Sang Pengecoh Serangan Rudal pada Korvet Fatahillah Class

0
4075
fatahillacover

HobbyMiliter.com – Sang Pengecoh Serangan Rudal pada Korvet Fatahillah Class. Usianya sudah cukup tua, karena memang korvet Fatahillah Class sudah bertugas selama 37 tahun di Satuan Kapal Eskorta TNI AL. Walaupun posisinya digantikan oleh juniornya seperti korvet Diponegoro Class, Bung Tomo Class, serta Perusak Kawal Rudal (PKR) RE Martadinata Class, tapi peran Fatahillah Class tetap dikatakan cukup strategis untuk mendukung armada tempur TNI AL. Berbekal Bofors caliber 120 mm di bagian anjungannya, Fatahillah Class hingga kini menjadi sosok kapal perang TNI AL yang memiliki meriam dengan kaliber terbesar, dan pastinya dianggap paling cocok untuk memberikan bantuan tembakkan.

fatahilla1

Karena menyandang sebagai alutsista yang strategis, 2 unit Fatahillah Class, KRI Fatahillah 361 serta KRI Malahayati 362 saat ini telah diupgrade dari segi radar dan sensor. Sedangkan satu unit lainnya, seperti KRI Nala 363 masih menunggu kabar untuk diupgrade sistemnya.

Bagian utama dari Fatahillah Class yang diupgrade adalah pembaharuan sistem radar intai, lebih tepatnya mengganti radar Thales WM-28 dengan sistem radar yang lebih modern. Pada KRI Fatahillah 361 mengadaptasi radar Terma SCANTER 4100, sedangkan KRI Malahayati mengadaptasi pembaharuan pada sistem sensor dan perangkat kontrol tembakan buatan Spanyol. Teknologi yang diandalkan pun tidak berstatus trial and error, Tapi debutnya sudah terkenal di  kapal-kapal perang milik AL Spanyol. Karena pembeliannya sepakat ToT (Transfer of Technology), proses upgrade KRI Malahayati akan dikerjakan oleh PT PAL, Surabaya.

BACA JUGA :  Kapal Perang PKR ke-3 dan Seterusnya, Sepenuhnya Akan Diproduksi Oleh PT PAL Indonesia

fatahilla2

 

Bagian terpenting dari paket modernisasi KRI Malahayati 362 meliputi upgrade dari segi sensor dan fire control system (FCS) yang terhubung melalui modem CMS (Combat Management System). Lebih jelasnya, Indra yang sudah ahli dalam produksi radar di bidang maritim diberi kepercayaan untuk pengadaan perangkat Rigel ESM (Electonic Support Measure), solusi ini dilakuakn agar KRI Malahayati 362 mampu menghadapi peperangan elektronik, termasuk menghalau jamming dari musuh.

Walaupun mendapat paket upgrade, tapi belum ada tanda-tanda untuk peningkatan fire power pada Fatahillah Class. Yang paling terlihat uzur adalah rudal anti kapal MM38 Exocet. Masih belum ada kabar, apakah Fatahillah Class akan menggunakan MM40 Exocet, atau memilih rudal anti kapal buatan Cina seperti C-802/C-705. Selain itu, kelemahan dari Fatahillah Class adalah pada sistem anti serangan udara. Kapal ini tak memiliki kanon reaksi cepat jenis CIWS (Close In Weapon System), atau bahkan rudal hanud SHORAD (Short Range Air Defence). Dari segi pertahanan udara, Fatahillah Class masih menggunakan meriam Bofors 40 mm yang terpasang di buritan serta dua pucuk kanon Rheinmetall Rh202 20 mm di bagian anjungan, sudah pasti keduanya masih manual.

BACA JUGA :  Harbin BZK-005: Pengintai Andalan Cina di Laut Cina Selatan

fatahilla3

Meskipun memiliki titik lemah, tetapi korvet produksi Wilton-Fijenoord, Belanda ini telah didesain untuk menangkal serangan rudal anti kapal serta rudal udara ke permukaan yang ditembakkan dari pesawat tempur. Berdasarkan informasi, Fatahillah Class membawa 2 x Knebworth Corvus 3-tubed launchers. Lebih tepatnya Knebworth Corvus launchers merupakan sistem pengecoh rudal berupa peluncur chaff hasil pabrikan Vickers Ltd Shipbuilding Group. Cara kerjanya Chaff dispenser yang ditembakkan dari roket akan membentuk semacam ‘perisai’ di sekitar kapal. Sistem ini memiliki two multi-barrelled rocket launchers, panel kendali penembakkan, serta chaff (radar countermeasure). rockets.

BACA JUGA :  Pesawat Tua Jagoan Milik Amerika Yang Masih Beroperasi

Sistem perisai yang terbilang quick reaction ini memberikan mode operasi gangguan (distraction) serta sentroid, dengan keduanya berbeda satu sama lain dalam sudut azimuth ketika ditembakkan dan jangkauan ketika chaff dilepaskan. Panel penembakan serta kendalai berada di Pusat Informasi Tempur (PIT). 16 roket chaff mampu diluncurkan dari dua sistem peluncur untuk menghalau terjangan tiga rudal secara simultan. Setelah roket chaff dilepaskan, sistem peluncur melakukan reload dengan cepat. Desain rotasi silinder yang terdiri dari tabung peluncuran yang dipasang di tiga set peluncur (disilangkan pada sudut 90° azimut). Dua tabung selanjutnya dipasang diatasnya dan disinkronkan di antara tabung lainnya, semuanya di ketinggian 30 derajat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here