Hawk 109 dan Hawk 209 TNI AU. Kredit Foto: Ipenk666/Ifan Triyanto.
Hawk 109 dan Hawk 209 TNI AU. Kredit Foto: Ipenk666/Ifan Triyanto

HobbyMiliter.com – Ketika Hawk 209 TNI AU Digunakan Melawan GAM. Kisah ini terjadi di awal Operasi Militer Terpadu di Aceh, 2003. Dikawal empat Hawk 200 series Skadron Udara 12, penerjunan pasukan linud pada hari pertama dan kedua berlangsung sukses. Walau tidak satu pun peluru dimuntahkan, boleh jadi, operasi Ini membuktikan profesionalisme TNI AU. Hari pertama Hawk bergerak dua kali. Setelah mengawal penerjunan linud (air escort), Hawk diperintahkan segera kembali ke Medan untuk refuelling. Karena begitu selesai melakukan refuel, selanjutnya, Hawk 209 dengan callsign Sriti Flight harus mengawal pendaratan 1.300 Marinir di pantai Samalanga.

Subuh itu, tiga puluh menit setelah C-130 Hercules terakhir meninggalkan Lanud Polonia, Medan, empat BAe Hawk 209 TNI AU silih berganti lepas landas. Leader dipegang langsung oleh Komandan Skadron Udara 12 waktu itu, Mayor Pnb Henry Alfiandi. Sang komandan menerbangkan pesawat tempur Hawk 209 TT-0214. Berturut-turut tiga penerbang lainnya adalah Kapten Pnb Jorri Koloway (TT-0205), Kapten Pnb Arif Setiawan (TT-0212), dan  Kapten Pnb Ahmad Daniel (TT-0213).

Pagi itu, mereka diperintahkan mengawal (air escort) operasi lintas udara di Lanud Sultan Iskandar Muda. Sekitar 468 personel Batalion Infanteri Linud 502 Kostrad pagi itu diterjunkan di lanud untuk mengamankan pangkalan sekaligus sebagai elemen kejutan bagi Operasi Militer lawan GAM. Selain Hawk, tiga OV-10 Bronco juga diterbangkan dari Medan. Sungguh crowded air traffic di sekitar Medan di pagi itu.

Kurang lebih satu jam kemudian, ke empat Hawk membuat manuver high speed run di atas lanud sasaran penerjunan. Beberapa detik di belakangnya, menyusul enam C-130 memuntahkan pasukan para. Operasi militer pemulihan keamanan di NAD pun dimulai.

Baca juga :   Vympel R-73 Alias AA-11 Archer, Rudal Udara ke Udara Sukhoi TNI AU

Sementara penerjunan selesai dilakukan, Hawk bergegas kembali ke Medan untuk refuel. Selepas refuel yang dilakukan dengan sangat cepat, perintah kedua telah menunggu: melindungi pendaratan 1.300 personel PPRC Marinir di pantai Desa Teupin, Jalo. Pasukan pendarat berasal dari Batalion Tim Pendarat-1 Marinir, Surabaya.

Seluruh misi hari itu dilakukan dengan terbang rendah menyusuri kontur bumi, hal ini dimaksudkan agar satu flight Hawk 209 Skadron Udara 12 Pekanbaru tersebut mampu memberikan efek kejutan kepada GAM dalam misi pengamanan kedua pendaratan, linud dan marinir..

Esoknya keempat pesawat kembali dilibatkan sebagai air escort dalam penerjunan Batalion 501 Kostrad. Awalnya, menurut rencana, sedianya keempat Hawk 209 ini diberangkatkan dari Lanud Pekanbaru. Tetapi karena cuaca pagi di Pekanbaru tidak bersahabat, kemudian diputuskan bergerak dari Medan. Lagi pula jarak tempuh lebih dekat ke sasaran.

Selama operasi melawan GAM, keempat Hawk 209 TNI AU dipersenjatai dengan kanon Aden 30 mm, peluru high exsplosive, serta rudal AIM-9 Sidewinder. Setiap pesawat masih lagi dilengkapi external tank.

Melihat dari performanya, memang tidaklah berlebihan jika TNI menurunkan Hawk 200 series ini. Walau mampu membuka kecepatan hingga Mach 1,2 (ketika menukik), bukan berarti Hawk 200 haram diterjunkan dalam operasi macam ini. Tidak sekadar itu, dari pabriknya memang telah dinyatakan bahwa Hawk didesain untuk dua misi: pertahanan udara terbatas dan bantuan udara langsung di medan tempur.

Nah, dalam operasi militer di NAD, Senin 19 Mei 2003 Pukul 05.40, Hawk 209 TNI AU menjalani fungsi keduanya.

Baca juga :   OPERATION GIFT, Pembalasan Israel Atas Serangan Pada Maskapainya

Secara umum, Hawk 200 Mk-60 yang diberi kode khusus Indonesia Hawk 209 memiliki banyak kelebihan dari versi terdahulu Mk-53. Menurut BAe, mesin Adour Mk.871 lebih kuat 25 persen dari seniomya. Kehebatan lain adalah dipasanginya alat pengendus malam hari (FLIR).

Pada rancangan bodi juga terlihat ada sentuhan. Penggunaan sayap tempur (combat wing) dengan sirip manuver tempur secara sadar dirancang untuk meningkatkan kinerja pesawat dalam pertempuran udara. Masih lagi ditambahkan chaff dan flare di bagian belakang sebagai sistem pertahanan diri.

Selain kemampuan serangan darat, Hawk 209 juga bisa digelar melakukan interdiksi dan mendukung misi maritim.

Dengan cantelan persenjataan yang bisa digunakan untuk berbagai macam senjata, Hawk seri 200 memang bisa multifungsi. Bobot lebih besar ini memungkinkannya untuk mengubah misi intai tempur menjadi misi penyerangan. Baik untuk sasaran di darat maupun di laut.

Hawk 200 adalah mumi pesawat tempur. Sementara saudaranya Hawk 100 adalah versi latih yang sewaktu-waktu juga bisa diubah jadi versi tempur. Kemampuan ini disebut sebagai enhanced ground attack Hawk alias Hawk serang darat yang ditingkatkan (kemampuannya).

Skadron Udara 12 mengoperasikan Hawk 200 sejak tahun 1996. Berdasarkan kontrak pertama yang ditandatangani 1993, pemerintah Inggris menjual 24 Hawk 100/200 senilai 1,8 triliun rupiah. Artinya sesuai total jumlah dibeli dalam 2 kontrak mencapai 40 pesawat, berarti total pembelian menjadi sekitar Rp. 3 triliun.

Jangan lupa isi form komentar di bawah
ARTIKEL MENARIK LAINNYA UNTUK ANDA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here