Monday, November 23, 2020
Home Alutsista Helikopter Bell UH-1 Huey, Legenda Jip Terbang

Bell UH-1 Huey, Legenda Jip Terbang

Bell UH-1 Huey, Legenda Jip Terbang – HobbyMiliter.com – Awalnya, keandalan penggunaan helikopter angkut militer Bell UH-1 Huey di lapangan pertempuran sempat diremehkan. Keadaan berbalik begitu Konfiik Vietnam meletus. Bell UH-l berubah jadi tumpuan, bahkan primadona bagi operasi pasukan darat. Tak urung lagi sang jip terbang ini jadi simbol Perang Vietnam. Masa pakainya yang lama menyaingi kemashuran DC-3 Dakota.

Bell UH-1 Huey pun hadir dalam berbagai versi, tidak hanya sekedar angkut saja. Kalau ada dua tabung menempel di kiri-kanan, pisir pengincar berbentuk pinsil pada kokpit plus dua gunner di samping badan bisa dipastikan merupakan versi bersenjata (gunship). Bila isi ruang heli penuh dengan pasukan tak diragukan itu adalah versi angkut.

Sedangkan bila banyak jejeran tandu plus ceceran bercak darah sudah pasti itu adalah versi ambulan udara atau yang kondang punya nama Dust Off. Selain itu, ada juga versi sipil yang dikode kan dengan nama dagang Bell 205 (single engine) dan Bell 212 (UH-1N, dual engine) serta Bell 412 (CH-146, dual engine).

Di medan tempur Vietnam heli militer berkembang dari perangkat yang diabaikan menjadi mesin perang yang amat dibutuhkan. Helikopter besutan Bell HU-1 (kemudian hari dirubah menjadi UH-1) dengan cepat meraih reputasi yang patut diacungi jempol. Kuncinya pada mesin turbinnya yang berkemampuan badak alias tak rewel saat harus parkir di sebuah tangsi tentara jauh dari bandara yang layak.

Heli ini seperti layaknya kendaraan perang yang biasa dipakai infanteri. Sekali start langsung jalan. Bisa kemana saja kapan saja. Pantas saja pihak AD Amerika menganggap UH-1 sebagai jip terbang. Prestasi ini mengalahkan para pendahulu-nya, heli bermesin piston H-19 Cocktaw dan H-21 Flying Banana. Sekaligus menandai trend baru mobilitas udara taktis.

Ketika HU-1 turun di Vietnam, Amerika memberinya kode nama Iroqouis (nama suku Indian). Tapi dikalangan infanteri julukan Huey-lah yang lebih akrab. Nama ini diambil dari dua huruf awal yaitu H dan U. Saat AD AS merubah standarisasi registrasi helinya agar sesuai dengan pihak AU (dari HU ke UH – Utility Helicopter), nama Huey tetap saja melekat.

Walau demikian kenyataan di lapangan tak bisa ditutup-tutupi. Selama konflik di Vietnam, AD AS kehilangan 2.249 heli akibat pertempuran. Separuh dari angka ini adalah Huey. Secara statistik, antara tahun 1966-1971 satu heli jatuh sebagai tumbal dari setiap delapan sorti yang digelar.

BACA JUGA :  Lembaga Amal: Perang Suriah Merugikan Negara 17.000 Triliun Hingga 2020

UH-1 Huey Dimodifikasi Menjadi Gunship

UH-1 Huey Gunship; Modifikasi berupa pod roket dan senapan mesin
UH-1 Huey Gunship; Modifikasi berupa pod roket dan senapan mesin

Terbang formasi rapat dengan rotor utama saling bertindihan dianggap taktik yang manjur saat mendrop pasukan. Umumnya gerilyawan Vietnam Utara yang disusupkan ke selatan, Vietkong (VC) bakalan lari ketika mendengar gemuruh suara Huey. Tapi keadaan ini berbalik sejalan makin terlatih dan makin modern persenjataan yang dipakai VC. Resep tadi jadi basi, apalagi rudal jinjing anti pesawat asal Soviet, SA-7 Grail, juga sudah beraksi. Apa boleh buat, dicari jalan untuk mengatasi ancaman ini baru.

Akhirnya modifikasi dilakukan untuk membuat heli agar dapat melakukan perlawanan ketika diserang. Melengkapi Huey dengan tabung roket plus senapan mesin alias merombaknya jadi gunship adalah jawabnya. Biasanya 32 roket udara-darat kaliber 70 milimeter serta sepasang senapan mesin (umumnya jenis M-60) kaliber 7,62 milimeter sanggup digotongnya. Beberapa dari jenis ini juga dipinjamkan ke pihak AL untuk patroli di Sungai Mekong.

Di tahun 1963 Bell meluncurkan varian UH-1 C. Pada versi ini sebuah peluncur granat aktif (bisa digerakkan) kaliber 40 milimeter juga ditambahkan. Peluncur granat keluaran pabrik General Electric ini menempel pada hidung heli. Selain itu tabung kanon kaliber 20 milimeter juga bisa dibawanya. Dengan firepower yang sedemikian besar, heli ini mampu menebar maut, membersihkan LZ dari VC sebelum kawan kawannya yang menggangkut pasukan mendarat.

Tapi hal ini justru membuat masalah baru yang lain. UH-1 Huey yang ditugaskan menggotong senjata begitu lengkap, kerap kalah cepat dibanding heli yang mesti dikawalnya. Wajar saja, karena beratnya beban yang harus dibawanya. Baru pada tahun 1966 Bell membuat sesuatu yang baru. Bell meramu helikopter serang AH-1 Huey Cobra dengan menggunakan sistem transmisi dan rotor yang sama dengan UH-1, namun secara khusus didesain untuk melakukan serangan. Heli ini dilengkapi dengan berbagai senjata mematikan namun menghilangkan kemampuan angkut pasukannya.

Tak hanya AD saja yang memakainya. Marinir AS juga menggunakan heli yang mampu membawa roket, kanon, dan peluncur granat seberat 3.000 pound ini. Namun dari segi kecepatan hampir dua kali dari seri UH-1. Dengan kemampuan ini Cobra sanggup menukik secepatnya menuju sasaran untuk kemudian lari menghindari balasan musuh.

Kisah Nyata UH-1 Huey Masuk Jebakan di Vietnam

UH-1 Huey merupakan kendaraan utility serbaguna di Vietnam
UH-1 Huey merupakan kendaraan utility serbaguna di Vietnam

Adanya kawalan gunship bukan berarti menawarkan ancaman yang mengincar. Tak jarang Huey pengangkut infanteri masuk jebakan perangkap musuh. Walaupun daerah pendaratan sudah “dibersihkan” dan “dilembutkan” dari udara. Simak saja pengalaman pilot Huey AD, AS Robert Mason yang telah menghabiskan ribuan jam terbangnya di Vietnam.

BACA JUGA :  Mengenal Helikopter Tempur Rusia Kamov Ka-50 Hokum

Misi Robert Mason terdiri dari sekitar selusih heli membawa pasukan ke sebuah LZ. Dengan formasi tiga Huey angkut pasukan yang datang berbaris dari arah Timur lokasi pendaratan (LZ-Landing Zone) yang begitu sempit. Suasana LZ sangat sepi! Begitu ketinggian mencapai 100 kaki dari atas pepohonan, side gunner dari Huey pertama (call sign: Yellow One) mulai membuka tembakan yang diikuti dua dibelakang. Tujuannya membersihkan dan melembutkan area pendaratan dari VC.

Pepohonan, semak belukar, dan semua tempat yang diduga VC bersembunyi dibabat sapu habis dengan rentetan tembakan M-60. Sukar dipercaya kalau masih ada satu makhluk hidup selamat dari hujan peluru tadi. Saat penyerbuan kavaleri udara dimulai, biasanya beberapa Huey gunship akan mulai membuka tembakan pada jarak 1.000 kaki (sekitar 300 meter). Bahkan kadang dengan jarak yang lebih dekat, yaitu 500 kaki (150-an meter).

Huey gunship yang semula memberi tembakan perlindungan tembakan berhenti beraksi, begitu pasukan berhamburan dari perut heli angkut. Tiba-tiba..tak..tak..tak..tak. Peluru-peluru AK-47 berdesingan menyapu Huey yang sibuh menurunkan pasukan tadi. Tak salah lagi, VC!

“Yellow One go,..go..go!!”, teriak Farris, Komandan Mason melalui radio. Tapi, Huey pertama tak juga kunjung beranjak dari tanah. Walau rotor masih berputar. Secara reflek, Mason pun mengangkat helinya kembali ke udara ditengah hujan tembakan dan teriakan side gunner melihat pasukan yang dibawanya bergelimpangan. Lalu apa yang terjadi dengan heli dibelakangnya (Yellow Three)?. Senasib dengan Yellow One. Huey ini juga tak beranjak dari tempatnya.

UH-1 Huey Jip terbang legendaris
UH-1 Huey Jip terbang legendaris

Tiba-tiba terdengar suara pilot Yellow Three melalui radio. “Semua crew tewas. Hanya aku yang tertinggal!”, ujamya sambil berusaha meninggalkan LZ. Dua Huey Gunship yang tadi tetap melayang-layang udara sekarang kembali menukik deras. Dan…. whoos…. whoos, roket-roket berterbangan dari sisi Huey Gunship kembali menghantam daerah sekitar LZ, membalas tembakan dari VC. Hanya Yellow One saja yang tinggal di tempat dengan mesin tetap menyala. Tapi masih ada ruang sisa buat pendaratan gelombang Huey berikutnya. Total sebenarnya ada satu lusin Huey yang digelar dalam operasi mobilitas udara (mobud) saat itu.

Tapi misi hari itu belum selesai. Mason (Yellow Two) dan Yellow Three mesti kembali ke LZ. Apalagi kalau bukan menurunkan infanteri yang diambilnya dari pangkalan aju yang berjarak beberapa mil. Tapi pada putaran kedua ini desingan senapan mesin telah bungkam. Neraka tadi sudah berakhir. Salah satu dari pasukan yang dibawa terpaksa merusak Yellow One saat operasi mobud berakhir. Lantaran tak ada seorangpun dari crew heli itu yang masih bisa membawanya pulang.

BACA JUGA :  Modifikasi Heli Serang Bell AH-1J, Langkah Iran Merevitalisasi Kekuatan Militer

Heli Manual Bikin Pegal

Di Indonesia sendiri Huey juga lumayan banyak berkiprah. Adalah TNI-AU yang pertama kali mengoperasikan 28 buah Bell 204 (UH-1). Heli yang diterima sejak tahun 1962 menjadi kekuatan Skadron Udara 7 untuk keperluan angkut VIP. Sebanyak lima buah kemudian diubah menjadi varian SAR dan tempur sebelum akhirnya dipensiunkan.

Selain itu sampai sekarang Penerbad (TNI-AD) juga masih mengoperasikan dua jenis heli dari keluarga Huey. Masing-masing adalah Bell 205 A-l (UH-1D) sebanyak 15 buah dan versi teranyar, yaitu Bell 412 sebanyak 28 yang diterima dari IPTN (kini PT Dirgantara Indonesia) sejak tahun 1992. Bagi Penerbad, heli tipe ini cocok untuk tugas serbaguna. Versi Bell 412EP yang diterima dari PTDI akhir akhir ini pun sudah dilengkapi dengan FLIR agar mampu terbang malam di segala cuaca.

Bell 412EP Penerbad, keturunan UH-1 Huey yang memperkuat TNI AD
Bell 412EP Penerbad, keturunan UH-1 Huey yang memperkuat TNI AD

Lantaran masih bersistem manual, maka perawatan seri Bell 205 di lapangan juga lebih sederhana ketimbang seri Bell 412EP. Tapi jangan coba-coba terbang jauh pakai heli ini. Selain getarannya yang sangat terasa sampai kabin, selama perjalanan tuas kemudi juga tak boleh lepas dari tangan sang pilot.

Jadilah tangan pegal-pegal bila telah sampai tujuan. Dari segi kenyamanan jauh beda dengan Bell 412EP. Kalau Bell 412EP handlenya bisa dilepas agak lama selama perjalanan. Heli heli penerbad sendiri beberapa sudah mengalami babtised by fire, tertembak peluru terutama di wilayah Papua.

Setelah kurang lebih 58 tahun mengabdi, keluarga Huey masih banyak digunakan oleh banyak negara, termasuk oleh Amerika sendiri. Pihak Marinir AS telah memodernisasi armada Huey miliknya dengan mesin baru T-700, sistem empat rotor utama, serta perangkat avionik modern dan bersalin nama menjadi UH-1Y Venom.

Sedang Pihak AD walau telah mengganti dengan varian UH-60 Blackhawk, tapi sebagian besar armada Huey-nya tetap terbang bagi keperluan cadangan dan pengawal nasional (national guard) alias beroperasi di dalam negeri. Jadi memang tak salah kalau angka 58 tahun tadi membuat Huey dianggap Dakota-nya helikopter oleh kalangan penerbangan.

Awet sepanjang masa.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

SMX-31, kapal selam masa depan Prancis

SMX-31, kapal selam masa depan Prancis- Hobbymiliter.com. SMX-31 adalah suatu konsep kapal selam masa depan dari negeri Baguette. Konsep ini adalah unik karena memperkenalkan...

STRIL, Sistem koordinasi & datalink AU Swedia

Sejarah STRIL, Sistem Koordinasi & datalink AU Swedia- Hobbymiliter.com.  Bahwa Swedia terkenal sebagai salah satu negara di semenanjung Skandinavia yang bersifat independen atau dalam...

Bagaimana drone menaklukkan pertahanan udara ?

Bagaimana drone menaklukkan pertahanan udara ?- Hobbymiliter.com. Bidang Pertahanan udara dewasa ini memiliki sebuah pertanyaan,  utamanya setelah perang Suriah, Libya, serangan drone AS di...

Barbel Class, kapal selam diesel terakhir AS

Barbel Class, kapal selam diesel terakhir AS- hobbymiliter.com. Bahwa dewasa ini kita mengenal Angkatan laut AS utamanya dari armada kapal selam nuklirnya. Nama-nama seperti...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua