Kisah Aksi Sabotase Prajurit Kopaska TNI AL di Johor Malaysia

    Kisah Prajurit Komando Pasukan Katak di Era Dwikora

    0
    61933

    Kontan keduanya kembali digiring masuk sel. Upaya Soen Gwan untuk kembali menebus Soewarno sia-sia belaka. Soewarno dan Prijatna ditempatkan dalam dua sel terpisah. Saat sepi, Soewarno habis-habisan memaki Prijatna tanpa peduli pangkatnya lebih tinggi. Pasalnya, gara-gara Prijatna ia terpaksa kembali mendekam dalam sel.

    Sementara itu, di Sekupang beredar berita Soewarno dan Prijatna telah gagal
    menunaikan misi dan karena itu kedua anggota pasukan katak ini dianggap tewas. Karena misinya terbilang rahasia dalam suatu perang yang tak pernah diumumkan (undeclaiated war), keduanya tak mungkin berharap bisa diperlakukan layaknya tawanan perang (POW) yang berhak diperlakukan sesuai Konvensi Jenewa. Boro-boro fasilitas yang memadai, yang mereka telan tiap hari hanya siksaan demi siksaan tanpa henti. Pelecehan pun tak urung mereka derita. Mulai dari ditelanjangi hingga disuruh duduk di kursi rotan dengan kedua tangan terikat ke paha kiri. Statusnya disamakan dengan kriminal, bukan tawanan perang. Tampaknya identitasnya sebagai prajurit Kopaska tidak terbongkar.

    BACA JUGA :  TNI AL Kini Punya Kapal Hidro Oseanografi Tercanggih di Asia

    Dua hari kemudian, mereka dikirim ke kantor cabang dinas rahasia Federal di Johor Baru. Pengawalan mobil penjara yang membawa keduanya sangat minim. Saat melewati jembatan tinggi di atas sebuah sungai, bahkan sempat terpikir oleh Soewarno untuk kabur dengan meloncat ke sungai. Tapi niat itu batal demi melihat kondisi Prijatna yang kepayahan akibat kehilangan banyak darah. Pasti tidak akan selamat.

    Setibanya di tempat tujuan, mereka kembali disuguhi aneka menu interogasi. Mulai dari yang lembut dan penuh tipu daya hingga yang penuh siksa. Setelah sembilan hari terus menerus disiksa tanpa diberi kesempatan memejamkan mata barang sedikit pun, Soewarno diajukan ke depan meja hijau. Beruntung tuduhannya ringan, hanya sebagai penyelundup komoditi alam. Vonisnya tiga bulan penjara yang praktis hanya dilakoninya selama dua bulan karena dikorting berkat kelakuan baiknya di dalam penjara, sesuai hukum setempat.

    BACA JUGA :  2017, Tiongkok Jual Roket Cepat Tanggap Kuaizhou Generasi Baru Secara Komersial

    Pada awal tahun 1964, Soewarno akhirnya bebas dari penjara dan dapat menghirup udara bebas. Setelah melewati proses kepulangan yang tak kalah berliku, prajurit Kopaska yang mengakhiri masa baktinya di TNI AL dengan pangkat pembantu letnan satu (peltu) ini dapat kembali ke basisnya di pulau Sekupang.

    Belakangan, Soewarno baru tahu bahwa sebenamya sehari sebelum ia tertangkap, ada personel Brimob utusan khusus Bung Kamo yang membawa perintah pembatalan misi. Kabar ini rupanya tak bisa sampai ke lapangan karena kurir kesulitan bertemu para pasukan katak pelaksana misi.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here