Saturday, February 24, 2024
HomeMiliterKisah MiliterKisah Perang Teluk : Pilot Inggris Jadi Tawanan Irak

Kisah Perang Teluk : Pilot Inggris Jadi Tawanan Irak

Tidak banyak yang bisa diperbuat Clark apalagi mengingat SAM kedua sedang menuju ke pesawatnya. “Saya gerakan tongkat kendali, overbank pesawatnya dan pulled back. Lalu saya melihat rudal kedua menuju pesawat saya. Melesat tegak lurus, ‘mengibas’ mengarah ke saya. Saya tarik lagi tongkat kendali sekuat tenaga sebab tidak ada cara lain yang bisa saya lakukan. Rudal itu hilang dari pandangan, tetapi berada di belakang sebelah kanan pesawat. Terdengar ledakan keras ketika rudal itu meledak disamping pesawat” cerita Clark kemudian ditangkap oleh Irak.

Sekali lagi Clark berteriak kepada navigatomya. Kembali tidak ada jawaban. Biasanya bila menoleh ke belakang, dia melihat wajah senyum Hicks. Sekarang ia hanya bisa menoleh ke kiri dan kanan melihat pundaknya, karena tidak melihat wajah Hicks dan jawabannya, ia mulai merasakan suasana terburuk bakal menimpa dirinya.

Kokpit Navigator Panavia Tornado
Kokpit Navigator Panavia Tornado

Ia baru menyadari bahwa darah keluar dari beberapa luka yang dideritanya, tapi hanya satu yang dianggapnya cukup serius. Mengingat pengalaman Randy Cunningham dan Willie Driscoll yang merupakan legenda pilot eject di Vietnam, Clark berupaya dirinya berada sejauh mungkin dari sasaran. Dia tidak ada niat menjadi tawanan, juga ia sadar betul bahwa setiap menit ia masih sanggup menerbangkan pesawatnya, navigator dan dirinya akan berada enam atau tujuh mil lebih dekat dari tim penyelamat dengan sisa sisa kecepatan pesawat tersebut saat itu.

BACA JUGA :  Perkuat Luftwaffe, Jerman Akan Beli Jet Tempur F-35 dan Eurofighter Typhoon

Namun setelah secara kilat mengamati bagian luar Tornado, Clark mendapatkan kenyataan pesawatnya menderita rusak berat. Sayap dan tangki cadangan penuh taburan lubang. Melihat ke belakang, ia melihat bahan bakar mengucur deras keluar meninggalkan jejak putih di buntut pesawat. Pada sayap kanan, slat pada leading edge hancur terkena ledakan dan sisanya menggelantung ibarat luka menganga yang mengerikan.

Dengan sistem hidroliknya rusak berat, secara otomatis pesawat dikendalikan secara manual. Clark mendapatkan apabila ia mendorong keras tuas kendali, pesawatsecara perlahan mengikuti perintahnya. Namun dia tidak ada cara untuk mengetahui apakah mesin pesawat masih berfungsi baik, kecuali Clark merasakan dorongan mesin pesawat tidak seberapa. Masih optimis ia tetap melaksanakan prosedur restart darurat ketika dua kali mengalami flame-out alias mati mesin. Tapi tidak ada perubahan. Mesin tetap tidak mau menyala.

BACA JUGA :  Ada Serangan Rudal Israel Lagi di Suriah

Tanpa flying instruments, pesawat fighter bomber Tornado tersebut ibarat sebuah pesawat terbang layang yang buruk desainnya. Meluncur dengan cepat ke arah bawah. Ditariknya hidung pesawat beberapa kali dalam upaya untuk memperpanjang luncuran layang pesawat. Tetapi setiap kali Clark melakukannya, bunyi peringatan level menyala bersamaan kecepatan berkurang.

Dia tidak punya acuan noise level mana yang terkait dengan stalling speed pada kondisi yang dialami Tornadonya. Dan Clark tidak ada keingingan untuk men-stall pesawatnya guna mengetahuinya. Jadi apa yang dilakukan adalah ia menurunkan hidung pesawat sampai bunyi suara angin dirasakan sesuai dengan luncuran rate of descent pesawatnya.

BACA JUGA :  Antisipasi Serangan Kudeta Susulan, Kepolisian Turki Blokir Pangkalan NATO
Panavia Tornado milik Arab Saudi
Panavia Tornado milik Arab Saudi

Sewaktu pesawat dirasakan berada pada ketinggian 10.000 kaki, ia mendapatkan Tornado-nya sudah sangat sulit untuk dikendalikan. Dia terus menerus harus menahan tongkat kendali ke arah kanan agar posisi sayapnya bisa mendatar. Pada akhirnya posisi menahan tongkat ke kanan itu sudah hampir sampai titik tarik mentoknya, tetapi pesawat tetap cenderung ke kiri. Pada titik ini, Clark merasakan tidak ada gunanya untuk mempertahankan pesawat sebelum sepenuhnya kehilangan kendali pesawat.

Cara Pilot Eject Dari Pesawat Tempur

Sekali lagi ia memanggil Hicks. Setelah tidak mendapat jawaban dia melepaskan tongkat kendali pesawat kemudian dia memutuskan untuk eject. Cara pilot eject dari pesawat tempur Tornado adalah kedua tangannya pindah memegang tuas lain yang berada di antara kedua kaki dan menariknya keras. Di dalam kokpit Tornado, kursi pelontar terkait dengan tuas tersebut, bila pilot menariknya, kursi navigator pertama terlontar keluar menyusul sekian detik kemudian kursi pilot.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Baca Juga

82-rudal-ss-18-rusia-mampu-menghancurkan-new-york

Pengamat: Rudal ICBM SS-18 Rusia Dirancang Untuk Menghanguskan New York

0
Hobbymiliter.com - Para pengamat memperingatkan jika Rusia sempat meluncurkan rudal SS-18 sebanyak lima unit saja, maka wilayah pesisir timur Amerika Serikat akan hangus dan...

Recent Comments