Aerostar TUAV: Sang Pengintai Andalan TNI AU

0
3728
aerostar UAV 2

HobbyMiliter.com – Aerostar TUAV: Sang Pengintai Andalan TNI AU. Sudah sejak 2012 yang lalu desas-desus pengadaan drone buatan Israel mulai marak dibicarakan masyarakat, kabarnya Indonesia akan mendatangkan 4 unit Heron yang memiliki keunggulan MALE (medium altitude long endurance), tapi hingga saat ini tak Heron menampakkan wujudnya di langit Indonesia. Beberapa pendapat mengemukakan kalau Heron masih kurang pas untuk kondisi Indonesia, hal ini dikarenakan ukuran drone yang diperkirakan terlalu besar.

aerostar UAV 1

Disamping Heron, ada beberapa jenis drone yang dikabarkan juga akan masuk ke Indonesia, salah satunya Searcher MK II dan Aerostar yang digembar-gemborkan telah didatangkan untuk BAIS di tahun 2012 yang lalu. Tapi hingga saat ini hanya Aerostar produksi Aeronautics Defense Systems yang sudah menampakkan wujudnya di depan publik, disandingkan dengan UAV Wulung buatan BPPT dan PT Dirgantara Indonesia untuk Skadron Udara 51 di Lanud Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat. Dikarenakan antara Indonesia dan Israel tak memiliki hubungan dagang dan diplolamatis, maka pembelian Aerostar dilakukan melalui perantara Philippine Kital Corp.

BACA JUGA :  TINGKATKAN KERJASAMA, MARINIR INDONESIA – AMERIKA GELAR LATIHAN BERSAMA PLATOON EXCHANGE

Profil Aerostar TUAV

Oleh perancangnya, drone buatan Israel (namun dibeli “lewat” Filipina) ini diklaim menyandang TUAV (Tactitcal Unmanned Aerial Vehicle). Artinya dia mampu melakukan identitas taktis berdasarkan fungsinya sebagai eksekutor dari peran mata-mata, pengintaian udara, serta identifikasi target. Berbekal dengan kehebatan MALE, drone ini mampu melakukan pengintaian serta memata-matai secara terus-menerus dengan jangkauan yang luas dan dalam waktu yang cukup lama.

aerostar UAV 3

Sistem kontrolnya sama seperti drone Wulung, pengendalian Aerostar berasal dari GCS (Ground Control Station), teknisnya bisa menggunakan remote berkemampuan LoS (Line of Sight) sampai jarak 200 km, juga bisa menggunakan mode otomatis dengan mengandalkan waypoint GPS. Pengoperasian jarak jauh biasa menggunakan sistem data link yang berasal dari satelit. Untuk fasilitas komunikasi antara drone dengan GCS digunakan directional antenna serta multi-channel data link system buatan Commtact.

BACA JUGA :  Ranjau Anti Heli : Mimpi Buruk Para Infiltran

Pertama kali Aerostar digunakan secara komersial di tahun 2000, yaitu digunakan oleh Kepolisian Israel untuk memantau lalu lintas, deteksi kriminalitas hingga operasi pencarian orang hilang. Aerostar diklaim mampu digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer. Walaupun tak dilengkapi dengan senjata, drone ini biasa digunakan untuk artillery fire adjustment, target designation, serta pemantau daerah perbatasan. Untuk kemampuan terbangnya sudah cukup teruji, Aerostar mengusung mesin propeller yang mampu bekerja di segala cuaca, baik siang maupun malam.

aerostar UAV 4

Aerostar juga bisa dilengkapi dengan radar jenis Synthetic Aperture Radar (SAR), signal intelligence (SIGINT) hingga communication intelligence (COMINT). Aerostar juga dilengkapi dengan mesin tunggal Zanzottera 498i two-stroke boxer bertenaga 28kW. Mesin juga menggunakan electronic fuel injection untuk mengendalikan kerja mesin pada ketinggian dan perubahan suhu, yang bertujuan agar drone mampu terbang dalam waktu yang lama. Teorinya Aerostar mampu terbang non-stop hingga 12 jam pada ketinggian 18.000 kaki (sekitar 5.486 meter).

BACA JUGA :  KRI Nagapasa Akan Dilengkapi Sistem Penghalau Torpedo ZOKA Buatan Turki

Selain Indonesia dan Israel, Aerostar juga digunakan oleh beberapa Negara seperti Rusia, Nigeria, dan Polandia. Di Asia Tenggara, selain Indonesia, Thailand juga dikabarkan memiliki Aerostar. Dengan dimensinya yang ramping, Aerostar juga memiliki mobilitas yang cukup tinggi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here