempurna, masing-masing dibekali perahu motor penuh bermuatan timah, getah karet dan arang. Di bawah tumpukan komoditi alam ini, sebenarnya tersimpan 500 kilogram bahan peledak guna dipakai dalam misi gila tersebut.

Sebenarnya jarak Lengkang dengan Temasek cukup dekat. Dapat ditempuh dalam tempo maksimal 15 menit. Tapi mengingat barang bawaannya terbilang berisiko tinggi, Soewarno menjalankan perahunya secara lambat. Belum lagi penjagaan perbatasan antara Semenanjung Malaya dengan Pulau Temasek memang tengah ketat. Pasalnya, saat itu seorang tokoh etnis Tionghoa di Pulau Temasek, Lee Kwan Yeuw, juga berupaya melepaskan diri dari bayang-bayang Tengku Abdulrachman Putra di Kuala Lumpur alias ingin memerdekakan diri dari Federasi Malaya.

Prajurit topeng Kopaska TNI AL
Prajurit topeng Kopaska TNI AL

Nahas bagi Soewarno, di perairan Temasek perahunya kena cegat kapal patroli Marine Police yang bersenjata lengkap. Saat petugas menaiki perahunya, Soewarno cepat-cepat menyelipkan selembar uang 10 dollar AS di balik kaus kaki petugas itu. “Tulunglah awak, Encik! Awak nyemokel begini buat anak bini…”, demikian ia pura-pura menghiba. Seketika, tanpa memeriksa lagi petugas itu berteriak “Silakan lanjut!”. Untuk sementara waktu, Dewi Fortuna masih berpihak pada anggota pasukan katak tersebut.

Setelah berlayar hampir satu setengah jam, kedua penyelundup gadungan ini berhasil mendarat di Temasek dan segera dijemput ‘kontak’ yang tak lain ialah orang BPI yang telah lebih dulu disusupkan. Kontak itu memberikan sejumlah dokumen pelengkap termasuk visa terbatas selama tiga hari. Muatan bahan peledak selanjutnya diurus oleh kontak tersebut. Di sini Prijatna berpisah dengan Soewarno dan meneruskan perjalanan.

Menjelang sore, Soewarno menemui cukong setempat bemama Lim Soen Gwan yang tinggal di jalan Liang nomor 5. Semua getah karet yang dibawa Soewarno segera diborong karena harganya miring. Sah lah penyamaran prajurit Kopaska ini sebagai penyelundup karet.

BACA JUGA :  KRI 357, 358 dan 359 dalam 1 Frame

Terbatasnya waktu dan sulitnya menembus perbatasan Semenanjung Malaya dengan Temasek tak membuat tekad Soewarno kendur. Mereka lalu secara sembunyi-sembunyi menumpang kereta api menuju Johor Baru. Sepanjang Temasek -Johor Baru yang ditempuh selama hampir 24 jam itu, kereta berhenti di beberapa stasiun guna diperiksa petugas imigrasi. Guna menghindari razia, tak jarang Soewarno ngumpet di WC atau pura-pura mengasuh anak salah seorang penumpang kereta.

Di sejumlah stasiun, hati Soewarno terkesiap. Di tembok peron gambar beberapa orang rekannya sesama prajurit Kopaska telah dipajang dengan status sebagai buronan polisi. Rupanya selama ini ada warga Pulau Sekupang yang bekerja untuk dinas rahasia Federasi Malaya dan memotret wajah sebagian rekannya. Beruntung, wajah Soewarno tak ada di sana.

Tertangkapnya Prajurit Kopaska

Kopaska, Pasukan Katak TNI AL
Kopaska, Pasukan Katak TNI AL

Sesampainya di Johor Baru, kontak lokal yang bakal menemui Soewarno tak juga muncul. Berhari-hari ia menunggu dengan hasil nihil. Firasat Soewarno, jangan-jangan misinya sudah terendus pihak lawan. Karena usia visanya tinggal sehari, dini hari Minggu ia nekad ke Kota Tinggi dengan bus antar kota. Lagi-lagi razia polisi Federasi Malaya tak mampu menjeratnya.

Dengan berjalan kaki Soewarno bergerak menuju Gunung Muntaha. Di sekitar hutan kecil di kaki gunung, telah menunggu sekitar 40 orang prajurit Kopaska berpakaian sipil dan bersenjata senapan otomatis Thompson. Para pasukan katak ini sebelumnya menempuh jalan sendiri sendiri dan dengan samaran yang berbeda beda untuk mencapai Gunung Muntaha Johor baru ini. Tiap orang dapat jatah 500 butir peluru dan 10 kilogram bahan peledak. Rencananya, usai menjalankan misi mereka bakal kembali ke Pulau Batam. Setelah berdoa, ke 40 orang Kopaska segera berpencar dan tinggalah Soewarno di lokasi itu.

Belum sempat beraksi, tiba-tiba satu peleton polisi Federal yang dilengkapi senjata berat mengepungnya. Merasa sia-sia melawan, Soewarno segera angkat tangan. Ia baru sadar, rupanya kontak yang bakal ditemui di Johor Baru bertindak ‘injak dua perahu’ (double agent).

Habis-habisan Soewarno diinterogasi dan digebuki tanpa ampun. Para interogator mencecarnya dengan pertanyaan, “Awak ini siapa ? Apa macam ada di hutan ? Siapa tokemu di sini ?” Pertanyaan ini terns menerus diulangi seraya diimbuhi aneka siksaan fisik mendarat di sekujur tubuh.

Saat ditelepon polisi, Soen Gwan yang merupakan aset lokal binaan BPI, buru-buru menengok Soewarno di tahanan polisi Kota Tinggi. Dengan susah payah cukong itu akhirnya berhasil menebus Soewarno senilai 500 dollar AS. Saat mau beranjak pergi, tanpa sengaja Soewarno dan Soen Gwan berpapasan dengan Prijatna yang juga kena ringkus. Polisi Federal yang jeli segera memancing dengan pertanyaan, apakah Prijatna kenal Soewarno. Celakanya Prijatna yang rupanya juga baru usai disiksa, keceplosan dan mengaku kenal dengan ‘Jimus bin Usman’.

BACA JUGA :  Mengenal Mitsubishi T-2, Pesawat Jet Tempur Latih Buatan Jepang

Kontan keduanya kembali digiring masuk sel. Upaya Soen Gwan untuk kembali menebus Soewarno sia-sia belaka. Soewarno dan Prijatna ditempatkan dalam dua sel terpisah. Saat sepi, Soewarno habis-habisan memaki Prijatna tanpa peduli pangkatnya lebih tinggi. Pasalnya, gara-gara Prijatna ia terpaksa kembali mendekam dalam sel.

Sementara itu, di Sekupang beredar berita Soewarno dan Prijatna telah gagal
menunaikan misi dan karena itu kedua anggota pasukan katak ini dianggap tewas. Karena misinya terbilang rahasia dalam suatu perang yang tak pernah diumumkan (undeclaiated war), keduanya tak mungkin berharap bisa diperlakukan layaknya tawanan perang (POW) yang berhak diperlakukan sesuai Konvensi Jenewa. Boro-boro fasilitas yang memadai, yang mereka telan tiap hari hanya siksaan demi siksaan tanpa henti. Pelecehan pun tak urung mereka derita. Mulai dari ditelanjangi hingga disuruh duduk di kursi rotan dengan kedua tangan terikat ke paha kiri. Statusnya disamakan dengan kriminal, bukan tawanan perang. Tampaknya identitasnya sebagai prajurit Kopaska tidak terbongkar.

Dua hari kemudian, mereka dikirim ke kantor cabang dinas rahasia Federal di Johor Baru. Pengawalan mobil penjara yang membawa keduanya sangat minim. Saat melewati jembatan tinggi di atas sebuah sungai, bahkan sempat terpikir oleh Soewarno untuk kabur dengan meloncat ke sungai. Tapi niat itu batal demi melihat kondisi Prijatna yang kepayahan akibat kehilangan banyak darah. Pasti tidak akan selamat.

Setibanya di tempat tujuan, mereka kembali disuguhi aneka menu interogasi. Mulai dari yang lembut dan penuh tipu daya hingga yang penuh siksa. Setelah sembilan hari terus menerus disiksa tanpa diberi kesempatan memejamkan mata barang sedikit pun, Soewarno diajukan ke depan meja hijau. Beruntung tuduhannya ringan, hanya sebagai penyelundup komoditi alam. Vonisnya tiga bulan penjara yang praktis hanya dilakoninya selama dua bulan karena dikorting berkat kelakuan baiknya di dalam penjara, sesuai hukum setempat.

Pada awal tahun 1964, Soewarno akhirnya bebas dari penjara dan dapat menghirup udara bebas. Setelah melewati proses kepulangan yang tak kalah berliku, prajurit Kopaska yang mengakhiri masa baktinya di TNI AL dengan pangkat pembantu letnan satu (peltu) ini dapat kembali ke basisnya di pulau Sekupang.

Belakangan, Soewarno baru tahu bahwa sebenamya sehari sebelum ia tertangkap, ada personel Brimob utusan khusus Bung Kamo yang membawa perintah pembatalan misi. Kabar ini rupanya tak bisa sampai ke lapangan karena kurir kesulitan bertemu para pasukan katak pelaksana misi.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

SMX-31, kapal selam masa depan Prancis

SMX-31, kapal selam masa depan Prancis- Hobbymiliter.com. SMX-31 adalah suatu konsep kapal selam masa depan dari negeri Baguette. Konsep ini adalah unik karena memperkenalkan...

STRIL, Sistem koordinasi & datalink AU Swedia

Sejarah STRIL, Sistem Koordinasi & datalink AU Swedia- Hobbymiliter.com.  Bahwa Swedia terkenal sebagai salah satu negara di semenanjung Skandinavia yang bersifat independen atau dalam...

Bagaimana drone menaklukkan pertahanan udara ?

Bagaimana drone menaklukkan pertahanan udara ?- Hobbymiliter.com. Bidang Pertahanan udara dewasa ini memiliki sebuah pertanyaan,  utamanya setelah perang Suriah, Libya, serangan drone AS di...

Barbel Class, kapal selam diesel terakhir AS

Barbel Class, kapal selam diesel terakhir AS- hobbymiliter.com. Bahwa dewasa ini kita mengenal Angkatan laut AS utamanya dari armada kapal selam nuklirnya. Nama-nama seperti...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua