Thursday, May 19, 2022
HomeMiliterKisah MiliterOPERATION GIFT, Pembalasan Israel Atas Serangan Pada Maskapainya

OPERATION GIFT, Pembalasan Israel Atas Serangan Pada Maskapainya

OPERATION GIFT, Pembalasan Israel Atas Serangan Pada Maskapainya – HobbyMiliter – Siapa pun tahu Timur Tengah seperti ditakdirkan sebagai daerah “panas”. Saban hari hampir selalu ada bibit konflik meletup. Tidak hanya terjadi dalam hubungan antarnegara di sana, tetapi kadang muncul juga di antara faksi dari sebuah organisasi. Kemarahan Israel pada 1968 dalam kisah ini seperti ditulis dalam The Elite karya Samuel M. Katz (1992) adalah contoh betapa rentannya hubungan seperti itu di sana.

Peristiwa tersebut persisnya dipicu kasus lainnya, pembajakan pesawat El Al yang terjadi pada 22 Juli 1968. Tiga orang anggota kelompok garis keras yang bermarkas di Timur Tengah tiba-tiba mengacungkan senjata dalam kabin pesawat milik perusahaan penerbangan Israel itu tak lama setelah bertolak dari Bandara Fiumicino, Roma, Italia. Aksi ini bikin heboh Israel karena baru pertama kali terjadi pada mereka. Teror dalam penerbangan menuju Bandara Lod (sekarang bandara Ben Gurion), Tel Aviv, Israel ini berbuntut panjang.

BACA JUGA :  Sistem Rudal S-400 Rusia Ditempatkan di Krimea, Wilayah Ukraina Terancam

Setelah membunuh pilot, para pembajak – salah seorang diantaranya mantan pilot Gulf Air — mengalihkan pesawat berisi 39 orang ini ke Bandara Dar El Baida, Aljazair. Hampir seluruh penumpang dibebaskan kecuali delapan pria Israel yang diserahkan kepada intel Aljazair untuk diinterograsi. Organisasi tersebut hendak menjadikan para sandera sebagai komoditi barter dengan anggota kelompoknya yang ditahan penguasa Israel.

Saat Israel tengah kebingungan menentukan cara penyelesaian yang paling efektif untuk kasus seperti ini, mereka kembali beraksi terhadap pesawat El Al lain, tapi cara dan lokasinya berbeda. Empat bulan kemudian (26/11/68), sebuah pesawat El Al yang hendak tinggal landas dari Bandara Athena (Yunani) mendadak ditembaki dan dilempari granat.

Pesawat terbakar, seorang teknisi El Al tewas, seorang pramugari luka parah, dan sejumlah penumpang luka ringan. Pelaku dapat dibekuk, tapi pihak Yunani terpaksa melepaskan beberapa bulan kemudian setelah pesawatnya juga “dikerjai”. Si pelaku ini sempat bisa menyembunyikan masa lalunya dan meraih kewarganegaraan Canada, sebelum akhirnya ekstradisi kembali oleh pihak Canada di tahun 2013 ke Lebanon.

BACA JUGA :  Amerika Serikat Setujui Paket Bantuan Militer 500 Triliun Kepada Israel

Israel sebenarnya sempat berencana melancarkan operasi komando guna membebaskan warganya yang tengah disekap pada pembajakan pertama di Algeria. Namun karena risikonya terlampau besar, operasi dengan sandi Operation Gift (Mivtza Tshura) ini terpaksa dibatalkan. Rencana kemudian beralih ke aksi pembajakan balasan terhadap sejumlah pesawat milik perusahaan penerbangan negara-negara pendukung organisasi tersebut yang kebetulan sedang berada di Bandara Internasional Beirut, Lebanon.

Para petinggi AB Israel menganggap peluang keberhasilan operasi ini besar, karena selain jaraknya lebih dekat/nilai ekonominya juga lebih tinggi. Israel ingin “menggunakan” pesawat-pesawat tersebut sebagai modal barter dengan pihak pembajak.

BACA JUGA :  Hanggar Baru Skadron Udara 16 TNI AU
Rafael Eitan, Komandan pasukan Israel pada Operation Gift
Rafael Eitan, Komandan pasukan Israel pada Operation Gift

Belum lagi rencana matang, insiden Athena terjadi. Israel pun kalap. Lewat berbagai pertimbangan, akhimya diputuskan tujuan serbuan ke Bandara Beirut bukan saja untuk merampas. Operation Gift juga digelar untuk menghancurkan pesawat sebanyak-banyaknya dalam tempo sesingkat singkatnya. Operasi berbentuk serangan lintas udara pasukan komando dan bukan aksi pemboman oleh armada jet tempur Israel.

Pasukan Khusus Israel Sayeret Mat’kal

Jauh hari sebelum insiden Roma, dinas intelijen Israel, Mossad, telah menghimpun banyak data perihal situasi bandara di beberapa ibukota negara Arab termasuk Beirut. Nyaris tidak ada kegiatan harian bandara yang luput dari pengamatan mereka. Bandara internasional yang terletak di kawasan selatan kota metropolitan Beirut ini hanya berjarak dua kilometer dari pantai Laut Tengah. Sekitar 90 kilometer di selatan bandara terletak kota perbatasan Israel-Lebanon paling utara, Rosh Hanikra.

Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Baca Juga

satelit cover

Proyek Satelit Militer Indonesia

0
HobbyMiliter.com - Proyek Satelit Militer Indonesia. Cukup memprihatinkan jika Indonesia yang memiliki kekuatan militer terbesar di seluruh Asia Tenggara, sampai saat ini belum memiliki...

Recent Comments