Thursday, September 17, 2020
Home Militer Kisah Militer Kisah Perang Teluk : Pilot Inggris Jadi Tawanan Irak

Kisah Perang Teluk : Pilot Inggris Jadi Tawanan Irak

Kisah Perang Teluk : Pilot Inggris Jadi Tawanan Iraq – HobbyMiliter.com – Angkatan Udara Kerajaan Inggris kehilangan enam fighter-bomber Tornado dalam aksinya terhadap sejumlah target di Irak. Salah satunya dirontokkan pada Hari Valentine 14 Februari 1991 dalam serangan terhadap pangkalan udara Al Taqaddam, dekat Baghdad. Dua peluru kendali SA-3 buatan Uni Soviet berhasii merontokkannya, berikut adalah ceritanya.

Sinar matahari mulai terbit di atas lapangan udara Muharraq, Bahrain saat Wing Commander John Broadbent sebagai pemimpin kekuatan serangan udara delapan Panavia Tornado dan empat Buccaneer lepas landas. Setiap Tornado menggotong dua 1.000 pon laser-guided bomb (LGB) sementara tiap Bucaneer diperlengkapi dengan Pave Spike designator pod untuk laser-mark target bagi bom yang bakal dilepas Tornado. Bucanner berfungsi sebagai spotter dan Tornado sebagai sniper pengeksekusi. Para awaknya sebelumnya di brief mengenai serangan pada sasaran HAS (hardened aircraft shelter) lapangan udara Al Taqaddam.

Tidak seperti sistem penjejak Pave Tack siang/malam pada pembom-tempur F-111F Aadvark, sistem Pave Spike pada Buccaneer, dirancang hanya bisa digunakan untuk serangan siang hari sehingga serangan udara direncanakan mulai pukul 08.40 pagi hari. Bersamaan dengan lepas landas pesawat-pesawat RAF (Royal Air Force/Angkatan Udara Kerajaan Inggris), Angkatan Udara Amerika Serikat mendukungnya dengan dua F-15C Eagle sebagai pengawal disertai dua F-4G Wild Weasel yang menggotong radar-homing missiles dan dua pesawat radar-jamming EF-111 Raven sebagai penempur elektronik.

Pesawat Tornado dan Buccaneer terbang pada ketinggian 20.000 kaki yang direncanakan tiba di atas sasaran, mendapatkan udara cerah tanpa awan meski pada ketinggian lebih rendah keadaannya hazy. Pangkalan udara Al Taqaddam Irak merupakan salah satu pangkalan udara yang sangat ketat pertahanannya. Namun pertahanan itu sudah mulai longgar pada waktu serangan ini sehubungan banyak sarang SAM seputar Al Taqaddam banyak menderita akibat gempuran-gempuran udara sebelumnya.

Formasi serangan utama terdiri dari tiga pesawat, dua Tornado didampingi oleh sebuah Buccaneer. Setelah melepas bom, kedua Tornado langsung melesat keluar dari daerah Al Taqaddam, sementara navigator pesawat Buccaneer tetap harus mengarahkan sinar laser Pave Spike pada sasaran HAS yang berupa hanggar hanggar beton yang dipilih sampai bom meledak pada sasaran-sasarannya. Sejumiah gempuran bom 1.000 pon pada atap HAS berjarak hanya beberapa kaki satu sama lainnya dan meledak hampir bersamaan, cukup untuk melubangi struktur bangunan kokoh itu dan merusak apapun yang berada dalam hanggar perlindungan tersebut.

Ditembak Rudal Anti Pesawat dan Eject!

Begini cara GBU-39 menembus Shelter Beton (HAS)
Begini cara GBU-39 menembus Shelter Beton (HAS).

Serangan bom terakhir akan dilaksanakan oleh Letnan Pnb Rupert Clark. Jalannya serangan udara berlangsung cukup normal hingga sekitar lima detik sebelum Clark tiba pada titik akan melepas bom. Pada saat itu tiba-tiba alat RHWR (Radar Homing Warning Receiver) pesawatnya menangkap signal radar kontrol peluru kendali musuh. Ia ragu sedikit untuk melanjutkan serangannya, apalagi alatnya tidak menerima signal lanjutan dari radar musuh sampai dia tiba pada titik melepas bom. Sebuah bom dilepas dengan mulus, tapi detik berikutnya semua berubah bagai kilat, menjadi neraka baginya.

Bom LGB kedua tidak mau lepas dari cantelannya meski navigator Letnan Udara Steven Hicks berusaha keras segala upaya —tetap saja masih nyantel. Detik berikutnya bulu roma Clark berdiri: “Dua rudal menuju sasaran!” RHWR Tornado jelas sekarang menunjukkan bahwa signal radar kendali misil musuh tadi ditujukan pada dirinya untuk mengarahkan rudal SAM kepada pesawat Rupert Clark. “Break left!” terdengar suara Hicks sambil melepas chaff. Clark menambah kecepatan, menurunkan manoeuvring flap kemudian membelok tajam.

BACA JUGA :  Akhir Pengabdian Kapal Angkut Tank Era Perang Dunia 2 Milik TNI AL

Panavia Tornado MiG Eater
Panavia Tornado MiG Eater

Ia kemudian cerita pengalamannya itu: “Kami sedang terbang arah utara ketika terjadi ledakan besar dan saya merasakan gelombang ledakan itu mengena pesawat. Jelas kami terkena. Saya lalu berteriak kepada Steve ‘Are You OK?’ tapi tidak ada jawaban”. Rudal yang mengenainya adalah SA-3 Goa buatan Soviet, meledak beberapa kaki dari sisi kiri pesawat begitu proximity fusenya mendeteksi pesawat. Pecahannya menembus kulit pesawat menyebabkan kerusakan fatal bagi pesawat Clark.

Tekanan udara kokpit secara sendirinya berkurang bersamaan masuknya udara melalui lubang dua inci yang tiba-tiba muncul di sisi kiri kanopi di atas kepala Clark. Setelah mengamati sekitar kokpitnya, Clark baru menyadari betapa mujurnya dia terhindar dari luka parah. Pada instrumen pesawat, terlalu banyak lampu peringatan merah menyala untuk dapat dihitungnya. Reflector glass pada HUD (head-up display) sudah menghilang entah kemana. Pada panel instrumen tinggal dua tombol masih utuh, sementara hydraulic gauges menunjukkan angka nol.

Tidak banyak yang bisa diperbuat Clark apalagi mengingat SAM kedua sedang menuju ke pesawatnya. “Saya gerakan tongkat kendali, overbank pesawatnya dan pulled back. Lalu saya melihat rudal kedua menuju pesawat saya. Melesat tegak lurus, ‘mengibas’ mengarah ke saya. Saya tarik lagi tongkat kendali sekuat tenaga sebab tidak ada cara lain yang bisa saya lakukan. Rudal itu hilang dari pandangan, tetapi berada di belakang sebelah kanan pesawat. Terdengar ledakan keras ketika rudal itu meledak disamping pesawat” cerita Clark kemudian ditangkap oleh Irak.

Sekali lagi Clark berteriak kepada navigatomya. Kembali tidak ada jawaban. Biasanya bila menoleh ke belakang, dia melihat wajah senyum Hicks. Sekarang ia hanya bisa menoleh ke kiri dan kanan melihat pundaknya, karena tidak melihat wajah Hicks dan jawabannya, ia mulai merasakan suasana terburuk bakal menimpa dirinya.

Kokpit Navigator Panavia Tornado
Kokpit Navigator Panavia Tornado

Ia baru menyadari bahwa darah keluar dari beberapa luka yang dideritanya, tapi hanya satu yang dianggapnya cukup serius. Mengingat pengalaman Randy Cunningham dan Willie Driscoll yang merupakan legenda pilot eject di Vietnam, Clark berupaya dirinya berada sejauh mungkin dari sasaran. Dia tidak ada niat menjadi tawanan, juga ia sadar betul bahwa setiap menit ia masih sanggup menerbangkan pesawatnya, navigator dan dirinya akan berada enam atau tujuh mil lebih dekat dari tim penyelamat dengan sisa sisa kecepatan pesawat tersebut saat itu.

Namun setelah secara kilat mengamati bagian luar Tornado, Clark mendapatkan kenyataan pesawatnya menderita rusak berat. Sayap dan tangki cadangan penuh taburan lubang. Melihat ke belakang, ia melihat bahan bakar mengucur deras keluar meninggalkan jejak putih di buntut pesawat. Pada sayap kanan, slat pada leading edge hancur terkena ledakan dan sisanya menggelantung ibarat luka menganga yang mengerikan.

Dengan sistem hidroliknya rusak berat, secara otomatis pesawat dikendalikan secara manual. Clark mendapatkan apabila ia mendorong keras tuas kendali, pesawatsecara perlahan mengikuti perintahnya. Namun dia tidak ada cara untuk mengetahui apakah mesin pesawat masih berfungsi baik, kecuali Clark merasakan dorongan mesin pesawat tidak seberapa. Masih optimis ia tetap melaksanakan prosedur restart darurat ketika dua kali mengalami flame-out alias mati mesin. Tapi tidak ada perubahan. Mesin tetap tidak mau menyala.

Tanpa flying instruments, pesawat fighter bomber Tornado tersebut ibarat sebuah pesawat terbang layang yang buruk desainnya. Meluncur dengan cepat ke arah bawah. Ditariknya hidung pesawat beberapa kali dalam upaya untuk memperpanjang luncuran layang pesawat. Tetapi setiap kali Clark melakukannya, bunyi peringatan level menyala bersamaan kecepatan berkurang.

BACA JUGA :  50 Orang Tewas, 2 Sekolah dan 5 Rumah Sakit Hancur Akibat Serangan di Idlib Suriah

Dia tidak punya acuan noise level mana yang terkait dengan stalling speed pada kondisi yang dialami Tornadonya. Dan Clark tidak ada keingingan untuk men-stall pesawatnya guna mengetahuinya. Jadi apa yang dilakukan adalah ia menurunkan hidung pesawat sampai bunyi suara angin dirasakan sesuai dengan luncuran rate of descent pesawatnya.

Panavia Tornado milik Arab Saudi
Panavia Tornado milik Arab Saudi

Sewaktu pesawat dirasakan berada pada ketinggian 10.000 kaki, ia mendapatkan Tornado-nya sudah sangat sulit untuk dikendalikan. Dia terus menerus harus menahan tongkat kendali ke arah kanan agar posisi sayapnya bisa mendatar. Pada akhirnya posisi menahan tongkat ke kanan itu sudah hampir sampai titik tarik mentoknya, tetapi pesawat tetap cenderung ke kiri. Pada titik ini, Clark merasakan tidak ada gunanya untuk mempertahankan pesawat sebelum sepenuhnya kehilangan kendali pesawat.

Cara Pilot Eject Dari Pesawat Tempur

Sekali lagi ia memanggil Hicks. Setelah tidak mendapat jawaban dia melepaskan tongkat kendali pesawat kemudian dia memutuskan untuk eject. Cara pilot eject dari pesawat tempur Tornado adalah kedua tangannya pindah memegang tuas lain yang berada di antara kedua kaki dan menariknya keras. Di dalam kokpit Tornado, kursi pelontar terkait dengan tuas tersebut, bila pilot menariknya, kursi navigator pertama terlontar keluar menyusul sekian detik kemudian kursi pilot.

Clark mendengar letupan keras disusul dengan asap hitam bersamaan roket menyala melontarkan kanopi, mengamankan jalan keluar kedua awaknya. Lalu terdengar ledakan keras lagi pada kokpit bagian belakang sewaktu kursi navigator terlontar keluar. Kemudian giliran kursi Clark. Wuzz!!

“Saya merasakan badan saya melekat semua bagiannya ke kursi. Saya dengar dan merasakan bergantian cartridge (roket) kursi menyala, kemudian drogue gun lalu terasa kursi saya berguling dan seketika sudah berada di luar pesawat. Ketika itu saya sadar betul dan bertanya pada diri sendiri: kapan ledakan-ledakan ini akan berakhir? Tiba-tiba ada keheningan, sama sekali tidak ada suara — saya tergelantung di udara dengan parasut,” Clark bercerita tentang pengalamannya eject dari pesawat tempur.

Setelah mengalami detik-detik menegangkan beberapa menit sebelumnya — Tornado-nya terkena rudal SAM, disambung dengan upaya menerbangkan pesawat lalu dilontarkan keluar dari kokpit — keheningan itu ibarat sebuah hadiah tak terduga dari alam.
Clark sempat melihat detik-detik akhir riwayat pesawatnya. Tornadonya meluncur memuntir tajam ke kiri sampai menghunjam bumi diiringi bunyi ledakan keras menggelegar. Api segera menyala dari bahan bakar tersisa dalam tangkinya. Asap pekat menghitam membumbung tinggi ke langit, disusul oleh rentetan ledakan-ledakan dari peluru kanon 27 mm akibat terpanggang jilatan panas api.

Sementara Clark yang melayang-layang di udara, mencoba memperkirakan dimana dia bakal mendarat. Tampaknya dia bakal mendarat di tempat yang kurang menguntungkan — dekat bangkai pesawatnya yang tengah membara. Ia masih teringat bahwa sebuah bom 1.000 pon masih menyantel di badan pesawat dan beberapa rudal Sidewinder belum dipergunakan. Bisa berbahaya. Sekeras tenaga dia menarik tali parasut dalam upaya mengendalikan parasut untuk menjauhi pendaratannya dari bangkai pesawat.

Sebelum mendarat, Clark masih sempat menyaksikan parasut navigatornya mendarat tidak jauh dari pesawat. Parasutnya kuncup tetapi tidak ada tanda-tanda Steve Hicks masih hidup. Rupanya Hicks tidak pernah sadar kembali sejak pesawat terkena ledakan rudal pertama.

BACA JUGA :  AX308 Senapan Pendatang Baru di Jajaran Senjata Sniper TNI/Polri

Clark berhasil mendarat pada lokasi yang lebih menguntungkan, beberapa ratus yard dari pesawatnya yang tengah ganas dijilati kobaran api. Dia melepaskan harness parasut kemudian mulai menerapkan latihan survival yang pernah diperolehnya. Matanya dengan tajam coba menyorot-cari tempat persembunyian ideal sampai tim penyelamat tiba. Tapi sepanjang mata memandang, hanya hamparan gurun pasir yang dilihatnya dari segala penjuru. Si Pilot Inggris tersebut berusaha agar tidak jadi tawanan perang Irak.

Pilot Tornado Inggris Menjadi Tawanan Perang Irak

“Tidak ada tempat untuk bersembunyi. Di selatan sedikit tampaknya seperti ada gunungan batu yang saya perkirakan cukup baik untuk bersembunyi. Saya ambil survival pack dan mulai berjalan ke arah itu. Paket survival terasa cukup berat dan setelah berjalan 200 meter, saya memutuskan untuk membuang dinghy (perahu karet)-nya. Tidak ada gunanya di padang pasir. Saya membuka paket itu hati-hati supaya tidak mengembungkan dinghy. Tapi tiba-tiba psssss… dinghy oranye itu mulai mengembungkan dirinya sendiri!”

Clark meninggalkan dinghy tersebut dan melanjutkan jalan “jogging-nya”. Dalam pikirannya melayang pertanyaan: apakah orang-orang Irak pada tuli dan buta? Masak mereka tidak melihat asap hitam pekat membumbung tinggi ke langit yang berasal dari Tornado-nya? Masak mereka tidak mendengar ledakan keras? Pilot Inggris tersebut akan berusaha agar jangan sampai jadi tawanan irak.

Tidak jauh dari bangkai pesawat terlihat parasut sang pilotnya. Dari sini, jelas terlihat jejak sepatu pilotnya sampai ke dinghy warna mencolok oranye terhampar di atas pasir gurun. Dari sini jejak-jejak itu mengarah ke pilot Inggris yang tengah berlari sekuat tenaga menjauhi lokasi jatuhnya pesawat sejauh kaki membawanya.

Kebebasan Rupert Clark berlangsung singkat, hanya sekitar seperempat jam. Seorang sipil yang dipersenjatai senapan bersepeda motor mengejarnya lalu menamatkan kebebasan Clark. Melihat dirinya tidak bisa melarikan diri, sang pilot Inggris tersebut pun mengangkat kedua tangannya dan menyerahkan diri untuk memulai menjadi “tamu istimewa” pemerintah Irak sebegai tawanan perang. (Sumber : Sky Battles karangan Alfred Price ‘St Valentine’s Day Shoot-Down’)

Data Spesifikasi Korban Panavia Tornado GR Mk. 1

Panavia Tornado
Panavia Tornado

Fungsi : Serang darat dan recon.
Mesin : Dua mesin turbofan Turbo-Union RB199 masing-masing dengan daya dorong 15.900 pon dengan afterburner.
Persenjataan : Berat maksimum senjata operasi yang sanggup dibawanya adalah seberat 10.300 pon dengan komposisi delapan bom 1.000 pon (dalam serangan dengan laser-guided bomb, pesawat menggotong dua atau tiga 1.000 pon LGB), dua kanon 27 mm buatan Mauser; dua AIM-9L Sidewinder infra-red homing missile untuk pertahanandiri.
Performance : Maksimum kecepatan dengan persenjataan lengkap terbang rendah adalab 680 mil per jam dan tanpa senjata lebih dari 1.450 mil/jam (Mach 2,2).
Maximum gross take-off weight : 60.000pon.
Ukuran : Bentang sayap penuh 45 kaki 7 inci; dengan sayapsayung penuh 28 kaki 2 inci; panjang badan 54 kaki 9,5 inci; luas sayap 323 kaki persegi.
Produksi pertama Tornado GR.1 : Juni 1979.

Data Spesifikasi Eksekutor SA-3 Goa

SA-3 Goa Irak
SA-3 Goa Irak

Ukuran : Panjang sekitar 22 kaki (6,7 m) diameter 27 inci (700 mm).
Bobot luncur : Sekitar 882 pon (400kg).
Range : 19 mil(29km).
Pengguna : Uni Soviet(sekarang Rusia), Ceko dan Slovakia, Hongaria, Polandia, Yugoslavia, India, Irak, Libya, Peru, Suriah, Uganda, Vietnam, Cuba, Mesir dan Jerman Timur.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Beli Ngeteng, Cara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF - HobbyMiliter.com. Dalam diskusi diskusi di forum forum militer online maupun di grup grup militer di Facebook,...

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia - HobbyMiliter.com - Meski telah jutaan tahun membalut Bumi, belum seluruh bagian atmosfer bisa...

Foto – Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an

Foto - Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an - HobbyMiliter.com. Perang Soviet di Afghanistan berlangsung selama lebih dari sembilan tahun....

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet - HobbyMiliter.com. Pada saat persiapan operasi Trikora dalam rangka perebutan Irian Barat (sekarang Provinsi...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua