Thursday, September 17, 2020
Home Militer Kisah Militer OPERATION GIFT, Pembalasan Israel Atas Serangan Pada Maskapainya

OPERATION GIFT, Pembalasan Israel Atas Serangan Pada Maskapainya

OPERATION GIFT, Pembalasan Israel Atas Serangan Pada Maskapainya – HobbyMiliter – Siapa pun tahu Timur Tengah seperti ditakdirkan sebagai daerah “panas”. Saban hari hampir selalu ada bibit konflik meletup. Tidak hanya terjadi dalam hubungan antarnegara di sana, tetapi kadang muncul juga di antara faksi dari sebuah organisasi. Kemarahan Israel pada 1968 dalam kisah ini seperti ditulis dalam The Elite karya Samuel M. Katz (1992) adalah contoh betapa rentannya hubungan seperti itu di sana.

Peristiwa tersebut persisnya dipicu kasus lainnya, pembajakan pesawat El Al yang terjadi pada 22 Juli 1968. Tiga orang anggota kelompok garis keras yang bermarkas di Timur Tengah tiba-tiba mengacungkan senjata dalam kabin pesawat milik perusahaan penerbangan Israel itu tak lama setelah bertolak dari Bandara Fiumicino, Roma, Italia. Aksi ini bikin heboh Israel karena baru pertama kali terjadi pada mereka. Teror dalam penerbangan menuju Bandara Lod (sekarang bandara Ben Gurion), Tel Aviv, Israel ini berbuntut panjang.

Setelah membunuh pilot, para pembajak – salah seorang diantaranya mantan pilot Gulf Air — mengalihkan pesawat berisi 39 orang ini ke Bandara Dar El Baida, Aljazair. Hampir seluruh penumpang dibebaskan kecuali delapan pria Israel yang diserahkan kepada intel Aljazair untuk diinterograsi. Organisasi tersebut hendak menjadikan para sandera sebagai komoditi barter dengan anggota kelompoknya yang ditahan penguasa Israel.

Saat Israel tengah kebingungan menentukan cara penyelesaian yang paling efektif untuk kasus seperti ini, mereka kembali beraksi terhadap pesawat El Al lain, tapi cara dan lokasinya berbeda. Empat bulan kemudian (26/11/68), sebuah pesawat El Al yang hendak tinggal landas dari Bandara Athena (Yunani) mendadak ditembaki dan dilempari granat.

Pesawat terbakar, seorang teknisi El Al tewas, seorang pramugari luka parah, dan sejumlah penumpang luka ringan. Pelaku dapat dibekuk, tapi pihak Yunani terpaksa melepaskan beberapa bulan kemudian setelah pesawatnya juga “dikerjai”. Si pelaku ini sempat bisa menyembunyikan masa lalunya dan meraih kewarganegaraan Canada, sebelum akhirnya ekstradisi kembali oleh pihak Canada di tahun 2013 ke Lebanon.

Israel sebenarnya sempat berencana melancarkan operasi komando guna membebaskan warganya yang tengah disekap pada pembajakan pertama di Algeria. Namun karena risikonya terlampau besar, operasi dengan sandi Operation Gift (Mivtza Tshura) ini terpaksa dibatalkan. Rencana kemudian beralih ke aksi pembajakan balasan terhadap sejumlah pesawat milik perusahaan penerbangan negara-negara pendukung organisasi tersebut yang kebetulan sedang berada di Bandara Internasional Beirut, Lebanon.

Para petinggi AB Israel menganggap peluang keberhasilan operasi ini besar, karena selain jaraknya lebih dekat/nilai ekonominya juga lebih tinggi. Israel ingin “menggunakan” pesawat-pesawat tersebut sebagai modal barter dengan pihak pembajak.

Rafael Eitan, Komandan pasukan Israel pada Operation Gift
Rafael Eitan, Komandan pasukan Israel pada Operation Gift

Belum lagi rencana matang, insiden Athena terjadi. Israel pun kalap. Lewat berbagai pertimbangan, akhimya diputuskan tujuan serbuan ke Bandara Beirut bukan saja untuk merampas. Operation Gift juga digelar untuk menghancurkan pesawat sebanyak-banyaknya dalam tempo sesingkat singkatnya. Operasi berbentuk serangan lintas udara pasukan komando dan bukan aksi pemboman oleh armada jet tempur Israel.

Pasukan Khusus Israel Sayeret Mat’kal

Jauh hari sebelum insiden Roma, dinas intelijen Israel, Mossad, telah menghimpun banyak data perihal situasi bandara di beberapa ibukota negara Arab termasuk Beirut. Nyaris tidak ada kegiatan harian bandara yang luput dari pengamatan mereka. Bandara internasional yang terletak di kawasan selatan kota metropolitan Beirut ini hanya berjarak dua kilometer dari pantai Laut Tengah. Sekitar 90 kilometer di selatan bandara terletak kota perbatasan Israel-Lebanon paling utara, Rosh Hanikra.

Kedua jalur landas pacu bandara Beirut saling bersilangan membentuk formasi gunting memanjang dari utara ke selatan. Di antara kedua ujung sisi baratnya terdapat hangar tempat memperbaiki pesawat yang turun mesin. Markas satuan pemadam kebakaran (PMK) dan unit paramedis lokal yang dikerahkan bila sewaktu-waktu terjadi kecelakaan pesawat berada di selatan terminal penumpang.

Pengamanan kompleks bandara dilakukan 90 orang tenaga satpam bersenjata ringan yang terbagi dalam tiga kelompok gilir kerja. Bila dibutuhkan, sekitar tiga kilometer dari bandara terdapat markas peleton Angkatan Darat Lebanon berkekuatan 28 orang yang dapat disiagakan dalam tempo lima menit. Satuan elit polisi yang bermarkas di tengah kota dapat menjangkau bandara kurang dari setengah jam.

Satuan lapis baja AD Lebanon juga dapat diminta ikut mendukung. Mereka perlu waktu sekitar satu jam untuk mencapai bandara. Mossad juga tahu di dekat bandara ada beberapa kamp pengungsi yang kerap di jadikan pangkalan rekrutmen para pelaku serangan di wilayah Lebanon Selatan.

Dalam serangkaian rapat kabinet pimpinan PM levy Eshkol sempat diperdebatkan soal satuan mana yang bakal diberi kepercayaan melaksanakan operasi. Akhirnya dicapai kata sepakat tugas “pamer kekuatan” ini dibebankan ke pundak Batalyon Intai Tempur Markas Besar AB Israel, Sayeret Mat’kal. Dan operasi dilakukan dua hari setelah kejadian di Athena.

Di jajaran AB Israel, Sayeret Mat’kal dinilai sebagai satuan elit paling handal. Kekuatannya tak sampai 200 orang, namun pengalamannya dalam sejumlah aksi intelijen tempur dan para komando antara tahun 1963 sampai 1968 adalah jaminan khusus. Sebagaimana lazimnya elit Israel, keberadaan baret merah ini sangat dirahasiakan.

BACA JUGA :  Profil Kopaska TNI AL, Pasukan Katak Andalan Indonesia

Tak banyak menteri kabinet maupun petinggi AB Israel yang tahu seluk beluknya. Hal inilah yang membuat Menteri Pertahanan fenderal Moshe Dayan dan Panglima AB Letjen Chaim Bar Lev was was. Apapun hasil operasi ini, dampaknya pasti sangat luas dan heboh. Identitas dan kegiatan Sayeret Mat’kal bakal terkuak.

Agar keberadaannya tetap tersamar, diputuskan Satuan Intai Tempur Brigade Infantri ke-35 AD (Sayeret Tzaha’nim) ikut dilibatkan mendampingi Mat’kal. Panglima Pasukan Para, Brigjen Rafael “Raful” Eitan dipercaya memimpin operasi dengan Kolonel Chaim Nadel sebagai wakilnya.

Dalam gelar operasi ini PM Levy Eshkol cuma berpesan agar jumlah korban -terutama di pihak sipil lokal dan asing -bisa ditekan sekecil mungkin. Hal ini ditekankan agar citra Israel tidak babak belur dicap sebagai algojo tak berotak.

Dalam rencana operasi, Brigjen Eitan membagi Bandara Beirut dalan tiga sektor, yaitu barat, timur dan terminal penumpang. Unit 1 dengan 22 personel Sayeret Mat’kal yang dipimpin komandannya sendiri Letkol Uzi Yairi akan diserahi tugas menghancurkan pesawat di kawasan barat. Unit 2 dengan 20 personel yang dipimpin Wakil Komandan Mat’kal, Mayor Manchem Digli diberi jatah melumat pesawat masih di kawasan barat.

Jika ada serangan mendadak, unit inilah yang harus meredam. Begitu pula dalam proses evakuasi udara, unit ini haras membentuk parimeter pertahanan. Sedang Unit 3 dengan 22 orang anggota kompi B Tzaha’nim yang dipimpin Kapten Gabi Negbi diserahi tugas meledakkan pesawat yang membentang dari sisi utara landas pacu timur, selatan bandara, hingga terminal keberangkatan.

Masing-masing unit dibekali paket-paket bahan peledak. Semuanya diangkut menuju sasaran lewat jalan udara. Agar tiap langkah operasi dapat dikoordinasikan, dibentuk unit komando aju (forward commando group) berkekuatan 12 orang yang dipimpin langsung Brigjen Eitan.

Ada tiga pilihan cara proses evakuasi seluruh anggota pasukan pada akhir misi. Pertama, semua akan dievakuasi dari titik persilangan dua jalur landasan pacu, dengan sandi titik “London”, dan diangkut memakai beberapa heli Super Frelon yang semula dipakai untuk tiba di lokasi. Kedua, seandainya ada heli Super Frelon rusak atau hancur, dua buah pesawat angkut Nord atlas bakal mendarat di salah satu jalur landas pacu dan mengangkut selurah anggota pasukan.

Super Frelon, Helikopter buatan Perancis yang digunakan pada Operation Gift
Super Frelon, Helikopter buatan Perancis yang digunakan pada Operation Gift

Ketiga, apabila terjadi kegawatan di luar perhitungan semula, cara terakhir yang akan ditempuh adalah menempuh jalan darat menuju titik temu di pantai Beirut – dengan sandi pantai “Roma” — selanjutnya dievakuasi lewat laut di bawah pengawalan satuan komando AL.

Operasi Gabungan Tiga Angkatan

Operation Gift sangat berarti bagi AB Israel. Itu sebabnya pihak AU dan AL juga turut mendukung pelaksanaan operasi. AU Israel (H’yael Ha’Avir) menyediakan delapan buah heli SA-341K Super Frelon buatan Perancis sebagai sarana angkut utama. Dua diantaranya sebagai cadangan.

Komandan skadron heli AU, Letkol Eliezer “Cheetah” Cohen juga menggelar delapan buah heli Bell 205 yang dimodifikasi bersenjata buatan AS (satu diantaranya sebagai cadangan). Lima unit untuk mengamankan proses evakuasi (jika armada Super Frelon diserang). Satu unit akan dijadikan pos komando aju tempat Brigjen Eitan bermarkas. Sedang satu lagi untuk mengangkut perangkat transmisi komunikasi.

Letkol Cohen akan berada di salah satu Bell 205 didampingi perwira pasukan para, mekanik udara, dan tenaga paramedis. Bersama satu buah Bell 205 lainnya, Letkol Cohen juga kebagian “jatah” memblokade jalan-jalan menuju kawasan utara dan timur bandara mencegah datangnya bala bantuan AD Lebanon.

Selain Super Frelon dan Bell 205, AU Israel juga mengerahkan lima buah pesawat transpor jenis N-2501-IS Nord atlas (satu diantaranya sebagai cadangan) yang akan terbang berputar di atas Beirut. Dua Nord atlas bertugas menebar granat tabir asap di kawasan pemukiman sekitar bandara sekaligus mengangkut perangkat transmisi komunikasi.

Agar setiap saat Brigjen Eitan dapat berkomunikasi dengan Jendral Dayan, dua buah Boeing 707 berisi alat telekomunikasi canggih bersiaga di atas pesisir pantai Lebanon dikawal armada dua pesawat tempur terdiri dua A4 Skyhawk, empat Vatour III, dan setengah lusin Mirage IIIC.

Pihak AU ingin berjaga-jaga seandainya tiba-tiba muncul serangan AU Lebanon atau Suriah. Dimasa ini, israel belum punya pesawat Tempur buatan Amerika canggih karena baru saja bebas dari embarogo militer yang dijatuhkan Amerika sejak 1948, nyaris 20 tahun lamanya.

Seolah tak ingin ketinggalan, pihak AL (H’yael Ha’Yamin) bakal mengerahkan dua kapal patroli kelas Sa’ar yang dilengkapi peluru kendali Gabriel dan 13 perahu karet Zodiac plus satu peleton pasukan komando AL. Setelah menempuh pelayaran 3,5 jam tanpa henti, gugus tugas komando AL ini akan bersiaga di suatu tempat antara Tirus dan Sidon sekitar enam mil laut dari pantai “Roma” tepat pada jam “J” saat pelaksanaan operasi di darat. Kedua kapal patrolinya akan berlabuh sekitar 12 mil laut lepas pantai Beirut karena berada di luar jangkauan radar Lebanon. (Dalam prakteknya hanya satu kapal yang beraksi karena yang lain mesinnya ngadat).

Dalam rapat konsolidasi terakhir yang dihadiri seluruh anggota pasukan pelaksana kembali ditekankan bahwa sasaran hanyalah pesawat-pesawat dari negara pendukung organisasi. Pesawat lain tak boleh disentuh sedikit pun agar tidak berdampak timbulnya kecaman dunia intemasional.

BACA JUGA :  Israel Terima Unit Kapal Selam Jerman Kelima, Netanyahu Sesumbar

Tiap pesawat akan dihancurkan dengan memasang dua paket bahan peledak pada roda pendarat. Satu di bawah hidung sementara lainnya di salah satu sayap. Ledakan diharapkan dapat melumpuhkan sekaligus membakar pesawat. Meskipun tiap pesawat bakal diledakkan terpisah, tapi bisa saja dipakai rangkaian paket bahan peledak dengan satu tombol bahan peledak guna melumatkan beberapa pesawat sekaligus.

Para anggota pasukan bebas memilih cara peledakan tergantung situasi dan kondisi di lapangan. Operasi diperhitungkan makan waktu sekitar 30 menit terhitung sejak heli Super Frelon pertama mendarat hingga heli terakhir angkat kaki dari lokasi.

Peta situasi Operation Gift
Peta situasi Operation Gift

Hari “H” ditetapkan Sabtu, 28 Desember 1968. Jam “J” semula direncanakan malam hari pukul 22.00 waktu Beirut, dan kemudian diusulkan dipercepat 45 menit. Alasannya, sekitar jam itu jumlah pesawat di bandara jauh lebih banyak dibandingkan pukul 22.00. Sehingga diharapkan hasilnya lebih maksimal.

Tanpa banyak tanya PM Israel segera menyetujui pelaksanaan operasi ii setelah Letjen Bar Lev memaparkan dengan rinci langkah-langkah yang bakal dilakukan sambil dibekali segudang data yang tersaji pada foto-foto hasil pemotretan udara terhadap sasaran.

Target Utama Operation Gift: Bandara Beirut Lebanon

Menjelang hari “H” Letjen Bar Lev terpaksa menolak ususlan pihak AU mengadakan pemotretan udara untuk memperoleh data situasi terakhir sasaran. Ia kuatir puhak Lebanon curiga sehingga unsur pendadakan operasi hilang. Akibat pilihan tersebut Brigjen Eitan dan anak buahnya terpaksa mengandalkan data yang terkumpul sebulan sebelumnya.

Agar anak buahnya tidak salah sasaran, selain mewajibkan seluruh pasukan untuk menghapalkannya, Brigjen Eitan juga membekali anak buahnya dengan kartu kecil bergambar sejumlah logo perusahaan penerbangan yang diincar. Eitan beralasan, dalam situasi tegang dan kacau akibat dikejar waktu yang sempit, anak buahnya bisa saja melakukan “kekhilafan” yang berakibat fatal bagi negaranya. Sedapat mungkin hal ini harus dicegah.

Gladi resik operasi dilakukan pada hari “H” sejak pagi hingga petang tanpa hanti bertempat di Bandara Lod yang saat ini dinamakan Ben Gurion. Banyak pihak menentang pilihan lokasi ini karena kuatir rahasia operation Gift bakal bocor ke masyarakat sebelum waktunya. Namun Brigjen Eitan tetap berkeras dengan pilihannya. Ia beralasan cara ini lebih praktis dan dapat disamarkan seolah kegiatan latihan anti terror rutin. Usai mandi keringat selama 10 jam, saat matahari terbenam seluruh anggota pasukan diistirahatkan dengan Brigjen Eitan segera melaporkan kesiapan pasukannya kepada Letjen Bar Lev.

Kondisi bandara Beirut saat ini.
Kondisi bandara Beirut saat ini.

Tepat pukul 20.00 Brigjen Eitan melakukan inspeksi terakhir menjelang keberangkatan. Seluruh anggota pasukan berseragam tempur lengkap dengan baret merahnya. Mereka menenteng senapan serbu buatan Soviet AK-47 kaliber 7,62 mm dan menggendong ransel hijau penuh bahan bakar. AK-47 dipilih karena jarak tembak efektifnya lebih baik dibanding pistol mitraliur Uzi kaliber 9 mm.

Tetapi bentuknya lebih ringkas dibandingkan senapan baku AB Israel kala itu, FN FAL kaliber 7,62 mm buatan Belgia. Plus, pasukan lawan juga mempergunakannya, sehingga jika harus tertahan, bisa menggunakan magazine dan amunisi dari pihak lawan.

Selain mengucapkan selamat jalan, Brigjen Eitan juga berujar, “Selalu pakai otakmu dan jaga diri baik-baik. Aku tak mau menyanyikan Radish untuk kalian!” Radish adalah lagu pengiring upacara kematian orang Yahudi.

Seluruh armada heli mulai bergerak meninggalkan Lanud Ramat David di kawasan Israel utara pukul 20.37. Suasana malam yang pekat mendadak riuh oleh suara mesin dan rotor heli. Penerbangan dari Ramat David ke Beirut bakal makan waktu 45 menit untuk Super Frelon dan 53 menit untuk Bell 205.

Konvoi ini langsung memotong jalur konvensional melewati Lembah Fazreel dan Lembah Zevulun untuk sesaat berkonsolidasi pada titik berjarak 12 km sebelah barat Rosh-Hanikra. Kemudian langsung tancap gas mencapai ketinggian terbang maksimum untuk tidak mengundang perhatian penduduk sepanjang rute perjalanan.

Iring-iringan heli selanjutnya berbelok tajam ke arah timur laut menyusuri tepi pantai agar irit bahan bakar meskipun risikonya tertangkap radar AU Lebanon. Saat mendekati kawasan bandara yang gemerlap disiram cahaya lampu kota Beirut, seluruh heli menurunkan ketinggiannya hingga kurang dari 100 m. Akibatnya pandangan para pilot agar terhalang kabut musim dingin dari Laut Tengah.

Foto api berkobar kobar di Bandara Beirut hasil operation Gift
Foto api berkobar kobar di Bandara Beirut hasil operation Gift

Tepat pukul 21.28, heli berhasil menurunkan pasukan dan ketiga unit pelaksana utama operasi berhasil menjejakkan kaki di landas pacu tanpa kepergok tuan rumah. Tiga puluh dua orang segera berlarian menuju sasaran masing-masing dan mengidentifikasi calon korbannya sebanyak mungkin. Sementara itu pasukan pelindungnya langsung mengambil posisi siap tembak.

Lima menit kemudian giliran helikopter Brigjen Eitan tiba di lokasi sasaran. Operation Gift dimulai!

29 menit 14 Pesawat Hancur Tanpa Kerugian di Pihak Sendiri

Sebagai satuan yang pertama kali mendarat, Unit 2 lebih dulu terlibat kontak senjata dengan pihak Lebanon. Meskipun di sebuah lapangan terbuka sebelah selatan bandara rentetan tembakan menyalak dari berbagai sisi, Unit 2 dapat membungkam dalam tempo singkat. Selagi rekan-rekannya memberi tembakan perlindungan, regu penghancur unit 2 bergegas ke utara melintasi bangunan tempat unit PMK menuju sasaran jatahnya.

BACA JUGA :  PTDI Indonesia Kembangkan Pesawat N245 dan R80

Di bawah cahaya terang benderang tampak empat buah pesawat nongkrong di sana. Masing-masing dapat jatah lima kilogram bahak peledak. Tanpa banyak kesulitan dua pesawat berhasil diledakkan. Ketika pesawat ketiga akan diledakkan, mendadak ada tembakan dari arah terminal penumpang. Namun serangan ini toh tak bisa menyelamatkan pesawat tersebut. Selanjutnya, tersisa satu pesawat yang akhimya tak disentuh karena identitasnya tak jelas.

Usai menjalankan misi, Unit 2 segera bergerak ke titik “London” ditengah tengah bandara. Ratusan calon penumpang yang ada di terminal terheran-heran melihat begitu banyak pasukan baret merah Israel berlarian ke sana ke mari disertai kilatan api tembakan AK-47. Mendadak terdengar gelegar mengagetkan disertai semburan api ke udara. Dalam hitungan detik, landas pacu sebelah utara diterangi jilatan api warna warni yang membumbung ke angkasa.

Letkol Yairi bersama anak buahnya yang mendarat di kawasan utara landas pacu sebelah barat menemukan 11 pesawat yang terbagi dalam tiga kelompok. Kebetulan lokasinya dekat komplek AD Lebanon yang saat kedatangan Unit 2 lampunya mendadak dimatikan.

Satu regu kecil tentara Lebanon yang menumpang sebuah minibus sempat memberikan perlawanan, namun anak buah Yairi terlampau kuat buat mereka. Dari ketiga kelompok pesawat tadi, salah satunya terdiri dari lima buah pesawat, sementara dua lainnya masing-masing terdiri tiga pesawat. Di lokasi ini Unit 1 menghancurkan 10 pesawat, tiga diantaranya diledakkan secara bersamaan karena letaknya saling berdekatan. Pesawat ke-11 sengaja dibiarkan karena hanya seonggok pesawat C-47 rongsokan.

Kesulitan sempat timbul manakala ada tiga orang awak pesawat Middle Eastern Airlines ngotot tak mau meninggalkan pesawatnya yang telah dipasangi bahan peledak. Ketiganya baru menyerah setelah diancam bakal ditembak di tempat. Karena tempat beraksinya tak jauh dari titik “London”, meski telah rampung Unit 1 tak beranjak dari kedudukannya. Mereka hanya bersiaga menunggu tibanya saat evakuasi.

Sesampainya di titik yang ditentukan, Unit 3 segera bergerak menuju jatahnya yang ada di kawasan selatan sepanjang landas pacu timur. Seluruhnya ada empat pesawat. Satu di dalam hanggar sedang lainnya dekat pintu hanggar. Semula keempat pesawat akan segera diledakkan bersamaan memakai rangkaian paket bahan peledak, namun niat ini tiba-tiba diurungkan. Ada puluhan pekerja dalam hanggar yang jika pesawat diledakkan, jiwa mereka akan terancam.

Foto rongsokan pesawat yang diledakkan oleh Sayeret Mat'kal pada Operation Gift
Foto rongsokan pesawat yang diledakkan oleh Sayeret Mat’kal pada Operation Gift

Beberapa anggota Unit 3 sempat berteriak dalam bahasa Inggris dan Arab menyuruh mereka keluar. Namun, para pekerja itu justru panik dan ramai-ramai berkumpul di satu ruangan sambil mengunci pintu. Kapten Negbi yang habis kesabarannya segera memerintahkan peledakan dimulai.

Tetapi entah kenapa ledakan itu tak terjadi. Para pekerja tadi lalu bersorak gembira. Mengapa? Seandainya sampai terjadi ledakan ratusan orang yang ada di bandara – termasuk pasukan Israel — bakal terpanggang hidup-hidup karena temyata salah satu pesawat tangki bahan bakarya baru diisi penuh dan tak lama lagi bakal tinggal landas.

Unit 3 akhimya ditarik mundur menjauhi hanggar menuju ke arah selatan. Kapten Negbi sempat minta izin Brigjen Eitan untuk meledakkan pompa bensin yang ada di timur belakang terminal penumpang tapi ditolak. Unit 3 sebaliknya diperintahkan bergegas menuju titik “London”.

Tak mau kalah dengan koleganya di darat, Letkol Cohen dan rekannya beraksi di udara. Dalam dua kali melintas, mereka menebar 95 buah granat asap dan 20 granat pijar. Akibatnya terjadi kabut asap buatan di seluruh ruas jalan menuju bandara.

Sejak awal semua pihak yang terlibat sadar operasi ini memang berisiko tinggi. Apapun dasamya, terlampau lama berada di wilayah musuh jelas sangat riskan. Maka Letjen Bar Lev memutuskan seluruh tahapan operasi harus rampung dalam tempo 30 menit. Kenyataan waktu yang dibutuhkan hanya 29 menit!

Unit yang pertama kali tiba di titik evakuasi ialah Unit 3. Tepat pukul 21.47 dengan diangkut heli Super Frelon mereka bertolak kembali ke Israel. 10 menit kemudian rekan-rekannya menyusul beriringan kembali ke arah selatan memasuki wilayah tanah airnya.

Satu unit pasukan komando AL berikut belasan perahu karetnya yang semula disiapkan di pantai evakuasi cepat-cepat angkat kaki meninggalkan posnya begitu mendengar operasi di darat telah rampung sesuai rencana. Didampingi sebuah kapal torpedo yang selama operasi buah sauh sekitar 1,5 km dari tepi pantai, gugus tugas AL ini tiba kembali di pangkalan Haifa Minggu dinihari 29 Desember 1968.

Dari udara Bandara Beirut tampak terang benderang laksana di siang hari. Jumlah pesawat yang dihancurkan ternyata melebihi rencana semula yang cuma empat buah. Tak seorang pun anggota tim terluka. Seluruhnya 14 buah pesawat (dua buah diantaranya jenis Boeing 707) ludes dilalap api. Nilai kerugian ditaksir berkisar antara 42-44 juta dollar AS. Buah yang dipetik Israel dari aksinya ini ialah jatuhnya sanksi embargo senjata dari Prancis. Presiden Charles de Gaule merasa kehilangan muka di depan koleganya di Timur Tengah karena sebagian besar pesawat dan heli yang dipakai merupakan buatan Perancis.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Beli Ngeteng, Cara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF - HobbyMiliter.com. Dalam diskusi diskusi di forum forum militer online maupun di grup grup militer di Facebook,...

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia - HobbyMiliter.com - Meski telah jutaan tahun membalut Bumi, belum seluruh bagian atmosfer bisa...

Foto – Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an

Foto - Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an - HobbyMiliter.com. Perang Soviet di Afghanistan berlangsung selama lebih dari sembilan tahun....

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet - HobbyMiliter.com. Pada saat persiapan operasi Trikora dalam rangka perebutan Irian Barat (sekarang Provinsi...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua