Wednesday, May 18, 2022
HomeMiliterKisah MiliterSejarah Insiden Bawean: Aksi Koboi F/A-18 US Navy di Atas Laut Jawa

Sejarah Insiden Bawean: Aksi Koboi F/A-18 US Navy di Atas Laut Jawa

Sejarah Insiden Bawean: Aksi Koboi F/A-18 US Navy di Atas Laut Jawa – HobbyMiliter.com. Aksi koboi udara Amerika Serikat pernah terjadi tanggal 3 Juli 2003 di atas Pulau Bawean. Insiden tersebut menjadi topik yang cukup popular mengingat pesawat tempur F-16 TNI AU yang diperintahkan mengidentifikasi armada F/A-18 Hornet US malah dikunci dan mendapat pengusiran.

Insiden Bawean adalah insiden yang terjadi pada tanggal 3 Juli 2003 antara pesawat tempur TNI Angkatan Udara melawan pesawat tempur Angkatan Laut Amerika Serikat yang melakukan dogfight dan perang elektronika di atas Laut Jawa, sebelah barat laut Pulau Bawean selama tiga menit.

Kala itu dua pesawat F-16 TNI AU berhadapan dengan sembilan pesawat tempur F/A-18 Hornet milik AL AS. Peristiwa dimulai ketika armada tempur kapal induk USS Carl Vinson (CVN-70) bersama 2 Fregat dan 1 Destroyer milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) berlayar dari Singapura menuju Australia melalui Selat Karimata (ALKI I) lalu masuk ke Laut Jawa. Pada saat melewati perairan Bawean itulah, pesawat F/A-18 yang merupakan bagian dari kekuatan kapal induk CVN-70 melakukan latihan penerbangan rutin mereka dan melakukan manuver berbahaya bagi lalu-lintas penerbangan sipil di ruang udara Indonesia.

BACA JUGA :  Australia Pertimbangkan Patroli Maritim Gabungan Bersama Indonesia

Deteksi mengenai adanya penerbangan gelap pada Insiden Bawean ini mulai dilaporkan pukul 11.41 WIB. Pusat Operasi Sektor (Posek) Hanudnas II Makassar menerima informasi dari MCC (Military Civil Coordination – Pusat Koordinasi Radar Sipil – Militer) Ngurah Rai, Bali mengenai adanya deteksi penerbangan gelap di atas Pulau Bawean. Sebanyak lima unit pesawat terdeteksi pada ketinggian bervariasi antara FL 150-350 (15.000 kaki hingga 35.000 kaki). Kecepatannya berkisar 450 knot dan Squawk Number (IFF mode 3/A) 1200.

Tidak ada komunikasi yang terdengar antara 5 pesawat tidak dikenal tersebut dengan ATC (Air Traffic Control) Bali atau Surabaya. Informasi LaSa (Laporan Sasaran) X tersebut kemudian diteruskan untuk dimonitor di Pusat Operasi Pertahanan Udara Nasional (Popunas), Jakarta. Posek Hanudnas II selanjutnya memerintahkan MCC Rai dan MCC Juanda untuk terus memonitor track Lasa tersebut serta meminta konfirmasi apakah sudah ada Security Clearance (SC) pesawat pesawat yang terlibat pada Insiden Bawean tersebut kepada Popunas.

BACA JUGA :  Taktik Dogfight Kanon Klasik di Era Jet tempur Modern
F-5F Tiger II RSAF yang awalnya dikira sebagai LaSa X dalam Insiden Bawean
F-5F Tiger II RSAF yang awalnya dikira sebagai LaSa X dalam Insiden Bawean. Pesawat ini berkemampuan terbang jarak jauh dengan dibantu aerial refuel.

Pukul 12.30 WIB Popunas dan Staf Intelijen Kohanudnas melakukan langkah-langkah pencarian LaSa X. Antara lain dengan mengecek seluruh database dan SC yang diterima oleh Kohanudnas maupun berbagai instansi terkait. Dari situ tim menemukan data sementara berupa Flight Approval nomor DDS: 819/ UD/VI/03 tertanggal 11/VI/2003.

Disebutkan bahwa ada lima pesawat F-5 milik RSAF Singapura yang melaksanakan latihan penerbangan jarak jauh lintas berijin dengan rute Paya Lebar-Darwin-Amberley-Darwin-Paya Lebar dan menggunakan empat titik air refueling sepanjang rute penerbangan tersebut. Masa berlaku ijin penerbangan mulai 24 Juni hingga 23 Juli 2003. Dari sini tim berkesimpulan sementara bahwa LaSa X dimaksud adalah pesawat RSAF yang sedang melaksanakan air refueling di atas Bawean serta “holding” karena cuaca buruk atau sebab teknis lain.

BACA JUGA :  Turki Bangun Pangkalan Militer Pertama Di Afrika

LaSa X Menghilang & Muncul Lagi di Insiden Bawean

Setelah lebih satu jam bermanuver, Pukul 12.45 WIB Lasa X menghilang dari pantauan radar. Tim berasumsi mereka telah pergi meneruskan perjalanan. Meski demikian para petugas di Posek Hanudnas II dan Popunas tetap memonitor wilayah tersebut.

Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

3 COMMENTS

  1. Indonesia harus memperkuat kemampuan perang elektronikanya. Jangan sampai dijamming seperti ini dan seperti waktu latihan gabungan TNI di NATUNA jaman SBY dulu, dimana komunikasi sempat mati beberapa jam.

  2. Wuih, ternyata F-5 Tiger AU Singapura punya kemampuan serangan jarak jauh ya. Punya probe aerial refueling. Beda spek dengan F-5 Tiger kita. Dulu mengapa kita nda beli yang ber-aerial refueling ya? Kan beli F-5 dan beli Tanker ga beda jauh waktunya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Baca Juga

Sky dragon 1

Norinco Sky Dragon 12: Sistem Rudal Berdesain Pantsir S-1

0
HobbyMiliter.com – Norinco Sky Dragon 12: Sistem Rudal Berdesain Pantsir S-1. Sistem pertahanan udara pabrikan Cina ini hampir mirip dengan Pantsir S-1 produksi Rusia....

Recent Comments