HobbyMiliter.com – Penerbangan Perdana AW101 TNI AU. Tanpa gembar gembor, Leonardo Helicopter atau yang juga dikenal sebagai AgustaWestland melakukan penerbangan perdana AgustaWestand AW101 dengan warna dan marking TNI AU. Fotografer Aviasi Rich Pittman mengambil gambar penerbangan perdana AgustaWestland AW101 TNI AU tersebut di fasilitas perakitan Leonardo Helicopter di Yeovil, Inggris.
https://twitter.com/RotorRich78/status/810878798958919680
Sebelumnya, pada tanggal 28 November 2016, seorang spotter lokal melaporkan penampakan AgustaWestland AW101 TNI AU tersebut diluar fasilitas Yeovil dalam kondisi setengah jadi. Helikopter AW101 pesanan Indonesia tersebut sedang ditarik dari flight hangar ke ujung barat fasilitas dalam keadaan tanpa rotor dan banyak part yang belum diinstall.
Hingga saat ini masih belum diketahui helikopter AgustaWestland ini akan menggunakan nomer registrasi apa. Dalam laporan spotter lokal hanya disebutkan baahwa helikopter ini menggunakan warna camo Gloss Green/Green/Brown dan dimarking roundel segilima serta tulisan TNI AU dengan tipe hi-viz (high visibility). Dari foto Rich Pitmann tampaknya AgustaWestland AW101 TNI AU ini menggunakan warna yang sama dengan yang digunakan oleh helikopter Super Puma Skadron Udara 6 Atang Senjaya.
Pembelian helikopter AgustaWestland AW101 ini cukup menarik. Awalnya helikopter ini diajukan sebagai helikopter kepresidenan untuk menggantikan helikopter AS332 Super Puma VVIP yang saat ini dioperasikan oleh Skadron Udara 45. Namun, pada perkembangannya, pesawat yang sempat diistilahkan media sebagai Helikopter Jokowi ini dibatalkan pembeliannya oleh Presiden sendiri karena adanya penolakan dari masyarakat ketika digulirkan isunya. Termasuk dari PT Dirgantara Indonesia. Penolakan pembelian Helikopter kepresidenan tersebut didasari fakta bahwa heli buatan Inggris dan Italia seharga 55 juta dollar Amerika Serikat atau setara Rp 761,2 miliar per unit itu dinilai terlalu mahal dan tak sesuai kondisi keuangan negara saat ini dan helikopter kepresidenan saat ini, AS-332 Superpuma masih dianggap layak untuk dipergunakan walaupun umurnya sudah 13 tahun.
Adanya isu ini sempat membuat hubungan PTDI dan TNI AU memanas, karena PT DI merasa seharusnya TNI AU memprioritaskan industri lokal dalam pengadaannya dan TNI AU merasa pelayanan PT DI tidak maksimal, terutama masalah keterlambatan pengiriman pesanan di masa sebelumnya.
Tampaknya, dengan adanya bukti foto ini, pesanan TNI AU ke AgustaWestland ini dilanjutkan, hanya saja bukan untuk kepentingan helikopter kepresidenan.
AgustaWestland AW101 merupakan helikopter angkut militer yang sudah digunakan di beberapa negara.
Profil AW101
AW101 (dipasarkan Leonardo, dulu AgustaWestland) adalah helikopter angkut menengah-berat tiga mesin yang dikembangkan bersama Inggris dan Italia, awalnya untuk perang anti kapal selam dengan nama Merlin. Versi angkutnya mampu membawa sekitar 30 prajurit atau beban lebih dari 5 ton, terbang jauh berkat tiga mesin, dan dipakai banyak negara untuk angkut VVIP, SAR tempur, dan operasi angkatan laut.
| Negara asal | Inggris-Italia (Leonardo) |
| Mesin | 3x turboshaft |
| Kapasitas | Sekitar 30 prajurit / 5 ton kargo |
| Peran | Angkut berat, SAR, ASW, VVIP |
Bagaimana Kelanjutan AW101 Indonesia?
Pengadaan tiga AW101 untuk TNI AU yang direncanakan sebagai helikopter angkut dan VVIP berubah menjadi salah satu pengadaan paling kontroversial dekade itu: nilainya dipertanyakan, prosesnya melalui perantara disorot, dan satu unit yang sempat tiba di Indonesia pada 2017 tidak kunjung dioperasikan secara normal bertahun-tahun. Kasus ini kerap dijadikan contoh mengapa transparansi pengadaan alutsista penting. Di luar kontroversinya, kemampuan AW101 sendiri tidak diragukan — helikopter ini tetap menjadi tulang punggung angkut berat dan SAR di angkatan bersenjata Inggris, Italia, dan belasan negara lain hingga hari ini.
Sebagai pembanding, varian Merlin HM2 Angkatan Laut Inggris adalah salah satu helikopter anti kapal selam terbaik dunia, dilengkapi radar Blue Kestrel dan sonar celup, sedangkan HC4 menjadi angkut pasukan komando laut. Reputasi teknis seperti inilah yang membuat banyak negara — termasuk Indonesia saat itu — melirik keluarga AW101 untuk kebutuhan angkut berat dan VVIP mereka.
Baca juga: Mengintip Kekuatan Militer Malaysia untuk perbandingan kekuatan udara kawasan.






