Tuesday, May 24, 2022
HomeMiliterAnalisis MiliterBagaimana Proses Pengadaan Alutsista TNI dari Amerika dan Rusia?

Bagaimana Proses Pengadaan Alutsista TNI dari Amerika dan Rusia?

Bagaimana Proses Pengadaan Alutsista TNI dari Amerika dan Rusia? – HobbyMiliter.com. Setiap kali ada program pengadaan alutsista TNI, sepertinya selalu ada isu yang berkembang di luaran. Mulai dari soal komisi dan mark up hingga penyimpangan prosedur. Bagaimana sih prosedur sesungguhnya?

Ada sejumlah aspek terkait dalam pelaksanaan pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) militer maupun pesawat terbang yang dilakukan oleh Instansi Sipil atau Pemerintah.

Di antaranya administrasi keuangan, sertifikasi dan kebenaran kelaikan udara. Termasuk dokumen pesawat terbang. Meliputi Certificate of Production, Certificate of Airworthiness, Certificate of Registration, End user dan Export License. Hal-hal terakhir inilah yang kadang memerlukan penelitian untuk menentukan adanya tindak korupsi, penyimpangan dan pemalsuan. Dengan kata lain, bisa diketahui sejauh mana kebenaran prosedur pengadaannya.

Bisa dibilang alutsista di TNI sejak dulu sebagian besar berasal dari AS dan Rusia. Khusus pengadaan peralatan alutsista dari AS, prdsedur pengadaan dipersyaratkan melalui FMS (Foreign Military Sale). Hal ini merupakan ketentuan yang baku karena jalur prosedur pengadaan melalui FMS pada hakekatnya merupakan pengadaan Government to Government (G to G).

BACA JUGA :  Kapal Selam Amerika Dan Inggris Laksanakan ICEX 2018 Di Kutub Utara

Contoh pengadaan alutsista TNI AU melalui FMS di antaranya pesawat T-34A Fuji Mentor (FMS Aid Program), pesawat T-33 dan OV-10F Bronco. Selain itu ada juga pengadaan pesawat latih dasar T-34C Mentor yang melalui jalur FMS Commercial dengan fasilitas kredit dari FFB (Federal Financing Bank).

Pengadaan melalui FMS juga diterapkan dalam pengadaan pesawat F-5E Tiger, F-16A/B Fighting Falcon dan yang terbaru pengadaan F-16C/D. Termasuk persenjataan dan perangkat kelengkapannya. Sejumlah peralatan pendukung pun pengadaannya dilakukan melalui FMS. Antara lain engine test cell, liquid oxygen plant (Lox Plant), precision measurement equipment laboratory (PMEL) dan spectrum oil analysis process (SOAP).

Pengadaan Alutsista TNI F-16C/D melalui proses FMS
Pengadaan Alutsista TNI F-16C/D melalui proses FMS

Maksud dan tujuan pemerintah AS mempersyaratkan pengadaan melalui jalur FMS adalah untuk mengontrol penjualan alutsista. Jadi negara pembeli maupun end user atau pengoperasi terakhir tidak menjual ke negara ke tiga karena alutsista yang dijual tergolong dalam barang barang yang diatur oleh Undang Undang Arms Export Control Act. Selain itu untuk menjamin tidak ada mark up harga maupun komisi bagi pembeli. Komisi agen (agent fee) diadakan bila yang dibeli merupakan produk pabrik di AS dan bukan dari stok yang ada di logistik USAF (AFCL di Robert Patterson AFB Dayton). Misalnya pesawat terbang.

BACA JUGA :  KRI Sultan Iskandar Muda 367 Jadi Kapal Markas Di Latihan PICARD 4.0 Lebanon

Pengadaan alutsista melalui jalur FMS dapat ditempuh melalui dua jalur. Yaitu commercial atau cash. Jalur commercial menggunakan FBB credit, FMS case. Sedangkan cara cash melalui FFB Federal Financing Bank. Untuk memperoleh loan credit harus memperoleh persetujuan dari DSAA (Defense Security Administration Agency).

Pengadaan melalui FMS selalu disertai formalitas administrasi Letter of Intent dan ditindak lanjuti dengan harga dan ketersediaan (price and availability). Selanjutnya dikeluarkan Letter of Offer and Acceptance. Dalam proses formalitas penerbitan LOO dan LOA selalu melibatkan Kedutaan AS di Jakarta. Dalam hal ini OMADP (Office Military Atachee Defense Program) dan FMS office di bawah koordinasi Atase Pertahanan Rl di Washington DC. Hal ini telah dilaksanakan sebelum embargo tahun 1991. Selain itu, FMS mengharuskan agen luar negeri maupun supplier terterkait dalam proses pengadaan terdaftar di OMADP/Kedutaan AS di Jakarta.

BACA JUGA :  RM70 Grad, Senjata Penghancur Dari Tengah Laut Milik Korps Marinir

Jalur FMS dipercaya hampir tidak memberikan peluang terjadinya “penyeiesaian di bawah meja”, mengingat ketatnya pengawasan pemerintah kedua belah pihak. Keuntungannya, tidak ada mark up dan komisi bagi pembeli. Sehingga dapat mencegah penyimpangan dalam memperoleh suku cadang maupun komponen penggantian karena tidak dapat diperoleh di luar jalur FMS. Negosiasi dengan agen OMADP di dalam negeri pun tidak perlu menyediakan amplop coklat untuk tim negosiasi dari angkatan.

Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

3 COMMENTS

  1. Tidak seluruh pengadaan alutsista dari AS menggunakan FMS, namun ada yg melalui DCS (Direct Commercial Sales). Dari kedua system tersebut ada untung dan ruginya, tinggal bagaimana kepentingan kita dalam pengadaan akutsista tersebut.

    • Nah ini menarik..
      Monggo dibabar pak mengenai sistem DCS ini. Terutama contoh penerapannya dalam pembelian alutsista Indonesia.

      Kalau negara sebelah, sebut saja Singapura, saya tau ada beberapa unit F-15 mereka yang dibeli dgn mahal secara DCS. Nah dikita bagaimana? Terus terang saya kurang referensi mengenai hal ini. Bisa bantu?

  2. Untuk pembelian dari Amerika cukup jelas dan rinci. Untuk yang dari Rusia masih agak menggantung dan kurang rinci, mohon diperjelas lagi mas, tengkyu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Baca Juga

77-isis-kembangkan-angkatan-laut-sendiri

ISIS Bersiap Kembangkan Angkatan Lautnya Sendiri

0
Hobbymiliter.com - NATO mengungkapkan kekhawatirannya bahwa faktanya, kelompok militan ISIS atau Daesh sedang mengembangkan pasukan lautnya sendiri demi menggunakan Laut Mediterania sebagai jalur transportasi bebas...

Recent Comments