Saturday, August 8, 2020
Home Blog Militer Mengapa Pesawat Siluman Tidak Terdeteksi Radar?

Mengapa Pesawat Siluman Tidak Terdeteksi Radar?

Mengapa Pesawat Siluman Tidak Terdeteksi Radar? – HobbyMiliter.com. Penggunaan istilah siluman dalam Bahasa Indonesia sebagai padanan kata stealth di bahasa inggris telah membuat banyak orang salah kaprah terhadap teknologi stealth ini. Beberapa orang yang penulis temui menyangka bahwa teknologi siluman ini serupa dengan ilmu halimun yang bisa membuat pesawat benar benar 100% tidak nampak di radar. Atau bahkan, bisa seperti pesawat luar angkasa bangsa Romulan yang 100% tidak tampak secara visual. Tidak, bukan seperti itu.

Pesawat Siluman F-117 Nighthawk

Sebenarnya pokok bahasan ini lebih tepat dijelaskan oleh kawan saya, stealthflanker, yang sebegitu canggih ilmunya tentang per-radar-an, sampai sampai datasheet nya dipakai sebagai referensi paper ilmiah perwira angkatan udara Yunani sana. Edyan. Namun, biarlah kali ini saya yang agak edyan mencoba menjelaskan seperti apa sih “ilmu siluman” pesawat tempur dan pesawat bomber stealth itu.

Pesawat Siluman China J-20
Pesawat Siluman China J-20

Hingga saat ini, sebenarnya tidak ada pesawat stealth yang benar benar sama sekali hilang, tidak terdeteksi oleh radar. Sama sekali tidak ada dan secara keilmuan tidak mungkin ada. Kata stealth merujuk kepada upaya pengurangan deteksi radar (karena tadi, tidak bisa dihilangkan) dengan satu dan lain cara. Jadi, apa itu stealth? Stealth adalah upaya pengurangan deteksi radar dengan satu dan lain cara. Cara yang biasa dilakukan antara lain dengan membentuk sudut airframe sedemikian rupa sehingga mengurangi gelombang radar yang memantul kembali ke pemancarnya.

BACA JUGA :  6 Bukti Peran Indonesia Dalam Perdamaian Dunia

Pesawat Siluman Amerika F-22 Raptor
Pesawat Siluman Amerika F-22 Raptor

Sehingga, dengan mengurangi jumlah gelombang radar tersebut, radar bisa dikibuli bahwa benda yang sedang dideteksinya, bukanlah benda seukuran pesawat, namun hanya seukuran burung kuntul saja. Masih terdeteksi, namun karena ukurannya hanya se-burung kuntul saja, data tersebut dianggap sebagai noise dan difilter oleh radar serta tidak ditampilkan di layar display operator. Operator radar pun tidak mengetahui bahwa ada intruder yang masuk ke wilayah jaga nya dan biasanya, baru tahu pada detik detik terakhir sebelum dia menjadi sasaran.

Maklum, semakin dekat pesawat dengan radar, sinyal yang dipantulkan kembali tentu semakin banyak sehingga si pesawat stealth bisa jadi akan terlihat titiknya di radar pada jarak dekat. Namun, begitu nampak diradar, biasanya stasiun radar tersebut sudah dalam jarak tembak si target. Karena itulah, di USAF sendiri, istilah stealth itu secara resmi disebut sebagai LO, Low Observable.

Pesawat Siluman Amerika, Bomber B-1B
Pesawat Siluman Amerika, Bomber B-1B

Sejalan dengan Soviet dan penerusnya, Rusia terus bereksperimen dengan radar radar dan rudal rudal pertahanan udaranya yang beraneka ragam tersebut, pihak Amerika juga bereksperimen dengan teknologi stealthnya.

Pada fase pertama, mereka mengandalkan kecepatan dan ketinggian. Biar saja terdeteksi, namun apa yang terbang lebih tinggi dan lebih cepat dari rudal pencegatnya pasti akan selamat. Karena itu Amerika menciptakan SR-71 yang bolak balik terbang diatas wilayah udara Uni Soviet tanpa pernah tertembak jatuh. Cuma pernah nyaris ter-intercept saja.

BACA JUGA :  L-159, Pesawat Penyerang Buatan Ceko

Fase kedua, Amerika bereksperimen dengan bentuk airframe pesawat, agar dapat mengurangi pantulan gelombang radar yang kembali ke pemancarnya. Ini diistilahkan dengan radar cross section atau RCS. Hasilnya, pesawat aneh berbentuk ajaib bernama F-117A Nighthawk. Sebagai konsekuensi dari bentuknya yang aneh bin ajaib, walau menyandang kode F, Fighter, sejatinya F-117A Nighthawk tidak bisa bermanuver seperti pesawat tempur lainnya. Bahkan kecepatannya pun jauh dibawah, katakanlah F-16 Fighting Falcon. Karena itu sepanjang hidupnya, Fighter nyasar ini melakukan peranan sebagai pesawat serang darat. Pesawat stealth generasi pertama dengan teknologi  era 70-an yang pertama terbang awal 80-an ini akhirnya berhasil tertembak di tahun 1999. Ketika itu F-117A sudah 18 tahun dinas.

Fase berikutnya, Amerika yang tidak puas dengan F-117A yang tidak bisa bermanuver jumpalitan selayaknya fighter murni dan ditambah dengan kecepatannya yang dianggap seperti keong pun mendisain F-22A Raptor. Desainnya dibuat mulai tahun 80-an begitu si F-117A mulai operasional. Prototypenya terbang mulai tahun 1990. Uji dan penyempurnaan terus dilakukan selama 15 tahun sampai kemudian pesawat produksinya terbang dinyatakan dinas operasional di tahun 2005. Pengembangan utama dari F-22 dibandingkan dengan F-117A ini antara lain disempurnakannya teknologi cat penyerap gelombang radar alias radar absorbing material.

BACA JUGA :  Jet Tempur F-35 AU Korea Selatan Mulai Penampilan Publiknya

Adanya material ini menjadikan bentuk pesawat bisa lebih normal sehingga kemampuan manuver pun dapat kembali diraih dan pesawat tempur kembali ke fitrahnya untuk jumpalitan. Namun, efek lain, biaya perawatan menjadi lebih mahal dan waktu perawatan menjadi lebih lama. Setiap teknisi membuka panel akses di pesawat, selesai setting setting, pesawat harus “didempul ulang” dengan cat penyerap gelombang radar ini. Semua kerepotan tersebut diperlukan untuk menjadikan pesawat F-22 yang panjangnya 20 meter ini menjadi seukuran burung kuntul di radar musuh.

Karena hal inilah yang menyebabkan banyak pengamat militer mencibir ke-siluman-an pesawat tempur terbaru Rusia Su-57. Dimulai dari sistem gas buang mesinnya yang konvensional tanpa mengurangi heat signature seperti yang dilakukan F-22, kemudian dengan banyaknya paku rivet di sekujur airframe Su-57 yang tidak ditutup oleh cat penyerap radar, memunculkan dugaan bahwa Su-57 ini tingkat kesilumannya jauh lebih rendah dari pada F-22 Raptor, pesawat yang usianya 15 hingga 20 tahun lebih tua.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Beli Ngeteng, Cara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF - HobbyMiliter.com. Dalam diskusi diskusi di forum forum militer online maupun di grup grup militer di Facebook,...

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia - HobbyMiliter.com - Meski telah jutaan tahun membalut Bumi, belum seluruh bagian atmosfer bisa...

Foto – Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an

Foto - Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an - HobbyMiliter.com. Perang Soviet di Afghanistan berlangsung selama lebih dari sembilan tahun....

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet - HobbyMiliter.com. Pada saat persiapan operasi Trikora dalam rangka perebutan Irian Barat (sekarang Provinsi...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua