Sunday, July 21, 2024
HomeMiliterKisah MiliterOPERATION GIFT, Pembalasan Israel Atas Serangan Pada Maskapainya

OPERATION GIFT, Pembalasan Israel Atas Serangan Pada Maskapainya

OPERATION GIFT, Pembalasan Israel Atas Serangan Pada Maskapainya – HobbyMiliter – Siapa pun tahu Timur Tengah seperti ditakdirkan sebagai daerah “panas”. Saban hari hampir selalu ada bibit konflik meletup. Tidak hanya terjadi dalam hubungan antarnegara di sana, tetapi kadang muncul juga di antara faksi dari sebuah organisasi. Kemarahan Israel pada 1968 dalam kisah ini seperti ditulis dalam The Elite karya Samuel M. Katz (1992) adalah contoh betapa rentannya hubungan seperti itu di sana.

Peristiwa tersebut persisnya dipicu kasus lainnya, pembajakan pesawat El Al yang terjadi pada 22 Juli 1968. Tiga orang anggota kelompok garis keras yang bermarkas di Timur Tengah tiba-tiba mengacungkan senjata dalam kabin pesawat milik perusahaan penerbangan Israel itu tak lama setelah bertolak dari Bandara Fiumicino, Roma, Italia. Aksi ini bikin heboh Israel karena baru pertama kali terjadi pada mereka. Teror dalam penerbangan menuju Bandara Lod (sekarang bandara Ben Gurion), Tel Aviv, Israel ini berbuntut panjang.

Setelah membunuh pilot, para pembajak – salah seorang diantaranya mantan pilot Gulf Air — mengalihkan pesawat berisi 39 orang ini ke Bandara Dar El Baida, Aljazair. Hampir seluruh penumpang dibebaskan kecuali delapan pria Israel yang diserahkan kepada intel Aljazair untuk diinterograsi. Organisasi tersebut hendak menjadikan para sandera sebagai komoditi barter dengan anggota kelompoknya yang ditahan penguasa Israel.

Saat Israel tengah kebingungan menentukan cara penyelesaian yang paling efektif untuk kasus seperti ini, mereka kembali beraksi terhadap pesawat El Al lain, tapi cara dan lokasinya berbeda. Empat bulan kemudian (26/11/68), sebuah pesawat El Al yang hendak tinggal landas dari Bandara Athena (Yunani) mendadak ditembaki dan dilempari granat.

Pesawat terbakar, seorang teknisi El Al tewas, seorang pramugari luka parah, dan sejumlah penumpang luka ringan. Pelaku dapat dibekuk, tapi pihak Yunani terpaksa melepaskan beberapa bulan kemudian setelah pesawatnya juga “dikerjai”. Si pelaku ini sempat bisa menyembunyikan masa lalunya dan meraih kewarganegaraan Canada, sebelum akhirnya ekstradisi kembali oleh pihak Canada di tahun 2013 ke Lebanon.

BACA JUGA :  Beauties of 60's

Israel sebenarnya sempat berencana melancarkan operasi komando guna membebaskan warganya yang tengah disekap pada pembajakan pertama di Algeria. Namun karena risikonya terlampau besar, operasi dengan sandi Operation Gift (Mivtza Tshura) ini terpaksa dibatalkan. Rencana kemudian beralih ke aksi pembajakan balasan terhadap sejumlah pesawat milik perusahaan penerbangan negara-negara pendukung organisasi tersebut yang kebetulan sedang berada di Bandara Internasional Beirut, Lebanon.

Para petinggi AB Israel menganggap peluang keberhasilan operasi ini besar, karena selain jaraknya lebih dekat/nilai ekonominya juga lebih tinggi. Israel ingin “menggunakan” pesawat-pesawat tersebut sebagai modal barter dengan pihak pembajak.

Rafael Eitan, Komandan pasukan Israel pada Operation Gift
Rafael Eitan, Komandan pasukan Israel pada Operation Gift

Belum lagi rencana matang, insiden Athena terjadi. Israel pun kalap. Lewat berbagai pertimbangan, akhimya diputuskan tujuan serbuan ke Bandara Beirut bukan saja untuk merampas. Operation Gift juga digelar untuk menghancurkan pesawat sebanyak-banyaknya dalam tempo sesingkat singkatnya. Operasi berbentuk serangan lintas udara pasukan komando dan bukan aksi pemboman oleh armada jet tempur Israel.

Pasukan Khusus Israel Sayeret Mat’kal

Jauh hari sebelum insiden Roma, dinas intelijen Israel, Mossad, telah menghimpun banyak data perihal situasi bandara di beberapa ibukota negara Arab termasuk Beirut. Nyaris tidak ada kegiatan harian bandara yang luput dari pengamatan mereka. Bandara internasional yang terletak di kawasan selatan kota metropolitan Beirut ini hanya berjarak dua kilometer dari pantai Laut Tengah. Sekitar 90 kilometer di selatan bandara terletak kota perbatasan Israel-Lebanon paling utara, Rosh Hanikra.

Kedua jalur landas pacu bandara Beirut saling bersilangan membentuk formasi gunting memanjang dari utara ke selatan. Di antara kedua ujung sisi baratnya terdapat hangar tempat memperbaiki pesawat yang turun mesin. Markas satuan pemadam kebakaran (PMK) dan unit paramedis lokal yang dikerahkan bila sewaktu-waktu terjadi kecelakaan pesawat berada di selatan terminal penumpang.

BACA JUGA :  Kapal Flotilla Bantuan Untuk Gaza Berlayar Dari Barcelona

Pengamanan kompleks bandara dilakukan 90 orang tenaga satpam bersenjata ringan yang terbagi dalam tiga kelompok gilir kerja. Bila dibutuhkan, sekitar tiga kilometer dari bandara terdapat markas peleton Angkatan Darat Lebanon berkekuatan 28 orang yang dapat disiagakan dalam tempo lima menit. Satuan elit polisi yang bermarkas di tengah kota dapat menjangkau bandara kurang dari setengah jam.

Satuan lapis baja AD Lebanon juga dapat diminta ikut mendukung. Mereka perlu waktu sekitar satu jam untuk mencapai bandara. Mossad juga tahu di dekat bandara ada beberapa kamp pengungsi yang kerap di jadikan pangkalan rekrutmen para pelaku serangan di wilayah Lebanon Selatan.

Dalam serangkaian rapat kabinet pimpinan PM levy Eshkol sempat diperdebatkan soal satuan mana yang bakal diberi kepercayaan melaksanakan operasi. Akhirnya dicapai kata sepakat tugas “pamer kekuatan” ini dibebankan ke pundak Batalyon Intai Tempur Markas Besar AB Israel, Sayeret Mat’kal. Dan operasi dilakukan dua hari setelah kejadian di Athena.

Di jajaran AB Israel, Sayeret Mat’kal dinilai sebagai satuan elit paling handal. Kekuatannya tak sampai 200 orang, namun pengalamannya dalam sejumlah aksi intelijen tempur dan para komando antara tahun 1963 sampai 1968 adalah jaminan khusus. Sebagaimana lazimnya elit Israel, keberadaan baret merah ini sangat dirahasiakan.

Tak banyak menteri kabinet maupun petinggi AB Israel yang tahu seluk beluknya. Hal inilah yang membuat Menteri Pertahanan fenderal Moshe Dayan dan Panglima AB Letjen Chaim Bar Lev was was. Apapun hasil operasi ini, dampaknya pasti sangat luas dan heboh. Identitas dan kegiatan Sayeret Mat’kal bakal terkuak.

Agar keberadaannya tetap tersamar, diputuskan Satuan Intai Tempur Brigade Infantri ke-35 AD (Sayeret Tzaha’nim) ikut dilibatkan mendampingi Mat’kal. Panglima Pasukan Para, Brigjen Rafael “Raful” Eitan dipercaya memimpin operasi dengan Kolonel Chaim Nadel sebagai wakilnya.

BACA JUGA :  Makna Pancasila Sebagai Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia

Dalam gelar operasi ini PM Levy Eshkol cuma berpesan agar jumlah korban -terutama di pihak sipil lokal dan asing -bisa ditekan sekecil mungkin. Hal ini ditekankan agar citra Israel tidak babak belur dicap sebagai algojo tak berotak.

Dalam rencana operasi, Brigjen Eitan membagi Bandara Beirut dalan tiga sektor, yaitu barat, timur dan terminal penumpang. Unit 1 dengan 22 personel Sayeret Mat’kal yang dipimpin komandannya sendiri Letkol Uzi Yairi akan diserahi tugas menghancurkan pesawat di kawasan barat. Unit 2 dengan 20 personel yang dipimpin Wakil Komandan Mat’kal, Mayor Manchem Digli diberi jatah melumat pesawat masih di kawasan barat.

Jika ada serangan mendadak, unit inilah yang harus meredam. Begitu pula dalam proses evakuasi udara, unit ini haras membentuk parimeter pertahanan. Sedang Unit 3 dengan 22 orang anggota kompi B Tzaha’nim yang dipimpin Kapten Gabi Negbi diserahi tugas meledakkan pesawat yang membentang dari sisi utara landas pacu timur, selatan bandara, hingga terminal keberangkatan.

Masing-masing unit dibekali paket-paket bahan peledak. Semuanya diangkut menuju sasaran lewat jalan udara. Agar tiap langkah operasi dapat dikoordinasikan, dibentuk unit komando aju (forward commando group) berkekuatan 12 orang yang dipimpin langsung Brigjen Eitan.

Ada tiga pilihan cara proses evakuasi seluruh anggota pasukan pada akhir misi. Pertama, semua akan dievakuasi dari titik persilangan dua jalur landasan pacu, dengan sandi titik “London”, dan diangkut memakai beberapa heli Super Frelon yang semula dipakai untuk tiba di lokasi. Kedua, seandainya ada heli Super Frelon rusak atau hancur, dua buah pesawat angkut Nord atlas bakal mendarat di salah satu jalur landas pacu dan mengangkut selurah anggota pasukan.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Baca Juga

71-senjata-laser-maut-pentagon

2023, Senjata Laser Maut Pentagon Akan Mulai Beroperasi

0
Hobbymiliter.com - Menurut laporan yang baru-baru ini diterbitkan, US Army akan meluncurkan senjata laser pertama dalam sejarah di tahun 2023 mendatang. Mary J. Miller,...

Recent Comments