Saturday, August 8, 2020
Home Blog Militer Biografi Biografi John Lie, Pahlawan Angkatan Laut Indonesia

Biografi John Lie, Pahlawan Angkatan Laut Indonesia

Biografi John Lie, Pahlawan Angkatan Laut Indonesia – HobbyMiliter.com. Dengan Alkitab di tangan kiri dan kemudi di tangan kanan, menembus blokade Belanda. Hal itulah yang ditulis majalah Life untuk menggambarkan John Lie yang bernama asli Lie Tjeng Tjoan ini. Petualangan John Lie yang sering kali berhasil menembus blokade laut Belanda hingga membuatnya nyaris tewas. Namun berkat keberaniannya, beragam senjata berhasil dimasukkan untuk membantu perjuangan.

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, secara spontan pemuda-pemudi Indonesia serempak membentuk badan-badan perjuangan. Badan Keamanan Rakyat Bagian Laut (BKR-Laut) didirikan oleh para pejuang bahari tanggal 10 September 1945.

Sementara itu, gaung kemerdekaan Indonesia terus dikumandangkan ke seluruh pelosok negeri bahkan hingga ke luar negeri. Berita proklamasi kemerdekaan tersebut akhirnya terdengar oleh pelaut-pelaut Maskapai Pelayaran Hindia Belanda (KPM/Koninklijke Paketvaart Maatschappij) yang tengah berada di Basis AL Inggris di Khoramshar, Iran, yang sedang ditugaskan sebagai bagian dari Armada Logistik Sekutu.

Seorang ABK MV Tosari, salah satu kapal KPM yang dimobilisasi Sekutu dan berada di Iran bernama John Lie. John Lie mendengar berita tersebut melalui siaran radio yang disiarkan oleh All Indian Radio (stasiun radio milik tokoh nasionalis India Jawaharlal Nehru). Saat itu, John Lie, pria kelahiran Manado 9 Maret 1911, putra kedua dari delapan bersaudara pasangan Lie Kae Tae – Oei Tjeng Nie Nio, bertugas sebagai Stuurman Kleinevaart (setingkat asisten jurumudi kapal) di MV Tosari.

KRI John Lie 358
KRI John Lie 358

Sebelumnya, MV Tosari merupakan kapal sipil KPM yang berpangkalan di Pelabuhan Cilacap. Namun ketika pecah Perang Pasifik (1941-1945) seluruh kapal KPM diinstruksikan untuk meninggalkan Hindia Belanda menuju India, Ceylon atau Australia, karena bala tentara Jepang telah akan segera mendarat di Pulau Jawa (Pusat Pemerintahan Hindia Belanda). Oleh sebab itu, MV Tosari segera dilarikan ke Iran dan dimobilisir sebagai salah satu kapal angkut logistik Armada Sekutu.

Berita tersebut menggugah jiwa nasionalisme John Lie dan beberapa rekannya, sehingga berencana mencari cara bagaimana kembali ke Indonesia. Harapan dan doa mereka terkabul, karena kemudian ada instruksi bahwa seluruh pelaut yang berasal Hindia Belanda akan dikembalikan ke Indonesia karena perang sudah berakhir.

Akhirnya, dengan menggunakan kapal MV Ophir, John Lie dan pelaut-pelaut asal Indonesia dikembalikan ke negeri asalnya, namun singgah terlebih dahulu di Singapura. Selama di Singapura, John Lie banyak belajar secara mandiri mengenai bagaimana membersihkan perairan sekitar pelabuhan dari tumpukan bangkai kapal, besi-besi tua, rongsokan, termasuk ranjau laut, yang menjadi ancaman bahaya navigasi bagi kegiatan pelayaran. Pengalaman ini dikemudian hari berguna dalam membersihkan pelabuhan Cilacap dari jebakan ranjau yang dibuat oleh Belanda.

Kisah Hidup John Lie, Pahlawan Angkatan Laut Indonesia
Kisah Hidup John Lie, Pahlawan Angkatan Laut Indonesia

Bulan April 1946, John Lie tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, dengan menumpang kapal MV Ophir. Setelah melalui berbagai hambatan selama menempuh perjalanan guna memenuhi panggilan ibu pertiwi, akhirnya ia berhasil bergabung dengan ALRI dan sebagai medan tugas pertamanya adalah sebagai Matroos Derde Klas (Kelasi III) di ALRI Pangkalan XII Cilacap.

BACA JUGA :  Profil Yontaifib Marinir: Pasukan Elit Marinir TNI AL

Selama melaksanakan tugasnya di Cilacap, ia berhasil membersihkan perairan di sekitar Pelabuhan Cilacap dari ancaman bahaya navigasi, seperti ranjau laut peninggalan Perang Pasifik dan potongan-potongan kayu, sehingga akhirnya pelabuhan Cilacap dinyatakan aman. Berkat kerja keras tersebut, pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor Laut.

Dengan telah amannya perairan Cilacap, maka mulailah berdatangan sejumlah kapal niaga, baik dari dalam maupun luar negeri untuk sandar dan berniaga di Cilacap. Salah satu kapal asing yang sandar dan bongkar muat di Cilacap adalah kapal niaga milik pengusaha AS L. Watson yang memiliki perwakilan di Singapura, bernama Empire Tenby.

Saat membawa muatan 800 ton gula Indonesia menuju Singapura, Empire Tenby dipandu oleh Mayor John Lie hingga tiba dengan selamat di Pelabuhan Singapura. Namun ternyata John Lie tidak dapat kembali ke Cilacap karena di Indonesia Agresi Militer I Belanda yang dilancarkan sejak 21 Juli 1947 sedang berlangsung. Akhirnya di Singapura, beliau bergabung dengan Kepala Perwakilan Pertahanan Republik Indonesia Bagian Luar Negeri, Mayor Ali Djajengprawiro.

Sementara itu menjelang akhir tahun 1947 situasi perairan Indonesia kian genting akibat blokade laut Belanda yang ketat. Guna menggelar operasi khusus menembus blokade Belanda, perwakilan Indonesia di luar negeri, berhasil membeli tujuh kapal motor cepat (speedboat) bekas pakai surplus perang yang banyak terdapat di Naval Disposal Board Singapura. Ketujuh kapal eks AL Inggris tersebut diproyeksikan untuk menyuplai berbagai kebutuhan sehari-hari untuk rakyat dan persenjataan ke Indonesia.

Salah satu kapal motor tersebut dipercayakan kepada John Lie untuk di komandani, yakni ML-366 yang berbobot 60 ton. Bersama kapalnya tersebut Beliau berhasil memasukkan sejumlah besar barang-barang kebutuhan rakyat dan senjata bagi pasukan gerilya di Sumatera. Saat melaksanakan misi yang oleh ABK ML-366 disebut “Mission Imposible” tersebut, di perairan Labuhan Bilik sempat dihampiri sebuah pesawat patroli maritim Belanda.

Kapal Outlaw, dengan kapal ini John Lie bertugas menyelundupkan senjata dari Malaya dan Thailand ke Sumatera.
Kapal Outlaw, dengan kapal ini John Lie bertugas menyelundupkan senjata dari Malaya dan Thailand ke Sumatera.

Kapal ini menyamar dengan mengibarkan bendera Inggris tersebut berhasil mengelabuhi awak pesawat Belanda dengan mengirim morse bahwa kapalnya tengah kandas. Situasi saat ini sangat menegangkan, dua awak pesawat Belanda (satu berkulit putih, satu berasal dari Maluku) tampak telah mengarahkan kanonnya ke posisi kapal John Lie. Namun kemungkinan karena kehabisan bahan bakar, akhirnya meninggalkan ML-366. Oleh pihak Syahbandar Rl di Labuhan Bilik, selanjutnya ML-366 diberi nama PPB 31 LB, namun ia menyebutnya: Outlaw.

Sejak saat itu keberhasilan demi keberhasilan dalam operasi menembus blokade sukses dilaksanakan olehnya dan awaknya dengan Outlaw mereka. Meskipun demikian, beberapa kali John Lie nyaris tertangkap bahkan nyaris tewas. Namun berkat kepiawaiannya ia berhasil meloloskan diri. Demikian pula ketika ia nyaris tertangkap tangan oleh pihak keamanan Inggris di Singapura. Berkat teknik diplomasinya ia berhasil lolos dari jerat hukum.

Salah satu trik yang sangat mengesankan, adalah ketika ia dihadang sebuah korvet Belanda di Selat Barambang saat baru saja keluar dari perairan Labuhan Bilik sekitar bulan Januari 1948 malam hari. Korvet Belanda kemudian menurunkan sebuah sekoci bemotor (motor sloep) yang bersenjata senapan mesin berat yang langsung mengejar Outlaw dengan menembakinya secara gencar.

BACA JUGA :  13 PESAWAT TEMPUR LANUD IWJ AKAN LAKSANAKAN FLY PASS DI ISTANA NEGARA

Dengan melakukan manuver zig-zag, Outlaw berusaha meloloskan diri dengan keluar masuk di antara jaring-jaring penangkap ikan yang banyak ditebar di perairan tersebut. Taktik ini berhasil, sekoci Belanda tersangkut di jaring-jaring tersebut.

Kemudian kisah lainnya, ketika menjelang tahun 1949 Outlaw berlayar menuju Penang, dihadang oleh empat kapal perang Belanda di malam hari. Menyadari tidak mungkin meloloskan diri, John Lie memerintahkan awaknya untuk melepaskan sebuah drum solar yang diikat sebuah flash light dan menceburkannya ke laut. Trik sederhana namun jitu, kapal Belanda tertipu dan memilih mengepung decoy “kapal jadi-jadian” tersebut dan akhirnya Outlaw berhasil lolos.

Keberanian John Lie beserta seluruh awak Outlaw dalam mengoperasikan kapal di malam hari tanpa penerangan dan peralatan navigasi yang memadai, membuatnya dijuluki: The Black Speedboat oleh Radio BBC di Malaysia dan Singapura. Uniknya, BBC selalu menyiarkannya jika mendengar Outlaw berhasil mengecoh unsur-unsur patroli Belanda.

John Lie dan awak Outlaw
awak Outlaw

Kondisi kapal PPB 31 LB yang semakin uzur menyebabkan kapal itu diganti dengan kapal serupa yang lebih baru yakni PPB 58 LB pada 1948 yang olehnya kembali dinamai Outlaw. Seperti mengulang sukses seniornya, PPB 58 LB juga telah membangkitkan obsesi pihak Belanda yang menjulukinya “Kapal Misterius” karena tidak pernah tertangkap.

Jiwa patriotis John Lie tidak hanya sebatas melaksanakan tugasnya sebagai anggota ALRI, melainkan juga sebagai seorang diplomat tidak resmi. Ketika ada gosip yang dihembuskan intelijen Belanda dan Inggris, bahwa Outlaw merupakan kapal milik kelompok komunis Asia Tenggara, ia seketika membantahnya. Menurutnya, Outlaw merupakan kapal resmi ALRI dan berjuang demi kedaulatan negara Republik Indonesia.

Kemisteriusan Outlaw terkuak, ketika di Pelabuhan Phuket (Thailand), John Lie diwawancarai oleh wartawan Life Magazine: Roy Rowan. Wawancara tersebut kemudian dimuat dalam majalah Life edisi 26 Oktober 1949 dengan judul: Guns-And Bibles-Are Smuggled To Indonesia.

Petualangan John Lie dengan Outlaw-nya berakhir setelah tanggal 30 September 1949 ketika ia dminta menyerahkan jabatan komandan kapal kepada mantan komandan kapal Seagull Kapten O. P. Koesno, yang kemudian hari menjadi komandan KOPASKA pertama. Beliau kemudian menempati jabatan baru di Pos Hubungan Luar Negeri di Bangkok. Namun sayang, pada pelayaran pertamanya dengan komandan baru dibawah O. P. Koesno, Outlaw tertangkap Belanda.

Ketika tercapai pengakuan kedaulatan Rl oleh Belanda di akhir 1949, Beliau menerima penugasan baru sebagai komandan pertama kapal perang jenis korvet eks AL Belanda, yaitu Hr. Ms. Banda, yang diserahkan kepada ALRI awal tahun 1950.

Sebagai catatan, salah satu hasil Konfrensi Meja Bundar adalah penyerahan aset aset Angkatan Perang Hindia Belanda dan aset Angkatan Perang Belanda di Hindia Belanda kepada Indonesia. Selanjutnya korvet eks Belanda tersebut dinamakan RI Radjawali dengan Mayor John Lie sebagai komandan pertamanya.

Korvet RI Rajawali, Kapal perang “sungguhan” pertama Indonesia. John Lie adalah komandan pertama kapal perang eks Belanda ini.

Periode Perang Kemerdekaan memang telah berakhir selepas pengakuan kedaulatan sebagai hasil KMB. Namun walaupun begitu bukan berarti keamanan di Indonesia telah pulih. Pemberontakan demi pemberontakan meletus di mana-mana.

BACA JUGA :  US Air Force Ujicoba Rudal Balistik Minuteman III Di California

John Lie kemudian ditugaskan mendukung operasi keamanan di Maluku untuk menumpas pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan) dan memimpin Eskader ALRI. Tugas ini cukup menantang karena saat itu ALRI yang sebelum 1950 hanya berisi kapal kapal kecil yang beroperasi secara mandiri, mendadak harus mengoperasikan kapal kapal canggih eks Belanda dan beroperasi dalam satuan eskader.

Selepas melaksanakan tugas keamanan di Maluku, tahun 1952 ia dimutasi untuk menjabat sebagai Kepala Staf Operasi IV MBAL. Selanjutnya hingga tahun 1953, John Lie menjabat sebagai Kepala Staf Komando Daerah Maritim Surabaya (KDMS).

Antara tahun 1953 hingga 1955 John Lie menjabat sebagai Komandan Dinas Angkutan ALRI (DAAL). Tahun 1955 John Lie menjabat sebagai Komandan Komando Daerah Maritim Djakarta (KDMD). Tahun berikutnya, 1956, John Lie menikah dengan Margaretha Angkuw, seorang Pendeta. Penugasannya di tingkat staf tidak lama, karena kemudian tahun 1957 ia kembali dipercaya memimpin kapal perang ALRI jenis perusak eks Belanda Hr. Ms. Tjerk Hiddes, yang dinamakan RI Gadjah Mada.

Saat menjabat sebagai Komandan Rl Gadjah Mada, John Lie melaksanakan tugas pemulihan keamanan ketika berlangsung pemberontakan PRRI di Sumatera dan Permesta di Sulawesi pada tahun 1958. Disini, pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Kolonel Laut. Pada Operasi 17 Agustus (ATF-17) menumpas PRRI di Sumatera Barat, Letkol John Lie menjabat sebagai Wakil Komandan I, sedangkan Komandannya adalah Kolonel Ahmad Yani.

Setelah sukses mematahkan perlawanan PRRI, John Lie ditugaskan untuk memimpin ATF-25 sebagai Komandan dan menggelar operasi keamanan menumpas Permesta di Sulawesi. John Lie memimpin penyerbuan kampung halamannya, Manado dan membebaskan Manado dari pasukan Permesta.

Saat menjabat sebagai Komandan ATF-25, ia melaksanakan Operasi Pukul untuk mematahkan perlawanan Permesta di Mena. Sukses menyelesaikan kedua operasi tersebut, selanjutnya ditugaskan mengikuti pendidikan di Defence Service Staff di Wellington College, India tahun 1958 hingga 1959.

RI Gajah Mada, Destroyer eks Belanda yang menjadi Flagship perang melawan PRRI dan Permesta

Sekembali dari pendidikan, Beliau dinaikkan pangkatnya menjadi Kolonel Laut dan menjabat sebagai Kepala Inspektur Pengangkatan Kerangka Kapal di seluruh perairan Indonesia hingga tahun 1966. Saat menjabat sebagai Kepala Inspektur inilah, tahun 1961 John Lie pangkatnya kembali dinaikkan menjadi Komodor Laut (Bintang satu, setingkat Laksamana Pertama TNI saat ini) dan pada tahun 1964 menjadi Laksamana Muda TNI (Bintang dua).

Tahun 1966 Laksda John Lie mengganti namanya menjadi Jahja Daniel Dharma sesuai Keputusan Presiden No. 240 Tahun 1967 tentang “Kebijaksanaan Jang Menjangkut Warga Negara Indonesia Keturunan Asing” atau Keppres 240/1967 yang mengatur warga Tionghoa mengganti namanya menjadi nama Indonesia.

John Lie pensiun tahun 1967 dan selanjutnya banyak bergiat di kegiatan wiraswasta, sosial, dan keagamaan. John Lie (Jahja Daniel Dharma) wafat tanggal 27 Agustus 1988 dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Tahun 1995 pemerintah menganugerahi (Alm) Laksda TNI (Purn) John Lie dengan penghargaan Bintang Mahaputra Utama. Dan salah satu kapal fregat ringan TNI AL di namai dengan nama KRI John Lie sebagai penghargaan atas jasa jasanya.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Beli Ngeteng, Cara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF - HobbyMiliter.com. Dalam diskusi diskusi di forum forum militer online maupun di grup grup militer di Facebook,...

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia - HobbyMiliter.com - Meski telah jutaan tahun membalut Bumi, belum seluruh bagian atmosfer bisa...

Foto – Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an

Foto - Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an - HobbyMiliter.com. Perang Soviet di Afghanistan berlangsung selama lebih dari sembilan tahun....

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet - HobbyMiliter.com. Pada saat persiapan operasi Trikora dalam rangka perebutan Irian Barat (sekarang Provinsi...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua