Sunday, August 9, 2020
Home Alutsista Pesawat Tempur Su-34 Fullback Fighter Bomber Rusia, Penembus Pertahanan Musuh

Su-34 Fullback Fighter Bomber Rusia, Penembus Pertahanan Musuh

Su-34 Fullback Fighter Bomber Rusia, Penembus Pertahanan Musuh – HobbyMiliter.com. Satu yang jadi ciri khas paling menonjol dari keiuarga Sukhoi yang satu ini adalah hidungnya yang gepeng seperti paruh bebek. Su-34 Fullback dibuat sebagai penerobos dan penggempur pertahanan lawan menggantikan peran Su-24 Fencer.

Masih ada sekitar 400-an unit Su-24 Fencer dalam inventori AU Rusia (pecahan Uni Soviet) yang secara bertahap perannya akan digantikan oleh Su-34 Fullback. Runtuhnya Uni Soviet awal dekade 1990-an sempat menghambat program pembuatan Su-27IB (Su-34) lstrebityel Bombardirovshchik, yakni pembom tempur yang sebelumnya tugas ini diembankan kepada si penerobos pertahanan musuh sekaligus pembom segala cuaca Sukhoi Su-24.

Fasiilitas Perakitan Su-34 Fullback di Novosibirsk
Fasiilitas Perakitan Su-34 Fullback di Novosibirsk. 1 Pesawat membutuhkan waktu 3-4 bulan untuk selesai.

Program desain Su-34 pertama kali dicetuskan tahun 1983, berselang sekitar satu dekade sejak Su-24 dioperasikan. Su-24 sendiri dibuat sebanyak 1.400 unit dan tersebar di beberapa negara pecahan Uni Soviet, Suriah serta Iran. Satu hal yang mendasari perlunya Soviet membuat Su-34 kala itu, tidak lain munculnya ancaman baru di udara dari penempur-penempur teen series buatan AS yakni F-15, F-16, dan F/A-18.

Su-24 yang inferior dibandingkan kawanan penempur tersebut, diprediksi bakal mengalami kesulitan bila keburu terhadang dalam misinya. Benar saja, pada tanggal 24 November 2015 sebuah Sukhoi Su-24M milik Rusia di tembak jatuh oleh sepasang F-16 milik Angkatan Udara Turki di perbatasan Turki – Suriah.

Hidung Su-34 Fullback yang gepeng memberinya julukan Platypus
Hidung Su-34 Fullback yang gepeng memberinya julukan Platypus

Meski bentuknya tidak menyerupai Su-24, Su-34 Fullback tidak mengabaikan variabel-variabel performa yang dimiliki F-111 sebagai rival utama pembom Su-24. Tugas dominasi udara yang kala itu telah diembankan kepada Su-27, tidak menjadi penghalang bagi diciptakannya Su-34 agar bilamana pesawat ini suatu waktu harus bertemu kawanan teen series, ia masih bisa melakukan perlawanan sengit. Singkat kata, selain mengemban misi utama interdiksi dan bombardemen, Su-34 Fulback juga dipersiapkan untuk mampu duel di udara secara terbatas.

Untuk membangun Su-34 Fullback, langkah pertama yang dilakukan Biro Desain Sukhoi, tentu saja memodifikasi basis Su-27UB tandem trainer yang kemudian diaplikasikan juga untuk varian Su-30. Bedanya, pada Su-34 ruang kokpit tidak dibagi dua depan-belakang, melainkan berdampingan (side by side). Keputusan ini dipilih guna memberikan keleluasaan kepada kedua awak kokpitnya, sekaligus menciptakan ergonomi ruang yang lebih enak untuk tugas-tugas misi long range, long endurance, dan pengeboman. Rancangan seperti ini sebenarnya telah digunakan lebih dulu oleh AS melalui F-111 Aadvark. (Next page klik di bawah).

BACA JUGA :  Periskop di MiG-29UB

Dengan duduk berdampingan, pilot maupun kopilot bisa berkoordinasi lebih baik. Layaknya kokpit pesawat sipil, posisi ini ternyata juga sangat menguntungkan kedua awaknya untuk bisa mengisi perut saat bertugas. Pertimbangan lain, adalah untuk menghemat biaya duplikasi panel kokpit bila dibuat terpisah depan-belakang. Ruang kokpit Su-34 Fullback kemudian diberi perlindungan titanium guna menahan gempuran peluru dari darat bagi pilotnya yang duduk di kursi pelontar K36DM.

Su-34 Fullback, Deep Strike Fighter

Prototipe deep striker fighter Su-34 yang kemudian diberi kode NATO Fullback, T-10V-1, terbang perdana April 1990. Sebelum muncul ke publik tahun 1992 pesawat ini menjalani serangkaian ujicoba termasuk uji air refueling dan pendaratan di kapal induk Tbilisi (sekarang bernama kapal induk Admiral Kuznetsov). Selanjutnya prototipe kedua, T-10V-2, muncul tahun 1993 dengan tambahan cantelan persenjataan serta tangki internal yang lebih besar. Produksi pertama (Low Rate Initial Production), T-10V5, berhasil diterbangkan tahun 1994 dan sejak tahun itu pula kode Su-34 digunakan untuk pesawat ini, mengganti Su-27IB.

Pesawat kemudian diberi kamuflase yang beda, biru/hijau. Namun anehnya, manakala dibawa ke pameran kedirgantaraan Paris Air Show 1995, pesawat ini oleh Rusia diberi nama dagang Sukhoi Su-32FN sebagai pesawat dengan fungsi penyerang darat dan patroli maritim. Mungkin waktu itu pemilihan nama Su-34 masih belum fix. Dua unit yang lain dibangun tahun 1996 dan 1997. Lagi-lagi pesawat dibawa ke pameran bergengsi Paris Air Show dengan kode Su-32FN. Belakangan kode FN diubah lagi menjadi MF (Mnogofunktisioniy Frontoviy -berarti Multirole Tactical), nama lengkapnya menjadi sukhoi Su-32MF.

Produksi ke 100 Su-34 Fullback
Produksi ke 100 Su-34 Fullback

Pihak Rusia menjelaskan, walau Su-32FN dan Su-32MF menggunakan rangka sama T-10V-5, namun terdapat sedikit perbedaan menyangkut fungsi dan avionik yang digunakan. Sementara penggunaan kode Su-34 untuk Su-32, beberapa sumber menyebut hal itu sebagai penanda Rusia bagi varian ekspor Su-32.

BACA JUGA :  Nilai-nilai Pancasila Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan

Su-34 yang berkapasitas tangki bahan bakar 12,1 ton, lebih besar dari pada F-15E namun lebih kecil dari pada F-111. Kelincahannya berada di bawah F-15E, namun di atas F-111. Soal kecepatan maksimum, Su-34 berada di bawah keduanya, yakni hanya sekitar 1,6 Mach saja. Sementara dibandingkan Su-27, Su-34 berbobot lebih berat yakni 45 ton atau 15 ton lebih berat dibandingkan varian Su-27S. Volumenya bertambah besar 30% dari volume keseluruhan Su-27.

Sukhoi Su-34 Fullback ke 100
Sukhoi Su-34 Fullback ke 100

Sebagai penerobos pertahanan lawan, Su-34 dilengkapi Terrain Following Radar (TFR) agar bisa terbang rendah mengikuti kontur muka bumi (Nap On Earth) dalam upaya penghindaran radar musuh. Untuk fungsi interdiksi, berbeda dengan F-15E yang dilengkapi pod LANTIRN TFR atau F-111 dengan APQ-171 TFR, Su-32/34 menggunakan phased array TFR meniru konsep yang digunakan AS dengan APQ-164 phased array pada B-1B. Meski begitu, kokpit pesawat ini termasuk modern karena menggunakan digital weapon system dan glass cockpit. Rancangan ini sebenarnya juga tak baru bila dibandingkan F-111D punya AS yang sudah pensiun. (Next page klik di bawah).

Bagaimana dengan persenjataan Su-34? Persenjataan udara ke darat jelas mendominasi sesuai fungsi asasi dari pesawat serang darat ini. Di antaranya rudal Kh-29 dan S-25LD yang sekelas rudal AGM-65 Maverick, KAB-500Kr electro-optically precision guided bomb, KAB-500L laser guided bomb, dan electro-optical/datalink guided KAB-1500TK sekelas GBU-15. Lalu bisa membawa tiga rudal Kh-59 stand-off weapons sekelas AGM-142 Popeye, atau enam Kh-31 dan Kh-35 Kharpunski sebagai rudal antikapal. Untuk misi penetrasi pertahanan udara musuh, enam rudal antiradiasi Kh-31 R (setara AGM 88 HARM) juga dapat dibawa. Untuk tugas close air support Su-34 juga lapat membawa total delapan ton bom bodoh dalam bentuk 36 x FAB-250, muatan ini jauh lebih besar dari pada yang bisa di bwa oleh bomber legendaris perang dunia ke dua Boeing B-17G Flying Fortress. Ada enam pod roket B-8M1 yang dapat membawa 120 roket S-8, atau enam pod B-13L yang dapat membawa 30 roket S-13.

BACA JUGA :  Kapal Selam Amerika Dan Inggris Laksanakan ICEX 2018 Di Kutub Utara

Sequence Bombing Run Su-34 Fullback
Sequence Bombing Run Su-34 Fullback. Tampak 4 Su-34 dikawal 2 Su-35 sebagai CAP

Sementara persenjataan pertahanan diri meliputi kanon GSh-301 30 mm, delapan rudal udara ke udara R-73 (AA-11 Archer) WVR and enam rudal R-27 (AA-10 Alamo), dan R-77 (AA-12 Adder) yang saat ini menjadi persenjataan andalan Su-27/30. Oleh karena itu, seperti disinggung di awal, Su-34 dapat diberi tugas ganda sebagai pengebom maupun sebagai pertahanan udara secara terbatas.

Sequence Bombing Run Su-34 Fullback
Sequence Bombing Run Su-34 Fullback. Su-34 menjatuhkan bomb cluster.

Lebih menguntungkan lagi, Su-34 juga bisa digunakan sebagai pesawat reconnaissance mengingat pesawat ini juga dapat dilengkapi pod M400 yang dilengkapi Raduga multi-band IR imaging system, kamera panoramik AP-403 dan AP-404, maupun modul pilihan radar M402 Pika SLAR dan AK-108FM oblique camera. Berikutnya Su-34 juga dikembangkan dalam varian jammer seperti EF-111A maupun EF-18G Growler untuk melakukan peperangan elektronik pada jaringan pertahanan lawan.

Sequence Bombing Run Su-34 Fullback
Sequence Bombing Run Su-34 Fullback. Bomb Cluster pecah diudara dan menyebarkan submunition diatas sasaran yang berupa simulasi pangkalan udara.

Soal mesin, AL-41F sudah menggantikan mesin AL-35F yang digunakan pada unit demonstrator. Su-34 juga dilengkapi dengan aerial refueling probe untuk mengisi tangki internal beserta tiga drop tank-nya, serta dapat juga dilengkapi Sakhalin UPAZ-1A aerial refueling pod yang memungkinkan pesawat ini melakukan tugas sebagai buddy tanker. Kalau terbang dengan dilengkapi tiga droptank yang masing-masing berkapasitas 3.000 liter, maka membuat Su-34 dapat menyamai radius aksi F-111.

Sensor utama Su-34 meliputi Leninets B-004 multimode phased array radar. Salah fungsinya diklaim dapat menjangkau target besar dalam jarak 200-250 km (108 hingga 135 NMI) serta kemampuan ground mapping hingga 150 km (81 NMI).

Sukhoi Su-34 Fullback, pesawat yang ganteng dari lahir.
Sukhoi Su-34 Fullback, pesawat yang ganteng dari lahir. Anda setuju?

Kehadiran Su-34 semakin memperkaya alutsista udara, khususnya AU Rusia sejak 2007. Pesawat ini memiliki keunggulan lebih banyak untuk tugas penetrasi ke pertahanan dibanding varian Su-30MK/MKI/MK2/MKK. AU Rusia mencanangkan, sebanyak 124 unit pesawat ini akan mengisi jajaran dinas militernya hingga tahun 2020. Di luar itu AU Rusia masih akan menggunakan Su-24 Fencer yang di-upgrade.

Apakah Indonesia tertarik dengan pesawat ini? Siapa tahu.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Beli Ngeteng, Cara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF - HobbyMiliter.com. Dalam diskusi diskusi di forum forum militer online maupun di grup grup militer di Facebook,...

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia - HobbyMiliter.com - Meski telah jutaan tahun membalut Bumi, belum seluruh bagian atmosfer bisa...

Foto – Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an

Foto - Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an - HobbyMiliter.com. Perang Soviet di Afghanistan berlangsung selama lebih dari sembilan tahun....

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet - HobbyMiliter.com. Pada saat persiapan operasi Trikora dalam rangka perebutan Irian Barat (sekarang Provinsi...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua