Wednesday, January 12, 2022
HomeAlutsistaRudalHome-on-Jamming, Kapabilitas Anti Jamming Rudal BVR AIM-120D AMRAAM

Home-on-Jamming, Kapabilitas Anti Jamming Rudal BVR AIM-120D AMRAAM

Home-on-Jamming, Kapabilitas Anti Jamming Rudal BVR AIM-120D AMRAAM – HobbyMiliter.com – Rudal buatan Amerika, AIM-120 AMRAAM adalah salah satu rudal udara ke udara yang paling efektif dan efisien dalam sejarah penerbangan militer modern. Korban pertamanya adalah sebuah MiG-25 Foxbat. Pesawat dragrace milik Iraq ini ditembak jatuh F-16D dengan AMRAAM di akhir bulan Desember 1992.

Sejak itu, daftar korbannya terus bertambah: J-21 Jastreb AU Srvpska (Serbia Bosnia) yang ditembak jatuh F-16 AU Amerika setelah Jastreb tersebut membom posisi Muslim Bosnia pada peristiwa Insiden Banja Luka, 1994; Sebuah Blackhawk Angkatan Darat Amerika yang ditembak karena salah identifikasi di Irak, 1994;  6 buah MiG-29 Serbia yang ditembak jatuh masing masing 4 oleh F-15C USAF, 1 oleh F-16C USAF dan 1 oleh F-16A AU Belanda di 1999; Sebuah Sukhoi SU-24M milik AU Rusia yang ditembak jatuh oleh F-16 Turki di tahun 2015; Sebuah Sukhoi Su-22 AU Suriah yang ditembak jatuh F-18 Hornet milik US Navy di 2017; MiG-21 Bison India yang ditembak jatuh F-16 Pakistan di 2019 – walau Pakistan menyebut yang menembak jatuh adalah JF-17; Kemudian di 2020 kembali dua buah Sukhoi Su-24 (kali ini milik AU Suriah) ditembak jatuh oleh F-16 Turki dan terakhir, sebuah L-39 Suriah ditembak jatuh oleh F-16 Turki, beberapa hari setelah kejadian penembakan 2 buah Su-24 sebelumnya. Semua list diatas merupakan korban dari AIM-120 AMRAAM dari berbagai macam versi.

BACA JUGA :  L-159, Pesawat Penyerang Buatan Ceko

AIM-120 AMRAAM TNI AU

AMRAAM dikembangkan sebagai rudal jarak menengah, menggantikan AIM-7 Sparrow yang beraksi di era 60 hingga 70-an. Dikembangkan di jaman F-8 Crusader dan F-4 Phantom, mencapai tahap operasional bersama dengan F-15, F-16 dan F-18 dan akan terus dikembangkan dengan teknologi lebih maju untuk mempersenjatai F-22 dan F-35, nampaknya umur AMRAAM akan cukup panjang.

Dari kemampuan sendiri, AMRAAM sudah melampaui namanya. Saat ini, pada versi AIM-120D AMRAAM mampu membunuh lawan di jarak 165 Kilometer, cuma sedikit dibawah kemampuan operasional rudal udara ke udara jarak jauh AIM-54 Phoenix yang di jarak 190 kilometer. Padahal, pada waktu pertama muncul, sebagai rudal jarak medium, kemampuan operasionalnya cukup di jarak 60 kilometer saja. Itu semua diraih dengan ukuran fisik rudal yang tidak berubah.

Sebagai rudal jarak menengah, AMRAAM dibekali dengan radar dan komputer sebagai perangkat pengendus utama. Sesaat sebelum rudal ditembakkan, komputer pada pesawat tempur akan memberikan data awal sasaran, isinya di mana posisi awal sasaran, arah sasaran dan kecepatan sasaran. Komputer navigasi pada rudal akan menghitung lintasan rudal yang paling optimal untuk mencegat sasaran. Data awal ini bisa didapat dari radar pesawat penembak, sistem IRST pesawat penembak, data radar pesawat teman yang dikirim via datalink dan juga dari pesawat AWACS yang radarnya sangat powerful. Keuntungan menembakkan rudal dengan tetap mematikan radar dan mengambil data dari radar lain ( via datalink pesawat lain/AWACS) adalah posisi pesawat penembak sangat mungkin tidak terdeteksi sistem RWR sasaran, sehingga dapat memberikan serangan kejutan. Apalagi jika dilakukan dari posisi belakang, sehingga juga tidak tercakup liputan radar di hidung pesawat lawan.

BACA JUGA :  Pesawat Marinir AS MV-22 Osprey Jatuh Di Okinawa

AIM-120 AMRAAM TNI AU

Kemudian, setelah ditembakkan, pesawat penembak bisa langsung balik kanan ngacir. Walaupun begitu, dalam lintasan terbangnya rudal tetap di update informasi posisi target oleh AWACS, sehingga bisa bermanuver memposisikan diri untuk tetap mengarah ke target, walaupun target melakukan manuver penghindaran. Setelah target berada dalam jangkauan radar di hidung rudal, maka rudal akan menghidupkan radarnya, mengunci target, dan kemudian menghajar targetnya, baik secara langsung maupun dengan meledak di dekatnya berdasarkan sensor proximity fuse.

Namun, dimasa peperangan udara modern saat ini, sudah jamak pesawat tempur dibekali perangkat perlindungan diri berupa ECM/ECCM. Fungsi perangkat ini adalah memberikan kemampuan peperangan elektronika dengan mengacaukan sistem radar dan sensor lawan melalui gelombang radio berpower besar, sehingga radar dan perangkat elektronik lawan menjadi mandul karena serangan elektronik ini. Termasuk jika sebuah rudal berpemandu radar di-jamming, bisa jadi rudal tersebut akan kebingungan dan kehilangan sasarannya.

Rudal AIM-120D AMRAAM sebagai versi terbaru dari rudal semi-active radar homing missile ternyata sudah dibekali kemampuan Home-on-Jamming untuk mengatasi pertahanan elektronik lawan seperti yang dideskripsikan diatas. Pada intinya, ketika mendeteksi bahwa sasarannya mencoba untuk melakukan jamming terjadap radarnya, rudal ini justru akan mematikan pancaran gelombang radarnya, kemudian mengunci asal pancaran sinyal jamming yang menyerangnya dan menjadikan asal pancaran gelombang jamming tersebut sebagai sasaran baru.

BACA JUGA :  Beginilah Asal Usul Kelahiran Pesawat Tempur F-16 Fighting Falcon

AIM-120 AMRAAM TNI AU

Teknik passive radar homing seperti ini bukanlah hal baru. Amerika sudah melakukannya dengan rudal penghancur radar dan penghancur sistem anti serangan udara AGM-88 HARM. Pada perang Teluk 90-an dulu, rudal HARM digunakan untuk mengunci asal gelombang radar darat Iraq, kemudian menghancurkannya. Menjadikan garis pertahanan udara Iraq berlubang.

Jika perangkat ECM/ECCM yang melakukan jamming tersebut berada didalam pesawat yang sama dengan target, maka target sekaligus jammer pengganggu akan tereliminasi pada saat yang bersamaan. Jika berada dalam pesawat yang berbeda, pesawat penembak bisa melakukan salvo kedua rudal AMRAAM, atau jika jaraknya cukup dekat, menembakkan rudal Sidewinder. Rudal AIM-9X Sidewinder yang menggunakan seeker Infra Red tidak dapat dijamming oleh ECM/ECCM.

Sebagai tambahan informasi, Indonesia saat ini tengah melakukan pengadaan beberapa rudal AIM-120 AMRAAM untuk mempersenjatai sistem rudal penangkis serangan udara NASAMS 2 sekaligus untuk mempersenjatai F-16A/B MLU yang sedang dalam proses upgrade.

Bagaimana komentar pembaca mengenai kemampuan AMRAAM menghindar dari jamming ini?

Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Baca Juga

Pesawat Latih T50A Capai 100 Sorti Penerbangan

Pesawat Latih T50A Capai 100 Sorti Penerbangan

0
Hobbymiliter.com - Pesawat Latih T50A Capai 100 Sorti Penerbangan. Lockheed Martin, perusahaan produsen pesawat tempur asal Amerika Serikat, berhasil membukukan catatan baru dalam rangkaian sejarah perusahaan...

Recent Comments